Ged a Widget

Selasa, 15 April 2014

Von Thunen oh Von Thunen

So surprised tonight, my task still not be completed. Thus, I'll sleep very late.... Some of my resume on Von Thunen's theory, 




The most famous model of all is that first proposed by Von Thunen in 1826. Von Thunen owned an estate near Rostock in Northern Germany and his major work, The Isolated state, was largely based on personal observations and deductions. The processes making for land use patterns in that area, Von Thunen argued, mighty equally apply elsewhere and with similiar results. In other words, the model can be expended into a general theory of land use patterns. The model in question is illustrated by the example of a single town in the midst of a uniform land surface where physical factors such a climate, relief, geology, soils and drainage remain constant and transport costs are directly proportional to distance. Each farmer would sell his surplus produce only in that town, would bear the total cost of transport himself, and would always aim to undertake that type of farming which yields maximum profits.
 
A cornerstone of the theory is the principle of economic rent, whereby different types of land use produce different net returns per unit area. Of the three commodities, potatoes yield the largest bulk per hectare and require the highest transport costs.


One aspect of agricultural land use that seems not to have concerned Von Thunen is the way in which it can be determined, and can change, in response to urban growth. This fact has led many geographers fundamentally to modify Von Thunen’s original hypothesis and to suggest alternative land use patterns. One such geographers is R. Sinclair.

Sinclair has developed a model in which agricultural land use pattern are to a certain extent at least, the reverst of those of Von Thunen. Instead of agriculture becoming less productive and less efficient away from a town, it actually becomes more productive and efficient. The reason for this, according to Sinclair is the blight effect that urban sprawl has on land values.

to be continue....on processing :3

Minggu, 13 April 2014

Pengalaman Seleksi Pertukaran Pemuda Antar Negara

Assalaamu'alaikum

Apa kabar sahabat ? Semoga baik-baik dan dalam ridho Allah Ta'ala. Alhamdulillah bisa nulis lagi, menyempatkan diri untuk berbagi pengalaman. Kali ini, saya baru saja dapat pengalaman baru yang akan saya share, meski sebenarnya saya belum lolos sampai final seleksi PPAN 2014 DIY. Tidak ada salahnya saya akan menulis, barangkali ada yang membutuhkan informasi ini suatu saat. 

Jadi ceritanya begini. Kemarin hari Sabtu 12 April 2014 saya mengikuit seleksi wawancara PPAN. Saya memilih program Indonesia-Kanada karena minta saya ke Kanada, sesuai background saya di komunitas pendidikan. Kalau ada yang belum tahu silakan cek web PCMI Jogja. Untuk tahun 2014 ini (kedua kalinya saya masuk interview) persyaratannya :
http://pcmijogja.wordpress.com/ppan2014/ 
Prepare yourself to the most dynamic international youth exchange program. ICYEP has several features that could turn your life upside down: a counterpart pair system, voluntary work placements, host families, your group dynamics, community development programs, and the two opposite environment between Canada and rural Indonesia.
In this program, you will meet your counterpart, a Canadian male/female which is bonded to you. With your counterpart, you share most of your living experiences during the program, aside from the relationship dynamics you may encounter with. You will share the same room, living under the same roof, and working with your counterpart 24 hour a day, 7 days a week.
You also obliged to spend most of your days in a week at your agreed work placements. The work placements could be a school, research center, food bank, youth center, etc. At these places, you will do your tasks given by your supervisor. If lucky, you could have a golden access travelling to another part of Canada trough your work placement.
Check the short description about program through this graphic :


Saya mengikuti seleksi wawancara di Balai Pemuda dan Olahraga, Alun2 Kidul Yogyakarta. Saya datang jam 7.50, dari waktu yang sebenarnya maksimal jam 8.00.
Acara dimulai dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan, dan pelantikan Purna Caraka Muda Indonesia. Setelah itu dilanjutkan seleksi wawancara. Ada 4 meja wawancara. Meja 1 dan 2 adalah yang sesuai dengan program kita dan meja 3 untuk pengetahuan wilayah Jogja dan meja 4 adalah penampilan bakat keterampilan. Tips sebelum wawancara : persiapkan diri sebaik mungkin, tata hati, persiapan materi, belajar, perbanyak baca berita terkini, tapi tetap relax ya, jangan tegang :)
Meja 1 (Nasionalisme)

Saya menjumpai seorang Bapak, sepertinya dari instansi BPO. Pertanyaan2 yang disampaikan seputar makna nasionalisme, apakah masih berlaku ? Tentang pancasila dan implementasinya di kehidupan sehari-hari, kasus Singapura, apa yang akan Anda bawa ke Kanada ? Apa yang selama ini sudah Anda lakukan untuk Indonesia ? Persiapkana juga wawasan kebangsaan tentang makna lambang garuda maupun pengetahuan umum tentang Indonesia.

Meja 2 (Anda dan ICYEP)
Di sini ada mbak Laksmi dan mas Rachmat Aditya Hutama (allumni ICYEP). Post ini menurut saya post terberat karena wawancara secara mendalam, intensif, dan detail sampai ke kepribadian kita. Beberapa poin yang saya ingat adalah : apa motivasi Anda mengikuti program ini ? Mengapa memilih ICYEP ? Aktivitas apa yang sudah Anda lakukan sesuai latar belakang program ini. Ternyata ada beberapa studi kasus seperti : 
Jika Anda mendapat counterpart (partner) seorang non Muslim dan mengajak pergi ke pesta, apakah akan menemaninya ? Jika di rumah host fam ada anjing bagaimana ? Jika host fam tidak menyediakan tempat untuk ibadah, apa yang akan Anda lakukan ? Jika Anda ditawari minum bir/alkohol/non halal food ? dan beberapa pertanyaan lain yang memang mengharuskan berpikir sesuai hati. Intinya, kita dihadapkan pada situasi Kanada yang sangat berbeda, baik dari budaya, agama, maupun kebiasaan kita. Jawablah dengan hati dan jujur.
Meja 3 (Wawasan Daerah DIY)
Pada meja 2 dan 3 sebenarnya saya menjawab memakai bahasa Inggris. Pada intinya meja 3 ini lebih mengajak kita untuk mengenali potensi daerah yang akan kita wakili. Ada dua pewawancara, mas Andhi Susanto dan satunya lagi mbak...saya lupa namanya. Di meja ini saya sebagai seorang delegasi ICYEP dan si pewawancara sebagai partner Kanada saya yang mau keliling Jogja. Coba disiapkan pengetahuan tentang : tempat wisata menarik, tempa belanja souvenir murah, jarak kalau mau ke Jogja dari Bali, apa istimewanya Jogja daripada Bali, transportasi di Jogja, pantai di Jogja, wisata budaya, tempat-tempat bersejarah (urband legend) Jogja, dan wawasan geografi tentang macam-macam kabupaten, nama bupati, sejarah Jogja dll. Intinya kuasai materi dan pengetahuan daerha yang akan kita wakili.

Meja 4 (Potensi Bakat/Keterampilan)
Saya masih ingat setahun yang lalu ketika saya menampilkan nyanyian, tarian, baris. Setelah saya evaluasi, ternyata yang dimaksud keterampilan di sini adalah apa saja yang bisa kita tampilkan sesuai dengan kemampuan dan keahlian kita. Bisa saja beruapa portofolio, kemampuan menjadi pembawa acara, presentasi, penyiar, baca pusi, menari, menyanyi, dll. Saya sadar bahwa saya tidak berbakat dalam bidang kesenian. Untuk itu saya menampilkan saya apa adanya "Just be your self". Saya menampilkan keseharian saya microteaching di kelas dengan membawa media pembelajaran, memasak tahu susur, dan nyanyi bungung jeumpu. Itulah kemampuan terbaik yang saya miliki. Yang penting jadi diri sendiri, saya lebih nyaman menampilkan hobi masak dan ngajar di kelas, lebih berkesan. Tahu susur saya jadi 9, alhamdulillah habis dilahap dewan juri :-)

Setelah semuanya selesai, saya juga menyapa dan memberi semangat kawan-kawan lain yang masih prepare untuk perform. Kami selesai kira-kira jam 19.00 dan pulanggg ke rumah untuk istirahat.
Pengalaman luar biasa telah berjumpa dengan pemuda2 terbaik Jogja. Siapapun yang mewakili, semoga dapat hasil yang terbaik dan membawa nama harum Jogja dan Indonesia di mata internasional. Meskipun 2x belum lolos, saya tetap bersyukur bisa memberikan kontribusi dalam seleksi PPAN 2014 ini. Kalau ditanya : Apakah Janu pernah mengikuti seleksi PPAN ? Saya jawab : alhamdulillah pernah. Apakah berhasil ? Ya, saya berhasil melawan kemalasan dari diri saya, saya berhasil mencobanya dan saya tidak menyesal karena gagal masuk final.
Saya mendapatkan pelajaran luar biasa dari kegagalan ini sehingga saya bisa berbagi untuk orang lain yang akan mencoba mengikuti seleksi PPAN 2015. Semoga sedikit pengalaman ini bermanfaat.

Tetaplah berbagi melalui menulis :-)
Salam semangat dan berjuang kuliah di Belanda !

Janu Muhammad
Potential Candidate, Master of Human Geography and Planning, Utrecht University, Netherlands