Ged a Widget

Kamis, 27 Agustus 2015

Awalnya Memang Kecewa Diterima di Kampus Ini


Malam itu akhirnya datang juga. Setelah sekian lama menanti pengumuman hasil SNMPTN Undangan, tiba juga keputusannya. Saya diantar bapak ke warnet dekat SMP N 1 Sleman, almamater saya dulu. Di warnet itu tempatnya sangat sempit, bahkan saya dapat computer yang kurang baik. Harus di restart dulu dan saya mulai membuka website SNMPTN. Setelah memasukkan kode, akhirnya…jreng jreng. Selamat Anda diterima di…bla bla bla. Saya diterima di Pendidikan Geografi UNY. Di satu sisi saya lega akhirnya dapat kampus negeri dan di sisi lain saya sedih……berat rasanya. Sejak malam pengumuman itu sampai pagi, saya sulit tidur dan sempat meneteskan air mata. Betapa tidak, universitas yang saya idam-idamkan (sebut saja UGM) belum menerima lamaran saya. Ya Allah, padahal sudah optimis akan masuk Geografi UGM atau Biologi. Ternyata Allah menghendaki saya di UNY. Kampus yang menerima saya ini memang belum sefamiliar kampus sebelah yang selalu jadi rebutan. Ditambah lagi…puluhan siswa SMA N 2 Yogyakarta yang diterima lewat jalur Undangan, semuanya diterima di UGM kecuali saya ! Oh Ya Allah, berat rasanya malam itu untuk membuka hati dan pikiran. 


Hari kedua pasca pengumuman itu saya ke sekolah dan mendapati…teman-teman lain yang turut merasa sedih! Ya, sedih karena belum mendapatkan kampus untuk kuliah, termasuk gagal di jalur undangan. Wajar saja, mereka pilihannya tinggi-tinggi sih, ada yang Kedokteran UGM dan UNS. Kalau saya ya harus melihat kemampuan diri. Saya mulai berpikir rasional (sebelumnya masih pakai hati mungkin ya) ternyata saya lebih beruntung karena sudah diterima di universitas negeri. Apalagi di UNY, yang terkenal sangat terjangkau (SPP per semester saya 705.000 dan uang gedung 6,6 juta) adalah rasa syukur yang akhirnya terucap mulai saat itu. Alhamdulillah…


Akhirnya saya bulatkan tekad untuk mengambil kuliah di UNY dan secara resmi terdaftar sebagai Mahasiswa Baru (Maba) geografi. Setelah registrasi ulang di auditorium, saatnya persiapan OSPEK. Tahu kan ya OSPEK itu Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Saya mulai mengikuti kabar-kabar terbaru seputar OSPEK UNY. Sempat timbul inisiatif membuat grup facebook Kamilah Cendekiawan Muda (KCM) 2011 dan berhasil mengumpulkan lebih dari 30 mahasiswa untuk berdiskusi seputar OSPEK. Saat itu benar-benar masih cupu, eh beraninya mengundang Mas Taat dan Mas Avi, keduanya ketua OSPEK fakultas. Barangkali sifat inisiatif saya mulai muncul.

 Temu Perdana KCM di Rektorat UNY

KCM dibentuk dengan maksud sebagai wadah silaturahmi Maba 2011 dari berbagai fakultas, terutama untuk menanyakan hal-hal seputar OSPEK. Sebelum diorientasi, dulu ada namanya BPIM, pelayanan mahasiswa baru di Tampan Pancasila untuk mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE). Masih ingat di kepala saat mengunjungi stand penelitian di UKMF Penelitian SCREEN. Banyak inspirasi dan motivasi yang saya dapatkan agar kelak dapat memperdalam bidang penelitian selama di kampus.


Memori ketika OSPEK masih sangat terkenang. Gelora semangat Maba di GOR, di fakultas, maupun di jurusan. Sambutan hangat dengan inspirasi luar biasa ternyata mampu memompa semangat saya untuk dapat kuliah yang bener di UNY. Satu pesan Bu Nurfina (wakil rektor) yang saya jadikan acuan, “Kalian disini adalah mahasiswa pilihan, jangan lulus lama-lama, coba bisa lulus cepat 3,5-4 tahun.”


 OSPEK UNY 2011

Mahasiswa baru identik dengan gelora semangat hidup mahasiswa, identik dengan masa-masa awal mnegenal idealism kampus dan segala gerakan yang ada di dalamnya. Inilah rasanya awal-awal menjadi mahasiswa, ikut kegiatan ini itu, semuanya dicoba. Pada saat itu saya belum menemukan ‘ruh’ dan passion mau dibawa kea rah mana diri ini ke depannya.
 
 Teman Seperjuangan di Gugus Sukarno

"Awalnya memang saya sangat kecewa diterima di kampus ini, namun pandangan pertama saya ketika mengikuti OSPEK mampu mengobati kekecewaan ini. Hanya bisa terus bersyukur dan bersyukur..."

Ke mana perjalanan saya selanjutnya ?

Selasa, 11 Agustus 2015

Mimpi dan Masa Depan

Masa depan adalah rahasia illahi. Tidak ada yang dapat memprediksi. Bahkan kantong ajaibnya Doraemon pun tidak akan mampu menghadirkan gambaran masa depan menuju waktu terkini. Peluang besar yang dapat dilakukan manusia untuk melihat masa depan adalah dengan berMIMPI.

Ya, dengan MIMPI. Saya mencoba mengutip satu petikan dari Arai "Tanpa bermimpi, orang seperti kita akan mati". Demikian Arai mampu membius para penikmat Edensor, Laskar Pelangi 2. Darinya, barangkali saya juga ikut terbang untuk berani bermimpi tinggi. Apakah akan terwujud ? Apakah mungkin seorang anak penjual sayur mampu sukses meraih mimpi ? Pasti bisa! Ada syarat dan ketentuan berlaku, tentunya.

Sebelum menulis lebih lanjut, saya mempunyai passion (minat/ketertarikan) di bidang riset sosial, pendidikan (perpustakaan), relawan/kepemudaan, menulis, dan ngeblog tentunya. Jurusan saya saat ini di UNY adalah Pendidikan Geografi, menurut saya passion dan jurusan  cukup relevan. Untuk cita-cita, saya ingin menjadi seorang dosen geografi sosial di UNY (aamiin). Sekali lagi, boleh bermimpi kan ya ?

YLI Forum 2, 8-9 Agustus 2015

Saya coba langsung mengingat kembali aktivitas setelah Idul Fitri 1436 H. Rasa-rasanya ada beberapa hal yang perlu disiapkan untuk Bulan Agustus depan. Wall timeline serasa mulai penuh, tanda agar siap siaga menghadapi aktivitas super padat. Salah satu yang menjadi sebuah 'kebiasaan' adalah menerima tamu setiap akhir pekan di rumah, sekadar untuk silaturahmi dan berkunjung ke Omah Baca Karung Goni. Kata orang, banyak tamu = banyak rezeki. Meski sebenarnya, harus meluangkan waktu secara intens untuk persiapan : Young Leaders for Indonesia (8-9 Agustus 2015), Seleksi Pemuda Pelopor DIY (10 Agustus 2015), Kursus Bahasa Inggris (mulai 10 Agustus-September 2015), Seleksi Nutrifood Leadership Award (22 Agustus 2015), Kegiatan 17an di Ngemplak (mulai 16 Agustus 2015), Mentorship Indonesia Mengglobal, dan Future Leader Summit (next September 2015). Jangan lupa, ada hajatan paling penting yaitu....WISUDA 29 Agustus 2015 insyaAllah.

Akhir Juli 2015 saya menghadiri dua training kepemudaan dan pelajar. Disana saya berbagi pengalaman hidup dengan harapan akan menumbuhkan semangat para pemuda ataupun adik-adik yang saya temui. Alhamdulillah, lancar. Selanjutnya, mengawali bulan Agustus 2015 saya kembali menuliskan timeline di kamar. Ternyata akan cukup padat sehingga memerlukan konsentrasi, manajemen waktu, dan fisik yang kuat. Baiklah, ada Allah yang siap dimintai tolong lewat doa. Kewajibanku hanya terus berani maju ke depan, hadapi hari-hari ke depan dengan semangat ikhlas dan ridho orang tua.

Sesaat setelah presentasi PLP 
(Tama, Yusuf, Erricha, Adi, Zuma, Alfred, Janu)

Persiapan lomba Pemuda Pelopor tingkat DIY menjadi target terdekat saya. Saya dan teman-teman pengurus Omah Baca Karung Goni mulai mempersiapkan semua berkas dan berkoordinasi dengan warga Ngemplak. Saya bersyukur, mereka mau membantu dalam persiapan ini. Di samping itu, saya serasa dikejar deadline tugas-tugas Mentorship Program dari Indonesia Mengglobal, termasuk deadline Poster PLP (Personal Leadership Project) dari YLI. Akhirnya, saya meminta bantuan Agung, pengurus OBKG bagian media. Dua hari itu saya pun menginap di kost temanku Arif di Samirono dan warnet UNY. Semoga Allah memberikan pahala untuk teman saya Arif yang selalu aku repotkan untuk skype ke luar negeri.

Tibalah saatnya, 8 Agustus 2015 saya mengikuti Forum 2 Young Leaders for Indonesia di Hotel Grandkemang Jakarta Selatan. Saya kembali bertemu dengan teman-teman hebat, pemuda-pemudi terbaik tanah air. Selama dua hari kami mendapatkan training dari McKinsey&Company, turut hadir pemicara inspiratif seperti Bapak Budi Sadikin (CEO Bang Mandiri), dan lain sebagainya. 

 Inspirasi dari Thoriq, sahabat baik yang sedang PhD di NUS Singapore
(Firman, Ajie, Erwin, Thoriq, Janu, Ryan, Ali, Riza, Astri, Ayu, Dita, Nurul)

Allah Memberikan Yang Terbaik dari Doa Kita

Tidak pernah saya bermimpi untuk meraih PLP terbaik. Saya hanya melakukan tugas sebaik-baiknya. Ya, selama 2,5 bulan saya dan teman-teman menjalankan PLP yakni Karung Goni Learning Center (KGLC) dan menikmati PROSESnya lahir batin. Saya tidak berekspektasi macam-macam, saya dan teman-teman hanya terus memompa semangat agar dedikasi ini bermanfaat untuk masyarakat Ngemplak. Allah ternyata mempunyai rencana lain, Dia memberikan yang terbaik bagiku. Malam itu, pihak YLI menetapkan KGLC sebagai Best PLP 2015. Alhamdulillah...dapat rejeki berupa kamera digita untuk KGLC (1 hari sebelumnya tim KGLC bermimpi untuk membeli kamera).

Memang, skenario Allah adalah yang TERBAIK. Pada hari  ke-2 Forum 2 YLI, tugas kami selanjutnya adalah belajar bekerja sama dalam tim melalui Breakthrough Leadership Project (BLP). Aku, Jadug, Ira, Qorry, dan Kevin terpilih ditempatkan di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Sungguh, ini kejutan yang tidak disangka-sangka.

Kemendikbud Team
(Ira, Jadug, Qorry, Janu, dan Rain sebagai coach)

Minggu malam, kami peserta YLI kembali ke daerah asal masing-masing. Banyak pelajaran berharga di Forum 2 ini, seperti : bagaimana mengetahui karakter serta kepribadian kita, komunikasi efektif, dan lain sebagainya. Saya tidak langsung pulang, malam itu masih persiapan untuk kegiatan Pemuda Pelopor DIY bersama teman-teman di OBKG. Bahkan sore harinya, Bu Dukuh menelponku bahwa ada kunjungan dari Disdikpora Sleman untuk mengecepk kesiapan OBKG. Alhamdulillah ada teman-teman pengurus disana.

Sampai sekitar jam 23.00 WIB kami di OBKG dan akhirnya pulang. Senin paginya sampai siang, kami menerima tim juri dari provinsi. Pengalaman yang tak dapat dilupakan saat diwawancarai kurang lebih 2 jam oleh tim juri, bahkan saking berkesannya sampai netes juga air mata ini. Pada prinsipnya, saya menganggap itu adalah ujian integritas, bukanlah lomba.

Tribun Jogja, 11 Agustus 2015
Penulis : Mas Muhammad Resya Firmansyah

Alhamdulillah, acara berjalan dengan lancar. Dengan muka masih tersedu-sedu, saya mulai tersenyum setelah tadi 'dibantai' oleh juri. :) Singkat cerita, pengalaman di Forum 2 YLI dan seleksi Pemuda Pelopor ini mengetuk hat nuraniku bahwa........

Hidup adalah bermanfaat untuk orang lain. Hidup sendiri akan merasa sepi, hidup dan bekerja sama dengan orang lain akan membuat batin kuat dan tenteram. Hiduplah dengan banyak mimpi dan berderaplah untuk beraksi. Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah rasa malu dan malas dari diri sendiri. Inspirasi dan motivasi dari orang-orang terdekat adalah kunci utama, doa dan ibadah kepada-Nya adalah syarat mutlak meraih ridho-Nya.

Saya, mimpi, dan masa depan. Saya masih belum tahu akan jadi apa di masa depan. Yang dapat kulakukan sekarang adalah berbenah diri dan terus belajar bagaimana menghubungan passion...aktivitas saat ini...dan rencana masa depan. Bukankah Allah telah memberikan surat cinta-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-carI kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Maka pilihan saya untuk masa depan adalah dengan selalu berprasangka baik kepada Allah. Bahwa kewajiban kita adalah terus berusaha, berdoa, bertawakal, dan berproses menjadi hamba yang Allah idam-idamkan. insyaAllah... Semoga menjadi manusia yang senantiasa rendah hati dan istiqomah berbuat baik.


Optimisme adalah kunci agar mimpi tetap hidup

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq: 3)

Senin, 03 Agustus 2015

Faedah Kajian Akbar Nasihat Ulama untuk Umat: Mencintai Allah, Rasulullah & Kaum Mukminin


"Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu): Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian". (QS. Al Imron: 31)


Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang tak henti-hentinya mencurahkan cinta kepada hamba-hambaNya. Ba’da tahmid, sholawat serta salam semoga tersampaikan kepada qudwah, suri teladan kita Nabi Muhammad Shallallhu’alaihi Wasallam. Semoga kita senantiasa mengikuti ajaran beliau dalam ketaatan melaksanakan sunnah-sunnahnya. 


Ikhwah fillah, Alhamdulillah pada kesempatan yang inshaAllah diridhoi Allah, hari Sabtu 1 Agustus 2015 telah terlaksana Kajian Akbar Nasihat Ulama untuk Umat di Masjid Kampus UGM bersama Syaikh Prof. Dr. Anis Thahir Jamal al Indunisy. Beliau adalah Guru Besar Ilmu Hadist Universitas Islam Masjid dan juga pengajar di Masjid Nabawi. Mendengar nama beliau, seakan ada darah Indonesia dari namanya. Ya, ayah beliau berasal dari Kroya (Cilacap) yang kemudian hijrah ke kota suci. Beliau lahir di Makkah pada tahun 1378 H. Semoga Allah senantiasa menjaga beliau dalam segala aktivitas dakwah Islam untuk umat di manapun berada. 

Sebelum kajian utama dimulai, terlebih dahulu diawali dengan kajian pembuka oleh Ustadz Abu Sa’ad Muhammad Nurhuda, MA dengan tema “Jihad Ulama di Jalan Ilmu”. Berikut saya tuliskan beberapa faedah utama dari nasihat-nasihat beliau.

Jihad, dari asal katanya berarti mengorbankan seluruh jiwa, raga, tenaga, baik berupa lisan maupun perbuatan untuk menebarkan dakwah Islam. Jihad terbagi menjadi empat, salah satunya adalah Jihad melawan hawa nafsu. Ini yang menjadi pembahasan utama dalam kajian ini. Tentu, jihad melawan hawa nafsu tidak terlepas dari apa yang terus dilakukan para ulama. 



Ada empat macam, yakni :
  1. Dalam rangka menuntut ilmu syar’I (sesuai pedoman Al Qur’an dan Al Hadist);
  2. Dalam rangka mengamalkan ilmu;
  3. Dalam rangka mendakwahkan ilmu yang bermanfaat serta amal sholih kepada manusia;
  4. Dalam rangka untuk bersabar pada implementasi tiga poin di atas.
Sebagai wujud ketaatan kepada Allah, hal mendasar yang harus menjadi semangat bagi kaum muslimin adalah menuntut ilmu syar’i. Ibarat air yang jatuh di atas batuan melalui tetesan-tetesannya sehingga mampu menggerus batuan itu, seorang penuntut ilmu juga harus istiqomah apabila ingin mengharap barokah dan ridho-Nya. Ini hal mendasar, bahwa ilmu adalah hal utama sebelum beramal karena sesungguhnya tiada amal satupun yang diterima kecuali didasari dengan ilmu yang benar sesuai Al Qur’an dan SunnahNya.


Menuntut ilmu adalah kewajiban yang paling mulia setelah menyembah Alloh. Ustadz Abu Saat juga menceritakan betapa berat perjuangan pada zaman dahulu untuk mendatangi majelis ilmu karena jarak yang amat jauh dan hanya berjalan kaki. Bahkan, para ulama pada zaman dahulu sampai-sampai tidak dapat membeli kertas untuk menulis, lupa makan hingga sakit karena begitu seriusnya menulis kitab, sampai-sampai menangis karena mata yang tak henti-hentinya melihat setiap huruf yang ditulis. MasyaAlloh, betapa mulianya mereka dan apalah daya kita ini. Di zaman yang serba modern ini justru tidak mudah melawan rasa mala situ, melawan kesenangan dunia yang hanya semu.

Pada akhir ceramah, beliau menyampaikan betapa beruntungnya kaum muslimin yang senantiasa bersemangat menuntut ilmu kepada para ulama. Juga mendoakan untuk para ulama, semoga Allah menguatkan dan memudahkan langkah dalam menebarkan dakwah secara lembut seperti yang Rasulullah ajarkan.


 


Ikhwah fillah rakhimakumullah…

Alhamdulillah ba’da Sholat Maghrib dilanjutkan dengan kajian inti bersama beliau Syaikh Prof. Dr. Anis Thahir Jamal al Indunisy dengan tema “Mencintai Allah, Rasulullah, dan Kaum Mukminin” dan penerjemah Ustadz Aris Munandar hafizhahulloh.


Cinta kepada Allah Ta’ala adalah ibadah, lebih dari apapun. Betapa mulianya urgensi mencintai Allah Subhanahu wata’ala daripada diri sendiri. Indikator bukti kecintaan kita kepada Allah adalah menyegerakan menaati seruan Allah dan bertekad kuat dalam menuntut ilmu serta beramal. Lemahnya indikator akan terasa apabila lemah dalam menuntut ilmu serta mudah berbuat dosa.


Pada sesi kedua ba’da Sholat Isya, Syaikh menyampaikan kiat-kiat supaya dicintai Allah. Hal yang paling penting adalah Allah mencintai kita. Diantara kiat-kiatnya yakni:
  1. Berdoa kepada Allah agar Allah mencintai kita. Analoginya, iman itu seperti kain. Awalnya baru, namun setelah dipakai lama-lama akan menjadi kusut. Maka mohonlah kepada Allah agar Allah memperbaiki iman-iman kita.
  2. Bersegera dalam melakukan kebaikan. Maka perbanyaklah amalan sunnah setelah melaksanakan hal wajib. Maka mohonlah kepada Allah agar kita termasuk golongan orang-orang seperti itu.
  3. Mencintai perkara-perkara yang dicintai Allah dan membenci perkara-perkara yang dibenci Allah. Sungguh ya akhi, ana tak kuasa ingin meneteskan air mata ketika mendengar petikan ini, “Ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” Rasanya ia telah mewakili jutaan mukmin yang senantiasa saling mencintai karena Allah.
  4. Merenungkan dan memikirkan ayat-ayat dalam Al Qur’an, riwayat hadist, termasuk juga ayat-ayat Qauliyah yang membentang di bumi ini. Inilah maksud diturunkannya Al Qur’an, agar orang-orang mengambil pelajaran. Beliau Syaikh Anis hafizhahulloh menceritakan indahnya menuntut ilmu di masa-masa SMP/SMA. Saat itu beliau diajarkan oleh guru yang beliau hormati, mengajarkan berbagai pelajaran seperti fisika, kimia, matematika, dan mengaitkannya dengan kandungan Al Qur’an. Sungguh, itulah makna yang sebenarnya sebagai bukti kebenaran kitab umat Islam ini. 
  5. Menaati Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Cintailah nabi dan laksanakan setiap ajarannya. Seandainya cintamu kepada Allah adalah sejati, maka engkau akan mengikuti setiap perintah-Nya. “Wahai Nabi! Sesunggunya Kami Mengutusmu untuk menjadi saksi, pembawa kabar gembira, dan pemberi peringatan.” QS. Al Ahzab :  45, silakan dapat diresapi ayat setelahnya.

CINTA KEPADA RASULULLAH

Beliaulah yang berjasa bagi kita. Satu perkara untuk cinta kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam adalah perkara agung setelah mencintai Allah Ta’ala. Seperti kisah Umar saat menyampaikan kepada Rasulullah bahwa beliau adalah orang yang lebih ia cintai daripada dirinya. Maka sempurnalah imannya. Maka cintailah Rasulullah dengan mengikuti segala ajarannya. Lalu, bagaimana menjadi manusia yang cinta kepada Rasul ? Berikut adalah kiat-kiatnya.
  1. Berjihad, yakni melawan diri sendiri (nafsu) dan lebih mencintai Rasulullah sebagai manusia yang paling dicintai.
  2. Melaksanakan konsekuensi syahadat, percaya sepenuhnya dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Senantiasa menjalankan apa yang Dia perintahkan dan menjauhi apa saja yang dilarang.
  3. Bersemangat mengikuti ajaran nabi dalam beribadah kepada Allah sehingga mengharuskan kita untuk belajar, memahami hadist-hadist nabi dan menimba ilmu dari para ulama.
Pada akhir kajian, Syaikh memberikan nasihat berharga perihal urgensi menjaga persatuan kaum mukminin serta bahayanya melakukan kreativitas dalam beribadah kepada Allah. Maksud kreativitas di sini adalah mengada-adakan perkara baru dalam beribadah. Bahwa Allah sangat murka kepada hal itu. Yang diajarkan Islam adalah membangun ukhuwah, di manapun berada. Tinggalkanlah seruan jahiliyah yaitu fanatisme pada suatu kelompok tertentu. Ikatan yang dibangun adalah karena iman, bukan karena fisik. Seperti dinukil dari kisah Ibnu Mas’ud. Karena betisnya kecil maka orang-orang di sekitarnya sering menertawakannya. Sungguh, apabila betis itu ditimbang maka lebih berat dari Gunung Uhud. Maka, kita berdoa kepada Allah agar umat Islam di penjuru dunia senantiasa terjaga kesatuannya, tidak tersulut emosi ketika mendapatkan fitnah. Kita perlu belajar pada kisah Rasulullah ketika sholat di sekitar ka’bah dan dilempari kotoran unta di atas pundaknya oleh pasukan Abu Jahal. Beliau tetap tenang, diam, dan tidak membalas keburukan. Maka sesunggunya, kesabaran umat Islam saat ini sedang diuji dan hanya kepada Allahlah tempat kita bergantung dan berserah diri. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Maa`idah [5]: 54)



Wallahu’alam bishawab, demikian sedikit ilmu yang berhasil saya catat. Semoga dapat diambil faedahnya. Semoga Allah menjaga beliau Syaikh Prof. Dr. Anis Thahir Jamal al Indunisy. Terucap jazakumullahu khairan katsiran kepada segenap panitia kajian akbar atas curahan waktu dan tenaganya. Smeoga Allah membalas dengan pahala yang berlipat.