Ged a Widget

Senin, 22 Agustus 2016

Britania Raya : Sebuah Kado untuk Mamak

Bismillah,
Akhirnya ada momentum untuk membuka blog. Setelah media itu cukup lama saya diamkan karena belum cukup waktu untuk duduk termenung dan menulis. Jiwa, raga, dan pikiran ini masih belum sempat ‘tenang’ ketika satu tujuan yang saya perjuangkan selama ini belum mencapai titik puncak.

Ya, sepulang dari Amerika akhir Maret 2016 lalu, saya langsung ke kota kembang untuk mengikuti Program Pengayaan Bahasa (PB) IELTS dari LPDP di ITB. Dari awal April hingga akhir Juni, saya menjalani kehidupan di Bandung, kota bersahaja dengan masyarakatnya yang ramah tamah. Memori bersama kawan-kawan satu perjuangan yang akan meneruskan pendidikan ke luar negeri sungguh menjadi pelajaran berharga dalam hidup saya. Kami telah berjanji untuk berjuang keras, ikhlas, dan tuntas dalam melaksanakan amanah yang diberikan LPDP.


Tanggal 25 Juni adalah tes IELTS ke-5 saya. Iya, mungkin saya sudah ‘aneh’ kok sudah sampai ke-5 ini masih ngotot pengin dapat nilai 6.5? Bukan tanpa alasan, saya sungguh mengidam-idamkan untuk bisa kuliah S2 di Utrecht University Belanda. Hanya tinggal IELTS saja agar saya dapat LoA Unconditional. Utrecht University ibaratkan UGM yang dulu jadi pilihan 1 saya ketika mau S1. Saya memang ‘terlalu’ optimis kali ya biar diterima disana. Namun saat itu Allah berkehendak lain, UNY menerima saya untuk belajar di Jurusan Pendidikan Geografi.

Pada tanggal 2 Juli 2016, ada sebuah email masuk. Saya saat itu baru mengikuti kajian buka puasa di Maskam UGM. Di sela-sela kajian saya buka hape dan ada sebuah email dari University of Birmingham (UoB). Inti emailnya menerangkan bahwa saya diterima secara conditional di UoB. Ya Allah, pada saat itu saya hanya terus mengucap syukur ketika buka puasa. Berkah Ramadhan ! Untuk mendapatkan unconditional, saya harus mengirim berkas hardcopy dari dokumen-dokumen saat mendaftar UoB 25 Mei 2016 lalu. Saya lupa, legalisir ijazah saya habis! Jumat malam itu saya langsung menghubungi mbak Sari dan Mas Agung selaku admin geografi, dan ternyata hari itu adalah hari terakhir sebelum libur idul Fitri. Deg! Saya diberi saran mbak Sari untuk menghubungi Pak Mur, staf Kasubag kemahasiswaan Fakultas Ilmu Sosial. Saya juga menghubungi Pak Ajat, dekan FIS untuk ketemuan minta tanda tangan. Lagi, Allah memberi jalan.

http://jogja.tribunnews.com/2016/08/13/inilah-penerima-beasiswa-lpdp-dari-sleman-ke-universitas-birmingham

"Ketika Anda sedang 'minta' kepada Allah, maka banyak lah memberi ke orang lain dengan bersedekah."

Sabtu pagi sekitar jam 06.30 saya sampai FIS dan membawa fotokopi ijazah dan transkrip, seharusnya Sabtu libur lho padahal. Pak Mur memang sangat baik, saya sudah kenal beliau dan beliau sangat kenal saya sejak 2011. Saya dibantu untuk minta cap ke ruangan Kasubag kemahasiswaan, dan juga digratisin ngeprint beberapa file disana, bahkan legalisirnya gratis! Beliau mendukung penuh untuk usaha saya itu. Sekitar Pkl 09.30 saya bertemu pak dekan di toko buku Togamas Gejayan. Pak Ajat memang telah banyak membantu saya selama kuliah S1, sering memberi rekomendasi jika ikut program kemahasiswaan. Ya, pagi itu beliau memberi tanda tangan berkas legalisir itu, di toko buku, masyaAllah. Lagi, saya kembali ke kampus untuk bertemu Mas Eko, humas FIS yang juga sangat dekat dengan saya sejak 2011. Beliau membantu saya dalam menyebarkan berita-berita positif seputar prestasi dan kegiatan yang para mahasiswa ikuti melalui website kampus.

Beberapa hari kemudian akhirnya saya menerima LoA Unconditional dari University of Birmingham. Saat itu, saya mendaftar dengan nilai IELTS 6 dan untuk jurusan saya memang sudah memenuhi syarat. Pada saat lebaran, hasil tes IELTS ke-5 keluar. Saya berharap sekali agar dapat 6.5 namun Allah berkehendak lain. Cobaan pun kembali menggoyahkan hati ini. Saya masih memiliki harapan besar agar kuliah di Utrecht karena mereka memberi deadline sampai 14 Juli 2016. Allah berkehendak lain, nilai saya tetap berada di posisi 6, sama seperti tes ke-4. Saya yakin masih ada seberkas cahaya harapan. Mimpi untuk kuliah di Utrecht sepertinya harus saya tunda untuk saat ini. Saya telah berikhtiar maksimal, sudah sejak tahun 2015 saya mempersiapkannya.



Allah membukakan mata hati saya untuk meletakkan pilihan ke-2 selain Utrecht. Ya, Birmingham. Pencarian jurusan dan topik riset yang saya upayakan harus mirip seperti di Utrecht, ternyata Birmingham juga masuk kriteria saya. Saya tidak ingin mengulang keteledoran masa lalu, ketika terlalu optimis akan kuliah di UGM namun ternyata saya diterima di pilihan ke-2. Ya, terkadang memang berat menerimanya, namun hanya dengan ikhlas segalanya akan dipermudah.

Minggu ke-2 lebaran, saya sudah ‘matur’ orang tua kondisi saat itu. Mamak dan Bapak memberikan restu untuk menikah setelah S2 dan harus segera kuliah di Britania Raya ! “Nak, lupakan dulu Belanda, sekarang fokuslah pada apa yang masih bisa kamu perjuangkan.” Alhamdulillah, kedua orang tua semakin memberi dorongan agar saya menerima lamaran Birmingham. Setelah shalat istikhoroh dan tawakal, saya pun memulai berjuang di tahap selanjutnya : ACC Perpindahan kampus oleh LPDP, membuat visa, dll.

Hal yang paling saya khawatirkan adalah ketika akan mengajukan perpindahan universitas ke LPDP. Tujuan awal saya adalah kuliah di Utrecht, namun sekarang rencana pindah ke Birmingham. LPDP sebagai sponsor saya mensyaratkan IELTS 6.5 untuk syarat pindah universitas. Awalnya saya agak pesimis, namun tekad itu kembali bangkit ketika dapat doa dari mamak. “Nak, terus berusahalah…hilangkan segala prasangka di pikiranmu.”

Berawal dari gathering awardee LPDP DIY di gudeg Bu Sri di jalan wates kala itu, saya dapat bertanya dan konsultasi langsung dengan Bu *****. Saya menceritakan kondisi sebagai awardee afirmasi yang sudah tes IELTS 5x dan 4x nya pakai biaya saya pribadi. “Bu, apakah ada solusi jika kondisi saya demikian?” Beliau langsung menyarankan saya untuk mengirim scan 5 hasil IELTS itu ke email untuk direview. Alhamdulillah, seminggu setelahnya ada balasan lewat WhatsApp untuk melengkapi berkas tambahan berupa : JURNAL INTERNASIONAL. Ya Allah, sore itu serasa sudah kritis karena momen-momen penentuan apakah saya dapat memenuhi syarakat itu atau tidak. Setelah menjemput adek di terminal Jombor, saya mengajaknya ke Fakultas Geografi UGM. Saya secara mendadak telah memesan prosiding konferensi internasional yang saya ikuti Januari 2016 kemarin. Tulisan hasil skripsi saya telah diterbitkan disana dan ber-ISBN. Minggu kemarin saya dapat rejeki setelah mengisi training dan langsung terpakai untuk membeli prosiding seharga 350 ribu. Alhamdulillah, tercukupi.

Sesampainya di rumah, saya kembali mencari prosiding lain dan saya scan ketiganya. Total, saya mensubmit prosiding jurnal internasional ber-ISBN sebanyak tiga buah, beberapa prosiding nasional dan dokumen pendukung lainnya termasuk portofolio. Di saat seperti itu saya merasakan betul arti penting publikasi ilmiah yang ebnar-benar saya harapkan dapat membantu saya. Segala publikasi selama S1 saya attach ke email, termasuk sertifikat-sertifikat internasional. Malam itu rasanya sudah menuai titik puncak ihtiar saya untuk kuliah di luar negeri. Saya menjalani proses dengan senyum dan tegang, hehe. Allah yang memberikan jalannya.

Bulan Agustus telah tiba, bulan yang akan penuh keberkahan insyaAllah. Saya mohon didoakan oleh mamak bapak agar direktur LPDP dibukakan hatinya untuk meng-Acc surat permohonan saya. Malam itu, ketika saya dan dek Isti makan malam di warung pecel lele selepas sekolah tiba-tiba ada email dari Mbak *****. Saya dan beberapa orang diberi kontrak beasiswa. “Maksudnya apa ya ini?” saya masih bingung membaca emailnya. Alhamdulillah, itu artinya LPDP sudah menyetujui saya kuliah di Birmingham. Ya Rabb, tak kuasa saya ingin segera ke rumah dan memeluk mamak. Malam itu menjadi hari yang penuh rasa syukur atas apa yang Allah berikan selama ini. “Kalau saya dulu sudah menyerah, apa jadinya saya ya?” Saya memang lemah di Bahasa, namun saya punya kemampuan lain yang dapat saya kembangkan. Sejak malam itu saya lebih semangat dan serius dalam mempersiapkan segala rencana ke depan, termasuk rencana nikah setelah esdua,hehe. Sebenarnya setelah S1 langsung bisa S3 (estri) namun orang tua minta saya S2 dulu. ehehe

Sampai tulisan ini dibuat, saya masih menanti visa saya. InsyaAllah akan sampai di rumah sekitar tanggal 22/23 Agustus 2016. Tepat tanggal 17 Agustus 2016 kemarin mamak saya berusia 49 tahun. Semoga beliau menerima persembahan kado S2 ke Britania Raya ini dengan ikhlas. Allah yang akan membalas kebaikan mamak yang selama ini telah berjuang keras siang malam menghidupi keluarga. Beliau sungguh wanita hebat di keluarga kami. Mohon doanya agar beliau sehat dan senantiasa diberikan istiqomah dalam beribadah, serta diberkahi dalam menafkahi keluarga kami bersama bapak di pasar. Terimakasih atas doa dan semangat dari teman-teman semua.

Tunggu ya tulisan saya berikutnya seputar persiapan ke Inggris :) insyaAllah. Terimakasih sudah meluangkan waktu ke blog ini.

“Kalau Anda merasa sudah hampir gagal, ada Allah yang akan membantu. Ada orang tua yang secara tulus dan ikhlas mendoakan. Ada sahabat yang menguatkan untuk segera bangkit. Bisa jadi Anda tinggal selangkah ke depan dapat mencapai garis finish! Ayo optimis!”
Yogyakarta, 19 Agustus 2016

Pembelajar
Janu Muhammad