Ged a Widget

Minggu, 30 November 2014

Malam Terindahku Bersama Hostfam di Brisbane



“Jangan sebut sebagai perpisahan karena ini baru pertemuan awal. Saya yakin kita akan bertemu kembali di kesempatan yang lebih baik.”

Bahagia, sedih, semuanya menjadi satu pada hari ini. Tak terasa, sudah sekitar 2 minggu bersama mereka, Gwenda, Tom, dan Alex di rumah tercinta ini. Mereka begitu baik, begitu memberi perhatian terhadap saya. Gwenda, di usianya yang sudah tidak lagi muda masih memiliki semangat hidup untuk berbagi, memberi inspirasi kepada saya. Keseharian aktivitasnya untuk memberi perhatian kepada para pengungsi, beribadah di gereja, memberi ruang inspirasi bagi saya bahwa hidup itu semangat, hidup itu bermanfaat. Tom, di usianya yang menuju 50 masih terlihat muda sekitar 30 tahun. Dia adalah ahtivis hokum yang akan melanjutkan program doctor di Cambridge University atau Oxford University. Dia baik hati, peduli, dan tentunya ramah. Alex, seorang warga asli Iran yang menjadi anggota baru keluarga Gwenda dalam 1 tahun ini mempunyai keinginan besar untuk kembali ke nergaranya, Iran. Di usianya yang menuju 40 tahun dia telah memberi pelajaran hidup kepada saya, khususnya bagaimana cara ketika kita berada di negeri orang. Semoga Alex bisa segera bertemu keluarganya.
Selama dua minggu ini banyak hal baru yang saya alami. Makanan baru, keluarga baru, budaya baru, semua serba berbeda dengan Indonesia. Makan sereal, roti, salad, bahkan sampai makanan yang entah apa namanya pernah saya makan. Awalnya shock karena memang lidah saya masih ingin masakan Jogja, tapi akhirnya bisa beradaptasi. Malam terakhir bersama hostfam pun akan saya jadikan sebagai malam special, saya akan menghidangkan menu khas Indonesia.
Saya berniat membuat : nasi goring, sambal, bakwan, lalapan, dan ayam goreng, semua masakan Indonesia. Berbekal beberapa bumbu instan yang saya bawa dari Indonesia dan racikan bumbu dadakan di dapur hari ini, saya mulai membuatnya. Pertama, saya akan memuat bakwan, you know bakwan ? Bakwan adalah makanan favorit saya. Saya perlu menyediakan tepung terigu, kubis, wortel, bawang bombai, dan beberapa komponen lain. Setelah bahwan diiris dan dicampur, saya mulai menggorengnya di atas kompor. Ada insiden memalukan saudara-saudara, ternyata saya salam menyalakan kompor. Berhubung saya dari desa ya mohon maklum, ternyata saya tidak perlu menyalakan kompor, cukup menggeser sebuah papan di atas kompor dan minyak goreng langsung menyala, kok bisa ya ? Gwenda langsung meminta saya mematikan kompor, saya beneran malu dan tidak enak ya rasanya. Beberapa menit kemudian bakwan pun jadi, setelah dibumbuhi resep ketulusan untuk kejutan terbaik malam ini.
Setelah bakwan, saya langsung menceburkan ayam ke adonan dan digoreng hingga matang agar bisa dimakan. Selanjutnya, saya memasak sambal goreng, dicampur tomat. Hampir tidak ada kendala, meski sambal hasilnya justru asin dan kurang pedas bagi saya. Acara selanjutnya membuat nasi goreng. Ini moment yang sangat lama dan melatih kesabaran. Berbagai campuran sayuran saya tambahkan karena inilah nasi goreng special ala chief Janu. Setelah ditambahi kecam, saus tomat, bumbu nasi goreng, dan diaduk hingga rata akhirnya jadi deh nasi goreng pertama saya di Australia. Belum lengkap rasanya ketika belum ada lalapan. Saya mengiris timun dan selada untuk lalapan.
Sekitar Pkl 18.30 makan malam telah siap. Gwenda dan Tom terkejut karena saya telah menghidangkan aneka masakan asli Indonesia. “Great, and look very nice,” kata Tom. Iya Tom, saya tahu dan terimakasih, tapi sejujurnya saya belum mencicipi masakan itu, semoga tidak sakit perut ya. Setelah berdoa sesuai agama masing-masing akhirnya kami makan malam special. Sayangnya, Alex masih belum pulang. Makan mala mini benar-benar beda, saya serasa sudah pulang karena semuanya asli Indonesia. Terimakasih Tom dan Gwenda sudah mau mencicipi makan mala mini. Mereka suka nasi gorengnya, apalagi bakwannya yang mirip pizza.