Ged a Widget

Senin, 26 Mei 2014

Untuk Mamak, Bapak, dan Adik

Tiga pahlawan yang mengiringi perjalanan ini :-) 
Barokallah untuk mamak, bapak, dan adik...



Untuk mamak Lasiyem tersayang...

untuk Bapak Ngadiyo yang hebat...


untuk adinda Isti yang sholihah....

Barokallah, semoga keberkahan Allah untuk keluarga ini. Semoga Allah mengizinkan kita sekeluarga bersama di surga-Nya.... aamiin Ya Rabb

Lulus Lebih Awal, Why Not ?

Alhamdulillah akhirnya bisa menulis lagi, untuk sekadar nostalgia dalam blogging sebelum bulan Mei ini berakhir. Jadi ceritanya saya sudah cukup lama vakum postingan. Beberapa agenda mengharuskan saya untuk tidak membuka blogger dan akhirnya baru kesampaian sekarang. Pada postingan sebelumnya saya menulis tentang pengalaman gowes ke kampus UNY. Saya bersyukur bisa memenuhi nadzar itu sebelum 1 Juli 2014 nanti terjun KKN PPL di SMA Neegri 1 Minggir.

Baik, beberapa minggu lalu saya telah mengirim sebuah draft proposal skripsi ke jurusan. Saya berniat mengikuti program percepatan. Saya masih ingat nasihat bu Nurfina Aznam saat OSPEK di GOR UNY, "Luluslah tepat waktu, syukur-syukur bisa lebih awal". Kalimat itu tidak selalu di ingatan saya. Sebuah pesan mulia agar memotivasi mahasiswa untuk benar-benar efektif dalam memanfaatkan waktu kuliah. Beberapa pertanyaan yang sering muncul : Memang sudah siap po lulus cepet-cepet ? Sudah cukup ilmu ? Sudah siap kerja ? Sudah siap menjadi guru ? Pertanyaan-pertanyaan ini sudah terlalu basi untuk dibahas. Sekarang coba dibalik : Kenapa harus lama-lama kuliah ? Apa masih kurang ilmu ? Sudah siap jadi mahasiswa tua ? Apa nggak segera lulus saja ? Ada lagi keraguan ?
Lulus Lebih Awal, Why Not ?
 

Sudah-sudah, saya tidak akan membahas tentang pro kontra lulus cepat. Semua sudah menjadi pilihan tiap mahasiswa. Mau lulus kapanpun itu HAK, namun kewajibannya adalah SEGERA membagikan ilmu serta pengalaman yang didapat untuk merawat Indonesia kita. Saya yakin sangatlah bijak ketika mahasiswa mampu lulus tidak lama-lama namun meninggalkan karya terbaik untuk almamater, betul ? 

Lanjut ya ? Sejak saat ini pun saya berusaha merancang masa depan itu, masa depan yang akan sangat menentukan kehidupan saya nanti. Ketika sudah semeter 6 ini, saya harus berpikir matang : apa tema skripsiku nanti ? Apakah tentang geografi fisik ? geografi manusia ? geografi teknik ? atau kependidikan ?

Bismillah, saya memutuskan untuk mengambil geografi manusia (human geography). Saya suka, saya berniat untuk memperdalam ilmu ini karena kebermanfaatannya yang luas dan mencakup seluruh aspek manusia dan interaksinya dengan alam. Saya pun mengajukan sebuah judul draft proposal skripsi : 


Studi Persepsi Risiko Masyarakat Terhadap Pembangunan Fly Over Jombor di Daerah Istimewa Yogyakarta Melalui Pendekatan Keruangan

Lulus Lebih Awal, Why Not ?

Judul ini sebenarnya terpikirkan ketika saya tiap hari lewat fly over Jombor. Coba kita bayangkan, pembangunannya sudah sejal 2010 lho singat saya dan sampai sekarng belum selesai. Banyak polemik, pro kontra, dan konflik kepentingan di sini. Saya berniat ambil fokus di persepsi masyarakatnya untukmengevaluasi pembangunan fly over ini dari sudut pandang keruangan (spasial). Selain untuk mengetahui faktor-faktor penyebabnya, saya juga ingin mengetahui perencanaan yang seharusnya dilakukan agar pembangunan lainnya lebih terarah dan sesuai aturan tata kota. 

Fly Over dari Sisi Barat


Terlebih, pentingnya peran masyarakat dalam perencanaan suatu pembangunan yang seharusnya dilibatkan, agar mereka tahu dampak positif dan negatifnya. Dan ujung-ujungnya adalah uang, politik sudah main karena saya dengar infonya setiap lahan 1 meter persegi bisa dihargai sampai 10 juta rupiah. Wajar saja, banyak sisi-sisi jalan yang melebar dan bangunan lama yang tergusur.

Fly Over Jombor dari timur

Bangunan perenggut lahan produktif warga :3

Semoga diberikan kebulatan niat, keikhlasan, dan kelancaran dari Allah dalam pengerjaan proposal skripsi ini, insyaAllah.... dan segera lulus 3,5 tahun, fokus persiapan apply master dan apply beasiswa, insyaAllah 2016 kuliah di Department of Human Geography and Planning, Utrecht University, Netherlands.

Lulus Lebih Awal, Why Not ?

"Setiap mimpi itu harus diperjuangkan. Tiada kata menyerah dan lelah untuk meraihnya."
Man Jadda Wajada

"Saya ingin segera merantau, agar bisa merasakan ketika kampung halaman 
menjadi sebuah kerinduan."

Bismillah...

Pengalaman Ke-2 Gowes ke Kampus UNY

Minggu 24 Mei 2014 langit tampak cerah. Burung-burung di atas pepohonan, matahari mulai memperlihatkan kegagahannya. Ups, jam sudah menunjukkan angka 6.30, saya harus bergegas mandi dan berangkat ke kampus. Ada yang tahu ? Hari ini saya akan goweesss....yei (sambil loncat-loncat).

Sepeda ungu punya adek siap menemani saya ke kampus, siap-siap perjalanan panjang sekitar 17 km.
Ketika di perjalanan, banyak saya temui kejadian yang tidak biasa ditemui saat ke kampus pakai motor. Coba deh lihat, banyak ibu-ibu atau simbah-simbah yang naik "onthel". Timbul pertanyaan : lho biasanya anak-anak mahasiswa sok gengsi nih ye kalau ke kampus pakai onthel ? Ada yang bilang "nggak jaman" ada yang bilang "sepeda mah buat nenek-nenek". Lho, memangnya kita tidak malu ya ? Coba pertanyaannya dibalik, kenapa masih muda udah boros-boros pakai motor? Apa nggak malu sama yang nenek-nenek ? Hhehehe, beberapa pikiran yang melintas saat di jalan.

Ya kalau dilihat-lihat di jalan ternyata tidak senyaman yang saya bayangkan. Banyak polusi, belum ada jalur khusus sepeda, dan selalu kaget ketika bunyi klakson tiba-tiba menyambar...jreenggg... Kira-kira Pkl 07.10 WIB saya sampai kampus dan langsung memarkir sepeda. Alhamdulillah, jarak 17 km sekitar 45 menit, saya rasa sama seperti ketika saya naik motor.


Sekitar Pkl 7.30 acara pun dimulai. Saya dan Wahyu berada di posisi kedua, setelah Oemar Bakri. Kami berkeliling seputar jalan gejayan ke utara, lalu ke barat dan sampai ke jalan kaliurang. Sampai perempatan jakal yang di utara UGM ambil kiri, sampailah ke start awal Taman Pancasila FIS UNY.



Nah, setelah gowes lalu dikasih konsumsi, alhamdulillah. Kami dihibur oleh hiburan lagu dan akhirnya duduk mendengarkan diskusi bincang lingkungan. Ye ternyata Ebi yang jadi pembicara, teman sekelas sendiri. Satunya lagi dari Koalisi Pemuda Hijau (Kophi) Yogyakarta. Namanya Lalu. Bincang liingkungan dimoderatori oleh mas Qori.


Pembahasisannya seputar tema lingkungan (ya iya dong) seperti Ruang Terbuka Hijau dan lain-lain. Menarik dan mendapat apresiasi peserta karena lebih banyak sharing. Kalau beberapa yang saya tangkap adalah masalah minimnya RTH di Kota Yogyakarta, apalagi kampus UNY. Berbeda sekali dengan kampus ISI tempat Lalu kuliah, di sana rindang-rindang pohonnya. Sampai ada suatu rekomendasi bahwa ketika pembangunan menjadi prioritas utama, harus diimbangi dengan pemenuhan kebutuhan RTH yang minimal 30% itu, betul ?


 Tidak lupa ada doorprize menarik yang disediakan, saya dapat voucher diskon makan di Garden Cafe UNY karena menjawab pertanyaan : kapan hari lingkungan hidup? Ya jawabannya 5 Juni :3 Dan sore itu setelah acara selesai saya sempatkan ambil gambar di samping Taman Pancasila, tempat yang di perjalanan gowes #1 dulu itu.


Hampir lupa nih, maklum baru agak eror nulis cerita malem ini, mumpung ingat. Beberapa pelajaran dari gowes ke#2 ke kampus ini adalah :
  1. Target sudah terpenuhi karena pernah janji akan gowes sebelum lulus
  2. Sebenarnya lebih dari itu, saya nggak akan ekstrem menjual motor lalu ke kampus naik sepeda untuk menerapkan nilai cinta lingkungan. Setidaknya ada usaha kecil yang bisa saya lakukan ini.
  3. Terinspirasi dari budaya ketika di Belanda, para mahasiswa terbiasa ke kampus dengan bersepeda. Lebih nyaman, lebih ramah lingkungan, dan lebih hemat energi fosil.
  4. Ada  moment dan romantika tersendiri ketika menikmati perjalanan menggunakan sepeda.
  5. Buat yang sampai sekarang belum sadar pentingnya keselamatan lingkungan, yuk mulai dari hal yang paling kecil seperti diet kantong plastik kita terapkan. 

"Perubahan besar berawal dari perubahan kecil dan itu dari diri kita ini."

 
Best moment in Eindhoven, Netherlands

Jumat, 09 Mei 2014

MERANTAULAN

(Syair Imam Asy-Syafi’i)


Orang pandai dan beradab

tak 'kan diam di kampung halaman


Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang


Pergilah 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman


Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelahlelah berjuang


Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan


Jika mengalir menjadi jernih jika tidak, dia ‘kan keruh menggenang


Singa tak 'kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak 'kan kena sasaran


Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam,

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang


Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman, 

Orang-orang tak 'kan menunggu saat munculnya datang


Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang

Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan 


Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan

Jika dibawa ke kota berubah mahal seperti emas


 
 Bismillah, semoga diberikan jalan terbaik untuk bisa merantau, ke Belanda sana menimba ilmu, dan pulang ke tanah air untuk mengabdi untuk negeri :-)

Bisa jadi ketemu si dia di sana... #aamiin

Kabar GMB 1000 Buku : 1.034 Buku dari Para Dermawan

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan
(QS. Al Alaq : 1)


Jadi ceritanya hari ini saya berangkat ke kampus untuk melaksanakan Sekolah Penelitian, salah satu program dari UKMF Penelitian SCREEN FIS UNY yang dimotori oleh bidang Kesejahteraan Anggota. Kami menyambut hangat calon anggota SCREEN yang ingin mendedikasikan dirinya untuk negeri ini, khususnya di ranah penelitian. Sekolah penelitian dilaksanakan di ruang kelas, persis seperti kuliah di kelas dengan dua pemateri inspiratif yaitu mbak Dwi Nur Rahayu (ketua SCREEN 2012) dan mas Ahmad Syaiful Hidayat/Ipung (Mahasiswa Berprestasi II FIS 2013). Sekitar Pkl 08.30 acara dimulai, saya diminta memberikan sambutan dan dilanjutkan oleh Prof. Dr. Ajat Sudrajat, M.Ag, dekan kami yang selalu sederhana dan dekat dengan mahasiswanya. Ketika memberikan sambutan, Prof Ajat begitu memberikan inspirasi dan motivasi kepada kami untuk selalu menumbuhkan budaya menulis sejak masih muda seperti ini. Hal kecil yang selalu beliau laksanakan misalnya : sekitar jam 6 pagi biasanya sudah sampai kantor dan menyempatkan sekitar 30 menit baca buku lalu mereviewnya. Tidak perlu banyak-banyak, namun cukup sekitar 1 halaman untuk dituliskan setiap hari. Kebiasaan beliau ini secara kontinu menjadi bagian yang menarik bagi saya, apalagi ketika Pak Ajat berhasil menerbitkan jurnal internasional secara gratis sehingga menjadi guru besar.

Baik, itu gambaran agenda pagi tadi dan pada siang harinya saya bertemu dengan Iqbal, Ryan, Fanizar, dan mas Ipung lagi. Kami ke Lempuyangan untuk membeli tiket kereta, tetapi pada akhirnya kami pergi ke Indoma*** karena antre di stasiun lebih dari 150an. Kami berencana akan ke Jakarta tanggal 2 Mei 2014 untuk mengikuti European-Indonesia Scholarships Information Day di sekitar Sudirman. Alhamdulillah tiket berangkat sudah dibeli. Setelah itu saya pulang ke rumah, sampai rumah sekitar Pkl 15.20 WIB langsung sholat dan pergi ke Omah Baca Karung Goni.

Sore ini tadi ada program TPA, pengajian anak-anak yang dibantu oleh volunteer dari UGM, mbak Yulika dan mbak Ulin. Adik-adik ngaji 'iqro' ataupun al qur'an. Saya bersyukur melihat semangat adik-adik untuk ngaji.

By the way, ternyata ada yang lupa. Siang tadi saya mendapat kabar gembira, gembira sekali karena proposal kedua yang saya ajukan ke PT. Kanisius mendapat Acc dan siang ini saya mengambil 27 buku bacaan ke sana. Alhamdulillah, GMB-1000 Buku memberikan kesempatan kepada setiap teman/kenalan saya untuk berbagi. Kali ini bukunya pas, cerita anak-anak dan cocok untuk usis TK-SD. Setelah saya ingat-ingat, ini adalah buku ke 1034 karena di OBKG sudah ada 1007 koleksi buku. Puji syukur kehadirat Allah atas segala nikmatnya, memang sebuah penantian yang panjang disertai doa dan usaha maksimal akan mendapat jawaban terbaik.Minggu ini juga, GMB 1000 Buku yang berkolaborasi dengan OBKG juga mendapat kiriman alat tulis dan beberapa buku tulis dari seorang dermawan, namanya mbak Laras.

"Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan ?"
Petikan ayat di surat Ar Rahman yang selalu diulang-ulang ini menjadi sebuah refleksi bagi saya dalam keseharian selama melaksanakan program Gerakan Mari Berbagi 1000 Buku untuk Omah Baca Karung Goni ini. Begitu banyak dermawan dan relawan yang merelakan waktu, tenaga, maupun finansial untuk berbagi dalam upaya memajukan omah baca ini.

Omah Baca yang berdiri sejak 19 Januari 2014 itu kini telah berusia 3bulanan. Ada romantika yang saya rasakan dalam melaksanakan program ini bersama relawan UGM yang senantiasa memberi pengarahan. Gerakan Mari Berbagi 1000 buku yang saya usung bersama berdirinya OBKG membuka mata hati saya akan pentingnya "Berbagi di tengah Keterbatasan". Ya, saya mengakui masih sangat jauuh sekali dari harapan, karena keterbatasan waktu yang saya miliki untuk program ini di tengah kesibukan kuliah-microteaching-organisasi-penelitian-maupun aktivitas di luar. Tetapi, saya sepakat dengan nasihat Pak Ajat "Semakin seseorang sibuk dengan banyak tanggung jawab, semakin cerdas pula dalam mengatur waktu". Apakah sahabat sekalian sepakat ?

Saya pun harus senantiasa bersyukur karena dari sekian kegiatan yang menjadi tantangan setiap hari masih diberikan waktu untuk istirahat dan tentunya mendampingi adik-adik. Saya telah menyusun jadwal harian dalam secarik kertas yang saya selipkan di saku setiap hari. Begitu pentingnya manajemen waktu. Youth Adventure and Youth Leader Forum di Kemenpora bulan Februari kemarin mengajari saya untuk benar-benar mengatur waktu sebaik mungkin, jangan sampai ada waktu sedetikpun yang terbuang dan tak bernilai.

Sekitar 1034 buku kini menemani adik-adik di OBKG, itu adalah bukti ketulusan dan kesungguhan para dermawan yang ikhlas berbagi. Mereka yang telah berbagi kepada kami memang orang-orang di atas rata-rata yang dipilihkan Allah untuk mengulurkan tangan kanan dan menyembunyikan tangan kiri ketika berbagi. Merekalah yang dari dalam hati mendapat panggilan, bahwa berbagi itu tidak mengenal batasan umur, berbagi itu tidak mengenal kuantitas, berbagi itu tidak mengenal waktu, dan berbagi itu adalah sebuah panggilan jiwa. Hanya ada dua piliha untuk berbagi : YA atau TIDAK, tidak ada sebuah keraguan. Mereka yang memang berbagi dengan hati benar-benar take action kapanpun dan di manapun. Sering juga kan ada orang yang mau nyumbang buku hanya untuk dilihat orang lain dan dipuji atas kebaikannya.Bukan...bukan itu namanya berbagi dengan hati. :-)

Jadi, meskipun sudah lebih dari 1000 buku, program GMB 1000 Buku dan OBKG insha Allah akan terus berlanjut dengan mengumpulkan buku lagi, membuat program perpustakaan yang lebih kreatif dan inovatif dengan harapan, dan mengajak sahabat sekalian untuk bersilaturahim menyapa adik-adik OBKG. Setidaknya akan ada perubahan nyata untuk lingkungan di mana saya tinggal saat ini. Tentunya, kami ingin sekali mengajak orang di atas rata-rata untuk bergerak, berbagi di atas perbedaan, berbagi dalam kesederhanaan. Ini salah satu wujud nyata yang bisa kita laksanakan mulai dari lingkungan di sekitar kita untuk berbagi kebaikan. Saya pun berharap, semoga kelak usaha ini akan memberikan dampaki posiitif bagi peningkatan pendidikan di dusun Ngemplak, melihat adik-adik sukses menggapai mimpi mereka dengan kegemaran membaca yang coba kami tanamkan saat ini.

"Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan ?"

Teruntuk sahabat, para dermawan, volunteer UGM, GMBers, dan seluruh pihak yang sampai saat ini telah membantu implementasi GMB 1000 Buku dan perpustakaan OBKG kami mengucapkan MATUR NUWUN, semoga amal ibadah mendapatkan balasan yang berlipat ganda dan senantiasa diberikan keberkahan dalam hidup. Teruntuk Abang Azwar Hasan sebagai bapak dari GMBers, lebih dari seorang inspirator hidup :-)

Akhir kata, semoga akan ada cerita-cerita selanjutnya dari GMB 1000 Buku dan OBKG.
“…Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
 (Pramoedya Ananta Toer)

Mohon maaf jika banyak kekuarangan dalam catatan sederhana ini.


Salam hangat, salam berbagi !

Janu Muhammad
Pustakawan Muda Omah Baca Karung Goni
Inisiator GMB-1000 Buku untuk Perpustakaan Dusun Ngemplak


Mbak Ulin baru ngaji bersama adik-adik
Mbak Ulin baru ngaji bersama adik-adik
 
inspiring movement, GMB 

inspiring movement, GMB
catatan hari ini di buku peminjaman (tulisan adik-adik langsung)
catatan hari ini di buku peminjaman (tulisan adik-adik langsung)
 
27 "fabel" dari penerbit Kanisius hari ini
27 "fabel" dari penerbit Kanisius hari ini
 
 
https://www.facebook.com/notes/janu-muhammad/kabar-gmb-1000-buku-1034-buku-dari-para-dermawan/10201632623208035

Jadi Mahasiswa, Sudahkah Kita Bersyukur ?

Pagi itu saya bangun jam 4.00, sholat Subuh dan belajar sebentar. Saya jarang sekali belajar lebih dari 2 jam, entah tidak tahu kenapa. Biasanya hanya baca buku sebentar dan diulang lagi siang maupun malamnya. Barangkali hampir sama seperti adik saya, dia juga sering belajar di pagi hari.

Kami bangun pagi bukan karena alarm kami pasang pagi-pagi, namun karena jam segitu di rumah sudah ramai. Bapak dan mamak jam 3 sudah bangun untuk berangkat ke pasar, dagang sayur mayur di pasar Sleman. Jadi memang, kami bangun pagi lebih karena kebiasaan di keluarga. Setelah bapak mamak ke pasar, saya dan adik bersiap sekolah dan ke kampus. Rutinitas ini sudah ada sejak saya kelas 4 SD, ketika itu adik baru berusia sekitar 3 tahun. Kebiasaan ini berlanjut sampai ketika adik memasuki kelas 4 SD. Dia sudah mencuci baju sendiri, menyiapkan bekal sendiri, sampai menyetrika sendiri. Mamak ke pasar, bapak ke sawah. Saya dan adik menyiapkan kebutuhan sekolah sendiri. Kami justru senang karena menjadikan kami terbiasa, tidak manja, kami menerima segala nasihat bapak mamak agar belajar sungguh-sungguh dan kelak menjadi anak sholeh.

Siang hari biasanya kami ngaji di dusunnya simbah putri, saya masih ingat kira-kira saya TPA sampai kelas 3 SMP. Saya ingat kala itu menangis saat pertama kali ngaji. Memang, awalnya merasa takut dengan orang yang baru dikenal. Berbeda dengan saya, adik cenderung langsung bisa nyaman dengan lingkungan baru hingga saat ini. Sebenarnya kalau diruntut sama, mulai dari TK,SD,SMP saya dan adik sama. Apa memang kakak dan adik itu ibarat cermin ya ?

Sampai akhirnya selepas lulus dari SMA 2 Yogyakarta, saya dihadapkan pada pilihan masa depan. Mau ke mana saya setelah ini ? Apkah kerja atau kuliah ? Saya matur mamak bahwa saya ingin kuliah, saya ingin menjadi sarjana dan bekerja untuk masyarakat. Belum terpikirkan mau ambil sarjana apa. Hanya saja pernyataan ketika Masa Orientasi Siswa itu bisa diambil benarnya. Pak Mur tanya kepada saya "Besok mau jadi sarjana apa?" Saya menjawab "Sarjana Pendidikan pak". Saya belum tahu kalau ternyata yang jadi sarjana pendidikan itu akan jadi guru.

Baik, seiring adanya proses di IPA, akhirnya ada sebuah titik kejenuhan saat itu. Saya ingin sekali mengambil geografi sebagai pilihan saya ketika kuliah sarjana. Ya, saya cinta, saya suka geografi sat itu. Tibalah saatnya pendaftaran SNMPTN undangan dibuka. Saya memilih UGM sebagai pilihan pertama. Saya yakin betul dengan pilihan pertama di Geografi Ilmu Lingkungan, Biologi, dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Ya, saya benar-benar yakin akan diterima di UGM saat itu. Sampai-sampai saya sempat tidak menuliskan pilihan kedua di form undangan. Tetapi, akhirnya ada yang Maha Mengingatkan agar saya mengisi di pilihan keduanya adalah di UNY dengan jurusan Pendidikan Geografi, Biologi, dan Pendidikan Biologi (sepertinya).

  

Sampai akhirnya ujian nasional datang, pengumuman undangan telah terbit. Saya mengecek di warnet dengan diantar bapak. Serba deg degan karena komputer warnet eror dan semua akan segera memuncak. Ternyataa....Pendidikan Geografi UNY. Ya, semalaman saya tidak bisa tidur karena gagal masuk UGM, benar-benar pukulan keras bagi saya. Alhamdulillah, masih ada bapak mamak yang mengingatkan saya untuk bersyukur dan menerima segala jawaban dari Allah.

Awalnya memang berat namun ternyata seiring berjalannya rasa syukur itu, banyak manfaat yang akhirnya saya dapatkan ketika menjadi mahasiswa UNY. Mungkin persepsi saya hanya : bagaimana saya akan sukses di kampus ini ? Apa bisa menjamin saya untuk berprestasi ?

Itulah persepsi mahasiswa yang biasanya menginginkan 'banyak menerima' manfaat daripada 'memberi manfaat'. Betul ?

Kadang kita tidak bersyukur menjadi mahasiswa, padahal masih banyak yang tidak bersekolah

Masih sering mengeluh menjadi mahasiswa, padahal kita adalah orang-orang pilihan yang diterima di kampus ini

Masih ada saja mahasiswa yang banyak menuntut kenyamanan di kampus, padahal proses pendewasaan diri lebih utama

Masih banyak mahasiswa yang diam, padahal kampus menjadi kesempatan untuk mengembangkan potensi diri sebesar-besarnya

Masih banyak mahasiswa yang kurang bersyukur, padahal kuliah juga masih dibiayai orang tua


Mari kawan coba kita balik :


Coba kita bersyukur sudah diberi kesempatan untuk kuliah,

Coba kita banyak berbagi dan memberi manfaat selama kuliah,

Coba kita optimis mengembangkan potensi di kuliah,

Coba kita kritis solutif bukan hanya menuntut,

Coba kita berusaha aktif karena kesempatan lebar di depan mata, insha Allah

Terimakasih Ya Rabb atas segala nikmat terindah ini. Terimakasih mamak dan bapak yang selalu mendukung janu untuk tumbuh dan menginginkan menjadi anak sholeh. Terimakasih adek Isti yang menginspirasi tiada henti. Terimakasih sahabat-sahabatku dimanapun berada. Barokallah untuk kita semua...


Gali potensimu, tulislah pengalamanmu, bagikan kepada orang lain dan amalkan  dengan ikhlas.

Jadi, masih ragu juga untuk bersyukur menjadi mahasiswa ?

#RefleksiMahasiswaEsSatu


1 Mei 2014

Janu


 

Upacara Hardiknas dan Penganugerahan Presma

Jadi ceritanya saat ini menjelang akhir pekan. Saya menyandarkan diri di Limuny UNY untuk membuka email dan lain sebagainya. Saya ingin bercerita, biar tidak keburu basi. Mumpung masih bulan Mei, bulan yang katanya banyak libur dan menjadi saksi perjuangan pendidikan di Indonesia. Singkat saja ya, semoga tulisan kali ini bisa saya baca-baca lagi ketika sudah sukses menjadi dosen. Begini ceritanya...

Saya sudah lama tidak ikut upacara bendera, mungkin terakhir kali adalah bulan Mei 2013 saat upacara Hari Pendidikan Nasional, itupun saya telat dan hanya kebagian akhir. Alhamdulillah, akhirnya tanggal 2 Mei 2014 kemarin bisa ikut upacara di rektorat UNY. Alhamdulillah bisa datang pagi dan on time berada di barisan terdepan untuk shaf "Mahasiswa Berprestasi Bidang Penalaran". Ya, selain ada upcara Hardiknas, hari itu juga kami 886 mahasiswa UNY mendapatkan anugerah PRESMA (Prestasi Mahasiswa) sebagai apresiasi kampus terhadap para mahasiswa UNY yang telah membawa nama harum ke tingkat nasional/internasional. Ini satu alasan logis karena UNY tahun 2013 kemarin berdasarkan penilaian DIKTI menduduki Peringkat 1 Prestasi Mahasiswa tingkat nasional. 

Alhamdulillah......harus bisa memberi manfaat

Prestasi membanggakan kampus pendidikan di Yogyakarta ini tidak lepas dari perjuangan para mahasiswa maupun stakeholder yang 'gethol' memajukan prestasi ILMIAH, SENI, OLAHRAGA, maupun MINAT KHUSUS. Untuk penghargaan PRESMA ini sendiri terdiri dari 4 bidang tadi dan ini kali kedua saya memperolehnya. Puji syukur selalu kami panjatkan kehadirat Allah karena tahun ini ada peningkatan signifikan. Dari tahun lalu 499 penerima PRESMA, tahun ini ada 886. Saya senang karena dari UKMF Penelitian SCREEN tidak hanya saya lagi, tapi juga ada sekitar 6 lainnya :-) Artinya, target saya untuk mengajak teman insyaAllah berhasil.

Zaenal, Adang, mbak Irma, Pambayun, Pak Sumaryanto WR III, mas Ipung, Diana, Saras, Agung, Janu

Janu (Mapres II FIS 2014) dan mas Ipung (Mapres II FIS 2013)

PRESMA, menjadi bagian yang tak mungkin terlupakan dalam perjalanan hidup saya di kampus pendidikan ini. Betapa tidak, Allah juga memberi kesempatan saya untuk menerima anugerah Mahasiswa Berprestasi Peringkat 2 di Fakultas Ilmu Sosial UNY tahun 2014 ini. Saya bersyukur kepada Allah atas kesempatan ini. Sesampainya di rumah, mamak dan bapak senang dan tak kuasa air mata hampir menetes. Allahuakbar, Allah membukakan jalan bagi hamba yang bersungguh-sungguh dan mau berbagi.

Outstanding Geography Students


Beberapa tips atau trik bagi rekan-rekan mahasiswa UNY yang mempunyai mimpi memperoleh penghargaan PRESMA 2015 :

1. Prepare now, siapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang. 
2. Temukan minat dan bakatmu, kembangkan sekarang juga, latih dalam kompetisi.
3. Bagi yang menargetkan di bidang penalaran, silakan rajin ikut lomba Karya Tulis Ilmiah, esai, dll.
4. Begitu pula dengan minat khusus, seni maupun olahraga, sering-seringlah ikut kompetisi.
5. Kalau mengalami kegagalan, ayo bangkit dan optimis ada jalan. Ingat bahwa pengalaman-pengalaman itu akan menjadi kenangan dan pembelajaran.

Ngga ada tips lagi selain punya niat lurus, tekad kuat, usaha maksimal, dan keistiqomahan dalam berdoa. Barokallahufiik... Amanahnya ssekarang adalah : memberi manfaat dan memotivasi mahasiswa lainnya :-)

"Karena setiap perjuangan hari ini 
akan menjadi saksi kesuksesan masa depan."

Senin, 05 Mei 2014

Sharing Pengalaman European-Indonesia Scholarship Information Day



Jumat sore, 2 Mei 2014 hujan mulai  turun ketika saya dan Mas Ipung menuju stasiun Lempuyangan. Kami bergegas untuk sampai di stasiun karena kereta Bengawan tujuan Pasar Senen berangkat Pkl 16.33 WIB. Sesampainya di sana ternyata sudah ada Fanizar dan Ryan Hananta, dua mahasiswa FT UNY yang mempunyai mimpi kuliah S-2 di Belanda dan Jerman. Kami berempat saling sapa, meskipun jarang sekali ketemu dan baru kenal beberapa waktu yang lalu ternyata satu sama lain punya visi yang sama untuk rencana studi lanjut. Kami baru berempat, masih menunggu Abi dari FIP dan Iqbal, teman sekelas saya yang masih on the way katanya. Tiba-tiba Abi datang, kami tinggal menunggu Iqbal yang sampai Pkl 16.28 WIB baru terlihat kepalanya. Dia basah kuyup, terbang dari Moyudan nan jauh di sana dengan motor kerennya. “Sudah lengkap teman-teman?” tanya saya kepada kelima sobat yang hebat-hebat itu. Berhubung sudah siap, kami langsung cus ke kereta, tentunya dengan menyerahkan tiket dan KTP. Gerbong 3 kereta Bengawan menjadi tempat duduk ternyaman kami, ada beberapa remaja muslimah dan bapak ibu beserta anaknya. Kereta pun berangkat, perjalanan menuju European-Indonesia Scholarship Information Day dimulai. Bismillah, ini kali ketiga saya ke Jakarta untuk awal tahun ini. Selama perjalanan kami berbincang sana-sini, sampai kenal dengan dek Bagas, anak kelas 2 SD di Bekasi yang lucu dan cerdas itu. Tidak lupa saya mengabari mamak di rumah kalau kami sudah berangkat, sekaligus mohon doa agar perjalanan ini bermanfaat. 

Iqbal, Janu, mas Ipung, Abi, Ryan, Fanizar  terimakasih para pejuang beasiswa
Waktu di kereta berjalan terasa cepat karena saya langsung tidur pada Pkl 19.30 WIB. Memang tubuh perlu sekali istirahat karena Jumat itu aktivitas seharian full dan belum ada waktu merebahkan diri. Tiba-tiba kereta sudah mendekati stasiun Pasar Senen. Tepat Pkl 1.45 WIB kami berenam turun dan langsung menuju mushola. Tak lupa kami sholat jamak maghrib-isya’ sebelum akhirnya istirahat. Ini kali pertamanya saya tidur di stasiun bersama kelima teman saya dan ditemani nyamuk yang setia mencubiti kulit hingga berbintik kemerahan. Alhamdulillah setelah istirahat cukup akhirnya sudah masuk waktu Subuh. Kami bangun Pkl 04.30, bersih-bersih diri dan sholat. Setelah itu, kami keluar stasiun, sempat salah pintu keluar sehingga kami putar balik ke pintu awal. Langkah kami saat itu menuju pintu keluar stasiun Senen untuk mencari sarapan pagi, jelas perut sudah keroncongan sedari tadi malam. Saya makan nasi putih, sayur kentang, lauk telur goring dan minum teh anget, lumayan seharga 10.000 masih bisa dijangkau. Setelah itu, kami berjalan ke terminal Senen, kurang lebih 1 km kami menemukan halte transJakarta. Tiket per orang 2 ribu rupiah, tujuan kami ke blok M makanya transit ke halte Harmoni dulu untuk transit. By the way, Jakarta di pagi hari sudah terlihat kesibukannya. Jalanan di ibukota sudah ramai, hiruk pikuk kota metropolitan telah tampak, padahal saat itu masih sekitar jam 7.00. Dari harmoni, kami kea rah blok M dan turun di halte Setiabudi. Namanya juga orang baru, baru sadar kalau ternyata kami turun di dukuh atas 1 dan kurang 1 halte. Akhirnya kami putuskan naik busway lagi dan turun di Setiabudi. Subhanallah, hotel Le Meridien menjulan tinggi berdampingan dengan Grand Sahid Jakarta yang beberapa waktu lalu saya kunjungi. Kami turun dan berjalan menuju Le Meridien, tempat pameran European-Indonesia Scholarship Day. Tak lupa ambil foto dulu di depan hotel, maklum orang ndeso semua ini. Sebelum masuk, ada security check dulu. Saya santai aja karena nggak bawa senjata apapun atau amunisi apapun. Sekilas hotelnya memang bagus dari luar, ternyata yang dalam juga bagus pula. 
 
Le Meridien di Depan Mata


Fanizar, Ryan, Janu di depan Le Meridien


Ketika keenam pemburu beasiswa ini sampai di ruang Sasono Mulyo, apa yang terjadi ????? Kosong ! Belum ada panitia atau siapa yang jadi event organizer. Terkejut juga kami datang jam 7.30 WIB padahal acara baru dimulai jam 9.00 WIB, kepagian kali ya ? Tidak apa-apa, kami langsung menaruh tas di deretan nomor dua, berharap dan berdoa agar acara hari ini sukses. Sambil menunggu panitia untuk registrasi, biasalah kalau akhirnya ambil foto-foto dulu. Beberapa menit kemudian, terlihat antrean panjang untuk registrasi online. Setelah registrasi, saya diberi gelang kertas sebagai tanda peserta EU Scholarship Info Day.


Beberapa film tentang Erasmus Mundus Awarded diputar di ruangan, kami bergeser ke kursi depan karena peserta ternyata mulai membludak. Sesuai prediksi, hari ini ada sekitar 500an mungkin pesertanya, padahal ruangan hanya menyediakan seat 300 kursi. Namanya juga Indonesia, para peserta memilih untuk lesehan di karpet demi mengikuti rangkaian acara. Tiba-tiba seorang ibu-ibu, beliau namanya bu Destriani Nugroho, itu lho admin group fb Erasmus Mundus. Saya juga tahu info acara ini dari beliau dan akhirnya bisa ketemu hari ini, Alhamdulillah. Bu Destriani menyapa peserta dengan hangat, mengajak seorang MC bernama mbak Ira. Mbak Ira ini adalah alumni program Erasmus Mundus, alumni UGM yang kuliah master salah satunya di University of Groningen (RUG). Mbak Ira pun berkenalan dan memotivasi peserta untuk menyimak baik-baik apa saja yang disampaikan di acara ini. Turut memberi sambutan, Pak Muhammad Mahduh dari Kementerian Keuangan dan Mr. Cholin Sharow dari perwakilan Uni Eropa. Kedua tokoh ini memberi sambutan tentang besarnya peluang beasiswa bagi pemuda-pemuda terbaim maupun masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia yang bekerja sama dengan Uni Eropa telah banyak bekerja sama dalam penyediaan beasiswa untuk mempersiapkan putra-putri terbaik Indonesia demi masa depan yang lebih baik. Mr Cholin dalam sambutannya juga mengungkapkan dukungan penuh Uni Eropa dalam mendukung pendidikan di Indonesia demi mencapai kualitas manusia di masa depan. 
Alhamdulillah kami datang paling awal, dapat seat pertama

Dan kegiatan ini menjadi saksi perjalanan mimpi saya ke depan
Mbak Ira (Alumni EM, Pak Mahduh,...,bu Destri admin Erasmus)

Mr Cholin dalam Sambutannya

 Pihak LPDP yang diwakili oleh Pak Mahduh menyebutkan bahwa setiap tahunnya adal lebih dari 1000 beasiswa hyang diberikan, tahun 2013 ada 1555 penerima beasiswa LPDP yang meliputi beasiswa kuliah dan riset. Pak Mahduh pun melanjutkan penjelasan apa itu beasiswa LPDP ? LPDP adalah singkatan dari Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan di bawah Kemnetrian Keuangan RI. LPDP adalah lembaga khusus yang menyediakan beasiswa untuk studi lanjut maupun riset. LPDP dibentuk atas inisiasi Bu Sri Mulyani yang tahun 2010 menjadi Menkeu, tujuannya untuk menyiapkan pemimpin masa depan Indonesia. Jadi, memang melalui LPDP, setiap penerima beasiswa diharapkan menjadi pemimpin dimanapun berada. Beasiswa ini dibuka sepanjang tahun, sebanyak 3 kali aplikasi per tahunnya untuk semua sektor/bidang ilmu. Atas kerjasama Kemdikbud, Kemnekeu, dan Kemenag, beasiswa ini mempunyai 4 misi : menyiapkan pemimpin, menyiapkan riset inovatif, rehabilitasi fasilitas pendidikan, dan menyiapkan pendanaan pendidikan bagi generasi selanjutnya. Ada 4 program beasiswanya : beasiswa master dan doctor, beasiswa thesis dan disertasi, beasiswa afirmasi (kebutuhan khusus, wilayah tertentu), dan yang paling baru adalah Presidential Scholarship. Untuk tahapannya yaitu berkas secara umum bisa dilihat di web LPDP. Untuk syarat program magister : usia maksimal 35 tahun, skor TOEFL 550 (IBT 79) IELTAS 6,5 TOEIC 750 untuk luar negeri. IPK S1 minimal 3,00 untuk S2, sanggup menyelesaikan magister paling lama 2 tahun. Ada LoA tidak bisa menggantikan syarat TOEFL/IELTS dan IPK. Jadi memang penekanannya kita tidak harus diterima dulu di universitas tertentu. Setelah itu ada interview, Leadership Group Discussion, program kepemimpinan untuk rekonfirmasi hasil wawancara, dan hasil akhir. “Wherever You Go, LPDP always Ready and no limitation”. Memang beasiswa ini jumlahnya besar, bahkan hampir semua kebutuhan penerima beasiswa tercover semua, termasuk jika punya istri maupun anak (maksimal 1 anak 1 istri) untuk asuransinya. LPDP membiayai semua jurusan namun prioritasnya untuk jurusan teknik, bisnis, pertanian, akuntansi, hokum, dan agama. “Follow your passion, LPDP will help you” kata Pak Mahduh. Bedanya kalau untuk Presidential Scholarship itu sudah harus punya LoA dari salah satu 50 universitas yang menjadi target versi LPDP. Jadi ya memang mereka yang IPK di atas 3,5 dan IELTS di atas 7 yang prioritas mendapat presidential scholarship, yang penting LoA dari universitasnya. Misalnya sudah diterima di Oxford, lampirkan LoA dan berkas lainnya. Sebagai bocoran nih, tahun 2013 skema penerima beasiswa adalah 40% fresh graduate, artinya peluang bagi lulusan muda terbuka lebar. Yang tidak boleh mendaftar adalah dosen yang sudah punya NIDN. Jika gagal dalam wawancara misalnya bulan Maret 2014, boleh mendaftar kembali minimal 6 bulan setelah itu untuk persiapan/evaluasi pelamar. Ada beberapa kasus misalnya kalau kita diterima Erasmus Mundus namun tidak mendapatkan beasiswanya bolehkah mendaftar LPDP ? Boleh, namun prosedur tetap sama seperti yang regular. Ada tambahan : darimana sumber dana LPDP yang jumlahnya besar sekali itu ? Pada intinya bersumber dari pajak, pajak apapun di Indonesia. Jadi jangan khawatir kalau LPDP tidak pernah kekurangan dana beasiswa. Pak Mahduh mengakhiri presentasi dengan sesi pertanyaan dan mendapat antusias terbesar dari peserta yang hadir. Info lengkap silakan search di google : beasiswa LPDP RI.
Presentasi dari LPDP


Presentasi selanjutnya adalah dari Uni Italia. Sebenarnya semua bisa diakses di www.universitaly.it . Italia terkenal untuk warisan sejarah-artistik dan sastra yang luas dan merupakan negara fashion serta desain. Sektor teknologi dan mesin seperti produknya mobil Ferari, Fiat, dan Pirelli menjadi unggulan Italia, juga bidang kedirgantaraannya. Yang saya tangkap adalah bahwa negara Italia tidak hanya fokusi dalam hal studi desain/fashion, bisnis, ataupun teknologi. Di Italia juga tersedia banyak program unggulan. Negeri dengan bendera warna merah putih hijau ini menawarkan berbagai beasiswa, salah satunya masuk skema Erasmus Mundus misalnya kalau ingin sekolah di University Milano. Yang membedakan sistem seleksi beasiswa di Italia dengan negara lainnya adalah adanya daftar online, tes tertulis, dan wawancara, standar untuk TOEFL/IELTS tergantung permintaan universitas karena memang bahasa pengantarnya tidak semua berbahas Inggris. Jadi memang perlu kursus bahasa Italia dulu. Tipas mendapatkan beasiswa dari pemerintah Italia : mendapatkan LoA dari universitas, tambah bagus kemampuan bahasa Italia tambah besar kemungkinan dapat beasiswa. Penerima beasiswa akan mendapat sekitar 700 euro per bulan, asuransi, dan biaya universitas gratis. Waktu aplikasi : maret/april. Akan dapat makan di kantin kampus dengan potongan 50%, biaya asrama gratis, tidak ada biaya kuliah. Tertarik ? Silakan kirimemail ke Indonesia@uni-italia.it untuk informasi dan berkasnya. Bisa juga akses www.uni-italia.it
  


Presentasi selanjutnya oleh Campus France. Campus France adalah bagian dari IFI sebagai satu-satunya lembaga yang mendapat legalitas untuk menerbitkan sertifikat bahasa Prancis sebagai syarat studi ke sana. Campus France membantu segala urusan ketika kita ingin kuliah ke Prancis. Di Indonesia, IFI ada di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Medan. Kenapa harus sekolah di Prancis ? Ada beberapa alasan di antaranya : peringkat ke 3 sebagai negara penerima siswa asing di dunia, terletak di jantung Eropa, inovasi pada penelitian dan teknolodi, dll. Pada umumnya para pelajar Indonesia yang sekolah di Prancis 80% adalah biaya sendiri karena pembiayaannya yang katanya murah dan cukup membayar per tahun. Contohnya untuk S2 cukup membayar 254 euro per tahun. Banyak kemudahan dalam belajar terutama di 13 kampus negeri. Bagaimana membiayai studi di Prancis ? Tersedia sekitar 300 beasiswa, terbuka sepanjang tahun, bidang sains, sosial, politik, dan teknik, pendaftaran online. Kita bisa mengajukan berkas pendaftaran beasiswa dari Pemerintah Prancis yang akan mengcover : asuransi sosial, biaya pendaftaran, visa, dan akses tempat tinggal. Info lengkap silakan kunjungi : www.beasiswa.ifi-id.com
  



Selanjutnya, DAAD Jerman menyuguhkan beragam beasiswa. DAAD adalah organisasi independen yang terbentuk dari beberapa perguruan tinggi. Anggotanya ada 236 universitas dan institute penelitian, kantor pusat di Bonn Jerman, 15 perwakilan luar negeri salah satunya di Indonesia, sekitar 70.000 penerima beasiswa setiap tahun. Sebenarnya ada beberapa info beasiswanya, salah satunya yaitu :Program  Beasiswa Reguler : Development-Related Postgraduate Courses. Syarat-syaratnya : lulusan S1 dan S2 dengan pengalaman kerja minimal 2 tahun terhitung SEJAK LULUS S1 dan MASIH BEKERJA pada saat mendaftar beasiswa, usia maksilam 36 tahun, program studi dan universitas penyelenggara sudah ditentukan DAAD (lihat di web), saat mengirim beasiswa usia ijazah maksimal diperoleh 6 tahun sebelumnya, lulus S1 dengan IPK minimal 2,75 atau lulus S2 dengan IPK minimal 3,00, TOEFL IBT minimal 80 atau IELTS minimal 6,0. Aplikasi rangkap 2 dan deadline sesuai ketentuan perguruan tinggi. Komponen beasiswa yang diberikan : tunjangan biaya perjalanan, kursus bahasa Jerman di Jerman, tunjangan hidup berupa uang saku bulanan, tunjangan biaya studi dan penelitian, tunjangan keluarga serta asuransi. Info lengkap : www.daadjkt.org
  



Presentasi selanjutnya dari Belanda….NESO Indonesia J Ada yang belum tahu apa itu NESO ? Apakah makanan yang bulat-bulat dari daging itu ? Itu bakso, atau yang ada kuahnya ? Itu soto… NESO adalah singkatan dari Netherland Education Support Office (kalau tidak salah). Presentasinya dibawakan oleh Mr. Mervin (kalau gak salah lagi) yang itu lho, tinggi pakai kacamata dan mohon maaf kepalanya… **tak. Nah, why study Holland ? What is the different from Holland and others country ? Yes, bicycle ! Apa yang pertama kali teman-teman ingat tentang Belanda ? Kincir angin ? Tulip ? Keju ? Sepeda ? Sepak bola ? Warna orange ? Amsterdam ? ada lagi ? Ya, semua itu benar. Belanda yang pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun memiliki sistem pendidikan unggul dan menjadi impian saya kelak insyaAllah. Studi di Belanda serasa home sweet home, banyak dijumpai suasana Indonesia di sana. Ketika kita membulatkan niat untuk studi di Belanda, perlu banyak persiapan agar nantinya sukses diterima kuliahnya dan beasiswanya. Ada banyak pilihan universitas dengan lebih dari 1000 program, misalnya ada Delft University of Technology, Leiden University, Utrecht University, Amsterdam University dll. Belanda terkenal dengan inovasi, ide, pioneer, dan toleransi budayanya terhadap masyarakat internasional. Sesuai moto NESO : Open to International Mind, dengan harapan bisa membuka wawasan pelajar Indonesia di dunia internasional. Hayo sebutkan tokoh Indonesia yang pernah studi di Belanda ? Yap, bung Hatta. Beliau pernah studi di Erasmus Rotterdam dan mendirikan Persatuan Pelajar Indonesia di Belanda. So, what to do ? 1. Search for study programme at www.studyfinder.nl download and complete application at the university website, prepare required documents (academic transcript, motivation statement, two recommendation letters, IELTS/TOEFL certificate, CV, send all documents to chosen university, and good luck for your Letter of Acceptance (LoA). Setelah itu kita bisa apply beasiswa LPDP, Beasiswa Unggulan, STUNED, Orange Tulip Scholarship, Netherland Fellowship Programme (NFP) dll ( silakan search di gooogle atau klik www.nesoindonesia.or.id ) bisa juga buka www.ppibelanda.org . So, the conclusion of 5 Is of SiH : interactive, independent, innovative, international, Indonesian.




Presentasi selanjutnya dari Chevening Scholarship (United Kingdom). Belajar di Inggris seperti di Oxford ? Manchester ? London ? Siapa mau ? Pasti semuanya mau. Saya kaget pas penyaji Chevening menanyakan ke peserta, ternyata banyak sekali yang pengin kuliah di Inggris….. Sebenarnya saya kurang begitu paham dengan penjelasan beasiswa ini tapi coba saya uraikan sekilas. Beasiswa Chevening ini adalah beasiswa dari pemerintah Inggris yang kini sudah berusia 30 tahun. What does Chevening  Scholarship cover ? Tuition fee, A living allowance at a set rate (just for one individual), an economy class return airfare to the UK, additional grants to cover essential expenditure. Some scholarships cover part of the cost of studying in the UK, i.e. tuition fees only or allowance only. Beasiswa ini termasuk besar banget… Yang saya tahu tujuannya untuk menyiapkan pemimpin dan orang-orang yang akan berpengaruh di kemudian hari. Contoh penerima beasiswanya Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara). Info lengakap silakan googling Chevening Scholarship.




Presentasi selanjutnya adalah dari Sweden, jreng jreng….. Siapa yang pengin ke Swedia ? Saya ! Ya, semua juga mau kalau diberi kesempatan belajar di Swedia hehe. Swedia, secara geografis terletak di Erpa bagian utara, dekat dengan kutub. Negerinya indah, bersih, environmentalis banget, cocok untuk liburan dan pegang salju, atau lihat pengolahan sampah di sana ? Ya, semua akan terjawab ketika kita bisa kuliah di sana, misalnya di Lund University atau Chalmers University of Technology dll. Uniknya, sistem pendidikan di Swedia benar-benar mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Bagi penduduk lokal, sekolah dari SD sampai perguruan tinggi itu gratis. Bagi orang luar ? Jangan khawatir, tersedia banyak beasiswa mulai dari Erasmus Mundus maupun beasiswa dari pemerintah Swedia. Caranya ? Simpel tidak riber, kita bisa apply kuliah sekaligus apply beasiswa. Central application system and program database :  www.universityadmissions.se Program beasiswa tersedia banyak mulai dari insitusi pemerintah atau universitas, coba dibuka ya : www.studyinsweden.se/scholarships atau pengin tahu acara PPI Swedia ? Buka yuk www.ppiswedia.se 


Erasmus Mundus atau yang saat ini dikenal Erasmus+

Kuliah di Eropa menjadi mimpi bagi saya untuk mencari ilmu di negeri orang dan mimpi ‘merantau’ sejak kecil. Eropa yang menawarkan kualitas pendidikan terbaik menjadi destinasi tempat belajar dengan universitas-universitas terbaik dan sistem pendidikan unggul ditambah dengan nilai plus menjelajahi benua biru. Ingin kuliah di lebih dari 2 negara menjadi mudah ketika kita diterima menjadi recipient of Erasmus Mundus Scholarship, beasiswa prestisius yang nilai rupiahnya tidak bisa dibayangkan lagi. Bisa jadi, kita meneri 15 juta biaya hidup untuk sebulan, kaget ? Apalagi ketika kurs euro semakin naik. Kita bisa kuliah di Belanda, Jerman, Belgia, Prancis, Swedia dan 28 negara Uni Eropa lainnya. Singkatnya, kita bisa menjelajahi banyak negara di Eropa, ada lho yang sampai mendapat 7 universitas penyelenggara.  Peserta beasiswa Erasmus+ yaitu : lulusan S1 sederajat dari universitas manapun untuk mendaftar program S2 Erasmus+ masters courses di Eropa, 1-2 tahun. Kemudian untuk Scholar-akademisi/peneliti untuk melakukan tugas mengajar, penelitian, atau kegiatan ilmiah pada E+MC maksimum 3 bulan. Persyaratan beasiswanya :

  1. Tidak harus memiliki pengalaman kerja, pengalaman kerja bisa menjadi nilai tambah
  2. Sudah lulus S1 untuk aplikasi S2
  3. Mengirim formulir-formulir aplikasi pendaftaran
  4. Tidak ada batasan umur
  5. Cara mendaftar di beasiswa Erasmus+ ???
Dokumen yang harus dikirimkan ke universitasnya :
  1. Formulir aplikasi
  2. Daftar riwayat hidup
  3. Ijazah dan nilai akademik (dilegalisir)
  4. Surat motivasi
  5. Surat rekomendasi
  6. Kemampuan bahasa
Dokumen-dokumen harus diterima sebelum deadline. Boleh daftar di maksimum 3 program Erasmus+. Kirim aplikasi ke universitas, tidak perlu ke Uni Eropa. Tanpa tes tertulis, kadang-kadang ada wawancara lewat telpon/skype. Aplikasi dibuka mulai September-Desember. Info lengkap teman-teman bisa googling : Erasmus Mundus J





Untuk presentasi terakhir itu dari beasiswa unggulan, teman-teman bisa mencoba search langsung yaaa Beasiswa Unggulan Indonesia, saya kira sama kok hasil penjelasannya karena memang itu terus yang dijelaskan. Setelah penjelasan beasiswa, ada talh show dengan Mbak Dini Fitria yang pernah menjelajahi berbagai negara di Eropa, pernah juga melakukan peliputan di Prancis, Brazil, Belanda, Jerman, dll. Saya tertarik sekali membaca novel yang beliau tulis. Selepas mengikuti presentasi, kami erenam pergi ke ruang sebelah untuk menyaksikan stand-stand penyedia beasiswa. Sayangnya penuh sekali, brosur-brosur juga sudah habis namun sebenarnya isinya sama dengan yang ada di websitenya kok J Nah, itu tadi petualangan kami di Hotel Le Meridien dalam acara European-Indonesia Scholarships Information Day. Setelah itu kami berenam berpisah (ingat film negeri 5 menara). Ryan Hananta yang ingin sekolah di Jerman akhirnya ke tempat temannya, Fanizar yang ingin kuliah di Belanda juga iya, mas Ipung yang ingin kuliah di University of Amsterdam pun iya. Tinggal saya, Abi, dan Iqbal yang tersisa. Kami naik busway kea rah Juanda, sholat Maghrib dan Isya’ di Masjid Istiqlal dan menginap di rumah Paman saya di Asrama Markas Besar Angkatan Darat, dekat Halte Slamet Riyadi Jakarta Timur. Minggu paginya kami melepas penat ke Ancol, berkeliling Ancol dank e pantai tentunya. Alhamdulillah, syukur kepada Allah atas kesempatan berharga ini. Siang harinya kami pulang ke Yogyakarta bersama kereta Krakatau.


Jejak Para Pejuang Mimpi @ancol
Di depan rumah Paman Daroji, asrama TNI AD




Alhamdulillah, banyak manfaat yang bisa didapat dan harus dibagikan ke teman-teman. Jadi, ada beberapa hikmah dari acara in :
  1. Kuliah di luar negeri menjadi motivasi bagi para pemburu beasiswa untuk merasakan atmosfer yang ebrbeda dengan sistem pendidikan di luar negeri seperti di Eropa. 
  2. Hal pertama yang harus ditumbuhkan ketika ingin sekolah ke luar negeri dengan beasiswa yaitu NIAT LURUS dan TULUS. Mari kita niatkan untuk ibadah dan menuntut ilmu.
  3. Tidak cukup dengan niat, perlu persiapan panjang dan matang mulai dari persiapan mental spiritual sampai ke persiapan berkas aplikasi, kita bisa membuat grand desain perjalanan meraih beasiswa.
  4. Beberapa penerima beasiswa mengatakan bahwa “Berjuanglah terus, tetap semangat ketika Anda mengalami kegagalan, setidaknya Anda mendapatkan pelajaran berharga untuk persiapan seleksi selanjutnya.”
  5. Persiapan TOEFL/IELTS sampai mencapai skor yang ditargetkan bisa dilakukan jauh-jauh hari sehingga hasilnya insyaAllah akan maksimal.
  6. Apabila memerlukan rekomendasi professor, segeralah mengontak ke universitas yang akan dituju.
  7. Berbagilah semangat, informasi dan komunikasi dengan para pejuang pemburu beasiswa, jangan sungkan untuk berbagi. Harus kita ingat bahwa makna berbagi akan terasa ketika ilmu kita bisa disharingkan dengan orang-orang di sekitar kita.
  8. Setelah usaha maksimal, langkah terakhir adalh berdoa kepada Allah Ta’ala. Restu orang tua juga sangat perlu sahabat
  9. Ketika sudah diterima, manfaatkan waktu untuk fokusi belajar, penelitian, mengembangkan wawasan internasional melalui organisasi PPI.
  10. Jangan lupa pulang ke Indonesia untuk mengabdi untuk negeri 


InsyaAllah, semoga kita diberikan petunjuk untuk menjemput cita-cita kuliah di luar negeri. Mungkin saat ini kita baru bisa bermimpi dan melakukan langkah kecil ini. Saya yakin sepenuhnya, Allah akan memberikan yang terbaik untuk setiap niat baik kita. Mohon doanya sahabat, semoga Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi mahasiswa di Utrecht University, Netherlands dengan beasiswa. Sukses untuk sahabat pejuang beasiswa sekalian, semoga bisa saling berbagi dan memotivasi. Semangat #studyabroad ! Maaf ya sahabat apabila ada khilaf. 


Man Jadda Wajada ! Mamak, bapak…janu pulang lagi ke rumah…semoga suatu saat bisa merantau kembali ke Belanda 

#RefleksiMahasiswaEsSatu





Kereta Krakatau, 4 Mei 2014 Pkl 17.10 WIB

Perjalanan Pulang ke Yogyakarta





Janu Muhammad



Pejuang Master of Human Geography and Planning,

Utrecht University Netherlands