Ged a Widget

Rabu, 16 Desember 2015

Akhirnya Saya Memilih Beasiswa LPDP

Masih ingat betul, bulan Oktober tahun 2012 saya mengikuti Pameran Studi di Belanda di kampus Bulaksumur bersama Hardani Kamardi Arief Lakey dan Pebri Nurhayati. Bertempat di FEB UGM, kami mengunjungi stand-stand universitas yang berasal dari negeri kincir angin, Belanda. Saya terhipnotis oleh antusias para pengunjung yang setia berdesak-desakan demi mendapatkan jatah konsultasi gratis studi di Belanda oleh universitas-universitas ternama seperti Leiden University, University of Amsterdam, dan lain sebagainya. Kami pun tak ketinggalan membawa selebaran brosur-brosur universitas. Saya simpan baik-baik tas orange khas negeri bunga tulis itu. Ada beberapa pikiran yang terus melekat dari pengalaman pertama di pameran luar negeri itu. “Ternyata, kualitas pendidikan di Belanda jauh lebih baik dari Indonesia, kenapa tidak sekolah disana suatu saat nanti ?”
 
Tahun pun berganti, kesibukan kuliah lapangan ataupun teori di jurusan pendidikan geografi tidak menghalangi saya untuk menelusuri lebih jauh sistem pendidikan di Belanda. Saya pun mulai rutin membuka www.nesoindonesia.or.id , www.studyfinder.nl , dan www.ppibelanda.org . Tiga website itu yang menyediakan informasi lengkap apabila ingin studi di Belanda. Sejak awal tahun 2013 saya pun menuliskan mimpi di kamar agar kelak dapat studi di negeri tempat Bung Hatta mengenyam pendidikan itu. Mulai saat itupun saya rajin mendatangi setiap pameran yang diadakan oleh NESO Indonesia ataupun Uni Eropa. Saya dapat termotivasi untuk mempersiapkan segala kebutuhannya mulai dari persiapan aplikasi hingga mendapat konsultasi gratis meraih beasiswa luar negeri.
 
 
Juli 2013 menjadi sejarah berharga bagi perjalanan hidup saya. Setelah berikhtiar dan berdoa kepada-Nya, hampir-hampir saya down karena vertigo akut yang saya miliki, saya diberi kesempatan kuliah singkat musim panas di Utrecht University, Belanda. Saya menjadi satu-satunya wakil Indonesia, di antara 17 mahasiswa di kelas “Contemporary Cities: Challenges and Opportunities”. Bulan puasa kala itu cukup menguji iman, selama 19 jam pertama kalinya puasa di negeri orang. Alhamdulillah diberi kesempatan bertemu saudara-saudari Ppi Utrecht. Pengalaman dua minggu di bulan Juli itu telah saya tuliskan di blog www.muhammadjanu.blogspot.com
 
Sepulangnya di Indonesia, sebuah dorongan untuk berbagi semangat kepada teman-teman mahasiswa semakin kuat. Pengalaman pertama kali ke luar negeri saat itu benar-benar menjadi tonggak sejarah agar kedepannya saya mau untuk belajar, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi yang utama untuk kemajuan negeri ini. Sempat 1 bulan pertama selepas sampai Indonesia, saya ingin cepat-cepat kembali ke sana lagi. Rasanya belajar disana jauh lebih nyaman, terutama untuk riset sebagai bekal menjadi pendidik nantinya. Sejak saat itu, saya mulai merangkai jejak-jejak mimpi bagaimana suatu saat nanti dapat menempuh pendidikan di Utrecht University. 
 
Dua tahun telah berlalu, tepat 29 Agustus 2015 saya resmi diwisuda. Ada sesuatu yang menjadi rasa syukur untuk saya persembahkan kepada orang tua. Tidak menyangka, Allah memilih saya menjadi wisudawan terbaik geografi periode itu dan aktivis terbaik tingkat fakultas. Sungguh, saya merasa bahagia dan bersyukur karena mamak dan bapak dapat tersenyum saat pelepasan wisuda malam itu. Sesibuk-sibuk apapun di organisasi riset dan juga kuliah, saya bersyukur dapat lulus 3 tahun 8 bulan dan alhamdulillah dengan predikat cum laude. Lagi, semua karena Allah yang telah mengatur jalan hidup ini.
 
Selepas lulus wisuda, saya berpikir, “Bagaimana saya akan memulai rangkaian realisasi mimpi studi di luar negeri dengan beasiswa itu?” Apakah hanya akan terus menerus jadi ‘pemburu’ pameran beasiswa ? Apakah hanya akan terus menerus ikut edu fair sana-sini ? Kapan mau eksekusi ? Halo Jan, kamu masih muda, ayo segera bergegas menjemput mimpi !
Seperti para dreamer lainnya, saya dihadapkan pada dua pilihan : mau daftar ke universitas dulu atau beasiswa dulu ? Apa pertimbangannya ? Semua perlu disiapkan matang-matang. Hingga akhirnya, terdengarlah nama beasiswa LPDP di kampus UNY. Pada saat itu kami pernah mengikuti sosialisasi beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di auditorium UNY. Tampak hadir ratusan mahasiswa tua, eh tingkat akhir maksudnya, dan juga perwakilan pihak LPDP, tidak lain adalah Bu Ratna Prabandari Pak Lukmanul Hakim dan kakak-kakak awardee LPDP wilayah Yogyakarta. 
 
Melalui visinya, LPDP bertekad untuk menjadi lembaga pengelola dana terbaik di tingkat regional untuk mempersiapkan PEMIMPIN masa depan serta mendorong inovasi bagi Indonesia yang sejahtera, demokratis, dan berkeadilan. Visi tersebut tertuang dalam 4 pokok misi : pembiayaan pendidikan, mendorong riset strategis, pengelolaan dana abadi, dan sebagai last resort untu mendukung rehabilitasi fasilitas pendidikan. 
 
 
 
Ternyata, LPDP ini berfokus pada pengembangan kualitas sumber daya manusia di berbagai bidang yang menunjang percepatan pembangunan Indonesia. Tentu, beberapa bidang seperti : teknik, sains, pertanian, hukum, ekonomi, keuangan, kedokteran, agama, dan sosial budaya menjadi prioritas utama. Selengkapnya di http://www.lpdp.depkeu.go.id/ (silakan aktif mempelajari panduannya)
 
Pada acara sosialisasi itu, saya dan teman-teman mahasiswa UNY termotivasi agar melanjutkan studi dnegan beasiswa LPDP. Ya, saya pribadi juga berharap agar dapat kuliah dengan beasiswa ini. Akan sangat sulit jika orang tua membiayai untuk S2 saya. Sharing yang sangat bermanfaat hari itu ditutup dengan pemberian hadiah bagi yang dapat menjawab quiz dengan benar. Alhamdulillah, saya dapat 1 tas LPDP (ini katanya belum tentu tiap awardee dapat tas lho). Tasnya besar dan sering saya pakai di kampus. Sesekali ditanya teman, “eh Jan, kamu udah dapat beasiswa LPDP poh ? Kok punya tas itu?!! Saya jawab dengan senyum manis penuh harap dan doa. Semoga kelak Allah mengabulkannya.
 
“Ya Allah, izinkan saya suatu saat menjadi bagian dari keluarga besar LPDP”
 
Niat dari hati terdalam untuk serius membangun negeri, mengharuskan saya melebihkan setiap usaha untuk dapat sekolah di luar negeri dengan beasiswa LPDP. Saya masih ingat betul perkataan Bu Ratna, “LPDP tidak mencari mereka yang cerdas saja, tetapi mereka yang sudah terlibat di kegiatan masyarakat atau organisasi.” Iya, kalimat itu yang selalu menjadi motivasi. Untuk menjadi kandidat yang layak mendapat beasiswa LPDP, tidak cukup tiba-tiba aktif di organisasi atau komunitas hanya saat menjelang seleksi beasiswa. LPDP melihat sebagai sebuah proses, dimana perjalanan kita sewaktu SMP, SMA, di kampus, dan di masyarakat menjadi pertimbangan berharga. Tidak cukup mereka yang outstanding saja, tetapi juga yang telah berkontribusi nyata karena para awardee pasti disiapkan untuk memimpin daerahnya sesuai bidangnya masing-masing.
 
Bulan Agustus-Spetember 2015 adalah perjuangan untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris, pada saat itu juga saya harus menjaga ibuk yang baru saja operasi di rumah sakit. Semua serba harus terjadwal dengan baik. Memang benar, harus melebihkan usaha dan doa agar mendapatkan hasil maksimal. Pada bulan September 2015 itu saya pun memutuskan untuk mengambil tes TOEFL ITP pertama kali dalam sejarah hidup saya. Ya, syukurlah hasilnya mencukupi untuk mendaptar beasiswa LPDP. 
 
Akhirnya, saya memilih beasiswa LPDP, beasiswa yang langsung berasal dari pemerintah Indonesia. Beasiswa yang tidak ada kuota jumlah penerima tiap periodenya (asal qualified). Beasiswa yang menjadi harapan rakyat di daerah maju ataupun terpelosok di Indonesia. Beasiswa yang berasal dari rakyat dan untuk rakyat. Tanggung jawab besar bagi setiap penerimanya nanti, semoga amanah.
 
Bulan Oktober 2015 menjadi bulan penentuan apakah saya akan mendaftar LPDP atau tidak untuk periode ini. Rencana pribadi sebenarnya akan mendaftar bulan Januari 2016. Ternyata ada yang berbisik, “Kalau syaratnya sudah siap, kenapa harus ditunda-tunda ?”
 
Syaratnya sudah siap ? Apa sajakah itu ? 
Silakan kunjungi 
http://muhammadjanu.blogspot.co.id/2015/12/tips-sederhana-lolos-beasiswa-lpdp.html
 
 
Rotterdam, 2013
 
“Kalau niat sudah bulat, lebihkan usaha serta doa, dan kuatkan tekad” 
Motivasi mendaftar beasiswa LPDP bukanlah untuk ekspektasi pribadi. Luruskan niat, bangunlah strategi agar nantinya kita bersinergi memajukan negeri ini.

Yogyakarta 11 Desember 2015
 
Salam hangat,
 
Alumni Pendidikan Geografi UNY

Minggu, 13 Desember 2015

TIPS SEDERHANA LOLOS BEASISWA LPDP

Jadi ceritanya dua hari setelah pengumuman hasil seleksi beasiswa LPDP 10 Desember 2015 kemarin, banyak pesan di whatsApp, sms, line, dan tentunya facebook. Saya berterimakasih kepada teman-teman yang sudah mengucapkan ‘selamat’, serta doa atas kabar baik itu. Ini bukanlah hasil akhir, namun ini baru langkah awal saya untuk menjemput mimpi studi S2 dengan dukungan beasiswa LPDP. Puji syukur tak lupa saya ucapkan kepada Allah, berkat Dia-lah yang memberi karunia berharga ini. Juga kepada mamak, bapak, adek, serta teman-teman almamater UNY maupun relasi yang selalu men-support saya. Saya dulu pernah berjanji ketika kelak lamaran saya diterima sebagai keluarga besar LPDP, saya wajib hukumnya menuliskan pengalaman ‘personal’ dari tahapan seleksi beasiswa ini. Berikut tips sederhana yang dapat saya bagikan.
Teman-teman yang baik dan penuh motivasi,
Boleh saya beri pengantar dulu ya ? Tentu setiap dari kita memiliki mimpi-mimpi masa depan. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, pilot, dan lain sebagainya. “Lokasi lahir boleh dimana saja, namun lokasi mimpi harus di langit,” kata Mas Anies Baswedan. Mas Anies ini adalah kakak alumni saya dari SMA N 2 Yogyakarta yang kini menjadi menteri. Beliau salah satu inspirator saya. Melihat rekam jejaknya sejak SMA, beliau kelak menjadi orang besar di negeri ini. Saya belajar arti integritas, semangat juang, dan optimisme dari Mas Anies. Kata beliau, “Tinggikan mimpimu. Lalu kerja keras, kerja cerdas dan doa. Lalu lampaui mimpimu.” Dedikasi beliau di dunia pendidikan yang secara konsisten mampu menggerakkan anak muda untuk mengajar di daerah pelosok, adalah kontribusi nyata yang dapat kita lihat. Bagaimana dengan kita ? Apa yang sudah kita lakukan untuk masyarakat di sekitar kita ? Mari kita renungkan bersama.
Teman-teman yang selalu semangat,
Saya dilahirkan dari keluarga sederhana. Mamak dan bapak saya bukanlah lulusan sarjana. Beliau adalah professor terhebat yang telah mendidik saya dengan penuh kasih saying. Meskipun tidak tamat sekolah dasar, beliau berdua mempunyai harapan besar agar saya dan adik dapat melanjutkan sekolah setinggi-tingginya dan bermanfaat untuk bangsa Indonesia. Setiap hari beliau bekerja keras, bangun Pkl 03.00 WIB dan tidur biasanya PKl 23.00. Pagi-pagi sudah ke pasar jualan sayuran dan malamnya juga begadang menyiapkan dagangan. Saya belajar arti kerja keras, kerja ikhlas, dan semangat juang agar mampu menghadapi tantangan hidup yang ada. Itulah mengapa, setelah lulus S1 saya mempunyai rencana besar untuk meneruskan ke jenjang magister di luar negeri. Setelah selesai nanti, saya optimis akan menjadi pendidik di perguruan tinggi, insyaAllah. 
LPDP pun menjadi jawabannya,
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) adalah sebuah lembaga di bawah Kementerian Keungan Republik Indonesia yang mendukung putra-putri terbaik negeri ini untuk melanjutkan studi di jenjang magister dan doktor. Jika ingin tahu lebih jauh, silakan mempelajari website http://www.lpdp.depkeu.go.id/ disana sudah lengkap sekali informasinya. Program beasiswa LPDP ini bertujuan untuk mencetak pemimpin masa depan untuk menjadi lokomotif pembangunan di Indonesia. Jenis Beasiswa Pendidikan LPDP antara lain Beasiswa Magister dan Doktor, Beasiswa Tesis Disertasi, Beasiswa Spesialis Kedokteran, Beasiswa Afirmasi, dan Presidential Scholarship. Saya adalah penerima Beasiswa Afirmasi, beasiswa yang diperuntukkan bagi alumni bidik misi, dari daerah 3T (silakan pelajari langsung ya), dari keluarga miskin berprestasi, penggerak di daerah 3T dan mereka yang telah membawa nama harum Indonesia dalam laga seni/olimpiade/olahraga/keterampilan khusus di tingkat internasional. LPDP memiliki prioritas bidang di antaranya : teknik, sains, pertanian, kedokteran/kesehatan, akuntansi/keuangan, hukum, pendidikan, agama, sosial budaya. Prioritas ini sesuai dengan kebutuhan sumber daya yang akan menempati bidang-bidang strategis dalam percepatan pembangunan di Indonesia. Beasiswa LPDP ini dibuka sepanjang tahun selama 4 periode seleksi. Untuk afirmasi, tahun 2015 ini dibuka sebanyak 3 kali. Perkuliahan dimulai paling cepat 6 bulan setelah penutupan pendaftaran di setiap periode seleksi. Adapun pendaftarannya dilakukan secara online di website http://www.lpdp.depkeu.go.id/.
Teman-teman calon pemimpin masa depan,
Cerita dari para penerima beasiswa LPDP, beasiswa ini mencakup semua kebutuhan mahasiswa, mulai dari biaya perkuliahan (pendaftaran, SPP, Non SPP seperti tunjangan buku, tesis/disertasi, seminar, publikasi, wisuda), biaya pendukung (transportasi PP, asuransi, visa, living allowance, tunjangan keluarga,dll), biaya pengayaan bahasa bagi awardee LPDP Afirmasi, dan biaya tambahan bagi yang berkebutuhan khusus. Intinya, semua dibiayai LPDP. Tetapi perlu diingat, ini amanah dari rakyat yang harus digunakan sebaik mungkin. Satu lagi, para alumni Beasiswa LPDP juga telah terkoneksi dalam Mata Garuda, yang bertujuan untuk menghimpun peran para alumni agar dapat bersinergi satu sama lain. 
Lalu, apa saja syaratnya ?
Kriteria yang dicari LPDP adalah mereka yang memiliki karakter kepemimpinan, profesionalisme, nasionalisme, patriotisme, integritas, memiliki kepercayaan diri, dan karakter lainnya, serta telah berpartisioasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan/keilmuan/inovasi/kreasi/budaya. Menuru saya, kriteri-kriteria ini didapat ketika mengikuti organisasi. Syarat utamanya : 1) WNI, 2) Batas usia adalah < 35 tahun (S2) dan < 40 tahun (S3), 3)Telah memiliki unconditional LoA (surat penerimaan bebas syarat) jika belum, maka IPK harus > 3,00 (S2) dan > 3,25 (S3) serta memiliki skor TOEFL ITP minimum 500, IELTS 6.0, atau IBT 65 untuk dalam negeri dan TOEFL ITP 550, IELTAS 6.5, dan IBT 79 untuk luar negeri. Untuk afirmasi, nilai TOELF ITP minimal 400. Sertifikat TOEFL ITP resmi diterbitkan oleh ETS (www.ets.org. Untuk studi program magister di luar negeri pada PT yang bahasa pengantarnya bukan Bahasa Inggris, dapat menyesuaikan dengan persyaratan bahasa yang diminta. Silakan mengecek website LPDP ya.) 4) Menulis essay (500-700 kata) dengan tema: “Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang, dan akan saya lakukan untuk masyarakat/lembaga/instansi/profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku”. Yang perlu diperhatikan, jangan sekali-kali plagiat karena pasti ketahuan reviewer. 5) Surat keterangan catatan kepolisian (SKCK) yang dibawa saaat seleksi wawancara serta surat keterangan sehat dari RS pemerintah (termasuk juga surat bebas NAPZA dna TBC). 6) Rencana studi untuk S2 dan ringkasan proposal penelitian untuk S3, 7) Mendaftar di universitas yang masuk dalam list LPDP (silakan dicek di website). 8) Surat rekomendasi (bisa dari dosen/tokoh masyarakat). Satu hal lagi, telah mendapatkan izin dari atasan bagi yang sedang bekerja.




Proses Seleksi Beasiswa LPDP
Dari pengalaman saya, ada dua tahapan seleksi LPDP meliputi: Seleksi Administrasi dan Seleksi Substantif (wawancara, on the spot essay writing, dan LGD (Leaderless Grup Discussion). Setelah dinyatakan lulus, wajib mengikuti Persiapan Keberangkatan (PK). Khusus untuk afirmasi, bagi yang lulus tanpa syarat dapat langsung mengikuti PK, namun bagi yang lulus bersyaraat harus mengikuti Program Pengayaan (untuk TOEFL/IELTS). Awardee LPDP diberikan waktu maksimal 1 tahun setelah dikeluarkannya SK Drektur LPDP Tentang Peneripa Beasiswa Pendidikan Indonesia, untuk mendapatkan Letter of Acceptance yang unconditional (tanpa syarat). Catatan : bagi yang tidak lulus seleksi administrasi boleh mencoba berulang kali, namun bagi yang tidak lulus seleksi wawancara hanya punya 1 kesempatan lagi untuk mendaftar beasiswa LPDP.
Pengalaman seleksi 1 (administrasi)
Saya masih ingat, sekitar tanggal 10 Oktober 2015 ada pengumuman ‘dadakan’ dari LPDP. Sebenarnya saya berencana mendaftar beasiswa afirmasi kategori keluarga miskin-berprestasi bulan Januari 2016. Tetapi berhubung ada kuota tambahan, saya putuskan untuk melengkapi berkas. Saya start persiapan LPDP sebenarnya sudah jauh-jauh hari, hanya saja tiba-tiba dalam waktu tak kurang dari 10 hari harus ‘mengejar’ semuanya. Saya yakin dapat meraih beasiswa ini karena memang tidak ada kuota per periodenya, asal memenuhi syarat yang ditetapkan LPDP. Satu lagi, antar pelamar tidak ada kompetisi (lain halnya dengan beasiswa Erasmus, Chevening, dll). Syarat-sayarat yang dilengkapi telah saya sebutkan di atas, pastikan semuanya lengkap dan sesuai permintaan LPDP.
  1. CV, diisi langsung secara online. Format sudah disediakan oleh LPDP. Oiya, sebelumnya kita harus membuat akun dulu ya. Pastikan ingat kata sandi emailnya. Ketika mengisi formulir pendaftaran (CV) siapkan dokumen-dokumen yang diperlukan seperti : scan ijazah dan transkrip nilai, rencana studi, surat rekomendasi, LoA (jika sudah ada), essay, sertifikat bahasa Inggris, serta sertifikat lainnya (dari prestasi/kegiatan). Semua dokumen dilampirkan dalam bentuk pdf. Setiap scan dokumen less than 1 mb. Teman-teman juga perlu menyiapkan data-data penting seperti nilai UN SD-SMP-SMA serta kuliah (IPK minimal 3.50 untuk afirmasi bidik misi/kurang mampu), pengalaman organisasi, prestasi, pengalaman pelatihan/workshop/seminar, pengalaman riset/karya ilmiah, serta penghargaan. Dicatat ya tanggal pelaksanaannya.
  2. LoA, adalah surat penerimaan dari kampus yang akan kita tuju. LoA ada dua jenis, conditional dan unconditional. Dikatakan conditional apabila masih ada syarat tertentu yang harus dikumpulkan, misalnya skor TOEFL/IELTS masih kurang, serta unconditional jika sudah diterima tanpa syarat. Saya sendiri tidak melampirkan LoA karena belum mendaftar ke Utrecht University. Jika belum punya LoA, pastikan IPK dan skor bahasa Inggris nya bagus ya. Juga ketika wawancara tolong dibawa bukti korespondensi lewat email ke universitas. Itu menjadi bukti bahwa kita sudah punya usaha untuk mendaftar di universitas tersebut. Dari beberapa pengalaman, ada yang lulus LPDP dengan punya LoA/belum punya LoA. Yang sudah punya LoA belum tentu lolos LPDP. Tetapi saya sarankan jika sudah ada LoA.
  3. TOEFL/IELTS, kalau mau daftar LPDP pastikan skornya sudah sesuai syarat ya. Saya sendiri melalui jalur afirmasi memakai sertifikat TOEFL ITP. Kalau belum cukup skornya, jangan daftar dulu karena pasti tidak akan lolos administrasi. Saya belajar TOEFL secara mandiri dan mengambil kursus selama 1,5 bulan. Untuk syarat yang ini, memang harus dipersiapkan secara matang karena biaya tes yang tidak sedikit. Apalagi IELTS, sekali tes bisa hampir 3 juta karena dollar yang mahal. Jadi, perlu disiapkan betul sebelum mengambil tes.
  4. Surat rekomendasi, formatnya sudah disediakan LPDP. Minimal satu surat rekomendasi. Saya kemarin melampirkan 3 surat rekomendasi dari : ibu kepala jurusan Pendidikan Geografi UNY, Dekan FIS UNY, dan dari Disdikpora Sleman. Ketiga pihak tersebut adalah orang yang mengetahui perjalanan akademik selama kuliah, aktivitas di organisasi mahasiswa, dan aktivitas di masyarakat Kabupaten Sleman khususnya bidang pendidikan. Harapannya mereka tahu betul kompetensi yang kita miliki, baik personal maupun dalam kerja tim.
  5. Essay, di bagian ini adalah core atau inti dari kepribadian kita. Essay pertama tentang “Kontribusiku Bagi Indonesia” menceritakan perjalanan hidup saya dari latar belakang keluarga dan perjalanan hidup sampai saat ini, aktivitas selama 2 tahun terakhir di Omah Baca Karung Goni, serta kontribusi masa depan sebagai seorang dosen. Di dalam penulisan essay ini, saya memberi pesan agar tulislah dengan jujur, jelas, dan logis. Artinya, ada korelasi yang ‘nyambung’ antara aktivitas masa lalu, kini, dan karir masa depan. Poin utamanya itu. Essay ini sebenarnya juga menjadi indikator apakah sesuai tidak ya dengan CV yang kita buat (menurut saya lho ini). Essay kedua, tentang “Sukses Terbesar dalam Hidupku”. Nah, di bagian yang ini perlu mengulas kembali hakikat sukses itu apa. Kalau saya sendiri, sukses adalah sebuah proses dari pencapaian tujuan hidup. Di dalam essay saya, saya menceritakan latar belakang keluarga yang pas-pasan dari segi ekonomi, namun akhirnya dapat menempuh pendidikan sarjana. Saya menambahkan beberapa torehan prestasi yang saya peroleh sejak sejak SMP hingga S1. Tak lupa, utarakan bahwa kesuksesan itu juga berdampak positif untuk masyarakat dengan keterlibatan kita di organisasi/komunitas. Buat draftnya, review dan review. Mintakan orang lain yang menjadi awardee LPDP untuk mereview essay kita. Pasti aka nada masukan agar lebih baik. Oiya, jangan sekali-kali copy paste ya. Kita dilatih menulis dengan jujur, kawan. Nanti ketahuan lho kalau plagiat, hehe.
  6. Rencana Studi, bagian ini menjadi hal ‘vital’. Kenapa ? Ya karena melalui rencana studi, kita dilihat sejauh mana persiapannya. Sebelum saya membuat rencana studi, saya mantapkan dulu pilihan program studi dan universitasnya. Masih bingung mau daftar ke mana ? Coba cek Times Higher Education, QS World University Ranking, dan list daftar universitas versi LPDP. Saya sendiri sudah memantapkan untuk mengambil S2 di Utrecht University Belanda dengan program M.Sc by research in Urban and Economic Geography. Tertarik ke Belanda ? Coba cek www.studyfinder.nl. Untuk by research, biasanya 120 ECTS (European Credit Transfer System) dan ditempuh selama 2 tahun. Jadi, setelah fix universitas dan program studinya, pahami apa saja mata kuliah yang ditawarkan dan tuangkan dalam rencana studi. Tipsnya : paparkan latar belakang/motivasi mengapa teman-teman mengambil jurusan tersebut, deskripsi program studi dalam bentuk tabel, waktu pelaksanaan kuliah, mata kuliah, topik tesis, aktivitas di luar perkuliahan, dan rencana setelah lulus. Saya membuatnya dalam 4 lembar. Yang perlu diperhatikan adalah linieritas. Saya S1 nya pendidikan geografi dan S2 ambil human geography, jadi harus ada alasan kuat mengapa akhirnya mengambil jurusan tersebut. Dari pengalaman kemarin,rencana studi ini yang paling ditanyakan saat wawancara. Jadi, perhatikan betul ya.
  7. Dokumen lainnya, harus disiapkan : surat pernyataan, surat tugas/izin belajar (bagi yang bekerja), KTP, slip gaji orang tua. Slip gaji pendaftar, surat keterangan sehat + bebas Napza + bebas TBC, serta dokumen khusus afirmasi kategori miskin berprestasi (rekening listrik 3 bulan terakhir, surat keterangan tidak mampu dari kelurahan) serta lampirkan sertifikat prestasi. Parstikan semua lengkap!




Semoga 2016 kuliah di Belanda, aamiin

Setelah submit, lalu ?
Pendaftaran periode kemarin ditutup 19 Oktober 2015. Saya mendaftar tanggal 15 Oktober 2015. Artinya, saya hanya 5 hari ‘mengejar’ deadline. Hal ini dikarenakan pada tanggal 17-18 Oktober saya ada kegiatan Asia Pacific Urban Youth Forum di Jakarta dan harus siap-siap jadi pembicara. Makanya saya cepat-cepat lengkapi berkas. Sebenarnya saya tidak menyarankan demikian. You have to prepare all the requirements perfectly. Kasus saya ini adalah karena ada kesempatan tiba-tiba, ada tambahan kuota afirmasi yang biasanya hanya buka 2x dalam setahun. Saya sarankan teman-teman jauh-jauh hari persiapannya agar bisa lolos administrasi. Sekali lagi, jangan pernah berpikiran coba-coba atau memalsukan dokumen ya. Nanti kena blacklist, hehe. Tips : jangan daftar serba mendadak, kemarin yang daftar pas H-1 deadline atau pas deadline sebagian besar gagal karena server down. Jadi, saya sarankan sebelumnya deh, maksimal H-3 amannya. Hal-hal seperti ini yang sering dilupakan sehingga, mereka yang sudah ‘ready to submit’ namun menunda-nunda ya gugur sebelum bertempur. Selanjutnya, status di akun kita setelah menyatakan ‘submit’ maka akan berubah menjadi proses seleksi administrasi. Tips : banyak bedoa, terutama bagi Anda yang muslim kuatkan dengan sholat Dhuha dan Tahajud juga amalan baik lainnya. Kalau kemarin, pengumuman sekitar tanggal 2 November 2015 melalui sms, email, dan akun pendaftar. 
Pengalaman seleksi II
On the spot essay writing, atau nama lainnya menulis esai di tempat adalah seleksi menulis esai dengan topic yang telah ditentukan. Biasanya satu kelompok esai sama dengan satu kelompok LGD. Saya kemarin dapat kelompok 13 A. Topik esai adalah isu/masalah terkini yang ada di Indonesia. Perlu sekali update informasi atau melakukan diskusi dengan teman lainnya untuk memperoleh insight baru. Waktu penulisan esai adalah 30 menit (kemarin Pkl 11.20-11.50), di dalam ruangan khusus (seperti ujian), ada dua tema yang ditawarkan, dan kita memilih satu tema. Kemarin saya dapat tema tentang fenomena ilmuwan kita yang akhirnya mengabdi di negara lain (saya lupa istilahnya apa). Sebenarnya ada tema kedua yaitu tentang konflik agama yang belum lama terjadi di Papua. Saya pilih topik pertama yang lebih mudah mendeskripsikannya. Tipsnya : mirip writing 2 di IELTS, buat dengan argument logis dan disertai contohnya. Tidak ada batasan kata kok. Perhatikan waktu yang diberikan.
Leaderless Grup Discussion (LGD)
LGD dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana calon penerima beasiswa mampu berkomunikasi, mampu bekerja sama dengan tim, mampu mencari ide untu menyelesaikan masalah, dan mau menghargai pendapat orang lain. Ketika LGD kemarin, kelompok saya ada 9 anggota. Kami diberikan waktu 50 menit untuk mendiskusikan topik “Kebakaran Hutan”. Sebelumnya, kami harus membaca artikel yang cukup panjang tentang kebakaran hutan di Riau dan Kalimantan. Selama 50 menit kami menyampaikan solusi alternatif yang dapat dilakukan sesuai background keilmuan kita. Ada 2 psikolog yang menilai secara diam-diam (ya iya dong). Oiya, jangan lupa ada pemimpin diskusi dan notulen agar lebih terarah (kami memutuskan saat akan mulai diskusi). Tipsnya : jangan mendominasi diskusi, sampaikan dengan singkat padat jelas dan bermutu, jangan menyela pembicaraan, jangan muter-muter arah diskusinya ya, manajemen waktu itu penting. Kami kemarin pas banget waktunya sehingga sudah dirasa ‘berhasil’ setelah dibacakan hasil diskusi oleh notulen. Tidak ada satupun yang mendominasi karena kami berusaha untuk saling menghargai setiap pendapat. Oiya, kalau pendapatnya berbeda, sampaikan dengan halus, jangan menjatuhkan teman sendiri, hehe. Bisa-bisa nilai kita yang malah dikurangi. Intinya kita menghilangkan ego pribadi, kita mengutamakan adanya apresiasi. Tips lain : banyak baca referensi buku/internet/Undang-undang/sumber lainnya sebelum hari itu.
Wawancara
Ini bagian yang membuat perasaan nano-nano, serius. Bayangkan saja kemarin, saya dapat jatah wawancara Pkl 16.20-17.00 tapi kenyataannya baru mulai sekitar Pkl 16.50. Belum sempat makan siang (jadwalnya padat), baiknya siapkan bekal. Wawancara adalah poin yang sangat menentukan. Kalau tidak salah adalah 70% dari total penilaian. Akan dinyatakan lolos LPDP jika nilainya minimal 80 (semoga tidak salah). Wawancara ini dimaksudkan untuk mengetahui lebih dalam tentang kepribadian pelamar, dan ‘klarifikasi’ mendalam dari dokumen-dokumen yang diunggah. Total wawancara saya sekitar 45 menit. Sebelum wawancara, boleh bawa berkas-berkas pendukung (Saya bawa formulir, berkas pendukung, sertifikat, karya tulis/portofolio, publikasi/dokumen pendukung lainnya yang relevan). Teknisnya seperti ini : kita mendapat panggilan wawancara, lalu ke meja wawancara. Ada 3 interviewer, 2 dari akademisi dan 1 dari psikolog. Saar menuju meja, beri senyuman dan pandangan optimism (pokoknya PD), dan minta izin untuk duduk. Oiya, jangan gugup ya teman-teman. Kalau gugup, tutupi dengan senyum sumringah. Kemarin interviewer 1 adalah seorang bapak, 2 lainnya ibu. Masing-masing interviewer punya pertanyaan spesifik. Dua interviewer pertama fokus seputar : profil pribadi, rencana studi (dibabat habis), kontribusi ke masyarakat, pengalaman organisasi dan prestasi, dan tentu lebih mengarah ke hal-hal akademik. Sedangkan psikolog bertanya dalam bahasa Inggris seputar latar belakang keluarga dan seputar ‘personal life’ kepada saya. Kemarin ada juga beberapa teman cewek yang nangis gara-gara baper (bawa perasaan). Antisipasi hal seperti ini :) Iya, ibu psikolognya itu kemarin memang didesain untuk memanah hati, eh maksudnya masuk ke hatinya peserta. Beliau menanyakan hal-hal yang menyangkut pengalaman pribadi. Alhamdulillah saya tidak sampai menangis. Tipsnya : to be honest saja, jawab dengan jujur dari hati nurani, kuat mentalnya, dan sampaikan dengan tegas dan jelas. Kalau ragu-ragu biasanya terus dikejar pertanyaannya. Penting juga ketika menjawab harus logis dan aplikatif. Jangan banyak mengatakan “saya akan…bla bla bla” namun gunakan diksi tepat yang mengarahkan bahwa kita ‘telah’ melakukan sesuatu. Hindari jawaban yang sifatnya ‘keakuan’. Misalnya ketika ditanya, “Mengapa kamu ingin sekolah ke luar negeri?” Jangan dijawab, “Untuk belajar dan juga jalan-jalan”. Coba pikirkan juga apa manfaat yang dapat diberikan untuk Indonesia ? Sesuaikan dengan dua essay yang telah dibuat ya. Saya sempat syok ketika ditanya calon pembimbing thesis. Berhubung di website Utrecht Unievrsity tidak mensyaratkan adanya supervisor, saya belum mengontak satupun. Alhamdulillah, bersyukurnya saya sudah mencetak bukti email korespondensi dengan admission office dan saya menyebutkan nama salah satu professor yang akan menjadi target pembimbing tesis nanti. Sekitar 45 menit saya ‘sharing’ bersama 3 penguji tadi. Tak lupa menutupnya dengan ucapan terimakasih. Pesan salah satu penguji kemarin, “Semangat berjuang ya Mas Janu untuk IELTS nya” semoga bisa terus memberi inspirasi. Kebetulan saya juga menunjukkan beberapa koran yang memuat aktivitas kami di Omah Baca Karung Goni dan saat masuk koran sebagai mahasiswa berprestasi. Alhamdulillah ternyata setiap tulisan itu bermanfaat bermanfaat…
Saya menyelesaikan rangkaian seleksi ke-2 tanggal 19 November 2015 itu dengan penuh tawakal. Benar-benar pengalaman baru bagi saya. Keramaian diskusi dengan teman-teman di grup line ternyata bermanfaat sekali untuk proses seleksi kemarin. Sembari menunggu pengumuman akhir, saya mohon agar kedua orang tua turut mendoakan, benar-benar tawakal apapun hasilnya. Allah yang Maha Memutuskan. Allah tahu yang terbaik bagi saya. Selagi kita berprasangka baik, insyaAllah akan baik pula keputusannya. Hingga akhirnya, tanggal 10 Desember 2015 pun tiba. Setelah pulang kerja, saya cepat-cepat membuka email. Allahuakbar, saya langsung sujud syukur di kamar. Lalu saya ke dapur dan memeluk Bapak serta adek. Mak, Pak, Alhamdulillah Allah memberikan yang terbaik. Saya secara resmi menjadi keluarga besar Awardee LPDP Scholarship.
Terimakasih Tim Seleksi LPDP atas amanah ini, salam hormat untuk Bapak Mokhamad Mahdum Pak Lukmanul Hakim Bu Ratna Prabandari dan kelurga besar LPDP.
Terimakasih tak terhingga saya ucapkan, kepada mamak-bapak-adek yang selalu mendukung lewat lantunan doa, kepada Bapak Ibu dosen Jurusan Pendidikan Geografi UNY, teman-teman seangkatan Geografi 2011, relasi dan kolega dimanapun berada. Kepada mas-mbak awardee LPDP yang sudah saya repotkan (Mas Rasman Aryasatya makasih ya feedbacknya, terimakasih mas Hudha Abdul Rohman, Arin Pranesti, mas Adhi Wicaksono, mbak Endah Anomsari, Mas Rachmad Adi Riyanto, Mas Abhul Kahfi, Mbak Akhirta Atikana, Mbak Ana Stnk, Mbak Aprida Sondang Silitonga, Mbak Indah Gilang Pusparani, Mas Ikhsan Abdusyakur, Mas Willy Sakareza, Bu Indyhardono Neso, Mas Yansen Darmaputra dll). Terimakasih atas bimbingannya Mas Gilang Hardadi, mentor Indonesia Mengglobal. Terimakasih Mas Hutomo Suryo Wasisto yang menjadi inspirator saya, dan segenap teman-teman yang telah men-support lahir batin. Sahabat baik Aditya Jantra Madana Firmansyah Shidiq Wardhana Hardani Kamardi Aziz Perdana Hananta Syaifulloh Saddam Wijaya dkk
Semoga tips sederhana ini bermanfaat ya teman-teman, mohon maaf jika masih banyak kekurangan dari saya yang amsih awam ini. Sekarang giliran teman-teman, ayo sama-sama kerja keras realisasikan mimpi. 
Semoga dapat berkontribusi nyata untuk Indonesia. InsyaAllah, perjuangan selanjutnya pun dimulai. Mohon doanya agar dapat menempuh pendidikan di Utrecht University Belanda, September 2016.
Bismillahirrahmaanirrahiim..! 
Teman-teman calon awardee LPDP, kami tunggu ya di keluarga besar LPDP. Silakan #SHARE note ini jika bermanfaat, jangan ragu untuk berbagi :)
“Tinggikan mimpimu. Lalu kerja keras, kerja cerdas dan doa. 
Lalu lampaui mimpimu.”
Catatan ini ditulis sejak Pkl 15.30-20.30 di Yogyakarta, 12 Desember 2015
Salam hangat, Janu Muhammad
Alumni Pendidikan Geografi UNY - Awardee LPDP Afirmasi 2015