Ged a Widget

Sabtu, 26 September 2015

Pre Event Asia-Pacific Urban Youth Assembly at APUF-6 (APUFY)

Hi guys, it's time for me to share my experience during the pre event of APUFY 2015. I do hope this brief review would be useful to gain the knowledge. 

 Before the Opening

In connection with the holding of the Asia Pacific Urban Youth Assembly (APUF-Y) on 17-18 October 2015 in Jakarta, the Ministry of Public Works and Housing of Republic of Indonesia held a briefing for APUFY participants coming from Indonesia. This activity was attended by 150 delegates elected, held on 21-22 September 2015 at Hotel Sahid Jaya, Jakarta.

Global urbanization is the engine that drives the world toward prosperity in the 21st century, and young people are the main drivers. Today there are many people under the age of 25 years, nearly three billion; 1.8 billion of the total population is aged between 12-24 years old. Young people living in cities and the number is increasing. It is estimated that approximately 60% of all urban dwellers will be under the age of 18 in 2036.

With Pandu, my friend from Young Leaders for Indonesia

Young people need to be empowered as stakeholders, observers, and a leader for sustainable urban development in the Asia-Pacific region. Young people can participate to improve urban governance that is inclusive, ensure the protection of the urban environment, and lead by using an innovative and entrepreneurial approach in its implementation. Young people are very concerned about good education and jobs. 

The involvement of today's youth is investment in the future as sustainable development and inclusive. So, it is necessary to strengthen its capacity and increase the concern in the implementation of urban problems which is to be faced in the future. APUF-Y event tried to achieve the following objectives:


  1. To discuss the priority issues and strategies to strengthen the youth participation in municipal government in Asia-Pacific; 
  2. To facilitate increased capacity based on various models of successful youth leadership and solutions; 
  3. To demonstrate the ability of young people and knowledge to design leadership volunteerism in high-level, management, and participation in a set of diverse and innovative activities; 
  4. To strengthen the voice of young people in the Asia-Pacific with urban policy dialogue on regional and global levels related activities and processes of APUF-6 and HABITAT III including input to MGCY UN-HABITAT III and beyond.

From the Pre Event yesterday, there were 10 themes raised in parallel sessions:


  • Session 1: Child-Friendly City
  • Session 2: Youth Leadership in Disaster and Beyond
  • Session 3: Investing in Youth Initiatives (Financing Mechanism)
  • Session 4: Youth Civic Media Training
  • Session 5: Data Innovation and Inclusive Cities
  • Session 6: Participatory Public Space / Infrastructure Design
  • Session 7: Innovating Our Way Out of Traffic Jam
  • Session 8: Toward Socially Responsible Real Estate Development
  • Session 9: Out of The Box Urban Policy (or dialogue with Mayors)
  • Session 10: Youth Led Waste Management
At the Plenary Session (Before Parallel Session) delivered on "Implementing the SDGs and New Urban Agenda - the role of local government" by Mr. Wicaksono Sarosa, Ph.D. The opening session was my favourite with tremendous inspiration from him who are alumni of Architecture ITB and completed his master's and doctorate at the University of California at Berkeley with a Fulbright scholarship.

"The Future of Our City, Our Future: Scenarios, Challenges and Proposed Urban Agenda for Indonesia" became the title of the Mr. Wicaksono presentation. Then the question arises, "Why New Urban Agenda?" There are several reasons, one of which is the many people who live in urban areas than those living in rural areas. We can see, that the condition of the city today is a reflection of society, right ? The healthy city is a picture of a society that promotes a clean and healthy lifestyle.

There are three major challenges to the "optimistic scenario" urban such as:
  1. Common challenge: how to optimally utilize a variety of potential posed by the process of urbanization (the formation of regional / urban communities) using limited resources. 
  2. Demographic challenge: how to capitalize on "the demographic bonus" for the future of our city. Human resource is a great potential if it can be improved. 
  3. Challenges of Governance : how to implement effective governance, fair, accountable, transparent, participatory, efficient, and others (good regulation and coordination between sectors are arranged). 
That's all my review until the plenary session. I hope to continue for the couple day soon, insyaAllah. 

Indonesian Delegates


For your information, those who are interested to join APUFY next October for internastional participants, please register yourself to https://docs.google.com/forms/d/1xloZidlM9Anl9zWktlv8KtO58t0eL71skF6j3RA9Mn4/viewform . 

Accommodation and food will be provided during the event on October 17-18. There are no registration fees, however, international participants will be required to find funding for flights through their own personal and community networks.
CLOSING DATE
Please note, registration is open until Wednesday, September 30th, 11:59pm UTC/GMT time and for all young people between the ages of 18 to 32. Participation is limited to 150 international youth and 150 national youth who will be assessed by the Selection Committee through an ongoing selection process.
CONTACTS
For further questions or inquiries, please contact the APUFY Secretariat on info@apufy.org with subject "Registration Inquiry".
Together as Asia-Pacific youth let us pave a New Urban Agenda!

Regards,
APUFY Secretariat

Celana Cingkrang Tidak Menghalangi Kita untuk Berprestasi

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Yang hingga detik ini masih begitu baiknya memberikan kita nikmat sehat dan waktu luang. Semoga shalawat tercurah kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam yang senantiasa kita beri’tiba’ kepadanya. 
 
Sebenarnya sudah sejak lama ingin menulis catatan ini. Barangkali judul di atas adalah sebuah refleksi pribadi, yang timbul dari pengalaman sehari-hari. Mari kita awali untuk meluruskan niat sebelum membaca, kita sama-sama dalam proses menimba ilmu dan tentu saran maupun kritik yang membangun sangat terbuka. 
 
Jadi ceritanya, kira-kira pada awal kuliah di UNY (2011) saya dihadapkan pada sebuah kondisi dimana banyak gerakan mahasiswa disana-sini. Tentu wajar, sebagai mahasiswa baru yang masih kalem…saya pun terlalu mudah untuk diajak kegiatan berbau agama. Yang saya pikirkan saat itu, saya yang dulu pernah mengikuti rohis selama 2 tahun apakah akan melanjutkannya di bangku kuliah ? Setelah mempertimbangkan dengan matang, saya putuskan untuk tidak mengikuti rohis kampus. Saya ingin memfokuskan diri pada akademik, penelitian, dan mengikuti kajian di luar kampus. 
 
Qadarullah, menjelang semester 3 kala itu saya mengikuti kajian di Masjid Al Hasanah (utara Mirota kampus/selatan UGM) dan begitu takjub melihat semangat para pemuda muslim yang ngaji. Pertama kalinya saya merasakan sesuatu yang berbeda, kajiannya cukup serius, tidak ada yang mainan hape, sangat minim candaan, hampir semuanya mencatat materi dari ustadz, dan ukhuwah antar peserta kajian yang begitu kuat. Yang disampaikan ustadz adalah yang Rasulullah ajarkan, dan berdasarkan dalil syar’i. 
 
Dua hal yang tidak akan pernah saya lupakan adalah perihal celana cingkrang (tidak isbal) dan hokum membiarkan jenggot tumbuh bagi laki-laki. Saya tidak akan menuliskan dalil-dali tentang dua hal tersebut karena saya yakin teman-teman sudah tahu, betul ? Saya tertegun, melihat peserta kajian di Masjid Al Hasanah adalah mereka yang berusaha mengamalkan dua hal tadi. Berbeda dengan kajian yang pernah saya ikuti di tempat lain sebelumnya, ustadz menyampaikan dua hal tersebut tetapi sayangnya beliau belum mempraktikkannya. Semoga Allah memberikan hidayah kepada beliau. Juga sering saya jumpai, para aktivis dakwah yang masih memanjangkan celana di bawah mata kaki dan memangkas jenggot sampai habis.
 
Dilema, saya mengalamai sebuah tekanan serius pada semester 4. Beberapa ikut kajian sunnah di sekitar UGM membuat saya berada pada titik dimana keyakinan dan amalan rasanya masih jauh dari yang Rasulullah ajarkan. Berada pada kondisi dimana saya harus memutuskan untuk segera hijrah, mencari lingkungan yang lebih baik dalam mendalami agama Islam sesuai Al Qur’an dan As Sunnah, bukan berbasis gerakan dan kelompok tertentu. Yang namanya menemukan hidayah memang tidak mudah, ia tak akan datang dengan banyaknya ceramah. Ia datang karena Allah yang memberi, Allah yang mencurahkannya.
 
Semester 5, mulai banyak cibiran yang terlontar dari orang-orang terdekat mengapa jenggot mulai dibiarkan tumbuh dan tidak dipotong. Saat itu saya sendiri belum siap untuk mengganti celana kain. Masih di bawah mata kaki, sering kali dilipat sampai di atas mata kaki. Saya belum berani secara langsung memakai ‘sirwal’. Keluarga masih perlu saya berikan penjelasan secara lembut. Yang terpenting adalah satu AKIDAH. Tentang bagaimana ajaran Islam itu indah, tentang ajaran Islam yang murni, yang Rasulullah ajarkan. Bukan bermaksud menggurui, kita sama-sama belajar dan menasihati dalam kebaikan. Terkadang ketika kita sudah siap berbenah, lingkungan belum mendukung. Kita menunggu waktu yang tepat namun alangkah baiknya memang harus disegerakan.
 
Setelah KKN, tepatnya awal semester 8 saya mulai mengenal beberapa ikhwah di kampus yang masyaAllah sholeh dan secara mantap mengamalkan sunnah. Ditambah lagi inspirasi salah satu role model kaum muda, Mas Teuku Wisnu yang hijrah, semoga Allah menjaganya. Itu adalah salah satu dorongan bagi saya pribadi. Diri ini begitu malu, sudah dicontohkan Rasulullah, tahu kalau isbal itu dilarang kok masih saja isbal. Dan malam itu menjadi jawabannya, Allah memberikan pengingat agar segala hal yang baik memang harus disegerakan. 
 
 
 
Alhamdulillah, dalam hati bertekad agar niat tetap lurus. Perlahan saya mulai mengenakan celana cingkrang di atas mata kaki. Awalnya memang sangat minder karena banyak orang terdekat yang heran dan melontarkan banyak pertanyaan. Bahkan dosen pun sempat mengkritik. Pernah suatu ketika saya disangka anggota LDII waktu beli perabotan di toko, pernah disangka komplotan ISIS saat di Semarang, terlalu sering ada yang menyindir ‘lagi banjir ya mas?’ atau disangka ikut aliran tertentu, itu semua sudah biasa. Pengalaman yang juga tak akan saya lupakan adalah ketika menjelang pelepasan wisuda. Saya sempat ditegur panitia agar celananya menyentuh sepatu bagian bawah. Saat yudisium juga, sempat disindir dosen karena dikira sedang banjir.
 
MasyaAllah, saya pun keheranan sendiri, mengapa sikap sesama muslim yang mengetahui kaum muslim lainnya mau belajar agama justru disangka ini itu. Gaung dan label ‘toleransi’ ternyata lebih mudah diucapkan. Kita perlu saling mengingatkan bahwa agama adalah yang utama. Aktivitas kita yang harus disesuaikan, bukan agama yang menyesuaikan.
Allah memberikan hidayah pada mereka yang mau menerima hidayah. Jika ia sudah bertekad kuat karena Allah, insyaAllah segala cibiran dan godaan akan menjadi hal biasa. 
 
Meski celana cingkrang, tetap bisa meraih cumlaude
Meski celana cingkrang, tetap bisa meraih wisudawan terbaik prodi
Meski celana cingkrang, tetap bisa menorehkan prestasi
Meski celana cingkrang, masih bisa ikut kompetisi dan juara
Meski celana cingkrang, selalu berusaha menebar inspirasi
 
Luruskan niat karena Allah dan tetaplah rendah hati. Mari kita belajar, bagaimana menjadi pemudapemudi muslim harapan umat yang senantiasa berpegang teguh dengan agama, dan berprestasi untuk kebaikan. Ajaran Islam itu indah, tidak mempersulit para pengikutnya. Tinggal bagaimana kita mau mengamalkannya, tidak hanya untuk investasi akhirat kelak..tetapi juga untuk menjadi hamba yang bermanfaat serta berprestasi.
 
Sekarang, antum yang ikhwan dan sudah lama ngaji, masih ragukah untuk mengamalkan sunnah nabi ? Masih ragu untuk memakai celana di atas mata kaki dan membiarkan jenggot tumbuh ? Teruntuk engkau wahai muslimah, masih ragu untuk mengenakan jilbab syar’I ?
Saya semakin yakin, bahwa celana cingkrang tidak menghalangi kita untuk berprestasi. Mengamalkan ajaran Islam secara kaffah akan berkorelasi positif dengan capaian prestasi. 
 
Jazaakallahu khoiron katsiron Akh Ammar Fauzan atas ide judul tulisan ini, Ustadz Riksa Ginanjar dan segenap ikhwah Formuny Achmad Fadhilah Mas Arry Darmawan Wahyu Sigit Permadi Yuli Widiyatmoko Muhammad Mufti Hanafi dll. Semoga istiqomah dalam berdakwah.
 
Semoga Allah senantiasa memberi kita petunjuk, menjauhkan kita dari fitnah ataupun riya’, dan memberikan cahaya kehidupan di dunia dan di akhirat. Wallahu’alam bishawab, segala maaf atas khilaf dari saya pribadi. Baarokallahu fiik...

Yogyakarta, 26 September 2015

Spesial note untuk teman-teman Geografi A 2011 : Adang Saripudin Arief Lakey Aziz Perdana Wisnu Putra Danarto Hardani Kamardi Muhamad Mahrus Ali Intan Fadhila Esti Rahayu Dha Mardasari Dian Oktavina Romadoni Tricahyani dkk. 
 
Untuk Akh Muhammad Iqbal Nuriyana dan Ganang Aziz Nurhuda terimakasih untuk inspirasinya.

Senin, 07 September 2015

Rangkuman Kajian Akbar Ustadz Badrusalam, Lc. di ICBM




Alhamdulillah,wassholatu wassalamu ‘ala nabiyyina Muhammadin

Segala puji syukur hanya kepada Allah Ta'ala, yang senantiasa memberikan hidayah-Nya. Semoga sholawat tercurah kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, teladan umat Islam yang kita harapkan syafaatnya di hari kiamat. Pada kesempatan ini saya akan merangkum sebuah kajian akbar bersama beliau al Ustadz Badrusalam, Lc. hafidzhahullahu taala anhu di Islamic Center Baitul Muhsinin Medari. Beliau Ustadz Barusalam, Lc. adalah pengisi Radio Rodja dan Rodja TV. Kajian pada hari Sabtu, 5 September 2015 ini bertemakan “Kaidah-Kaidah Dasar dalam Beramal” sebuah tema yang sangat penting bagi kita umat Islam.


Kajian dibuka ba’da Maghrib dengan pengantar tentang kewajiban setiap mukmin untuk berilmu sebelum beramal. Ikhwah fillah, berilmu adalah perkara mendasar yang harus ditanamkan pada diri setiap mukmin sebelum ia beramal. Kita sama-sama paham bahwa ilmu adalah syarat sah amal.  Untuk itu, menuntut ilmu adalah perintah dan kewajiban dari Allah untuk umat manusia.

“Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Majmu’ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)

Ketika sudah berilmu, seseorang pada akhirnya akan mulai beramal. Kita perlu mengenal syarat sah ibadah/amal. Ibadah yang benar kepada Allah dibangun di atas dasar-dasar atau kaidah-kaidah yang kokoh. Ada dua syarat utama : a. Ibadah adalah tauqifiyah. Artinya, ibadah tidak akan dilakukan kecuali dengan apa yang diperintahkan atau diturunkan wahyu Allah Ta’aa. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.‘” (QS. Ali Imran:31).

Ibadah yang dilandasi dengan mengikuti petunjuk Rasulullah begitu penting untuk diperhatikan. ; b. Ibadah harus dilakukan atas dasar ikhlas. Ikhlas adalah memurnikan niat dalam beribadah kepada Allah, mencari ridho Allah, menginginkan wajah Allah, serta perjumpaan dengan-Nya. Ikhlas tempatnya di dalam hati dan tidak perlu disebutkan melalui lisan. Selanjutnya, ada enam kaidah yang harus diperhatikan dalam beramal :

  1.  Pertama, beramal sesuai tuntunan Rasulullah untuk sifat/tata cara. Contohnya adalah ketika melaksanakan sholat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan bagaimana tata cara sholat yang benar. Jelas ini mutlak dan tidak dapat diubah-ubah karena sudah jelas dalilnya.
  2. Kedua, beramal sesuai ketentuan Rasulullah untuk waktunya. Ketika melakukan amal kebaikan ataupun ibadah, Allah telah mengatur kapan waktu terbaik yang dapat diisi oleh dengan beribadah. Misalnya perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan adalah hanya pada bulan Ramadhan, bukan bulan lainnya. Tentu ini waktu mutlak yang tidak dapat diganti. Begitu jugu dengan pelaksanaan sholat Dhuha misalnya pada pagi hari.
  3. Ketiga, beramal sesuai tuntunan Rasulullah dalam tempat. Salah satu contohnya adalah yang baru-baru ini akan dilaksanakan oleh sebagian kaum muslimin yaitu ibadah haji. Sudah menjadi ketentuan bahwa tawaf yang dilakukan saat ibadah haji hanya boleh di sekitar ka’bah dengan mengelilinginya. Tidak dapat dilaksanakan di tempat lain, seperti di Parangtritis Yogyakarta yang mana di sana terdapat lokasi untuk latihan manasik haji.
  4. Keempat, beramal sesuai tuntunan Rasulullah dalam hal jumlah. Contoh nyatanya adalah dalam hal rakaat sholat. Ketentuan khususnya adalah jumlah rakaat yang secara mutlak telah diajarkan Rasulullah. Maghrib tiga rakaat, Isya empat rakaat, dan lain sebagainya.
  5. Kelima, beramal sesuai tuntunan Rasulullah dalam hal sebab. Ini juga merupakan perkara penting yang perlu mendapat perhatian.
  6. Keenam, beramal sesuai tuntunan Rasulullah dalam jenisnya. Misalnya pada ibadah qurban. Telah disebutkan bahwa binatang yang menjadi hewan qurban salah satunya sapi, bukan berupa binatang buas ataupun binatang berbahaya lainnya.


Ikhwah fillah…
Selanjutnya, dari enam kaidah di atas, alangkah baiknya jika kita mencari dan melaksanakan amalan yang paling baik, yang didasari dengan ikhlas serta sesuai tuntunan Rasulullah. Analoginya adalah ketika kita bersedekah, maka kualitas yang paling baik adalah ketika secara sembunyi-sembunyi dan di saat paling sulit (seperti banyak kebutuhan hidup atau baru dalam keadaan terjepit). Maka itulah yang paling utama, tetap beramal meski kekhawatiran menghimpit.

Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah. Beliau al ustadz Badrusalam juga memberikan nasihat tentang pentingnya amalan hati di samping amalan anggota badan. Hati yang bersih akan melahirkan amalan baik, amalan yang semakin bermanfaat untuk umat. Amalan yang paling dicintai Allah salah satunya adalah memasukkan kegembiraan di hati setiap muslim. Contohnya ketika sahabat kita dirundung duka dan masalah. Maka dekatilah ia, ajaklah untuk makan dan beri suasana gembira agar semangatnya tumbuh dan segera berbenah. Amalan baik juga salah satunya adalah yang paling berpengaruh untuk hati kita. Misalnya ketika kita dalam keadaan jauh dari Allah dan perlu obat hati berupa membaca Al Qur’an maka bersegeralah membacanya dan jangan ditunda, bukan dengan memperbanyak sholat sunnah karena sesungguhnya pada saat itu dengan membaca Al Qur’an lah yang lebih utama untuk iman kita.


Sebuah amalan baik juga dilihat dari sisi perjuangannya. Semakin besar perjuangan untuk melaksanakan amalan itu, maka semakin besar pula pahalanya. Contohnya ketika akan bersedekah. Jika dalam keadaan miskin, banyak kebutuhan hidup, dan hanya memiliki sedikit uang, maka sesungguhnya ketika kita bersedekah maka pahalanya amat besar karena ada sebuah perjuangan yang harus ditempuh demi membuang jauh-jauh ‘khawatir’ menjadi lebih miskin. Maka sesunggunya Allah telah menyiapkan pahala berlipat di tengah kekurangan itu. Contoh ini tidak lepas dari rasa ikhas yang terbangun dalam diri atas wujud rasa cinta kepada Allah semata.

Demikian, bahwasanya kaidah-kaidah dalam beramal shalih amat penting untuk menjadi renungan bagi kita. Sudah sejauh mana ikhlas bersemayam dalam hati dan ittiba’ rasul menjadi landasan utama dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan ridho dalam setiap amalan kita, memberikan keberkahan untuk setiap aktivitas kebaikan kita.

“Setiap amal didasari dengan ilmu, ilmu yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah”

Demikian sedikit catatan singkat ini semoga menjadi reminder bagi penulis sendiri dan kaum muslimin lainnya. Mohon maaf jika terdapat kesalahan kata/makna dalam menuliskan kembali nasihat-nasihat dari Ustadz Badrusalam, Lc hafizhahullahu taala anhu. Wallahu ta'alam bishawab, semoga Allah senantiasa membukakan hati kita untuk mendatangi majelis-majelis ilmu dan melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.

Teriring doa untuk beliau Ustadz Badrusalam, Lc. hafidzhahullahu taala anhu semoga senantiasa dijaga Allah, diberikan keberkahan dalam jalan dakwah Islam ini. Kami mengucapkan jazaakumullahu khairan atas kehadirannya di Islamic Center Baitul Muhsinin.

“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah: 5 – 7)


Sleman, 6 September 2015
22 Dzulq.1436 H