Ged a Widget

Rabu, 19 November 2014

Homestay dan Mimpi Studi ke Luar Negeri


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
(Pramoedya Ananta Toer)

Jam sudah menunjukkan Pkl 03.00 waktu Brisbane. Mata ini belum bisa terpejam karena memikirkan sebuah tulisan yang belum kunjung mulai. Memang ini sifat saya, kalau ada pekerjaan yang belum selesai pasti sulit tidur. Baiklah, saya mencoba menulis dengan bahasa sederhana. Yang penting nulis, kata Pramoedya di atas, supaya moment-moment selama homestay ini terekam menjadi sebuah pembelajaran.
Senin, 17 November 2014 adalah hari ke-12 saya menjalani program homestay Gerakan Mari Berbagi di Australia ini. Pagi itu, seperti biasa saya memulai aktivitas di rumah Gwenda Spencer dan Tom Spencer. Hari itu kami tidak sarapan bersama karena perbedaan jam bangun dan aktivitas. Tom sudah duluan bekerja, sedangkan Gwenda masih menyelesaikan beberapa pekerjaan di kamar belakang. Saya pagi itu bangun cukup pagi, sekitar Pkl 5.30. Setelah itu saya sholat dan bersih-bersih diri. Tidak lupa juga menyalakan laptop dan membuka sosial media maupun kabar berita. Saya teringat, agenda hari ini di antaranya bertemu dosen di University of Queensland (UQ) dilanjutkan menghadiri acara temu bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA). Sekitar Pkl 09.00 saya bersiap sarapan bersama Gwenda dan setelah itu langsung berangkat ke University of Queensland. Saya bertemu Bu Sonia Routman, seorang dosen dari School of Geography, Planning, and Environmental Management. Kami sebenatnya belum pernah bertemu, baru terhubung melalui email. Setelah memasuki Chamberlain Building, saya menuju lantai 5 di ruangan paling selatan. Saya pun bertemu dengan Bu Sonia dan langsung mengutarakan tentang maksud serta tujuan bertemu, salah satunya untuk menyampaikan pesan dari kepala jurusan Pendidikan Geografi UNY dalam rencana kerja sama universitas.

Sekitar 50 menit saya berdiskusi dengan Bu Sonia, kemudian saya bertemu dengan mas Andri Supriatna, pelajar Indonesia yang baru kuliah di UQ. Kami sebelumnya juga belum pernah bertemu, baru melalui email. Ketika membuka perkenalan, saya pun mengutarakan tentang GMB dan programnya sehingga beliau paham. Karena waktu sudah menunjukkan awal ibadah Dzuhur, maka saya dan mas Andri langsung ke masjid UQ. Ini adalah satu-satunya masjid yang saya temui di UQ. Selepas menunaikan ibadah sholat Dzuhur kami berpisah, mas Andri mau bertemu bu Sonia untuk bimbingan desertasi dan saya mau mencari gerbang UQ yang ada tulisan besar itu. Saya pun berjalan kea rah utara kalau tidak salah dan akhirnya ketemu juga. Masalah timbul ketika di sana tidak ada orang yang saya mintai bantuan untuk memfoto. Setelah beberapa menit menunggu akhirnya ada saya bertemu orang Indonesia, rasanya senang sekali. Namanya mbak Sri, pelajar S3 di UQ, asli Malang. Beliau adalah dosen di Universitas Islam Negeri Malang. Kami serasa sama tingkatannya, padahal saya masih junior S1. Kami berbicang sebentar dan akhirnya foto bersama secara gentian. Mbak Sri pun mengantar saya naik CityCat, perahu yang melintasi Sungai Brisbane. Saya naik CityCat untuk menuju South Bank Parkland, tempat akan diadakannya temu bareng PPIA, Konsulat Jenderal, dan GMB.
Saya begitu menikmati pemandangan di atas CityCat, melihat kota Brisbane yang modern, bersih, industry, dan sangat nyaman untuk ditinggali. Bebetrapa menit kemudian akhirnya sampai di dermaga South Bank 2. Saya turun dan menghubungi teman GMB kak Riska, kak Indah, dan kak Dian yang sudah menunggu di dekat pantai buatan. Sekadar informasi, kawasan South Bank ini adalah kawasan wisata favorit, ada taman kota, museum, pantai buatan, dan fasilitas lainnya yang free access. Saya menuju ke arah South Bank 1 dan akhirnya bertemu tiga teman yang telah menunggu. Kami berempat langsung ke Parkland, bertemu kakak-kakak PPIA. Senangnya akhirnya bisa bertemu dengan kakak-kakak PPIA. Ada mas Dudy (Presidium PPI Dunia), mas Taufan (Wakil Ketua PPIA), mbak Yani (Humas PPIA), mas Andri Sinaga, mas Asri, mas Ichal, mas Delvin, mas Jose, Pak Nas, dan lain sebagainya yang selama ini saya baru bisa mengontak mereka lewat facebook. Alhamdulillah, ini kesempatan berharga untuk bersilaturahim langsung dengan beliau yang menginspirasi. Acara siang itu sebenarnya adalah BBQ dan dilanjutkan salam sapa PPIA Pusat, PPIA Ranting, dan GMB. Setelah makan bersama, ada daging, sosis, dan lain-lain, kami duduk bersama membentuk lingkaran dan saling memperkenalkan diri. Nama saya Janu, dan seterusnya. Kami semua tersenyum dengan lawakannya masing-masing. Tibalah giliran GMB untuk memperkenalkan diri. Awalnya disampaikan oleh kak Indah dan dilanjutkan oleh saya. Mereka antusias mendengarkan apa itu GMB dan kegiatannya. Yang cukup menarik perhatian adalah perjalanan dengan uang 100 ribu rupiah. 

Alhamdulillah, menikmati indahnya kota Brisbane
Setelah itu dilanjutkan oleh diskusi yang cukup interaktif dengan dipandu oleh mas Ahmad Almadudy, ketua PPIA dan sekaligus Presidium PPI Dunia. Ya Allah, saya bersyukur sekali dapat bertemu beliau, sosok muda yang menginspirasi. Mas Dudy menyampaikan kepada hadirin akan pentingnya mengeratkan persatuan bagi seluruh pelajar Indonesia baik yang ada di dalam dan di luar negeri. Khususnya yang di luar negeri, mempunyai misi khusus untuk menjadi duta Indonesia dan menjaga nama harum Indonesia di dunia internasional. Caranya adalah dengan ikut berkontribusi melalui Perhimpunan Pelajar Indonesia, mengembangkan riset internasional dan publikasi ilmiah. “Itu salah satu bentuk kontribusi kita untuk Indonesia tercinta.” Sebuah petikan yang membuat saya merinding adalah ketika mas Dudy mengatakan, “Saya terpilih sebagai Presidium PPI Dunia bukan saya hebat, bukan karena saya telah berbuat banyak, tetapi karena rekan-rekanlah yang memberikan kekuatan itu sehingga saya dipercaya mengemban amanah ini.” Saya langsung berpikir, saat ini saya ada di depan orang-orang hebat Indonesia yang menjadi ujung tombak masa depan Indonesia. 
Saya mengambil pelajaran bahwa homestay yang diberikan GMB ini adalah salah satu jalan menuju mimpi saya kuliah di luar negeri. Sudah sejak dua tahun yang lalu saya memimpikannya. Saya semakin terdorong ketika berada di dunia internasional seperti saat ini dan ada sebuah panggilan agar saya merantau ke luar negeri suatu saat nanti. Ingat dengan kutipan syair dari Imam Syafi’I berjudul “Merantaulah” ini ?

“Orang pandai dan beradab tak 'kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak, dia ‘kan keruh menggenan...”

            Syair ini adalah salah satu dorongan kuat saya untuk menjemput mimpi kuliah di luar negeri. Ada sebuah keinginan ketika saya suatu saat nanti bisa fokus studi dan mengembangkan riset di sini. Kuliah di luar negeri akan memberikan wawasan baru untuk open minded di dunia internasional dan menjadikan kita untuk ingin selalu memberikan yang terbaik bagi bangsa Indonesia. Melalui program homestay ini, saya pun menangkap dampak positif bahwa inilah kesempatan saya untuk berinteraksi dan belajar langsung dari para pelajar Indonesia yang saat ini di luar negeri. Ketika saya bertanya dengan beberapa rekan PPIA, misalnya mbak Tri Mulyani, pelajar Indonesia di Queensland University of Technology. “Apa yang membuat mbak Yani akhirnya memilih Australia sebagai tempat studi lanjut ?” Beliaupun menjawab,
“Motivasinya adalah untuk memperluas cakrawala cara berpikir  dan untuk memperluas jaringan/network. Karena Australia adalah negara yang multiculture, di negara inilah kita bisa menimba pengalaman untuk bisa berteman dengan orang-orang dari berbagai belahan dunia lainnya. Kita juga bisa mengerti dan menghargai perbedaan-perbedaan dalam konteksi internasional. Sisi positifnya ya itu tadi, ditambah karena Australia adalah negara maju maka fasilitasnya sangat mendukung untuk kegiatan belajar mengajar.”