Ged a Widget

Sabtu, 30 Agustus 2014

Inspirasi dari Doktor Muda Lulusan Jerman

Alhamdulillah, segala puji syukur kepada Allah. Hari ini saya bersyukur dapat melaksanakan kegiatan KKN, termasuk mengikuti launching pembukaan pemancingan di Dusun Sumber, Sendangmulyo, Minggir, Sleman. Sekitar Pkl 19.30 tadi saya menuju kampus UNY, tepatnya di Garden Cafe. Saya ada janji dengan dua sahabat dari UKMF Penelitian SCREEN. Malam ini kami akan bertemu dengan seorang ilmuwan, pernah tinggal di Jogja dan saat ini sedang bekerja di Jerman. Beliau adalah Dr. Ing-Hutomo Suryo Wasisto. Saya memanggilnya mas Ito. Mas Ito adalah seorang peneliti, doktor muda berusia 26 tahun. Latar belakang pendidikan mas Ito, alumni Padmanaba (SMA 3 Jogja), Teknik Elektro UGM, melanjutkan S2 di Taiwan dan S3 di Jerman. Subhanallah, saya begitu impressed dengan segudang prestasi mas Ito, mulai dari lulusan akselerasi saat SMA, lulusan terbaik 2 di jurusannya dalam waktu 3,3 tahun (cumlaude), dan langsung melanjutkan S2 serta S3 di luar negeri. Di usia 26 tahun yang masih relatif muda sudah jadi supervisor dan terbitan jurnal internasionalnya...sudah tidak diragukan. Mas Ito saat ini menjadi salah satu reviewer di Indonesian Scholars Journal (ISJ) yang saat ini saya juga bergabung sebagai campus representative.

Awal mengenal Mas Ito, adalah ketika malam itu saya mengirim email ke ISJ, mas Riezqa adminnya. Saya dan teman-teman dari UKMF Penelitian SCREEN berniat mengundang ISJ untuk menjadi pembicara di Seminar Nasional Kepenulisan 13 September 2014 esok. Semnas ini adalah kali pertama diadakan SCREEN, baru di kepengurusan kami 2014. Saya berinisiatif karena ingin membuka jaringan, membuka wawasan global, dan mengajak keluar dari kotak hitam. Saya sebagai ketua tahun ini menargetkan harus ada pengurus yang mampu menerbitkan jurnal nasional, lebih-lebih internasional. Maka dari itu, salah satu wujud konkrit saya di kepengurusan ISJ adalah menyebarkan virus-virus jurnal ke kampus UNY.

Selang beberapa hari, saya telah mengontak kak Dhani sebagai bu bos camrep dan alhamdulillah, inbox email saya telah ada sebuah CV yang masyaAllah...begitu ilmiah, panjang, dan tentunya membuat saya terkagum-kagum. Malam itu saya langsung berpikir "Ya Allah, semoga beliau yang akan berbagi ilmu kepada kami dalam bidang penelitian." Tidak lama kemudian saya langsung mengirim email ke mas Ito, dan orangnya sangat-sangat baik, nyaman diajak komunikasi, dan tentunya open mind. Mas Ito ternyata sebentar lagi akan pulang ke Yogyakarta, kami berencana bertemu untuk sekadar silaturahim dan berdiskusi. Beliau datang jauh-jauh dari Jerman, salah satunya untuk berbagi ilmu di acara Semnas 13 September 2014 nanti. Akhirnya, saya terhubung melalui facebook dengan mas Ito. Apa yang terjadi ? Beberapa mutual friend ternyata dari kakak-kakak senior saya di ISJ, mereka adalah para ilmuwan-ilmuwan Indonesia yang di luar negeri. Saya banyak belajar dari beliau-beliau, khususnya untuk pengembangan kemampuan riset saya yang masih abal-abal ini. 

Pertemuan malam tadi di Garden Cafe ada Pambayun Hari (Kadept PPSI), Wahyu Ratna Putra (PJS Ketua Screen), saya dan Mas Ito. Kami berdiskusi panjang lebar satu sama lain. Mulai dari kuliah, kerja, riset, sampai obrolan-obrolan yang memotivasi kami dari Mas Ito. Memang, dahulu mas Ito ketika SMA maupun S1 sama sekali belum bergelut dan fokus di riset, namun ketika S2 menjadi jembatan awal mas Ito untuk go internasional melalui publikasi ilmiah. Mengapa ya publikasi ilmiah itu penting ? Salah satunya adalah untuk mengetahui seberapa besar budaya literasi, tulis menulis bangsa kita. Ilmu akan berkembang jika dituliskan dan dipublikasikan. So, ini menjadi dasar awal mengapa kita perlu publikasi ilmiah.

Ingat ini sahabat ?
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
Pramoedya Ananta Toer


Berbicara tentang perjalanan mas Ito, saya mendapatkan suntikan semangat untuk kuliah di luar negeri. Mas Ito sudah 4 tahun tinggal di Jerman dan mengalami proses pembelajaran panjang di mana menjadi peneliti di negara lain itu lebih dihargai daripada di negeri sendiri. Mas Ito memberikan kami dorongan untuk kuliah di luar negeri, mengingat kita saat ini sudah di era global, mau tetap lokal atau internasional ? Saya pun bercerita tentang keinginan kuat saya untuk mengambil fokus human geography di Belanda, insyaAllah Utrecht University. Mas Ito pun bercerita tentang pengalaman kuliah di Jerman dan kini menjadi pakar nanoteknologi serta presenter di berbagai pertemuan ilmiah, bagaimana hidup di sana, sampai akhirnya beliau menjadi seorang supervisor, bayangkan baru 26 tahun sudah gelar doktor. Namun, bagi mas Ito...bahwa gelar bukanlah segalanya. Seorang yang cerdas dan pintarpun harus memegang prinsip kejujuran, contohnya tidak melakukan plagiat di karya ilmiah. Seorang doktor sekalipun tidak akan bermanfaat tanpa mau membagi ilmunya kepada orang lain.

Pelajaran lain yang saya tangkap adalah sebuah kekuatan untuk berani bermimpi. Mas Ito mengajak saya untuk bertemu dan mampir di rumahnya Jerman 1-2 tahun lagi. Mas Ito adalah satu-satunya dari keluarga yang mampu mencetak sejarah baru bisa kuliah di luar negeri, salut. Keluarganya yang rata-rata dokter ternyata tidak menghalangi mas Ito untuk mengambil Teknik Elektro, pilihan bulatnya, sampai 2x gagal seleksi kedokteran. Ya, itulah passion, itulah tekad kuat. Mimpi yang kami dengar dari beliau adalah menjadi seorang CEO, mendirikan perusahaan di dalam negeri dengan level internasonal dan menjadi kekuatan Indonesia masa depan, semoga diberikan jalan terbaik oleh Allah. Saya pun punya mimpi, bukan untuk seperti beliau. Saya ingin mencapai mimpi ini untuk kuliah di Belanda hingga doktor dan kembali ke tanah air sebagai pendidik, sebagai peneliti kelas dunia insyaAllah. Semuanya bisa terjadi, jika hati, doa, dan usaha sudah menjadi satu. Jika komitmen dan kekuatan doa telah bersinergi, maka Allah akan membukakan jalannya. Yang penting kita mau, mau untuk berlelah-lelah dahulu, mau untuk bekerja keras dan konsisten dengan spesifikasi bidang yang kita minati.

Ya, melalui menulis. Saya percaya dengan menulis ilmiah, saya akan bermanfaat bagi orang lain, bagi bangsa ini. Sesuai pesan mas Ito "Saya menulis, karena tulisan saya tidak akan hilang ditelan zaman. Saya ingin melihat anak cucu dapat melihat nama saya di internet karena tulisan yang pernah saya publikasikan."

Mas Ito, baru sebentar kami berkenalan namun sudah rela untuk meluangkan waktu, berbagi ilmu, berbagi motivasi, berbagi inspirasi. Doa terbaik kami untuk beliau, semoga senantiasa diberikan keberkahan lahir batin, dunia dan akhirat. Saya pun kemudian menuliskan sebuah cerita malam ini karena telah beruntung menimba ilmu dari doktor Indonesia yang kuliah di Jerman. Semoga memberikan manfaat untuk dibagikan kepada rekan-rekan, khususnya mereka pemimpi, mereka pemimpin masa depan Indonesia. insyaAllah...

Terimakasih mas Ito, Pambayun, dan Wahyu...

Saya mengajak sahabat sekalian untuk bertemu mas Ito, pada Semnas Kepenulisan UKMF Penelitian SCREEN, berkolaborasi dengan Indonesian Scholars Journal, 13 September 2014 di Ruang Sidang Utama Rektorat UNY. Barokallah...insyaAllah akan ada penulis fiksi Bapak Ahmad Tohari dan Mapres UNY 2014 Pebri Nurhayati.

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

“Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”
Pramoedya Ananta Toer
Sahabat yang bermimpi ingin kuliah di Belanda,

Janu Muhammad

Rabu, 13 Agustus 2014

Sebut Namanya

Indah, indah dan menawan dunia ini. Langit biru yang cerah hari ini. Segarnya udara di pinggiran desa ini, telah menutup penat masa lalu ketika bercengkrama di kota. Dunia, menjadi sebuah ladang manusia untuk singgah. Menjadi tempat bertemunya Adam dan Hawa. Tempat di mana syiar Islam ada. Dunia, tak sebatas panorama menakjubkan saja. Di sana tempat para manusia berdoa, tempat manusia menggantungkan nasib selanjutnya. Mereka bekerja, mereka beribadah sesuai agamanya, mereka berpasangan satu sama lain dalam ikatan sah.

Sebut namanya, dalam relung hati dan doa. Dalam munajah cinta dan balutan rindu yang memuncak.



Sebut namanya pada doa yang dipanjatkan, setidaknya rasa itu sudah tersampaikan kepada-Nya. Setidaknya ada sebuah harapan untuk suatu saat bertemu dan menghabiskan masa tua bersamanya. Sebut namanya dalam setiap doa, percayalah  bahwa orang baik akan dipertemukan dengan orang baik. Tinggal pekerjaan saat ini adalah berusaha menjadi orang baik. Sebut namanya dalam setiap doa, ada asa yang terucap dan jiwa yang telah menanti : kapan waktu yang tepat untuk bertemu, kapan saat yang pasti untuk saling mengucap, dan kapan sebuah ikatan sah akan terbentuk.

Sebut namanya dalam setiap doa, Allah sudah menyiapkan yang terbaik. Tetaplah merendah, menundukkan pandangan, dan menjaga kesucian lahir batin.

Sebut namanya dalam setiap doa, semesta kan bertasbih, semesta akan mengaminkan doa. Insha Allah… 

Minggu, 10 Agustus 2014

Untuk Sahabat ‘Baik’mu

Batang berwarna putih itu selalu menemanimu,
Kau apit dengan telunjuk dan jari manis di tangan kananmu,
Kau nyalakan sebuah api dan kau letupkan di ujung batang itu,
Kepulan asap dan bara api mulai menyala,
Itu tanda kau mulai bercengkrama dengan teman ‘baik’mu,
Kau mulai menghisapnya, semerbak bau tembakau berwujud asap mengepul dari mulut dan hidungmu,
Kau merasa nyaman, enak, dan nikmat bukan ?
Kau pasti juga merasa ‘laki’ dengan beberapa batang yang kau konsumsi itu,
Pagi, siang, malam dia menjadi teman yang kau anggap baik.
Teman yang menemani di kala kau sendiri dan menjadi pelampiasan penatnya pikiran,

Kawan,andaikan kau dengar suara itu,
Andaikan kau dengar, aku sebagai sahabatmu bersedih,
Ketika yang kau anggap baik dan nikmat, aku menjadi orang yang menerima akibat,
Ketika kau nyaman dengannya, aku disini sulit untuk bertahan,
Aku merasa iba dengan kesehatanku, kesehatanmu
Aku masih ingin menjadi sahabatmu, namun kau masih saja asyik dengan batang putih itu,
Aku ingin menghargai kesehatanmu, aku ingin kau sadar,
Betapa inginnya, kau kembali seperti dulu…
Seperti awal mula ketika kau belum ‘candu’,
Seperti awal, ketika aku baru mengenalmu, mengenalmu yang terpancar kesholehan dan keteladanan,

Ingatkah kau shabatku, kepada orang tua yang telah menyekolahkanmu ?
Kepada mereka yang mencari rezeki untukmu, untuk masa depanmu ?
Sudahkah kau gunakan bekal yang mereka berikan untukmu sebaik mungkin ?
Ataukah kau belanjakan untuk sahabatmu itu,
Barangkali saja kau memilih 12 batang daripada sebungkus nasi, itu persepsiku saja,
Tapi, aku pun hanya bisa merenung, mendoakanmu selalu,
Toh, engkau sudah pada keputusanmu, engkau sudah dewasa,
Engkau juga sudah tahu mana yang baik dan buruk, itu juga yang akan merasakan hanya kamu..iya kamu

Tapi, sahabatmu ini mohon satu pinta, agar kau kembali merenung, sudah banyak orang di sekitarmu yang kau beri ‘asap’, itu aku…
Semoga Allah senantiasa meneguhkan hatimu untuk kembali, kembali menjadi pribadi sehat,
Semoga saja aku terjaga, aku ingin kau memikirkan ulang, dan sepenuhnya berhenti menghisap batang putih itu ! 

Jumat, 01 Agustus 2014

Sebuah Ukhuwah

Ukhuwah, sebuah kata yang lebih hebat dari sekadar ‘sahabat’.
Ukhuwah, sebuah rasa persaudaraan yang melekat di dalam sanubari.
Ukhuwah, sebuah ikatan erat yang sulit untuk dilepas.

Malam ini saya terbangun, membuka mata dan menyalakan komputer lipat. Saya tidak lupa untuk mengecek seluler, barangkali ada yang mengirim sms, whasap, atau bbm. Belum lama sebenarnya saya punya android, adanya setelah pulang dari Jakarta awal bulan lalu karena sebuah kebutuhan. Saya cek ada beberapa pesan masuk dan WA. Salah satunya dari seorang saudara saya. Saya sudah menganggapnya sebagai saudara, bukan sekadar seorang sahabat. Alhamdulillah, kini kami bisa berinteraksi via whasap, semenjak kemarin siang saya minta kontaknya. 

Kini kami sama-sama mungkin baru merasakan indahnya sebuah rindu. Ketika sebuah ukhuwah terpisah oleh jarak tempat. Ketika saat ini lisan belum bisa mengucap secara langsung. Tanganpun belum bisa berjabat erat. Hanya lewat sebuah doa dan silaturahim kami saling menyapa. Ya, sudah 5 tahun ini kami belum bisa bertemu. Semenjak pertama kali itu, masa-masa SMA kami pernah bertemu di sebuah kegiatan Pesantren Kilat Tingkat Nasional (Sanlatnas) 2009 di MAN 3 Malang. Kegiatan selama beberapa hari itu memang diperuntukkan bagi siswa-siswi dari SMA bertaraf internasional. Alhamdulillah, kami menjadi delegasi sekolah masing-masing. 

Sanlatnas mempertemukan para siswa yang rata-rata unggul dari segi intelektual dan kepribadian, kecuali saya mungkin ya yang masih harus banyak belajar ini. Di sana kami menerima pelatihan dan pengajaran agama, layaknya pesantren pada umumnya. Saya masih ingat waktu itu berangkat bersama Alfian, Akbar, dan Alif dari SMA N 2 Yogyakarta. Ada sekolah RSBI lain seperti SMA N 1 Yogyakarta, SMA N 3 Yogyakarta, dan SMA N 1 Wonosari. Terlalu sedikit mungkin materi-materi yang saya ingat, namun kenangan bersama para peserta insyaAllah masih ingat.


Waktu pun menjawab, kami telah lulus dari SMA dan kini melanjutkan kuliah. Setelah beberapa tahun hilang kontak, Alhamdulillah satu per satu teman Sanlatnas muncul di beranda facebook. Ada Kisar dari IPB, Raja dari UI (ketua angkatan sanlatnas 2009), Lisna di UGM, NIco, Fina, Anita, Faiz, Luthfi, dan beberapa lainnya. Saya akhirnya baru sadar bahwa selama ini menjalin komunikasi dengan saudara yang satu ini belum tahu kalau samasama alumni sanlatnas. Hingga waktu kami baru sadar dan sempat ‘ngechat’ bersamaan. Ya Rabb, ketika ukhuwah itu kini kembali engkau munculkan, maka rasa rindu untuk jumpa menjadi sebuah keniscayaan.

Dialah mas Firmansyah Shidi Wardhana, pemuda religious, inspiratif, dan penuh dedikasi memajukan negeri. Mas Firman, demikian saya menyebutnya. Mas Firman saat ini menjadi mahasiswa di Universitas Malaya dengan beasiswa CIMB Niaga. Sebenarnya di awal pernah menjadi mahasiswa UGM, namun akhirnya merantau ke Malaysia. Dialah mas Firman, mahasiswa dengan subhanallah segudang prestasi, segudang pengalaman di luar negeri, dan segudang dedikasi membela Indonesia, Ya Rabb, semoga keberkahan selalu Engkau curahkan kepada beliau.

Rasa untuk jumpa belum juga terobati, kami yakin suatu saat akan dipertemukan kembali, pada waktu yang Engkau pilihkan. Biarkan ukhuwah ini tetap bersemayam di hati, menanti sebuah kedatangan saudara yang insyaAllah di masa depan akan menjadi seorang pemimpin negeri ini. Betapa bersyukurnya kami, ketika kami tetap bisa saling menasihati, ketika kami tetap bisa bersilaturahmi, dan ketika kami tetap terjaga di jalanMu ini. Ya Rabb, Tuhan yang Maha Pengasih, sesungguhnya Engkau sebaik-baik pemberi waktu. Maka izinkan kami untuk tetap menjaga silaturahmi, hingga esok dewasa kami bisa berbakti untuk negeri. Ya Rabb, Tuhan yang Maha Lembut. Lembutkanlah hati kami agar tetap taat kepadaMu, hiasilah hati kami dengan cahaya kasihMu, dan hilangkanlah prasangka yang tumbuh akibat lisan dan tindakan kami. Ya Rabb, kami semua berdoa semoga saudara-saudara kami di Palestina sana Engkau lindungi. Berikanlah khusnul khatimah kepada mereka yang telah syahid di jalanMu. Hanya Engkaulah sebaik-baik penolong dan pemberi rezeki. Aaamiin Yaa Rbbal’alamiin…

*Untuk saudaraku mas Firman, barokallahufiik, Allah akan mempertemukan kita di waktu yang Dia rencanakan* insha Allah