Ged a Widget

Sabtu, 18 Oktober 2014

Guest Lecture of Geography#1 : Belajar dari Kebiasaan Orang Belanda

Sabtu malam, Pkl 21.05 WIB saya dan Fadhil bertemu dengan seorang yang spesial datang jauh-jauh dari negeri kincir angin. Beliau adalah Dr. Brian Doucet, salah satu dosen dari Department of Human Geography and Planning, Faculty of Geosciences, Utrecht University, Netherlands. Beliau bukan orang asli Belanda, namun keturunan Kanada dan saat ini meniti karir di Belanda. Ada keharuan ketika saya bertemu beliau, senang, bersyukur, bahkan ingin nangis malahan. Sebuah jabat tangan dan satu pelukan telah mengobati rasa rindu, kami sudah lama sekali tidak berjumpa, semenjak kali pertama bertemu di program Summer School Utrecht tahun 2013 lalu. Pak Brian, begitu saya sapa menunjukkan rasa senangnya mendarat di Indonesia, negeri pertama yang ia kunjungi di Asia. Betapa bahagianya malam itu, saya dapat bertemu langsung seorang tokoh inspirator, teman, bahkan sosok yang selalu memberikan dorongan dan motivasi ketika saya selama ini. Mulai Senin tanggal 13 sampai Jumat tanggal 17 beliau akan mengisi kuliah umum di jurusan Pendidikan geografi FIS UNY.

Setelah itu kami bertiga menuju Jogjakarta Plaza Hotel (JPH) dengan naik taksi, apa yang terjadi ? Suasana Sabtu malam itu benar-benar crowded. Jalanan macet, penuh sepeda motor, dan mobil tentunya. "This is the weekend condition in Jogja. Brian. Don't be surprised if traffic jam is horrible, just be patient" kata saya di mobil. Beliau hanya membalas dengan senyuman dan kalimat simple "It's okay, I know that almost of people drive their motorcycle." Dalam batin saya, pasti orang ini kaget ya dengan kondisi di Belanda yang orang-orangnya pakai sepeda dan tertib-tertib, jarang sekali ada macet. Kami melanjutkan perjalanan ke JPH dan sesampainya di sana sudah ada temen saya Ebi dan satu temannya. "Welcome to Jogja" sapa kami di lobby room. Kami berbincang sebentar kepada beliau bagaimana perjalanannya, dan akhirnya mengantar ke kamar 145 di first floor. Malam itu kami pamit pulang dan akan bertemu Minggu paginya.

Minggu, 12 Oktober 2014 pagi-pagi sudah bangun dan menengok jadwal hari ini super padat. Yah, biarpun tiap hari buat note tapi ya kadang-kadang lupa juga kalau pas terselip atau jatuh dari saku baju. Pagi itu kami ada agenda yang akan sangat menantang, Jogjakarta City Tour. Iya, kami akan berkeliling Jogja bersama Pak Brian. Ada Agung, Ipul, Fadhil, saya, Pak Brian, dan seorang driver Pak Parjiman yang siap menuju Gunung Merapi, Candi Prambanan, dan Kawasan Malioboro.
Hal menarik pagi itu adalah : cara berpakaian Pak Brian yang lebih santai, enjoy, dan tidak terlalu tertutup (celana seukuran dengkul). Beda ya dengan kami berempat yang lebih tertutup, lengan panjang, dan celana panjang, barangkali khawatir tambah menghitam dan panas. Ini kebiasaan sebagian orang Indonesia ya kalau summer sama aja pakaiannya, beda sama orang bule.
Kami kemudian menikmati perjalanan ke tujuan pertama, gunung Merapi. Sepanjang perjalanan, terlihat suasana Jogjakarta yang sudah menampakkan hiruk pikuknya di weekend. Bebarapa motor terlihat menuju pasar dan tentunya rumah makan. Pagi itu juga ada beberapa sepeda yang melintas, menandakan kebiasaan hari Minggu pagi untuk bersepeda. Udara pagi itu pun masih terasa segar, di sebelah utara telah tampak sebuah gunung yang menemani kehidupan masyarakat Yogyakarta. Ketika melintasi jalan Kaliurang, Pak Brian sempat heran, pagi-pagi seperti ini biasanya di Belanda jalanan kosong, bahkan orang-orang masih di dalam rumah dan enggan keluar. Coba lihat di Indonesia, kapan pun di jalanan selalu terisi, entah itu pejalan kami, pesepeda, atau pengendara motor. Inilah cermin bonus demografi, yang di tempat kita selalu bertambah dan dipastikan tidak kekurangan SDM. Jadi, beda juga ya kebiasaan short weekend di hari Sabtu dan Minggu antara di Belanda dan Indonesia. Kalau menurut saya ada kesamaannya juga, yaitu sama-sama ada best moment bersama keluarga.

Beberapa menit kami telah sampai di kawasan Merapi Lava Tour, Dusun Kinahrejo tempatnya mbah Maridjan. Alhamdulillah, terlihat pucuk Gunung Merapi yang gagah dan tampak cerah. Pak Brian amazed banget melihat Merapi. Kameranya sudah mulai jalan untuk memotret gambar terbaik pagi itu. Kami coba menjelaskan kronologi erupsi 2010 dan ada memori yang membuat saya pribadi 'trauma atau takut' kejadian itu terulang. Namun, itulah suara alam, siklus yang pasti akan terjadi lagi. Setelah melihat beberapa spot, ada masjid yang sedang direnovasi, ada joglo baru, ada museum tempat barang-barang saksi erupsi tersimpan, ada kali Opak di sebelah timur dan tak lupa kami mengabadikan moment pagi menjelang itu.
Hal unik yang saya jumpai : kebiasaan kita yang sering maunya difoto, bukan memfoto. Coba lihat biasanya orang bule fotonya pasti pemandangan alam, jarang ya yang selfie #CumadiIndonesia
 

Setelah merasa cukup, jalan naik turun lumayan jauh akhirnya kami kembali ke mobil. Kami bersiap menuju Candi Prambanan. Rute yang kami lewati adalah di area desa dan entah bagaimana tiba-tiba sampai juga. Mungkin saking tidak terasa karena ketika di mobil ngobrol ngalor ngidul dengan Pak Brian. Tentu yang ada kaitannya dengan perjalanan ini. Beliau interested banget ketika di Merapi tadi. Apalagi ketika kami berikan sebuah album foto tentang erupsi 2010.

Candi Prambanan, menyimpan sebuah kenangan bagi saya pribadi. Barangkali ini kali ke-3 saya dapat berkunjung di sini. Semenjak pertama kalinya waktu TK apa ya ? Candi Prambanan cukup banyak perubahan. Gempa 2010 yang meluluhlantahkan Jogja setidaknya telah meruntuhkan sebagian sisiwa candi, bahkan ada yang stupanya jatuh. Kembali lagi melihat kesan pertama Pak Brian, "Woderful temple, I just look at first time". Ternyata beliau baru pertama kalinya melihat bangunan Hindhu seperti ini. Kami kemudian masuk (setelah beli tiket) dan mengitari sisi-sisi candi. Suasana siang itu lumayan panas (banget). Tetep disyukuri ya, minimal katanya bisa nambah vitamin D. Padahal saya sudah pakai topi, lengan panjang, dan baju non hitam. Saya sudah memberi pesan beliau untuk memakai lotion anti panas (sun block) dan sepertinya sudah bawa dari Eropa sana.

Kebiasaan yang saya lihat setelah mengamati cara jalan orang luar dan Indo "Orang luar cenderung jalan cepet dan sesegera mungkin sampai di lokasi" beda dengan sebagian dari kita yang "mlipir" atau sering mampir untuk beli minum atau ke mana. Intinya apa yang menjadi tujuan utama, ya itu targetnya. Saya pun melihat beliau yang lebih banyak aktivitas berkamera.
Siang itu kami juga ke museum Prambanan, di sana dapat udara segar, adem, diiringi suara gendhing atau gamelan. "We hear this sound everytime and everywhere here." Beliau mulai mengenal suara-suara gendhing sejak kedatangannya di JPH karena di sana juga ada gamelan. Jadi, siang itu kami melihat koleksi museum di Prambanan, cukup terawat dan dalam kondisi baik. Ketika di sana, sempat ada perbincangan kecil dengan beberapa kata dalam bahasa Indonesia yang mirip dengan Dutch language, misalnya kata "gratis" "spoor dengan sepur" "apotek" dan beberapa kata lain. Memang ya, selalu ada sisi historis baik budaya maupun bahasa antara Indonesia dan Belanda.
 
Sudah cukup lama kami berkeliling, sekaligus olahraga kaki..kami melanjutkan perjalanan ke Malioboro. Tidak lupa siang itu "mlipir" ke masjid dekat candi untuk menunaikan ibadah Dzuhur.


---bersambung---

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar