Ged a Widget

Sabtu, 28 November 2015

Pak Nur: Engkau Guru Terbaik Kami

Di sekolah ini kami bertemu. Di sekolah ini kami tumbuh menjadi pribadi teguh. Terimakasih Bapak dan Ibu Guru. Semoga Allah membalas jasa-jasamu.
Hari Rabu, 25 November 2015 ada hal istimewa yang saya dengar di berita ataupun media masa, termasuk media sosial. Banyak yang mengucapkan “Selamat hari guru” ataupun “Terimakasih guru”. Sesuatu yang sering dijumpai ketika tanggal 25 November setiap tahunnya. Saya sendiri kemudian mengingat-ingat, sebenarnya saya yang seperti ini juga merupakan karya atas didikan para guru. Baik, hari ini saya akan mengucapkan terimakasih secara langsung kepada salah satu guru terbaik yang telah mendidik saya di SMP N 1 Sleman, almamater tercinta.
 
Mengingat sekolah itu, tidak lengkap rasanya tanpa membuka memori lama 10 tahun yang lalu. Tepatnya bulan Juli 2005 (semoga benar) saya mulai menempuh pendidikan di SMP N 1 Sleman. Bagi penduduk sekitar yang bermukim di seputaran kompleks Pemda Sleman, sekolah ini termasuk favorit dan andalan. Banyak orang tua yang ingin menyekolahkan putra-putrinya ke sana. Sekolah yang dulunya merupakan pabrik gula pada zaman kolonial Belanda ini telah berusia lebih dari 60 tahun. Para alumninya sudah tersebar luas dan menempati posisi strategis di berbagai institusi. Salah satu yang saya kenal telah sukses adalah Ibu Prof. Suwarsih Madya, Wakil Rektor IV UNY (bidang kerja sama internasional). Saya mengenal beliau saat fotonya ada di bulten sekolah (semoga benar) dan bertemu langsung ketika menjadi mahasiswa UNY.
 
Menurut sejarah yang saya ingat, saya diterima di sekolah ini tanpa tes, hanya menggunakan prestasi dari hasil kelulusan di SD N Dalangan. Saat itu, dari sekitar 30 lulusan, saya menempati peringkat 1 dan langsung masuk SMP 1 sesuai cita-cita saya. Angkatan kami tahun 2005 tersebar dalam 6 kelas (A-F) tiap kelas ada 38 siswa (semoga demikian). Menempati kelas 7C, saya dipertemukan dengan Muhammad Fahmi Alfian (partner satu meja), Anggit Kacer, Kingkin Rizki Budiyati, dan lain-lain. Kami juga dipertemukan dengan guru-guru hebat yang penuh dedikasi mendidik para siswanya. Ekspresi kegembiraan terpancar dalam wajah kami, menempati sekolah unggulan di Kabupaten Sleman dan sempat meraih peringkat 10 besar DIY (untuk hasil UAN).
 
Dalam perjalanannya, saya mulai membuka kesempatan untuk berorganisasi. Saya pun terlibat di OSIS, Dewan Penggalang, Pleton Inti, dan Ekstrakurikuler Seni Lukis. Itu semuanya berkat dorongan para guru dan teman-teman sekitar. Sungguh, dari organisasilah yang membuat saya yang dulu pendiam, tertutup dengan orang lain, dan malu jika bertemu orang baru akhirnya berubah. Sebuah proses di dalam organisasi saat kelas 2 SMP telah menempa kepribadian saya dan teman-teman untuk berpikir tidak hanya untuk diri sendiri tetapi ada orang lain di sekitar yang perlu kita bantu.

Aula SMP N 1 Sleman dan RO (Ruang OSIS) di Depannya: 
Saksi bisu Perjuangan Kami

Beberapa program kerja di OSIS masih saya ingat betul, salah satu yang paling berkesan adalah ketika Studi Banding antara SMP N 1 Sleman dan SMP N 1 Muntilan. Kami melaksanakan pertandingan persahabatan guna menjalin kemitraan antar pengurus OSIS, antar siswa, maupun antar pihak sekolah. Sejak itulah, saya mulai mengenal beliau yang mempunyai andil besar dalam menghubungkan kedua sekolah. Pak Nur, demikian kami memanggilnya. 
 
Bapak Ahmad Nurtriatmo, adalah Wakil Kepala Sekolah sekaligus guru Bahasa Inggris. Lagi, saya masih ingat betul bagaimana kami dididik oleh sosok guru yang selalu membuka pelajaran dengan semangat, dengan nasihat-nasihat membangun dalam nada tegas, padat, dan mengena. Bagi saya pribadi, apa yang beliau katakan adalah benar dan visioner. Bagi siswa lain yang tidak mampu menangkap, barangkali bermakna lain. Letupan semangat beliau dapat dibayangkan seperti guru-guru pada film Sang Pemimpi. Beliau mengajak para siswa untuk mampu disiplin waktu, menyelesaikan PR dengan baik, dan tentunya berani dalam belajar Bahasa Inggris. 
 
Memasuki kelas 9, pada saat itu kami mendapat jam tambahan yaitu jam 0 (nol) karena dimulai sejak Pkl 06.00 (semoga benar) dan sampai Pkl 07.00. Saya menempati kelas A1, kelas yang dikombinasi dari siswa-siswa pilihan yang memperoleh peringkat atas dari kelas A, B, C. Saya sempat kaget juga mengingat teman-teman saya di kelas A1 cerdas-cerdas semua. Mereka rajin mengerjakan tugas dan jarang yang terlambat. Pernah suatu ketika saya datang terlambat di kelasnya Pak Nur, dan itu adalah pengalaman memalukan yang membuat saya kapok. Setelah itu, saya berusaha untuk datang tepat waktu. 
 
Di dalam kelas, beliau selalu berpesan kepada para siswanya agar bersungguh-sungguh dalam belajar. Jangan hanya duduk dan diam, apalagi tidak dong apa yang disampaikan guru. Hindarilah berkata bohong (bahasa Jawanya adalah ndobos). Itu yang saya ingat terus ketika ketemu beliau. Dan atas kedisiplinan yang beliau tegakkan di depan siswa, akhirnya lulusan 2008 berhasil diterima di sekolah-sekolah favorit Kota Yogyakarta seperti SMA 1, 2, dan 3. Ada juga yang masuk SMK favorit seperti SMK N 2 Depok. Saya dan teman-teman mengucapkan terimakasih kepada guru-guru SMP N 1 Sleman.

Dulu Gedung Ini adalah kelas 9E dan F, Sekarang Jadi Ruang Guru *Gedung yang Terlihat Seram di Malam Hari

Melanjutkan 25 November 2015...
 
Ada sebuah dorongan yang kuat agar saya segera menemui Pak Nur di rumah beliau. Sudah sejak lama saya menanti waktu untuk bersilaturahmi langsung. Sudah 7 tahun saya tidak bertemu karena harus menyelesaikan studi di SMA N 2 Yogyakarta dan kuliah di UNY. Rabu sore yang gerimis itu, akhirnya keputusan saya bulat untuk menuju Dusun Santren RT 01, Gunungpring, Muntilan. Sekitar 30 menit saya menempuh perjalanan mengendarai sepeda motor dan Pkl 17.30 saya sampai di rumah beliau. Berhubung Pak Nur baru mengantar istri ke apotek, saya pamit lewat pesan whatsApp untuk sholat Maghrib di masjid terdekat.
 
Selepas sholat Maghrib, akhirnya pertemuan saya dan beliau benar-benar terjadi. Saya menjabat erat dan memeluk guru terbaik yang selama ini menjadi panutan bagi saya. Beliau tampak masih muda, dengan senyuman khasnya, dan tatapan mata yang menandakan optimisme hidup. “Bapak, akhirnya Allah memberikan kita kesempatan untuk bertemu,” ucap saya kala itu. Saya masih tidak menyangka akhirnya mimpi saya selama ini terjadi. Saya belum sempat menjenguk ketika dulu mendengar kabar beliau mendapatkan musibah kecelakaan. Saya secara pribadi ingin menemui selepas selesai kuliah.

Sekolah yang katanya seluas 4 hektar ini memiliki lapangan luas

Kami membuka percakapan dengan saling menanyakan kabar serta aktivitas sekarang ini. Alhamdulillah, beliau dalam keadaan sehat dan saat ini sedang melaksanakan beberapa amanah. Di antaranya adalah sebagai Kepala Sekolah di SMP N 1 Ngaglik dan SMP N 3 Sleman. Ada kalimat yang sangat mengena malam itu. “Mas Janu, saya memimpikan kita akan bertemu di Schiphol Airport Belanda, Anda sebagai mahasiswa S2 dan saya sebagai kepala sekolah di Sekolah Indonesia di Belanda,” ujar beliau. MasyaAllah, ternyata beliau baru saja mengikuti seleksi yang diadakan oleh Kemdikbud untuk menjadi kepala sekolah di sekolah Indonesia luar negeri. Beliau sudah sampai tahap final dari rangkaian proses seleksi. Ternyata Allah berkehendak lain, Kabupaten Sleman masih memerlukan kiprah beliau. 
 
Pak Nur bercerita perjalanannya selepas purna tugas dari SMP N 1 Sleman. Beliau pernah mengikuti pelatihan di Jepang, di Australia, dan beberapa negara ASEAN. Semua beliau lakukan sebagai dedikasi untuk negeri ini, terlebih untuk memotivasi para siswanya agar berani maju ke tingkat internasional. Hasilnya, sudah banyak siswa yang dikirim ke negara lain dalam rangka pertukaran pelajar ataupun sit in. Sebagai pererat diskusi malam itu, saya pun menceritakan perjalanan selepas lulus dari SMP 1 hingga lulus kuliah. Kami sama-sama menemukan titik, dimana titik itulah yang merupakan milestone hidup. Beliau berangkat dari keluarga sederhana, untuk sekolah saja harus berjualan layang-layang demi membiayai uang sekolah. Beliau pekerja keras, tidak pernah mengeluh, dan berani mengambil resiko. Hingga suatu ketika beliau harus berjuang sendiri karena kedua orangtunya telah kembali kepada Sang Khalik. “Membaca cerita dan tulisan Mas Janu di status fb ataupun blog, seakan mengingatkan saya pada perjuangan masa muda saya Mas. Kita sama-sama berjuang keras untuk bisa sekolah.”

Kerinduan amat dalam yang akhirnya terobati. Terimakasih Bapak

Hal yang membuat saya hampir meneteskan air mata adalah ketika mendengar kisah beliau untuk mendirikan sekolah. Beliau telah mendirikan beberapa sekolah, mulai dari SMP dan Madrasah. Di sebelah saya duduk malam itu berdiri MI Al Anshar, yang telah beliau rintis bersama keluarga. “Mas, sekolah ini kami bangun untuk membantu keluarga di sekitar rumah agar putra-putrinya dapat sekolah. Alhamdulillah, meskipun sederhana tetapi saya melihat masa depan mereka cerah.” Dengan bahasa yang tulus dan dari lubuk hati, beliau telah menyentuh hati ini untuk menanyakan kembali “Janu, ap yang sudah kamu lakukan untuk orang-orang sekitarmu selama ini ?”
 
Saya menyimak kisah dan pengalaman beliau selama memimpin sekolah. Ketika menghadapi masa-masa sulit, menghadapi siswa-siswa bandel. Satu hal yang tak berubah dari beliau yaitu “KEDISIPLINAN”. Di balik sikap beliau yang tulus mendidik siswanya, dengan kesabaran dalam menjadi guru, beliau tetap menempatkan kedisiplinan sebagai salah satu kunci menjadi pribadi sukses. Beliau memberi apresiasi bagi siswa yang mau belajar sungguh-sungguh dan tentunya berektika. Hasilnya, kita mengenal SMP N 1 Ngaglik sebagai sekolah dengan budaya tertib tinggi.

Napak tilas di laboratorium biologi (kini sudah jauh lebih komplit fasilitasnya)

Sebelum saya pamitan malam itu, saya sempat mewawancarai beliau seperti ini.
Janu : Dalam pandangan Bapak, bagaimana sosok ideal calon guru :
 
Pak Nur : 
 
“Sosok ideal seorang guru itu yang pertama kompetensi yang harus dimiliki : profesional, pedagogis, betul-betul dimiliki. Selain itu, calon guru ini harus memiliki kemampuan how to design instructional plan dan merasakan betul bahwa peserta didik yang ada di depannya itu benar-benar butuh pendidikan. Bukan sekadar pendidikan bagi sekolah, tetapi betul-betul membutuhkan layanan dari hati ke hati. Anggaplah bahwa peserta didik di depan kita itu our family, keluarga kita, mereka bukan others. Saat sentuhan dari hati kita kepada mereka dengan sepenuh kemampuan yang dimiliki selayaknya seorang guru, itu nanti banyak hal yang akan sangat meaningful, bermanfaat. Jadi cara menyikapi kita. Updating information itu sesuatu yang mutlak, absolut karena peserta didik kita itu bisa berjalan jauh di depan kita kalau kita tidak siap-siap bergerak maju ke depan. Kemudian layanan psikologis sesuai dengan kurikulum 2013, di kurikulum 2013 itu ada empat hal titik utama: kompetensi religi, sikap sosial, dan dua lainnya harus betul-betul dicermati secara total dan juga hati, dari calon guru ataupun guru degan kesadaran sepenuhnya bahwa kita tidak boleh semena-mena terhadap anak didik kita. Anggap murid kita our family, our children not others.”
 
Dari silaturahmi ini, saya memperoleh banyak hikmah yang dapat saya bagikan kepada teman-teman alumni 9C. Memang benar, saya cukup lega karena konon katanya kalau ingin bersilaturahmi kepada sesorang harus disegerakan. Sahabat, jangan lupa sampaikan salam hangat untuk guru-guru kita yang telah berjasa, yang telah menjadi orang tua ke-2 di sekolah. Berikan yang terbaik lewat doa dan pertemuan. Sungguh, beliau akan sangat bahagia jika dapat melihat anak didiknya sukses dan menemuinya.
 
Life is about meaningful, jadikan hidup kita bermakna dengan memberi manfaat dalam kebaikan. Menjadi seorang pendidik tidak cukup hanya berkompetensi secara teori, tetapi juga mampu mendidik dari hati ke hati.
 
Terimakasih Bapak Ahmad Nurtriatmo dan guru-guru SMP N 1 Sleman, juga guru-guru lainnya yang telah mendidik kami. Teriting doa semoga Allah senantiasa menjaga Bapak/Ibu sekalian. Tetaplah menjadi teladan yang digugu lan ditiru bagi kami. Baarokallahu fiikum
 
Sleman, 28 November 2015
 
Salam hangat dari muridmu,
Janu Muhammad

*Catatan ini saya persembahkan untuk : Bapak Ahmad Nurtriatmo, Ibu Adianawati Pak Dwi Rahmanto Bu Sisilia Marsih dan seluruh guru SMP N 1 Sleman, anak-anak PACUL (Paguyuban Cah 9C), keluarga alumni SMP N 1 Sleman 2008. Terimakasih sudah berkenan membaca..!

1 komentar:

  1. Sy sangat terharu baca tulisanmu dek...aq jg dl alumni SMP 1,sy msk th 96 lls 97,pak nur jg slh satu guru idola sy....dia begitu tegas dan enerjik ketika mengajar,bikin qt selalu semangat wkt pelajarannya...sy sgt terkesan dgn beliau meskipun hny 1 th diajarnya hy ktk kls 1,tp sgt mengena di hati...terakhir sy ktmu beliau th 2006,mgkn Janu msh sklh disn ya...wkt itu sy mau legalisir ijazah ,salam kenal ya dek
    Rani

    BalasHapus