Ged a Widget

Selasa, 28 Oktober 2014

Kuliah Umum Bersama Walikota Surabaya

Ada yang pernah mendengar nama Bu Risma ? Ya, saya yakin semua sudah tahu sosok bu Risma sebagai walikota Surabaya saat ini. Hari kemarin, Senin 27 Oktober 2014 saya diberi kesempatan untuk bertemu beliau langsung dalam kuliah umum di Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan (JTAP) UGM. Jadi cerita awalnya bermula ketika teman saya Fitri (Rekan Alumni SMA N 2 Yogyakarta 2011 yang saat ini kuliah di PWK UGM) memberi tahu bahwa Senin jam 15 akan ada kuliah umum dengan walikota Surabaya. Sontak saya langsung sms Fitri dan tertarik banget untuk datang. Saya pun mengajak Arif Laksono, teman sekelas di Jurusan Pendidikan Geografi UNY untuk ikut, dia pun mau banget.

Langsung saja ya, sore harinya sekitar jam 14.15 saya ke kost Arif untuk menjemputnya. Kami kemudian ke JTAP, sempat nyasar karena cari lahan parkir. Alhamdulillah sekitar jam 14.45 tiba di ruang K1 lantai 2, masih belum rame. Beberapa menit kemudian ruangan penuh sesak, dan….datanglah Ir. Tri Rismaharini, MT. Beliau datang jauh-jauh dari Surabaya hanya untuk ketemu mahasiswa dan berbagi ilmunya. Kami berdua yang sepertinya hanya ‘orang luar’ dari JTAP turut tenggelam dalam euphoria sepak bola (kuliah umum maksudnya). Tepuk tangan meriah menyambut Bu walikota inspirator ini. Sudah sejak lama saya pengiiinnn ketemu beliau langsung.



Bu Risma, lulusan Arsitektur ITS ini memaparkan kuliah tentang Ruang Terbuka Hijau di Surabaya, untungnya saya dan Arif lumayan paham karena materinya sama seperti di bangku kuliah geografi. Apalagi ini salah satu fokus saya di Urban Geography yang dekat dengan perencanaan kota maupun pembangunan manusia. Bu Risma menyampaikan ketidakmauannya ketika diminta ke Jakarta dalam nominasi menteri, “Kalau mau menolong masyarakat ya di kota,” katanya. Bu Risma pun mengatakan bahwa mendesain sebuah kota sama saja halnya berjuang mengubah perilaku masyarakat ke arah positif, bukan konsumtif.

Unik memang, di Surabaya banyak sekali taman yang berhasil dibuat, itu adalah wujud penyediaan ruang bagi anak-anak, masyarakat, bahkan untuk bonek Surabaya. Mereka butuh tempat untuk menikmati suasana kota, menghilangkan stress, dan berkumpul dengan keluarga. Kata beliau, membuat taman juga harus bagus agar si kaya mau datang ke taman dan bertemu si miskin. Dengan demikian mereka akan bertemu dan tidak ada lagi pembatas antara keduanya karena sama-sama menikmati suasana taman. Biasanya di tama nada pedagang kaki lima, pemkot Surabaya sudah memberi tempat khusus bagi mereka. Taman-taman di Surabaya sudah dilengkapi wifi gratis, aktif 24 jam, terang benderang dengan lampu saat malam hari, ada perpustakaannya, dan ada arena untuk bermain maupun belajar.



Salut, satu kata untuk pemkot Surabaya. Kini sudah ada 972  perpustakaan masyarakat yang dijaga oleh tenaga professional, kampung-kampung kini menjadi bersih dari sampah, lebih tertarta. Anak-anak dari SD sampai SMA sekolah gratis, bahkan bangunan sekolahnya bagus. Itu semua Bu Risma upayakan bersama jajaran pemkot Surabaya demi melayani masyarakat. “Semua anak mempunyai hak yang sama untuk berhasil dan sukses” kata Bu Risma. Beliau paham betul bagaimana memberikan pelayanan setulus hati, tidak mau diliput media, memang beliau agak keras namun memang itu cara beliau untuk menyadarkan masyarakat. Satu poin keteladanan yang saya rasakan dari beliau, begitu mengayomi masyarakat, mulai dari hal-hal kecil seperti : merawat orang gila, menjemput TKW yang terlantar di Hongkong, sampai mengantar orang hilang ke Lamongan. Bahkan, sebuah perda di Surabaya : akan ada denda bagi orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya.

Ini yang membuat optimis, bahwa Surabaya kini menjadi kota yang aman dan nyaman, dengan penataan kota yang terintegrasi. Smart city, menjadi sebuah julukan bagi Surabaya saat ini, semua layanan birokrasi pemerintahan, sampai perizinan sudah serba online, sangat transparan dan dapat diakses dari mana saja dengan internet. Kalau ada yang stress, pergi ke taman-taman. Kalau mau foto dengan bunga warna-warni tidak perlu ke luar negeri, ada di Surabaya.

Saya melihat sebuah dedikasi yang tulus dari sosok Bu Risma, walikota yang memikat hati warga Surabaya, wanita yang telah menyelamatkan hutan mangrove pesisir timur Jawa, wanita yang secara tegas berani menutup lokalisasi dolly, bahkan yang hampir mengundurkan diri karena sebuah intimidasi.


Bu Risma tetaplah seorang wanita, yang menjadi ibu bagi putra-putrinya, yang tetap melaksanakan rutinitas rumah tangga di tengah kesibukan yang padat. “Selama pemerintah masih dipercaya masyarakat, kami akan memberikan pelayanan terbaik,” nasihat beliau. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari inspirasi dan semangat Bu Risma dalam mengabdi untuk negeri.
Semoga keberkahan selalu Allah berikan untuk ibu. Semoga sehat selalu bu, menebar manfaat untuk kebaikan. Sedikit catatan ini semoga menjadi refleksi, penyemangat bagi kita generasi muda bahwa Indonesia masa depan di tangan kita, semoga akan ada generasi seperti Bu Risma lainnya yang jauh lebih baik..insyaAllah.

Saya jadi berpikir ya, slogan “Jogja berhati nyaman” kok sepertinya saat ini sudah dimiliki Surabaya ya ?
Haloooo pak walikota Jogja apa kabar ?


Salam damai, salam berbagi kebaikan...

Janu Muhammad
Mahasiswa Pendidikan Geografi UNY 2011

#HollandDreamer #BigDreamBecomeUtrechtUniversity'sStudent

Esensi Sumpah Pemuda : Anak Muda Menawarkan Masa Depan

Malam ini sebenarnya cuma mau buka facebook, jadi ingat sebuah janji untuk nulis note fb. Ada yang berbeda ternyata hari ini. Saya menjumpai sekerumunan mahasiswa yang sedang orasi di bundaran gadjah mada, di titik nol km, dan di seputar gedung adung Yogyakarta. Ada apa gerangan ? Apakah ada kaitannya dengan Sumpah Pemuda hari ini ? Saya mencoba menulis ulang, tulisan saya 2 tahun lalu di blog http://muhammadjanu.blogspot.com/2012/10/esensi-sumpah-pemuda-2012.html . Tulisan ini sekadar opini saya, bukan maksud apa-apa, daripada tidak ada kerjaan.

Esensi semangat menghargai jasa para pahlawan kini tak sepenuhnya tercermin pada diri setiap pemuda zaman sekarang. Semangat itu kian meredup semenjak peristiwa agung 28 Oktober 1928 bagi bangsa Indonesia. Pada saat itu terpampang jelas semangat dan ikrar para pemuda negeri ini yang mengaku : berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia, dan bertanah air satu tanah air Indonesia. Sumpah pemuda yang tertuang pada secarik kertas putih atas goresan tinta Muhammad Yamin dan disodorkan kepada Soegondo adalah bukti otentik keberanian pemuda untuk membela bangsa Indonesia. Pemuda Indonesia yang saat itu berkumpul dan bersatu menyatakan tekad bulatnya untuk bangkit dari penindasan kolonial Belanda melalui kongres keduanya.
 
Para Pelajar Indonesia di Belanda

Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 merupakan spirit baru bagi bangsa Indonesia, bahwa kita bisa merdeka, dan terbebas dari belenggu penjajah. Sumpah Pemuda adalah momentum dimana tonggak-tonggak sejarah bangsa ini telah mulai dibangun, di mana peristiwa-peristiwa besar akan menjadi sejarah kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda adalah ikrar, ikrar untuk persatuan pemuda Indonesia yang membela tanah airnya, membela bahasa Indonesia. 

Namun, kini semangat itu mulai meredup ketika pada usianya yang ke 69 tahun bangsa Indonesia mengalami banyak cobaan. Era 2014 ini Indonesia dihadapkan pada permasalahan yang serius. Globalisasi telah memakan sendi-sendi persatuan bangsa, terlebih moral generasi muda Indonesia. Degradasi moral pemuda bisa kita lihat ketika peristiwa anarkis akhir-akhir ini. Peristiwa tawuran pelajar, bahkan tawuran antar mahasiswa di Indonesia merupakan bukti menurunnya semangat menghargai jasa para pahlawan yang telah membangun negeri ini. 

Peristiwa itu seharusnya menjadi cermin dan introspeksi bagi pemuda Indonesia bahwa bangsa ini bukan butuh orang-orang yang hanya membuat onar dimana-mana. Bangsa ini tidak butuh pemuda yang hanya mabuk-mabukan. Bangsa ini tidak butuh pemuda pemudi yang suka pakai narkoba. Bangsa ini tidak butuh pemuda pemudi dengan gaya hidup orang-orang Barat. Bahkan bangsa ini tidak butuh pemuda pemudi yang suka kehidupan glamour dan meninggalkan budaya asli Indonesia. Tetapi, Indonesia butuh yang namanya pemuda dengan budi pekerti baik, pemuda yang mau menghargai jasa pahlawannya, pemuda yang memegang prinsip persatuan bangsa, pemuda yang tidak malu akan budaya asli Indonesia, dan pemuda yang berjuang memajukan bangsa Indonesia.

Mari melihat sisi positif pemuda zaman sekarang. Masih ada kok pemuda-pemuda di Indonesia yang berjuang keras untuk turut melunasi janji kemerdekaan. Mereka yang kuliah contohnya. Mereka aktivis di berbagai organisasi. Mereka mengikuti berbagai kompetisi membela tanah air. Mereka berjuang memajukan daerahnya. Bahkan, mereka yang tinggal di luar negeri (baca : diaspora) turut serta menjadi duta Indonesia. Mereka rela membela tanah air, merekalah pahlawan masa kini.

Saya teringat quote mas Anies Baswedan yang baru-baru ini menjadi Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah. Beliau pernah mengatakan

"Anak muda memang minim pengalaman, karena itu ia tak tawarkan masa lalu, anak muda menawarkan masa depan."
 

Ya, kita patut optimis anak muda Indonesia menawarkan masa depan Indonesia yang lebih baik. Lihat, bonus demografi kita yang menjadi peluang besar. BPS merilis, penduduk Indonesia tahun 2010 berjumlah 237.641.326. Juli 2014 menurut http://www.indexmundi.com/indonesia/demographics_profile.html jumlah penduduk sudah 253.609.643. Artinya, ada keuntungan besar bagi Indonesia dengan jumlah Sumber Daya Manusia berlipat. Hal ini, tentu harus diimbangi dengan peningkatan kualitas manusianya, melalui peningkatan akses pendidikan karena melalui pendidikan lah, semuanya berawal. Pasal 1 ayat 5 UU no 52 tahun 2010 menjelaskan :

"Kualitas penduduk adalah kondisi penduduk dalam aspek fisik dan nonfisik yang meliputi derajat kesehatan, pendidikan, pekerjaan, produktivitas, tingkat sosial, ketahanan, kemandirian, kecerdasan, sebagai ukuran dasar untuk mengembangkan kemampuan dan menikmati kehidupan sebagai manusia yang bertakwa, berbudaya, berkepribadian, berkebangsaan dan hidup layak."

Dengan demikian, sudah seharusnya dimulai dari generasi muda upaya itu dapat dilaksanakan. Melalui pemberdayaan pemuda yang memegang aset penting untuk menelurkan pemimpin, ilmuawan, dan ahli-ahli masa depan yang jauh lebih baik secara intelektual, spiritual, dan sosial. Jadi menurut saya, esensi makna Sumpah Pemuda zaman sekarang seharusnya bisa jadi renungan kita semua. Bahwa pemuda menawarkan sebuah optimisme masa depan Indonesia yang lebih baik, dengan tekad, dedikasi, dan nassionalisme untuk setulus hati merawat bangsa ini bersama-sama.
Bukankah demikian ?

Dirgahayu Pemuda Indonesia !

Janu Muhammad
Mahasiswa Pendidikan Geografi UNY 2011

28-10-2014

Minggu, 26 Oktober 2014

Australia, Tunggu Kami Awal November Esok

Sekitar bulan September 2013 saya mengikuti seleksi Youth Adventure and Youth Leaders Forum (YA & YLF) yang diadakan oleh Gerakan Mari Berbagi (GMB) dan alhamdulillah lulus tahap wawancara yang dilaksanakan di kantor Kemenpora Jakarta. Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya awal bulan Februari 2014 kami 47 pemuka pemuda terpilih bertemu di Yogyakarta dalam kegiatan YA & YLF. Cerita perjalanannya ada di tulisan ini. 

Saya kemudian mengimplementasikan program GMB 1000 Buku. Selama 4 bulan, saya berkolaborasi dengan para volunteer Omah Baca Karung Goni untuk mengumpulkan 1000 buku. Akhirnya, terkumpul sekitar 1.034 buku. Alhamdulillah...
Beberapa pelajaran yang saya dapatkan ketika mengimplementasikan program ini ada di link berikut.
Saya bersyukur, ketika belajar menjadi pustakwan muda. Ada inspirasi yang di dapat di sini.

Selang beberapa bulan kemudian, dapat panggilan untuk wawancara kembali di Kemenpora, oleh Bang Azwar dan para volunteer GMB. Tak disangka-sangka, setelah melalui masa training dan seleksi ketat, malam itu nama saya keluar sebagai salah satu delegasi Indonesia untuk homestay di Australia, masih ingat tangis bahagia malam itu. Masih ingat ketika membaca ceritanya di sini. 
Berbagai persiapan telah kami lakukan, 15 delegasi Australia dan Jepang. Mulai dari pembuatan visa, asuransi, logistik, cultural performance, dan lain sebagainya. Bahkan, satu pengalaman baru ketika mendapat kehormatan untuk bertemu, berdiskusi dengan Pak Greg Moriarty, duta besar Australia untuk Indonesia. Kisahnya ada di sini. 
Saat ini saya baru saja pulang dari kunjungan di Universitas Brawijaya Malang bersama UKMF Penelitian SCREEN dan siap untuk prepare ke Australia. Tentu akan ada banyak hal baru, budaya, pendidikan, keragaman alam, bahasa baru, bahkan perjalanan ke Autralia esok akan menjadi moment bersejarah dalam hidup saya.
 

Inilah, sebuah perjalanan kedua saya setelah tahun kemarin ke Belanda. Ingin rasanya segera ketemu host family di Brisbane, segera melakukan kegiatan volunteer, mini research, travelling di South Bank, pergi ke University of Queensland dan ketemu PPI Australia...
Semoga diberikan keberkahan Allah, lancar semua dan dapat saya sharekan ilmunya :))
 

Australia, tunggu kami delegasi GMB awal November esok !
InsyaAllah...

Salam hangat dari Janu Muhammad
Mahasiswa Pendidikan Geografi FIS UNY 2011
Holland Dreamer, Want to Be Utrecht University's Student

Prepare your applicataion for YA & YLF 2015

Rabu, 22 Oktober 2014

Babak Baru

Entah, saya mau menulis apa saat ini. Perjalanan dua hari ini menjadi sebuah titik tolak memasuki tahapan baru di dunia kampus. Selasa kemarin, ada sebuah kegundahan akan jadi seperti apa hari ini. Pagi di kelurahan untuk menemui kepala desa, memohon restu untuk ke Australia esok November. Siangnya ke dinas sosial Kabupaten Sleman untuk memohon dukungan menuju Australia. 

Entah, saya tawakal kepada Yang Maha Kuasa, sudah menjelang keberangkatan rasanya persiapan masih kurang. Rasanya belum cukup material yang tersedia. Entah ada apa, rasanya Selasa kemarin hampir berada di titik puncak, antara 'lanjut' atau 'tidak'.

Saya tengok ke depan, membung jauh-jauh kenangan di belakang. Saya coba tegar, bahwa di depan sana ada jalan panjang. Namun saya tak tahu, apakah jalan itu lurus atau berliku. Yang saya tahu hanyalah sebuah langkah, untuk tetap berjalan, menguatkan pundak, meneguhkan niat dan doa.


Sore kemarin, kembali ke rutinitas kampus. Ya, sore itu saya sibuk sekali menyiapkan sebuah hajatan untuk hari esok. Saya sibuk mematangkan persiapan seminar proposal skripsi. Apa ? Skripsi ?
 
 

Ya, saya putuskan sebelum ke Australia, saya harus sudah seminar proposal skripsi. Saya telah berjanji, selepas menghandle guest lecture harus fokus proposal dan persiapan homestay.

Tibalah hari ini, hari yang mendebarkan. Sejak dari rumah langkah kaki terasa berbeda. Ada apa gerangan ?Apakah ini pertanda akan ada sesuatu yang terjadi ? 
Entahlah, saya mantabkan pagi tadi untuk siap memasuki babak baru. Ya, hari ini menjadi sejarah bagi perjalanan saya di kampus. 

Tepat hari Rabu, 22 Oktober 2014 Pkl 09.25 WIB saya memulai seminar proposal skripsi bersama penyaji : Janu, mas Budhi (IPS), dan mas Donatus (Ge02007). Ada ibu Suparmini, M.Si sebagai narasumber kami. Subhanallah, luar biasa. Ruangan laboratorium geografi penuh. Ada sekitar 60an peserta yang hadir. Mereka adalah teman sekelas, kakak angkatan, adik kelas, bahkan dari jurusan lain. Betapa semangatnya mereka datang, demi menengok seorang Janu yang ingin cepat-cepat lulus.

Suasana menjelang seminar proposal dimulai

Pemaparan proposal skripsi


Sebuah babak baru, kali pertama menjadi mahasiswa yang telah seminar proposal skripsi dari kelas A P.Geografi 2011, meskipun sebelumnya dari kelas B telah ada dua rekan saya yang seminar.

Sungguh, rasa syukur tak terhingga kepada-Nya, yang telah menunjukkan jalan bagi saya. Kala diri ini terlalu sibuk ini itu, Allah masih saja baik untuk menga kesehatan saya, menguatkan perjuangan ini, dan meneguhkan hati ini bahwa Man Jadda Wajada adalah semangat yang tak pernah padam. Semangat untuk wisuda awal 2015 ! 

Allah, hamba mohon dikuatkan dalam mencari ridho-Mu, dalam menuntut ilmu ini, dalam berbuat baik bagi sesama. Semoga senantiasa diberikan keistiqomahan dalam beribadah hanya kepada-Mu...

insyaAllah,


Tika dan Selly makasih yaah..
 
(Terimakasih terkhusus untuk mamak yang sudah membuatkan arem-arem, temenku Yani yang mengurus konsumsi, mas Agung, keluarga besar Jurusan Pendidikan Geografi semuanya ya) Semangat menuju wisuda 2015 :) Lanjut ke Belanda semoga ya....

My beloved geography family

22 Oktober 2014 Pkl 19.16 WIB

Hamba Perindu Surga,
Janu Muhammad