Ged a Widget

Selasa, 07 April 2015

Memaknai Kembali “Connecting The Dots”

Alhamdulillah, hari Senin 6 April 2015 ini menjadi sejarah baru bagi perjalanan saya sebagai mahasiswa semester 8 di UNY. Mengawali pagi ini dengan berpamitan dengan mamak yang baru berangkat jualan sayuran di Pasar Sleman. Agenda saya hari ini akan cukup padat. Pukul 9.00 akan memenuhi udangan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat dalam pertemuan bertajuk ‘Morning Tea’ di Hotel Hyatt. Selanjutnya, saya dijadwalkan menghadap dosen pembimbing skripsi hingga selepas Ashar. 

Saya mulai menyalakan sepeda motor (tentu sudah makan dan mandi) dan mulai meninggalkan rumah hijau di Dusun Ngemplak, Caturharjo, Sleman. Setahu saya Hotel Hyatt yang ‘famous’ itu di Jalan Palagan Tentara Pelajar. Sesampainya di pom bensin dekat Denggung sudah jam 8.30, padahal acara dimulai 8.45. MasyaAllah, ternyata ada macet di perempatan Denggung. Saya pacu hati-hati supra merah itu, melewati pemandangan sawah bersandingkatn perumahan elit di daerah Ngaglik. Dari kanan jalan sudah terlihat juga gerbang Hyatt yang selama ini baru bisa saya lihat (dari luar) saja. Ternyata Allah memberi kesempatan hari ini untk bisa ‘masuk’ gratis dan minum teh bersama.

Setelah memarkir motor, saya berjalan menuju Bogey’s Teras di sisi utara dekat lapangan golf. Memang benar, hotel ini bernuansa serba hijau, berbalutkan arsitektur Jawa. Terlihat ada sekelompok pemuda-pemudi yang duduk-duduk manis di teras. ‘Itu pasti teman-teman yang diundang hari ini’. Saya sapa mereka, menjabat tangan satu-satu (kecuali yang bukan mahram) dan mengucapkan nama. Saya Janu….bla bla bla. Singkat cerita saya diperkenankan duduk di sebelahnya mas Regis, pemuda lulusan Psikologi UGM. Setelah berbincang-bincang, akhirnya Bu Deborah C. Lynn dari Cultural Affairs Officer, Embassy of the United States of America datang bersama mbak Rosa dari Advisor of Education USA. Kami pindah di meja panjang yang sudah reserved. Ada 9 tamu undangan yang hadir. Ada mas Regis, mas Gerry, mas Andri, mbak Asri, mas Awaludin, dek Rita (dari UNY), saya, mas Anwari, dan mbak Adisty. Kami dari background disiplin ilmu yang berbeda, universitas yang berbeda, dan tingkat umur yang berbeda. Kami mempunyai tujuan yang sama untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi masyarakat Indonesia dengan bahasa lain ‘social project’. Mereka yang turut hadir dapat saya katakan ‘senior’ karena dari segi umur jauh lebih pengalaman dan luar biasa. Contohnya mas Awaludin dan mbak Asri adalah Pengajar Muda di Indonesia Mengajar, mas Andri dan mas Anwari adalah alumni program SUSI (exchange di Amerika Serikat), mas Gerry juga aktivisnya HI UGM, dan yang lainnya luar biasa.

Kami pun mulai berkenalan, diawali dari Bu Deborah yang saat ini ditugasi sebagai Atase Kebudayaan, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Beliau asli Kansas, di Jogja membawa putranya yang tadi baru latihan golf. Ke-9 peserta undangan memaparkan proyek sosialnya yang kreatif dan solutif. Ada dari mas Regis yang sangat aware dengan anak berkebutuhan khusus, mas Andri yang berupaya memberikan edukasi anak-anak untuk keselamatan gajah Sumatera, mbak Asri yang menginisiasi pemberdayaan perempuan, mas Awaludin yang dari teknik sipil membantu para perajin di Kasongan Bantul, dek Rita yang sedang konsentrasi pendampingan budidaya pertanian organik, mas Anwari yang menggalakkan konservasi Kali Gajah Wong, dan mbak Adisty yang campaign penyelamatan hiu melalu kesenian. Saya sendiri menyampaikan tentang Gerakan Mari Berbagi 1000 Buku dan Omah Baca Karung Goni yang mulai memasuki tahun ke-2. Bu Deborah menyambut baik program kami dan berniat akan membantu dengan syarat mengajukan proposal. 



Saya sejenak merenung, sejauh inikah langkah saya hingga dapat diberi kesempatan berharga ini ? Tidak ada yang menyangka akan sejauh ini dapat bertemu orang-orang hebat pagi tadi. Menilik kembali awal mula peristiwa hari ini dapat terjadi. Saat itu saya mendapatkan email dari milis GMB (Gerakan Mari Berbagi), sumbernya dari mas Nuzul, mahasiswa UI Jakarta. Akan ada perwakilan US Embassy pada tanggal 6-7 April 2015 di Jogja dan mengundang para pemuda dengan social project nya. Saya pun langsung merespon dan mengirimkan email ke Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI). Alhamdulillah, selang beberapa hari akhirnya dapat respon positif. Saya mendapat undangan resminya untuk menyampaikan social project. Ah, ternyata lagi-lagi saya bersyukur karena jaringan di GMB.

Pernah suatu ketika, beberapa kali saya juga mendapat banyak informasi dari kawan dekat yang merupakan alumni SUSI yaitu mbak Ranitya Nurlita, ada kesempatan untuk exchange ke USA dalam program YSEALI Academic Fellowship. Saya pun mendaftar, dan ternyata belum lolos. Sedih, galau, gundah ? Wajar, tetapi bukan saya kalau tidak bisa move on. Sudah terlalu biasa ditolak berulang kali seperti JENESYS ke Jepang, youth exchange ke Korea dan Kanada. Masalah utama pasti di seleksi interview, entah kenapa ya ? Terakhir kemarin daftar Global Cities Summit yang akan diadakan di Kanada akhir bulan ini. Saya masuk potential candidate dari Indonesia. Ada sekitar 4000an yang mendaftar dan saya sampai di tahap interview akhir. Masih ingat, saya ditelepon dari Kanada langsung jam 2.30 pagi. Interview by phone selama 20 menit. Ya, saya sudah berusaha maksimal namun ternyata belum rezeki lagi. Pernah juga lolos ke interview, youth exchange ke Korea, yang mengadakan dari Kemenpora. Sudah masuk 150 terbaik dari 3.600 aplikasi. Saat itu interview juga by phone namun saya prediksi kegagalan ada di faktor sinyal telepon, kurang begitu jelas si interviewernya. Dua kali ikut seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara tujuan Kanada juga terhenti di tahap interview, ada apa gerangan ? Dan ternyata Allah justru memberi kesempatan saya untuk ke Belanda, Australia, Malaysia, dan Thailand. Benar-benar tak diduga. Hanya bisa mengucap Alhamdulillah…



Sebenarnya judul Memaknai ‘Connecting the Dots’ ala Steve Jobs di atas mengingatkan saya tentang kegagalan dari pengalaman masa lalu yang pernah saya alami. Hari ini pun sudah sedikit terobati karena orang ‘ndeso’ seperti saya dapat bertemu perwakilan Kedubes Amerika Serikat. Hanya bisa bersyukur dan selalu nerimo opo anane. Sebenarnya itulah jalan saya untuk belajar, mengevaluasi diri sudah sejauh mana hubungan antara passion, cita-cita, dan aktivitas saat ini. Saya selalu berusaha menghadirkan passion dalam setiap aktivitas sosial saya. Passion di bidang pendidikan, riset sosial, geografi kota, pemberdayaan pemuda, kepenulisan, dan volunteerism inilah yang akan menghubungkan saya saat ini dengan jalan menuju cita-cita masa depan sebagai pendidik, peneliti, penggiat sosial, dan penulis. Saya percaya, bahwa sebenarnya titik-titik itu sudah ada dan mulai menyatu kembali, membentuk sebuah mahakarya yang akan memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar, tentunya dengan disertai usaha dan doa kepada Allah Ta’ala. Ternyata skenario-Nya selama ini memang sudah yang terbaik. Saya tidak pernah menyesal pernah gagal, saya belajar banyak darinya.

Sekali lagi, terimakasih untuk pembelajaran hari ini, sahabat-sahabat luar biasa menginspirasi dan jaringan baru yang akan bersinergi dengan satu cita-cita mendedikasikan diri untuk Indonesia tercinta.  Terimakasih untuk Bu Deborah dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Semoga dapat bertemu kembali dalam kesempatan yang jauh lebih baik. Let’s collaborate !

 
Salam Berbagi !


 Yogyakarta, 6 April 2015

Janu Muhammad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar