Ged a Widget

Senin, 30 November 2015

Mimpi Anda memang tinggi, tapi…



Setelah kemarin sempat mempublikasikan catatan berjudul “Anda Tak Perlu ke Luar Negeri Kalau Hanya…” pada kesempatan ini saya ingin bercerita, lebih tepatnya mengulas perjalanan mimpi yang sama-sama kita mulai sejak kecil. Mari sejenak kita refleksi diri.

Sahabat-sahabat saya yang selalu semangat,

Kita tentu masih ingat ketika pertama kali memasuki bangku sekolah dasar, Ibu dan Bapak guru pernah bertanya demikian, “Anak-anak, apa mimpi kalian ketika sudah besar nanti ?” Sebagian besar dari teman-teman di kelas saya menjawab, “Jadi dokter, Bu… Jadi polisi, Pak.” Mayoritas jawaban mengarah ke profesi dokter dan polisi. Ada sebuah pertanyaan yang mengusik pandangan saya sore ini, mengapa demikian ya ? Apakah memang kedua profesi itu adalah yang terpatri di benak setiap siswa ?

Tidak ada yang keliru memang, menurut saya. Setiap orang tua pasti menginginkan mimpi dan cita-cita terbaik bagi putra-putrinya. Saya pun ketika duduk di Taman Kanak-Kanak dan sekolah dasar pernah bermimpi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jujur saja, saya bercita-cita demikian karena ingin seperti paman saya yang telah sukses menjadi TNI AD di Jakarta. Betapa polosnya saat itu. Kalau begitu, apakah teman-teman yang lain juga terinspirasi orang lain juga ? Ini yang menjadi pertanyaan selanjutnya.


Selepas menamatkan sekolah dasar, tiba-tiba cita-cita saya berubah. Saya ingin menjadi seorang arsitek. Apakah ini murni keinginan saya ? Ternyata bukan, saya terinspirasi oleh Bapak saya. Beliau adalah tukang bangunan, yang cekatan dalam merancang hingga mendirikan rumah. Saat di SMP 1 Sleman, saya juga menyukai matematika. Katanya kalau mau jadi arsitek memang harus pandai di matematika ya ? Ternyata mimpi saya berubah… Apakah sahabat sekalian juga pernah mengalami hal serupa ? Semoga Anda tidak hilang konsentrasi menyimak penuturan saya ini.

Ketika lulus SMP, nilai matematika saya 10 bulat dan bersyukurnya diterima di salah satu SMA favorit di Kota Yogyakarta. Tetapi sayangnya ketika SMA justru turun drastis, hingga lulus sekadar untuk memenuhi syarat kelulusan. Mimpi saya pun berubah total. Kala itu, saya memantapkan diri ingin menjadi pendidik, lebih tepatnya dosen. Hal ini mulai saya jaga dengan serius, sampai di masa-masa kuliah S1. Kali ini muncul pertanyaan, “Saya dulu pernah bermimpi tinggi dan apakah kini mimpi saya masih terlalu tinggi ?” Semoga tidak hilang haluan.

Teman-teman yang baik,

Suatu ketika, mulai  semester 3 saya mendapatkan beberapa undangan untuk mengisi acara di kampus ataupun sekolah. Tidak jauh bertemakan “kepenulisan, penelitian, motivasi belajar, kepemimpinan, dan kepemudaan..” sasarannya mulai adik-adik SD hingga para mahasiswa. Dari sana, saya mulai menemukan jawaban atas pertanyaan tadi. Saya pun selalu mencoba bertanya kepada para audiens, “Mimpi Adik-adik apa ya ?” dan memang benar, adik-adik yang seusia SD/SMP menjawab “dokter/polisi/tentara”. Oh, hipotesis pribadi saya mengatakan bahwa memang ada sesuatu yang terpatri di pikiran kita ketika kecil. Kecenderungan orang tua yang menginginkan anak-anaknya menjadi dokter.dll membuat kurang bebas dalam menentukan pilihan. Mari kita lihat para ilmuwan di Indonesia ataupun dunia. Mereka tumbuh dan berkembang dengan keleluasaan, bahkan seperti halnya Steve Jobs dan para ilmuwan lainnya ‘dikeluarkan’ dari sekolah dan memilih mewujudkan masa depannya dengan caranya sendiri.

Mimpi Anda memang tinggi, tapi…

Di satu sisi saya sangat optimis ketika melihat adik-adik yang saya beri motivasi akhirnya berani bermimpi tinggi, berani menuliskan mimpi-mimpinya di dinding kamar, intinya berani untuk bermimpi tinggi. Namun di sisi lain, saya melihat mengapa ya trend seperti itu hanya berkisar antara usia SD-SMP, sedangkan ketika mereka mulai memasuki masa remaja awal dan remaja akhir…bergeserlah semuanya. Bagi yang berada di lingkungan positif, mereka masih mampu memegang impiannya itu. Bagi yang kurang terjaga lingkungan pergaulannya, justru mengalami degradasi mimpi. Maksud saya kehilangan ruh atas mimpi-mimpi tersebut. Ternyata, faktor lingkungan itu memang sangat mempengaruhi. Mimpi memerlukan lingkungan yang baik untuk tetap hidup dan siap untuk dijemput.

Kadang-kadang godaan sana-sini menggoyahkan mimpi kita. Seperti cerita saya tadi, mimpi saya pun sering berubah. Kesimpulannya, saya perlu seseorang yang menjadi role model mimpi saya. Inilah yang dinamakan inspirator. Mereka yang satu passion, saya kecenderungan sifat tentu menjadi inspirasi agar mimpi tetap tumbuh.

Mimpi Anda memang tinggi, tapi…

Usaha untuk meraih mimpi masih sedikit. Banyak contoh yang bisa kita lihat. Ketika kita punya teman-teman yang sepakat bermimpi tinggi namun belum tentu semuanya mampu mencapainya. Indeks usaha yang dilakukan ternyata belum tentu sama. Untuk itu, betapa pentingnya melebihkan usaha yang kita lakukan. Bisa jadi kegagalan yang kita alami kemarin adalah karena usaha yang masih sedikit. Apakah memang demikian ?

Mimpi Anda memang tinggi, tapi…

Kadang-kadang masih mengeluh. Ini juga menjadi koreksi bagi saya. Ketika mendengar teman di samping saya mengeluh, lalu saya ceritakan ke dia. “Lihatlah mereka yang siang hari panas-panas jualan koran di perempatan demi menafkahi keluarga. Mereka saya lihat tetap tegar walau belum tentu korannya semua laku.” Tak jarang saya mendengar mereka yang bermimpi tinggi, sedikit-sedikit sudah mengeluh, gagal sedikit saja lalu berkata, “Ah..yaudahlah”. Bangsa kita perlu anak muda bermental tangguh untuk menjadi pemimpin masa depan, kawan. Catatan untuk kita, sudahkan rasa syukur itu kita hayati di sanubari ? Lihat lah potret di perbatasan negeri ini, anak-anak itu rela berjalan lebih dari lima kilometer demi menggapai MIMPI. Kita yang diberikan fasilitas lebih baik ini…masih sering mengeluh ?

Mimpi Anda memang tinggi, tapi…

Faktor doa dan ridho orang tua juga amat penting. Mahasiswa sering kali idealis bermimpi hanya untuk dirinya sendiri. Bermimpi dan ingin dicapai sendiri. Bukankah faktor doa juga perlu ? Bukankan ridho orang tua juga yang akan menentukan ? Maka, tentu akan bijak jika kita menempatkan kekuatan doa ada di pondasi utama. Tidak cukup hanya sebatas usaha keras, namun keteguhan doa lah yang menentukan kehendak-Nya. 

Sahabat sekalian pemimpi(n) masa depan,

Memiliki mimpi tinggi tidak sebatas diikrarkan dalam hati. Tidak sebatas dituliskan di dinding kamar. Tidak sebatas digantungkan tinggi-tinggi. Bung Hatta yang pernah memimpin bangsa ini benar-benar memperjuangkan dengan sungguh-sungguh dengan bersekolah hingga ke luar negeri. Lebih dari 11 tahun beliau menempuh pendidikan di Belanda untuk mencapai mimpi bangsa ini, bukan hanya untuk dirinya sendiri. Maka, saya mengajak Anda sekalian agar mau dan mampu berjuang bersama menjemput mimpi. Mereka orang-orang besar yang kini memimpin Indonesia ini, lahir dari tempaan kerja keras dan kebulatan tekad untuk menjemput berani mimpi dan berani meraihnya.

Layaknya buah mangga di pohon, jika kita ingin memakannya, maka kita perlu memanjat pohonnya atau menggunakan galah (izin dulu sama pemiliknya ya). Bermimpi tidak hanya untuk ekspektasi pribadi, mari persembahkan untuk masa depan republik ini. Jika masih merasa berat untuk meraihnya sendiri, ajak teman-teman di sekeliling Anda untuk berjuang bersama. Dengan demikian, sebenarnya tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada adalah usaha dan doa kita yang masih sedikit. Semoga kita mampu mewujudkannya!

Ditulis di bumi Yogyakarta selepas rintik hujan, 30 November 2015

Pembelajar,

Janu Muhammad