Ged a Widget

Senin, 29 September 2014

Sambutan Hangat dari Duta Besar Australia

Jadi cerita awalnya begini. Jumat sore sekitar Pkl 15.30 WIB saya sampai rumah, setelah padatnya beraktivitas di kampus. Sesampainya di rumah, baru tahu kalau ternyata saya belum packing untuk persiapan ke Jakarta selama tiga hari ke depan. Biasa, kebiasaan lama terulang lagi. Akhirnya mamak, bapak, dan adek membantu packing tas, saya menyiapkan berkas-berkas visa. Pkl 16.15 WIB saya cabut (pamit dari rumah) untuk menuju Stasiun Lempuyangan. Setelah pamitan dengan keluarga, rasanya sudah lega karena berharap agar didoakan yang terbaik untuk acara di Jakarta ataupun Bandung nanti. Ketika di jalan, Ya Allah… kena lampu merah terus, jantung mulai berdetak kencang karena kereta dijadwalkan berangkat Pkl 16.56 WIB dan Pkl 16.46 WIB baru sampai perempatan took buku gramedia. Ya Allah, semoga waktunya cukup deh, sesampainya di parkiran motor “terlindungi” langsung lari ke stasiun dan tanya petugas “Pak, kereta Gaya Baru Malam apakah sudah berangkat?” Ternyata malah belum datang -_-

Menanti kereta di Lempuyangan
Akhirnya penantian panjang berujung pada kedatangan kereta jam 17.25 an, saya menuju Jakarta untuk bertemu peserta homestay program ke Australia dan Jepang, Gerakan Mari Berbagis sekaligus akan mengurus visa keberangkatan ke Australia. Bberapa jam kemudian, setelah tertidur pulas di kereta dan dapat kenalan namanya mas Fiqi dari STT PLN Jakarta akhirnya turun di Stasiun Pasar Senen Jakarta, sekitar Pkl 03.00 WIB. What ? masih pagi banget dan kereta molor 2 jam, ini nih yang perlu dibenahi, perlu disiplin waktu ya, contoh tuh kereta-kereta pas dulu di Belanda selalu TEPAT WAKTU.

Kemudian, setelah sebelumnya menghubungi teman dari UGM yang sudah kerja di Jakarta, Alhamdulillah dapat tumpangan istirahat di daerah Kramat Pulo, 1 km dari Senen, saya naik ojek kok, bukan jalan kaki. Alhamdulillah, ketemu mas Pischa Aditya Rosyadi, alumni Elins UGM dan pernah ketemu di Internasional Leaders Festival. Kami berbincang sana-sini, beliau begitu menginspirasi, lulus dalam waktu 3,5 tahun, peserta terbaik PPSDMS, dan berbagi prestasi lainnya, pokoknya mantab ! Pagi itu juga langsung buka laptop, mengirim laporan KKN, menyiapkan draft schedule, dan lain-lain hingga waktu tak terasa sudah Subuh. Setelah sholat Subuh, kami bergegas siap berangkat. Terlebih dahulu sarapan di warteg, eh malah ditraktir mas Pischa, terimakasih kang ! Langsung saja menuju halte busway Pal Putih, menyodorkan e-ticket yang beberapa bulan lalu saya beli dan menuju Setiabudi One, melewati beberapa transit (Matraman, Dukuh Atas, Karet Kuningan). Saya sampai di depan Starbuck Coffee Jumat Pkl 08.00 WIB, hanya untuk menunggu teman-teman GMB yang mau ketemu Pak Dubes Australia. Rasanya belum percaya, saya bisa sampai gedung megah itu, daerah Setiabudi yang dipenuhi gedung bertingkat, semua serasa asing…banyak orang dengan muka Chinese berkacamata, mungkin mereka heran pas melihat muka saya Jogja banget, tapi tetep manis :p

Suasana pagi itu di Jakarta...
By the way setelah dari mushola untuk bertemu kepada-Nya, Janu langsung ketemu kak Pida dan Mustika, mereka ini alumni Universitas Indonesia sekaligus peserta homestay Australia, senang ketika melihatnya. Beberapa waktu kemudian ketemu Bang Azwar, Arnald, mas Soni, mas Andi, mbak Dian, dan lain sebagainya. Rindu yang lama tersimpan akhirnya terobati dengan senyum dan tawa keluarga GMB. Kami mengadakan briefing, persiapan teknis sebelum ke keditaan besar Australia. Sesuai kesepakatan, kami Pkl 09.30 WIB berangkat, berjalan menuju kedubes yang letaknya tidak jauh dari Setiabudi. Alhamdulillah, kami akhirnya dapat masuk dan lolos dari security check, cukup ketat juga karena ambil gambar pakai kamera saja tidak boleh J Beberapa waktu ngobrol, sambil menunggu Pak Dubes, ada mbak Angky, mbak Dini, mas Rey yang keturunan Filipina-Australia, pak Sulis, pak Julian, dan lain-lain, kami akhirnya dipersilakan masuk dan disambut hangat oleh Pak Dubes Australia, Greg Moriarty. Hey Jan, saya belum percaya ini bisa terjadi, ini kali kedua Janu salaman dengan Pak Greg, dan yang ini terasa beda, terimakasih ya Allah atas kesempatan mulia ini.
Sambuatn Pak Dubes
Mr.Greg Moriarty beserta staf dari kedutaan telah mempersilakan masuk, mencicipi hidangan yang telah disajikan, aneka snack dan minuman hangat. Kesan pertamanya : apa memang ini tidak disediakan kursi ya ? Ternayta benar, untuk menyambut tamu memang tidak ada kursi alias berdiri. Acara pun dimulai, ada sambutan dari Pak Dubes, beliau mengapresiasi betul komitmen dari keluarga Gerakan Mari Berbagi yang sampai saat ini tetap solid dalam memberikan perubahan bagi bangsa ini. Pak Dubes juga mengucapkan terimakasih atas kerja sama yang telah dibangun antara GMB dan Kedubes Australia, khususnya kepada inisiator GMB, Bang Azwar Hasan. Selanjutnya, Bang Az juga memeberi sambutan singkat, mengutarakan bahwa di depan ini adalah para pemuka pemuda terpilih setelah melewati seleksi ketat dan berhak mendapatkan reward homestay di Australia ataupun Jepang. Acara dilanjutkan dengan sesi pertanyaan, ada kak Pida, kak Tika, kak Dian, mas Arnald, dan beberapa yang bertanya.
Pak Dubes dan Bang Azwar
Saya terdiam, meresapi apa yang telah disampaikan oleh Mr. Greg ataupun Bang Az, ataupun dari staf kedubes. Perlu banyak persiapak untuk ke Australia sana, mulai dari hal-hal kecil seperti visa, mentalitas, ruhani, bahkan fisik. Pesan Bang Az : persiapan maksimal akan mendapat hasil maksimal. Setelah nonton film Ramadhan di Australia, forum ditutup dengan foto bersama.
Our Team, GMB Family
Sepulang dari kedubes, saya dan mas dr. Julian sholat Jumat di gedung Setiabudi, setelahnya kami langsung ke Wahid Institute (WI) sekitar Matraman dengan naik taksi. Di sana telah disambut mas Andi, kak Agus, kak Pida, bang Soni. Kami makan siang dulu di warteg dan sampai malam menghabiskan waktu di WI. FYI, WI adalah sebuah LSM yang diinisiasi oleh ibu Yeni Wahid, putra Gus Dur, di sana saya melihat kamar Pak Gus Dur sewaktu masih bertugas sebagai presiden, ada juga foto-foto keluarga Gus Dur. Saya belajar makna multicultural di sana, belajar geografi sejarah juga dari diskusi yang dilakukan sore itu.

Malamnya sekitar jam 19.30 saya, mas Andi, ams Soni pulang menuju kos mas Pischa untuk mengambil tas barang-barang saya. Sempat jalan jauhnya subhanallah, akhirnya dapat taksi dan menuju halte Pal Putih. Saya lari kencang mengambil tas, dan mas Pischa sudah membawakannya di depan kost. “Terimakasih ams Pischa atas bantuannya.”

Kami menuju rumah Bang Azwar di Setiabudi untuk menginap. Sesampainya di sana, ketemu mas Alvin, Bang Azwar, kak Arif. Saya akhirnya istirahat karena esok pagi masih ada kegiatan lain.

..............................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar