Ged a Widget

Senin, 29 September 2014

Hari Kedua : Latihan Pentas Budaya di Universitas Indonesia



Pagi itu kami ada janji untuk ke UI, mau latihan perform untuk ditampilkan di Australia. Saya berangkat bersama mas Andi, sementara mas Soni ada acara Lapas Anak Berbagi di JCC Senayan. Sesampainya di perpustakaan UI, di samping telaga terlihat beberapa Maba yang baru ada kegiatan, jadi ingat sekarang ini semester 7 dan skripsi di depan mata,iya masih di depan mata. 
 
Disambut orasi....hehe

Yah, jadi terselinap rencana untuk segera lulus dan lanjut S-2 di Belanda, insyaAllah. Btw, latihan baru dimulai jam 10an, ada 8 peserta homestay yang hadir (Janu,Andi,Doki,Dian,Pida,Tika,Riskha,Sherly) kak Indah baru di rumah sakit. Kami nyanyi lagi kebangsaan Australia, Yambo Rambe Yambo, dan lagu lainnya (ngga hapal).

Telaga di UI yang indah betul...subhanallah

Siangnya, kami sholat di MUI (masjidnya UI, lupa kepanjangannya), kali kedua di sini. Selanjutnya perjalanan pulang ke Stiabudi bersama mas Andi dan mas Doki naik KRL yang super wow padatnya, kalau pas berangkat tadi sih sepi… Sampai di rumah Bang Az ternyata sudah banyak orang, ada semua delegasi Jepang (Soni,Arnal,Lizar,Tari,Heny,dan Devi) ada para volunteer dan alumni GMB (Mas Dede,kak Agus,mas Irwan,dkk) acaranya itu check list kesiapan dari masing-masing peserta, ditanya satu-satu. Ketika saya ditanya Bang Az, fokus Janu insyaAllah nanti aka nada 3, pertama tujuan untuk pribadi yaitu visiting and exploring Brisbane, tujuan untuk GMB yaitu kunjungan ke perpustakaan di University of Queensland untuk mengetahui sistem manajemen perpustakaan, dan tujuan untuk Indoneasia yaitu mempernalkan Bahasa Indonesia dan kebudayaan Jogja khususnya di The Gap State High School insyaAllah. 
 
Delegasi Australia baru latihan...
Pkl 16.00 WIB acara bersama Om Liem, aktivis HAM yang pernah tinggal di Belanda dimulai. Sangat menarik memang, ketika berbicara tentang perjalanan demokrasi dan HAM di Indonesia. Apa yang didahulukan antara nasionalisme dan HAM ? Pertanyaan dari kak Sherly, cukup sulit memang, namun menurut Om Liem tetap harus mengutamanakan HAM sebagai hak asasi individu dan berlaku secara universal. Di Inonesia, HAM masih sangat dijunjung tinggi, berbeda dengan negara-negara di Eropa yang di sana tidak begitu diperhatikan. 

Bersama Om Liem di rumah Bang Az

Acara dilanjutkan dengan diskusi, makan malam, dan pamitan dari beberapa delegasi. Malm itu saya dan mas Soni masih menginap di rumah Bang Az.

................................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar