Ged a Widget

Sabtu, 27 Desember 2014

Refleksi Perjalanan Hidup Janu Muhammad : Masa Lalu, Kini, dan Esok

Teringat sebuah tulisan yang hari ini saya baca tentang perjalanan sosok Mas M.Iman Usman yang saat ini sedang kuliah di Columbia University. Saya pun terinspirasi untuk menulis sebuah refleksi perjlanan hidup yang akan berguna untuk mengevaluasi perjalanan masa lalu, kini, dan mempersiapkan hari esok. Tulisan sederhana ini semoga dapat memberi gambaran bagaimana seorang Janu mempunyai mimpi besar untuk Indonesia di masa depan.


Tentang Sebuah Nama


Nama lengkap saya Janu Muhammad, lahir pada tanggal 7 Januari 1993. Kini saya berusia 21 tahun lebih 11 bulan, artinya bulan besok sudah genap 22 tahun. Ketika mendengar nama Janu Muhammad, banyak yang bertanya apakah saya lahir bulan Januari ? Tentu jawabannya iya (sudah saya tulis di depan soalnya). Asal kata ‘Janu’ sebenarnya bukan pemberian dari orang tua saya, entah mengapa. Bahkan yang memberi nama saya adalah bibi saya sendiri. Barangkali pada saat itu mamak dan bapak tidak mempermasalahkan sebuah nama apa yang cocok bagi anak laki-laki pertamanya ini. Yang penting simple, mudah diingat. Tentang nama ‘Muhammad’, terinspirasi dari Rasulullah, nabi yang menjadi suri teladan bagi seluruh umat, pemimpin bijaksana, jujur, dan amanah. Berat sebenarnya diamanahi nama ini karena konsekuensi yang harus saya laksanakan. Orang tua saya cukup religious sehingga nama ‘Muhammad’ menjadi sebuah doa agar kelak saya menjadi seorang pemimpin yang amanah dan mempunyai sifat yang diajarkan nabi.

Sejak kecil saya dipanggil dengan sebutan Janu, ada juga yang memanggil ‘Yanu’. Biasanya beliau-beliau para simbah yang sulit menyebut huruf ‘J’ biasa memanggil saya Yanu, lebih mudah. Pada saat SD, SMP, SMA, hingga saat ini nama tunggal saya tetap Janu, tidak ada nama samaran atau nama lain yang lebih familiar. Bagi putra asli suku Jawa dan asli Jogja seperti saya ini, kadang-kadang dapat tambahan ‘Mas’ di depan kata ‘Janu’ sebagai penghormatan dari muda ke yang tua. Realita yang terjadi ternyata, dari yang tua pun memanggil saya dengan ‘Mas Janu’, padahal saya lebih muda. Entah karena itu sebuah rasa hormat atau karena raut wajah saya yang memang lebih tua (lebih dewasa tepatnya). Pengalaman dulu waktu semester 3 ketika ada mahasiswa baru bertanya, “Masnya angkatan 2008 ya?” wah ini parah bener si maba, masak ya 3 tahun lebih tuaa. Bahkan ketika masuk ke bank, sejak SMA saya sudah dipanggil ‘Pak Janu’ padahal ya pakai seragam SMA, mungkin mbaknya hanya memperhatikan wajah ya ? Sudah yang penting disyukuri, banyak yang mengatakan saya memang cenderung dewasa duluan, secara tanggung jawab maksudnya.



Tentang Background Keluarga


Lahir dari sebuah keluarga sederhana, dari pasangan ibu Lasiyem dan bapak Ngadiyo. Tumbuh dan dibesarkan di Dusun Ngemplak, Caturharjo, Sleman, sebuah daerah di Kabupaten Sleman sisi barat, berbatasan dengan Magelang. Saya biasa memanggil ibu dengan sebutan ‘mamak’ dan ayah dengan ‘bapak’. Beliau berdua adalah orang tua hebat yang tiap hari berjuang mencari sesuap nasi di pasar. Ya, keluarga kami adalah keluarga pedagang. Hal ini berawal ketika mamak pada masa remaja sekitar 15an tahun sudah mulai berdagang ayam. Simbah lah yang mengajarkan beliau untuk mandiri, sehingga mamak tidak sempat menamatkan SD dan berjuang membiayai paman saya yang kini sudah bergelar Kapten Drs. Daroji dan bermarkas di Kostrad TNI AD di Jakarta (dekat monas). Mamak saya sejak muda sudah banting tulang bekerja demi keluarganya, beliau anak ke 8 kalau tidak salah. Bapak, seorang tukang bangunan yang berhenti sekolah di kelas 3 SD, itu juga karena demi membiayai adik perempuannya. Beliau anak ke-2 dari 4 bersaudara. Entah bagaimana ceritanya mamak dan bapak bertemu, beliau adalah tetangga desa dan biasalah kalau orang terdahulu akhirnya langsung nikah. Yang perlu dicatat ketika saya mendengar cerita cinta mamak-bapak, mereka sama sekali tidak pacaran. Bapak langsung melamar mamak karena ya memang saling percaya. Berhubung background keluarga mamak religious, akhirnya bapak menjadi sangat religious dan taat beribadah. Saya mempunyai seorang adik perempuan, namanya Isti. Dia lahir ketika saya berusia 8 tahun, ketika kelas 2 SD.




Kedua orang tua saya mempunyai prinsip hidup yang menurut saya sungguh mulia. “Yang penting anak saya bisa sekolah, tidak ada kendala untuk sekolah dan baca buku, saya akan bekerja keras demi kesuksesan putra-putri saya”. Kalimat itulah yang mewakili keseharian orang tua saya, yang tiap hari bekerja di pasar sebagai pedagang cabe. Bangun jam 3 malam, Subuhan lalu ke pasar, pulang jam 2 siang, ‘kulakan’ atau beli dagangan jam 3 sore dan tidur jam 11 malam. Hanya tersisa 4 jam untuk istirahat. Kalau saat-saat seperti ini dagangan di rumah bisa beberapa kuintal dan kami harus lembur. Ada sebuah pancaran semangat yangs saya rasakan, sebuah tanggung jawab besar pula agar saya ikut merasakan perjuangan hidup ini dan tidak menyia-nyiakannya. Jujur, mamak dan bapak menginginkan saya menjadi seorang sarjana bahkan professor, dan menjadi seorang PNS. Itu harapan besar orang tua saya, tetapi ada sebuah mimpi agar kelak saya juga membuka sebuah usaha, syukur-syukur bisa membuka toko dan sentra sayuran untuk mengembangkan usaha keluarga.


Tidak lupa, beliau berdua selalu menitipkan tanggung jawab agama. Sejak kecil pun saya dibiasakan untuk mengaji selepas Maghrib. Teringat pertama kali saya ikut TPA di masjid Nurul Huda,  dusun di mana simbah tinggal. Saya waktu itu kelas 2 SD dan menangis ketika diminta mengaji. Saya takut dan malu karena belum bisa apa-apa. Saya tiap 3 hari dalam seminggu mengikuti TPA, mengayuh sepeda dari rumah. Lumayan jauh, namun saya akhirnya berani, dan tumbuhlah sebuah ‘kemandirian’ untuk saya dan adik. Kami terbiasa untuk mengurus persiapan sekolah sendiri, mencuci baju sejak SD juga sendiri, menyetrika sendiri, bahkan kebersihan rumah pun menjadi tanggung jawab saya dan adik. Ada sebuah latihan yang diberikan orang tua agar tidak bergantung pada orang lain dan ‘peka’ bahwa orang tua sudah bekerja keras dan perlu untuk dibantu. Tidak heran jika pada akhirnya Allah memberikan kesempatan saya meraih Juara 1 Pemilihan Anak Sholeh Berprestasi se-TPA Nurul Huda. Ada rasa syukur karena di usia 13 tahun saya sudah memegang piala pertama.




Masa Lalu, Kini, dan Esok


Ada beberapa peristiwa penting yang menjadi batu loncatan bagi perjalanan seorang Janu Muhammad selama ini. Pertama, ketika pada usia SD saya sering menjadi ketua kelas, pertama kalinya Juara 3 Olimpiade Matematika se-Kecamatan Sleman dan di akhir kelulusan meraih predikat lulusan terbaik. Saya pun langsung diterima di SMP N 1 Sleman tanpa tes. Ada sebuah tempaan di mana saya memasuki fase baru, mengenyam pendidikan di sekolah favorit dan andalan Kabupaten Sleman. Tetapi, ada sebuah karakter yang masih melekat saat itu yaitu ‘rasa malu’ bertemu orang baru. Saya masih minder dan sangat pendiam.

Kedua, ketika saya di SMP mulai memasuki dunia organisasi. Saya diterima sebagai pengurus OSIS dan Dewan Penggalang. Sebuah tanggung jawab baru di bidang organisasi yang sama sekali belum saya rasakan sebelumnya. Apa yang terjadi ? Organisasilah yang akhirnya menjadi batu loncatan untuk berubah total ke arah lebih baik. Saya belajar bagaimana cara berkomunikasi, terbuka menyampaikan pendapat, menuangkan ide, dan berinteraksi dengan orang-orang luar. Akhirnya, saya berani menyampaikan pertanyaan dan pendapat dalam setiap diskusi. Jiwa saya menjadi lebih terbuka terhadap orang luar. Fisik saya pun ditempa lewat keaktifan di Pasukan Inti (baris-berbaris). Namun satu prinsip yang saat itu masih sangat melekat : saya harus tetap menjadi agama dan interaksi terhadap lawan jenis, sehingga banyak teman yang menilai saya sok alim. “Biarkan saja, Allah yang Maha Tahu” kata mamak.
 

Ketiga, memasuki fase SMA. Peringkat saya di ujian nasional SMP tidak terlalu mengecewakan, saya meraih nilai 36,95 atau rata-rata 9,238. Nilai itulah yang menjadi modal awal saya untuk masuk SMA N 2 Yogyakarta, sekolah favorit dan dulu kata banyak orang sekolah negeri namun agamis. Ketertarikan saya di SMADA bermula ketika melihat Pasukan Intinya. Saya ingin bergabung bersama mereka. Alhamdulillah, saya diterima di rangking 6. SMADA, menjadi tempat yang membentuk kepribadian saya matang, ketika diamanahi menjadi ketua Rohis Kharisma, di MPK, Pasukan Inti, ketua Kelompok Imiah Remaja, dan berbagai organisasi luar sekolah yang benar-benar mengubah pandangan saya ke arah masa depan. Kami dididik untuk menjadi manusia bermanfaat dan berguna untuk Indonesia kelak. “Dengarkanlah derap kami, pemuda harapan bangsa, SMA Negeri 2 jaya selamanya..”petikan mars SMADA. Namun untuk lulus dari kelas IPA bagi saya sangat sulit. Saya yang telah ‘terlanjur’ menjadi aktivis organisasi menyadari sepenuhnya banyak waktu yang saya curahkan untuk organisasi dan akhirnya nilai akademik menurun. Pengalaman paling berkesan hingga membawa saya ke level nasional adalah ketika mengikuti Pesantren Kilat Nasional yang diadakan oleh Kementerian Agama RI di Malang. Sanlatnas itu untuk beberapa sekolah bertaraf internasional dan memang pilihan, pesertanyapun pilihan. Saya mulai mengenal beberapa teman dari provinsi lain dan akhirnya terhubung sampai sekarang. Saya lulus dari SMA dengan predikat pas-pasan, dengan rasa syukur telah lulus dari IPA dan menuju peralihan ke IPS, saya mengambil geografi sebagai konsentrasi bidang di perkuliahan.
 

Keempat, saya diterima di Pendidikan Geografi UNY melalui jalur prestasi (undangan). Alhamdulillah diterima sekolah tanpa tes terus. Di perkuliahan saya lebih fokus untuk berorganisasi yang satu visi dengan masa depan saya untuk menjadi seorang dosen dan peneliti. Aktivitas di perkuliahan pun saya habiskan untuk kuliah, aktif di UKMF Penelitian SCREEN, dan beberapa organisasi yang memang ranahnya riset dan akademik. Saya mulai menanamkan bahwa saya harus fokus dan tidak ingin menjadi aktivis dengan nilai buruk . Saya ingin menjadi aktivis berprestasi, lulus kurang dari 4 tahun, dapat beasiswa, dan rutin menulis serta belajar bahasa inggris. Teringat pesan mas Anies Baswedan kakak alumni saya SMA “3 kunci agar Anda diperhitungkan dunia : organisasi, menulis, dan bahasa inggris”. Ya, saya memegang prinsip itu hingga saat ini. Alhamdulillah, di tahun ketiga dapat mempersembahkan kado untuk mamak dan bapak, sebuah pencapaian prestasi yang menjadi akumulasi perjuangan selama ini. Kalau ada yang bertanya : seorang Janu apakah pernah ada masalah, sedih, dan gundah di dalam kamar ? Jelas pernah, namanya juga manusia. Tetapi ya prinsipnya 'move on', dekatlah pada Allah maka Allah akan dekat dengan kita. Masalah akan datang karena Allah sedang menguji seberapa besar kesabaran, kesetiaan kepada-Nya, dan kesungguhan dalam berjuang. Barangkali niat kita dalam bermimpi masih kurang lurus, maka perbanyaklah Dhuha, Tahajud, dan amalan sunah lainnya, namun tetap dijaga juga ibadah wajibnya.

Kelima, pengalaman pergi ke luar negeri adalah milestone saya, yang membuka mata hati dan pikiran bahwa dunia ini luas. Saya sebagai calon geograf akan dihadapkan pada banyak permasalahan yang mengharuskan saya peka, kritis, dan mau mengambil bagian dari solusi. Melihat kondisi demikian, pengalaman mengikuti kuliah singkat di Belanda dan 3 minggu hidup di Australia semakin membuka wawasan saya bahwa saya harus berbuat sesuatu untuk lingkungan di mana saya tinggal. Saya harus memberikan sebuah ‘tanggung jawab’ dari beasiswa yang diberikan pemerintah selama kuliah ini. Akhirnya, 19 Januari 2014 menjadi titik awal saya merintis pendirian Omah Baca Karung Goni yang merupakan bantuan dari mahasiswa-mahasiswa UGM. Saya pun menangkap bahwa pendidikanlah yang menajdi kunci utama untuk memajukan kualitas suatu bangsa dimulai dari warga negaranya. Mulai dari hal-hal kecil menjadi pustakawan muda, saya berlatih bagaimana ilmu yang selama ini saya dapatkan dapat bermanfaat. Saya masih mempunyai cita-cita besar agar esok dapat mendirikan sebuah taman baca yang luas dan mandiri.
 

Saya dan Kecintaan untuk Indonesia


Sudah 21 tahun saya hidup di negeri ini, negeri yang sangat luas dan kaya akan sumber daya alamnya. Saya bersykur lahir dan besar di negeri ini, terlebih di Yogyakarta tercinta. Orang-orangnya ramah dan sederhana. Saya bersyukur mempunyai keluarga yang saling mendukung, bapak mamak dan adek yang selalu rukun. Saya menghargai jerih payah mereka untuk putra sulungnya ini.
 

Ada sebuah PR besar agar suatu saat nanti saya dapat berbuat sesuatu untuk mereka, mengangkat derajat keluarga ini. Saya masih mempunyai mimpi untuk naik haji bersama keluarga yang saya cintai. Saya ingin menjadi seorang pendidik bagi generasi di Indonesia. Itulah sebuah rencana saya untuk lebih menghargai negeri ini, untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat negeri ini. 

Ada sebuah optimisme bahwa 20-30 tahun ke depan Indonesia akan jauh lebih maju, tidak ada lagi korupsi, tidak ada lagi ancaman teroris, semuanya hidup rukun dan nyaman. Namun, itu semua tidak akan terjadi jika anak muda hanya duduk diam menunggu sebuah perubahan. Anak muda seperti saya dan Anda harus merencanakannya dari sekarang, berkolaborasi dengan pemuda-pemudi lainnya. Seperti zaman-zaman ketika Sumpah Pemuda akan dikumandangkan, ketika kemerdekaan juga akhirnya dapat ditegakkan.  Apakah semua yakin akan terjadi ? Tentu!




"Kalau semangat hidup hanya biasa-biasa saja, ya hasilnya biasa saja. Coba lebihkan usaha dan doa, pasti akan luar biasa hasilnya."


Ini bukan sebuah khayalan, ini adalah sebuah mimpi besar yang dapat diwujudkan. Ya, salah satu jalannya adalah dengan menempuh pendididikan tinggi dan membuat sebuah perubahan dari yang kecil. Semoga, kelak Allah mengizinkan saya untuk melanjutkan studi ke luar negeri, merantau dan menimba ilmu seluas-luasnya dan kembali ke tanah air untuk mendidik serta mendedikasikan diri di kampung halaman. Kalau sudah optimis, mari susun strategi dan berjuang menjemputnya!


Terimakasih Ya Allah, atas segala nikmatmu ini. Semoga di usia 22 nanti senantiasa menjadi hamba yang bermanfaat dan berusaha menjadi putra terbaik yang sholeh seperti yang mamak harapkan. Semoga keluarga kami senantiasa dalam keridhoan-Mu. Terimakasih untuk keluarga, dan sahabat sekalian, mohon maaf jika selama ini ada khilaf dari saya. Semangat membuat Indonesia tersenyum ^^



Indonesia, 27 Desember 2014

Janu Muhammad

Sedang berjuang menuju wisuda dan kuliah di Belanda

insyaAllah...



4 komentar:

  1. wah sangat inspiratif mas ceritanya, salam kenal mas janu!:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal mbak winda ayu,terimakasih sudah berkunjung :) smoga bermanfaat

      Hapus
  2. Senang bisa berteman baik dengan mas Janu. Horas mas! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo bang Soni ! Waahh terimakasih sudah menjadi sahabat baik selama ini. Salam berbagi! Makasih bang udah mampir blog sderhana ini :)

      Hapus