Ged a Widget

Kamis, 20 November 2014

Kebaikan Seorang Driver Translink



“Selama program homestay di Brisbane,Queensland ini banyak peristiwa baru yang saya alami. Mulai dari yang endingnya senang, was-was, sedih, mengharukan, sampai pengalaman memalukan (bukan memilukan ya). Kali ini saya mau cerita salah satu pengalaman yang merupakan kombinasinya.”
 
Kemarin, Rabu 19 November 2014 saya berencana mau ada agenda kunjungan ke lahan pertanian ala suku Aborigin dan pertanian modern. Itu pagi sampai siangnya, untuk sorenya mau ke city ketemu mas Andri, salah satu pelajar jurusan geografi di University of Queensland. Paginya, saya melihat langit sepertinya hari ini tidak terlalu panas. Tidak tahu kenapa cuaca hari itu beda, padahal hari-hari sebelumnya bisa mencapai 35 derajat celcius. Kalau sudah panas seperti itu, di kamar pun serasa sauna. Entah ini efek climate change atau memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa. Sekitar Pkl 11 saya menunggu Gwenda yang baru ada agenda di luar. Untuk mengisi waktu kosong, saya sempatkan ngeblog dulu sama nyuci baju. Sampai Pkl 12.00 Gwenda juga belum pulang. Hati mulai nge-galau karena sepertinya langit di atas akan segera memuntahkan airnya. Kepulan awan hitam ada di sekitar kota Brisbane, dan berpotensi pindah ke sini. 

Akhirnya Pkl 12.30 Gwenda pulang. “Hi Gwenda, what about our planning to visit farm ?” Langsung saja Gwenda menjawab, “Yes, we have to leave after our lunch.” Siang itu juga kami makan siang, saya melanjutkan sholat Dzhuhur dan akhirnya ke pertanian. Ketika di sana, saya kagum dengan kebun sayuran dan buah-buahan di sana, benar-benar fresh tanpa bahan kimia. Rata-rata pakai kompos dari daun-daunan, bahkan ada pupuk kandang. Salah satu hal menariknya adalah berbagai tanaman yang harusnya tumbuh di dataran tinggi ternyata bisa tumbuh di sini, seperti strawberry yang saya makan itu. Pembatas tanaman biar tidak campur terbuat dari Koran bekas, semuanya serba barang recycle. Beberapa menit kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Walkabout Creek, sejenis hutan konservasi untuk menyelamatkan satwa-satwa yang hampir punah. Kami melihat kangguru, platypus, berbagai ular, berbagai burung endemic Australia, dan beberapa jenis ikan. Tempatnya nyaman karena di tengah pohon-pohon, terawatt, dan tentunya membuka wawasan baru bagi saya. Setelah mengeksplorasi berbagai sudut akhirnya kami memutuskan pulang. Setibanya di rumah sekitar Pkl 16.30 dan saya langsung sholat Ashar. 

Ternyata hujan akhirnya turun, senangnya. Alhamdulillah, ini kali pertama saya melihat hujan di Australia secara langsung, berharap dengan doa agar memberi manfaat untuk kehidupan di bumi. Saya ingat, bahwa nanti malamnya akan ada ketemuan dengan mas Andri. Perasaan khawatir mulai menyelimuti. Hujan yang awalnya hanya gerimis menjadi deras. Sekitar Pkl 17.30 baru usai. Saya pun diantar Gwenda menuju bust stop untuk menunggu bus nomor 385. Perasaan galau kembali muncul ketika sudah lebih dari 20 menit saya belum dapat bus. Padahal, jadwal sebenarnya Pkl 18.05 sudah ada busnya. Tiba-tiba terbersit pikiran, “Kok jadi ingat pesan Gwenda ya kalau biasanya setelah hujan ada saja problem tentang transportasi.” Saya mencoba mengkaitkan dengan jam operasional bus yang saat itu tidak berlaku. Sembari menunggu, saya ambil beberapa gambar di Waterworks Road. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya bus Tranlink nomor 385 datang. Tapi di kaca tertuliskan “Not in service”. Kaget, sedih, dan bingung bagaimana. Pak driver atau supirnya tidak membukakan pintu dan melarang masuk, “Sakitnya tuh di sini”,” ikut-ikutan bahasa anak muda zaman sekarang. Lalu saya menunggu lagi dan ternyata…”surprised” si driver mengizinkan saya masuk dan akan mengantarkan sampai sekitar Ashgrove, padahal baru tidak beroperasi karena aka nada pergantian driver. “Thank you so much for your kindness,” kata saya. Setelah beberapa ratus meter dan menemui beberapa halte, pak supirnya juga menawarkan kepada calon penumpang apakah mau tidak diantar tapi tidak sampai city, gratis. Akhirnya mereka masuk dan bergabung dengan kami. Ini drivernya baik ya, tidak seperti pas awal dulu ketika saya tersesat karena teledor salah alamat dan akhirnya turun dengan paksa. Kejadian awal dulu itu memberi pelajaran bagi saya untuk setiap saat sedia google map, tidak bisa mengandalkan kebaikan driver. Itu kalau pas drivernya baik ya kita merasa nyaman, tapi kalau ketemu driver yang tidak seramah driver ini ya…siap-siap mental saja karena didiemin ketika tanya.

 

Bekeliling ke kebun dan memetik strawberry



Akhirnya kami turun di dekat Ashgrove dan berpisah dengan driver baik itu, terimakasih bapak. Kami memberikan tepuk tangan meriah di bus sebagai bentuk apresiasi atas kebaikan beliau. Saya dan penumpang lainnya menunggu bisa 385 yang menuju city. Setelah sekitar 5 menit akhirnya bus datang dan saya sampai di King George Station. “Wah, banyak banget yang antre bus,” ucap dalam hati ketika turun di stasiun. Ternyata alasannya adalah karena terganggunya sistem informasi setekah adanya hujan disertai badai kecil sore tadi. Tiba-tiba saya dikabari kalau mas Andri berhalangan datang karena terjebak macet di dekat kampus. Saya juga heran di sini sering banget macet, ya karena memang banyak mobil. Bedanya kalau dengan Jakarta, di sini tidak ada tukang ojek yang bisa mengantar kita ketika mobil macet. Adanya ya menunggu di dalam mobil atau pergi ke kedai kopi dulu. 

Saya pun melanjutkan perjalanan ke Brisbane City Hall, menikmati malam-malam akhir di Brisbane. Terlihat banyak orang yang antre menunggu bus, pemandangan di sekitar city hall mala mini benar-benar beda. Saya yakin ini juga karena efek sementara adanya hujan sore tadi, sistem transporasi yang mudah terganggu. Saya melanjutkan langkah menuju Australian Tourism, sebuah took oleh-oleh favorit saya. Di sana saya beli souvenir jam dengan bingkai benua Australia dua, titipan teman. Harganya untuk dua buah sebesar 24 dollar. Saya juga membeli sepaket gantungan kunci seharga 5 dollar. Total belanja 29 dollar. Sebenarnya pengin beli yang lain, tapi jadi ingat kantong dan kuota bagasi.