Ged a Widget

Jumat, 07 November 2014

Day I : Dari Belanda Menuju Australia

Segala puji syukur hanya kepada Allah Ta’ala. Berkat Allah lah semua ini dapat terjadi. Saya masih belum menyangka hari ini telah tiba di Australia, negeri kangguru dengan pesona alam menakjubkan. 
Kamis siang, 6 November 2014 kami delegasi Gerakan Mari Berbagi (GMB) di homestay program memulai perjalanan udara dari rumah Bang Azwar Hasan, inisiator GMB. Setibanya di bandara Soekarno Hatta kami bersiap diri menunggu take off Pkl 15.00 WIB. Ini, kali kedua saya melakukan penerbangan internasional setelah tahun 2013 kemarin ke Belanda. Setelah semuanya kumpul, kami berangkat menuju maskapai Air Asia. Ada pengalaman baru, ternyata maskapai ini belum selengkap maskapai yang saya pakai tahun kemarin dengan kelas ekonomi, tidak masalah. Saya duduk bersama mas Andi dan mbak Pida, dua rekan perjuangan di seleksi GMB sejak interview di Kemenpora. Ya Rabb, kami bertiga sampai saat ini tetap bisa duduk berdampingan setelah sekian mengalami tantangan-tantangan yang diberikan GMB. Setidaknya 6 tahapan GMB telah kami lalui, namun ini baru awal untuk benar-benar berguna di masayarakat kelak.
Pida, Janu, Andi adalah rekan seperjuangan sejaka seleksi di Kemenpora

Delegasi GMB ke Australia (masih kurang mas Doki)
Beberapa jam kemudian kami landing di Kuala Lumpur. Sejenak istirahat dan melepas lapar. Tidak lupa, saya isi ulang botol dengan air yang ada di kran, bisa langsung minum. Saya pun bergegas sholat maghrib dan isya, di jamak. Sekitar Pkl 21.00 kami berangkat menuju Gold Coast Queensland. Ada pesan dari Bang Azwar agar Janu segera tidur karena baru mulai flu dan demam. Tenang bang, Janu pasti akan sembuh setelah minum obat dan minta petunjuk Allah. Saya pun tidur pulas, tidak terasa sampai matahari terbit. Ya Rabb, saya lupa belum sholat Subuh. Seketika saya langsung menuju toilet dan wudhu di washtafle, dengan teknik tertentu pastinya. Saya sholat dengan posisi duduk, karena memang kondisi ruang di pesawat sempit. Alhamdulillah, pagi itu dapat melihat cantiknya matahari di atas benua Australia. Tidak lama kemuddak lama kemudian kami tiba di Gold Coast International Airport. Alhamdulillah…akhirnya sampai juga di benua Australia.

Alhamdulillah....sampai juga di negeri sebelah
Dari Belanda Menuju Australia

Pengalaman kedua mendarat di luar negeri ini begitu luar biasa dan terasa berbeda. Dulu ketika saya ke Belanda, benar-benar sendiri dan harus bertahan di tengah lingkungan baru yang saya kenal. Sekarang, saya bersama teman-teman berangkat bersama, menunggu bersama, dan segala proses kegiatan ini ada teman yang dapat diajak cerita. Beberapa pengalaman ketika di bandara antara lain terkait declare barang-barang bawaan. Pemetintah Australia saya rasa sangat ketat terhadap orang baru yang datang dari luar Australia. Sewaktu laporan imigrasi, kami diminta membuka koper beserta menyerahkan formulir deklarasi barang bawaan. Jika bawa souvenir dari kayu, makanan, bubuk atau biji, sepatu dan lain-lain tolong di declare. Alhamdulillah kami lolos dan menuju pengambilan bagasi. 

Nah, masalah mulai timbul ketika koper teman kami Sherly ternyata tidak ada. What ? Koper besar berwarna pink itu hilang entah kemana. Dia pun langsung diminta mengisi formulir pengaduan. Saya yakin koper akan kembali karena itu adalah tanggung jawab utama maskapai, tenang. 

Kami langsung bertemu Matthew, country representative program homestay di Australia. Matt baik banget, dia menjemput kami, mengajak kami ke tempat perform nyanyi, mengantarkan kami ke hill, bahkan mengantarkan ke Brisbane Mosque untuk sholat Jumat. Sorenya, kami diantar satu-satu untuk bertemu hostfam. 

Dianatar ke rumah hostfam...

Betapa bahagianya hari ini, khususnya pengalaman baru ikut sholat Jumat selama 2 jam ! Ya, di khutbah Jumat yang mayoritas diikuti orang timur tengah itu mengandung pesan akan pentingnya menegakkan Sholat. Sholat menjadi kewajiban nomor satu, baru setelahnya dapat mencari rezeki, yang menjadi perintah Allah untuk produktif dalam hidup. Saya ingin menangis, barangkali selama ini sholat belum seutuhnya saya hayati dan resapi dalam diri, baru sekadar untuk menunaikan kewajiban. 

Kota Brisbane di atas bukit
Masjid Brisbane di Holland Park
“Ya Allah, terimakasih atas kesempatan ini. Saya menjadi minoritas di sini baru tersadar akan pentingnya agama, pentingnya menjaga keutuhan Islam di tengah masyarakat yang multicultural ini.”

Beberapa pelajaran yang saya rasakan ketika persiapan berangkat sampai setibanya di Australia :
  1. Pentingnya membuat persiapan sebaik mungkin, mulai dari persiapan logistik, kesehatan, spiritual, dan tentunya emosional. 
  2. Pelajari bagaimana prosedur ke bandara, check in, sampai  hal-hal kecil di mana harus sholat, waktu transit, dan taat aturan di bandara. Saya ada pengalaman lupa tidak bawa passport waktu ke ATM, akhirnya hampir tidak boleh masuk karena lewat pintu keluar. 
  3. Persiapan kesehatan amat penting, saya waktu kemarin mulai flu, minum obat yang teratur dan tidur yang cukup karena perjalanan akan panjang.
  4. Pastikan jadwal kegiatan homestay tersusun jelas agar waktu ditanya hostfam sudah siap.
  5. Pentingnya menjaga sholat di manapun berada. 
  6. Pentingnya menjaga pola makan biar tidak komplikasi (diare dsb)
  7. Jangan lupa sampaikan "thank you" kepada orang-orang yang telah berjasa, dan senyum khas ala Indonesia :)
  8. Bawa peta atau google map biar tidak tersesat, pastikan power bank ready.
Perjalanan sampai di Australia ini tidak akan terjadi tanpa restu orang tua, tentu juga dari anugerah Sang Maha Pencipta. Tantangan-tantangan di awal akhirnya dapat dihadapi dengan solusi terbaik, selagi kita mau berjuang, mau berusaha dan berdoa. Allah akan membukakan jalannya, Allah akan memberikan yang terbaik. Jangan pernah mengeluh, jangan memikirkan kegagalan. Buat sugesti positif bahwa kita bisa melaluinya, bahwa esok akan tiba di Australia dan membawa pelajaran hidup untuk dibagikan kepada orang-orang di sekitar. Terimakasih kepada semua orang yang telah berbuat baik kepada Janu, dalam berproses bersama membangun Indonesia ini di kemudian hari.

Terimakasih, atas pengalaman pertama makan roti di rumah Matt, terimakasih atas sambutan keluarga Gwenda Spencer, Tom Spencer, dan Alex. Kita berjumpa di kisah selanjutnya…


Janu Muhammad
Mahasiswa Pendidikan Geografi UNY 2011
Delegasi GMB Homestay Program 2014

Salam hangat dari Australia

3 komentar:

  1. ahh, yang ditungu-tunggu akhirnya nongol juga. thank's mas sudah mau berbagi. btw, kenapa dengan kesan pertam kali makan roti? Tros, kopernya sherly gimana kejelasan status keberadaannya. :D ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf baru balas bro...rotinya rasa macem-macem soalnya .hehe. Koper udah ketemu alhamdulillah :)

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus