Ged a Widget

Senin, 07 September 2015

Rangkuman Kajian Akbar Ustadz Badrusalam, Lc. di ICBM




Alhamdulillah,wassholatu wassalamu ‘ala nabiyyina Muhammadin

Segala puji syukur hanya kepada Allah Ta'ala, yang senantiasa memberikan hidayah-Nya. Semoga sholawat tercurah kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, teladan umat Islam yang kita harapkan syafaatnya di hari kiamat. Pada kesempatan ini saya akan merangkum sebuah kajian akbar bersama beliau al Ustadz Badrusalam, Lc. hafidzhahullahu taala anhu di Islamic Center Baitul Muhsinin Medari. Beliau Ustadz Barusalam, Lc. adalah pengisi Radio Rodja dan Rodja TV. Kajian pada hari Sabtu, 5 September 2015 ini bertemakan “Kaidah-Kaidah Dasar dalam Beramal” sebuah tema yang sangat penting bagi kita umat Islam.


Kajian dibuka ba’da Maghrib dengan pengantar tentang kewajiban setiap mukmin untuk berilmu sebelum beramal. Ikhwah fillah, berilmu adalah perkara mendasar yang harus ditanamkan pada diri setiap mukmin sebelum ia beramal. Kita sama-sama paham bahwa ilmu adalah syarat sah amal.  Untuk itu, menuntut ilmu adalah perintah dan kewajiban dari Allah untuk umat manusia.

“Ilmu adalah kesimpulan yang ada dalilnya, sedangkan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Majmu’ Fatawa, Syamilah, jilid 6, hal. 388)

Ketika sudah berilmu, seseorang pada akhirnya akan mulai beramal. Kita perlu mengenal syarat sah ibadah/amal. Ibadah yang benar kepada Allah dibangun di atas dasar-dasar atau kaidah-kaidah yang kokoh. Ada dua syarat utama : a. Ibadah adalah tauqifiyah. Artinya, ibadah tidak akan dilakukan kecuali dengan apa yang diperintahkan atau diturunkan wahyu Allah Ta’aa. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.‘” (QS. Ali Imran:31).

Ibadah yang dilandasi dengan mengikuti petunjuk Rasulullah begitu penting untuk diperhatikan. ; b. Ibadah harus dilakukan atas dasar ikhlas. Ikhlas adalah memurnikan niat dalam beribadah kepada Allah, mencari ridho Allah, menginginkan wajah Allah, serta perjumpaan dengan-Nya. Ikhlas tempatnya di dalam hati dan tidak perlu disebutkan melalui lisan. Selanjutnya, ada enam kaidah yang harus diperhatikan dalam beramal :

  1.  Pertama, beramal sesuai tuntunan Rasulullah untuk sifat/tata cara. Contohnya adalah ketika melaksanakan sholat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencontohkan bagaimana tata cara sholat yang benar. Jelas ini mutlak dan tidak dapat diubah-ubah karena sudah jelas dalilnya.
  2. Kedua, beramal sesuai ketentuan Rasulullah untuk waktunya. Ketika melakukan amal kebaikan ataupun ibadah, Allah telah mengatur kapan waktu terbaik yang dapat diisi oleh dengan beribadah. Misalnya perintah untuk melaksanakan puasa Ramadhan adalah hanya pada bulan Ramadhan, bukan bulan lainnya. Tentu ini waktu mutlak yang tidak dapat diganti. Begitu jugu dengan pelaksanaan sholat Dhuha misalnya pada pagi hari.
  3. Ketiga, beramal sesuai tuntunan Rasulullah dalam tempat. Salah satu contohnya adalah yang baru-baru ini akan dilaksanakan oleh sebagian kaum muslimin yaitu ibadah haji. Sudah menjadi ketentuan bahwa tawaf yang dilakukan saat ibadah haji hanya boleh di sekitar ka’bah dengan mengelilinginya. Tidak dapat dilaksanakan di tempat lain, seperti di Parangtritis Yogyakarta yang mana di sana terdapat lokasi untuk latihan manasik haji.
  4. Keempat, beramal sesuai tuntunan Rasulullah dalam hal jumlah. Contoh nyatanya adalah dalam hal rakaat sholat. Ketentuan khususnya adalah jumlah rakaat yang secara mutlak telah diajarkan Rasulullah. Maghrib tiga rakaat, Isya empat rakaat, dan lain sebagainya.
  5. Kelima, beramal sesuai tuntunan Rasulullah dalam hal sebab. Ini juga merupakan perkara penting yang perlu mendapat perhatian.
  6. Keenam, beramal sesuai tuntunan Rasulullah dalam jenisnya. Misalnya pada ibadah qurban. Telah disebutkan bahwa binatang yang menjadi hewan qurban salah satunya sapi, bukan berupa binatang buas ataupun binatang berbahaya lainnya.


Ikhwah fillah…
Selanjutnya, dari enam kaidah di atas, alangkah baiknya jika kita mencari dan melaksanakan amalan yang paling baik, yang didasari dengan ikhlas serta sesuai tuntunan Rasulullah. Analoginya adalah ketika kita bersedekah, maka kualitas yang paling baik adalah ketika secara sembunyi-sembunyi dan di saat paling sulit (seperti banyak kebutuhan hidup atau baru dalam keadaan terjepit). Maka itulah yang paling utama, tetap beramal meski kekhawatiran menghimpit.

Saudara-saudara kaum muslimin yang dirahmati Allah. Beliau al ustadz Badrusalam juga memberikan nasihat tentang pentingnya amalan hati di samping amalan anggota badan. Hati yang bersih akan melahirkan amalan baik, amalan yang semakin bermanfaat untuk umat. Amalan yang paling dicintai Allah salah satunya adalah memasukkan kegembiraan di hati setiap muslim. Contohnya ketika sahabat kita dirundung duka dan masalah. Maka dekatilah ia, ajaklah untuk makan dan beri suasana gembira agar semangatnya tumbuh dan segera berbenah. Amalan baik juga salah satunya adalah yang paling berpengaruh untuk hati kita. Misalnya ketika kita dalam keadaan jauh dari Allah dan perlu obat hati berupa membaca Al Qur’an maka bersegeralah membacanya dan jangan ditunda, bukan dengan memperbanyak sholat sunnah karena sesungguhnya pada saat itu dengan membaca Al Qur’an lah yang lebih utama untuk iman kita.


Sebuah amalan baik juga dilihat dari sisi perjuangannya. Semakin besar perjuangan untuk melaksanakan amalan itu, maka semakin besar pula pahalanya. Contohnya ketika akan bersedekah. Jika dalam keadaan miskin, banyak kebutuhan hidup, dan hanya memiliki sedikit uang, maka sesungguhnya ketika kita bersedekah maka pahalanya amat besar karena ada sebuah perjuangan yang harus ditempuh demi membuang jauh-jauh ‘khawatir’ menjadi lebih miskin. Maka sesunggunya Allah telah menyiapkan pahala berlipat di tengah kekurangan itu. Contoh ini tidak lepas dari rasa ikhas yang terbangun dalam diri atas wujud rasa cinta kepada Allah semata.

Demikian, bahwasanya kaidah-kaidah dalam beramal shalih amat penting untuk menjadi renungan bagi kita. Sudah sejauh mana ikhlas bersemayam dalam hati dan ittiba’ rasul menjadi landasan utama dalam beramal. Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan ridho dalam setiap amalan kita, memberikan keberkahan untuk setiap aktivitas kebaikan kita.

“Setiap amal didasari dengan ilmu, ilmu yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah”

Demikian sedikit catatan singkat ini semoga menjadi reminder bagi penulis sendiri dan kaum muslimin lainnya. Mohon maaf jika terdapat kesalahan kata/makna dalam menuliskan kembali nasihat-nasihat dari Ustadz Badrusalam, Lc hafizhahullahu taala anhu. Wallahu ta'alam bishawab, semoga Allah senantiasa membukakan hati kita untuk mendatangi majelis-majelis ilmu dan melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam.

Teriring doa untuk beliau Ustadz Badrusalam, Lc. hafidzhahullahu taala anhu semoga senantiasa dijaga Allah, diberikan keberkahan dalam jalan dakwah Islam ini. Kami mengucapkan jazaakumullahu khairan atas kehadirannya di Islamic Center Baitul Muhsinin.

“Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus. Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat. Bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat.”
(QS. Al-Fatihah: 5 – 7)


Sleman, 6 September 2015
22 Dzulq.1436 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar