Ged a Widget

Selasa, 29 Juli 2014

Romadhon dan Jejak Pertama KKN PPL Kami

“Romadhon tiba, Romadhom tiba, Romadhon tiba…
Marhaban Ya Romadhon, Marhaban ya Romadhon”

Petikan lirik di atas adalah bagian senandung Romadhon yang dibawakan oleh Opick. Bulan Romadhon, bulan yang ditunggu-tunggu kehadirannya. Bulan yang dirindukan malam 1000 bulannya. Bulan yang dirindukan shalat tarawih berjamaahnya. Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan kesempatan waktu untuk merasakan keberkahan bulan Romadhon 1435 H. Betapa harus bersyukurnya saya tahun ini bisa mengikuti secara full puasa di Indonesia. Tahun lalu masih ingatkah, puasa 19 jam selama 10 hari di negeri kincir angin yang suasananya jelas sangat berbeda.

Romadhon tahun ini meninggalkan jejak-jejak kehidupan di relung hati yang terdalam. Romadhon yang kini telah meninggalkan kita telah mengukir beberapa memori yang akan menjadi saksi perjalanan hidup saya di dunia. Saya berharap ini bukan Romadhon terakhir, semoga esok bertemu kembali. Barangkali saya lupa untuk menuliskannya sejak pertemuan kita di bulan Romadhon. Namun tidaklah mengapa setidaknya tulisan refleksi ini akan menjadi sebuah hikmah untuk mengevaluasi diri, bersyukur, serta berbagi kepada rekan maupun saudara-saudara saya lainnya.

Romadhon tahun ini terasa special dengan hadirnya program Kuliah Kerja Nyata serta Praktik Pengalaman Lapangan Universitas Negeri Yogyakarta. Berkat Allah lah, saya ditempatkan di kelompok 52 yang berlokasi di Dusun Sumber, Sendangmulyo, Minggir, Sleman. Untuk gambaran lokasi, dusun ini terdiri dari  6 RT dan 2 RW yang terpisah di Sumber dan Pakeran, bersebelahan dengan SMA Negeri 1 Minggir. Dusun ini termasuk kategori daerah yang perlu mendapat dukungan dalam hal pembangunan. Indeksi Pembangunan Manusia di sini belum bisa disejajarkan dengan masyarakat di mana saya tinggal, melihat pemuda-pemudi yang kuliah saja jarang. Saya tentunya dibersamai oleh kawan-kawan hebat satu tim, 17 teman PPL dan 11 teman KKN. Mereka yang masuk dalam tim KKN 52 adalah Ali, Candra, Linda, Heni, Nika, Binarti, Sherly, Ade, Ratri, Mela, dan Genes. Jika dilihat, hanya ada 2 laki-laki dalam satu kelompok, sungguh tantangan besar bagi kami. Saya kebetulan diamanahi sebagai ketua KKN PPL.



Fokus utama KKN kami sampai 17 September 2014 ke depan adalah pembentukan POSDAYA (Pos Pemberdayaan Keluarga) yang menitikberatkan pemaksimalan fungsi keluarga dalam 4 pilar utama : pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan kewirausahaan. Intinya, kami membentuk forum POSDAYA yang akan mewadahi seluruh elemen organisasi di dusun Sumber, mulai dari keterlibatan pemuda, bapak-bapak, ibu-ibu PKK, maupun dari takmir masjid dan organisasi masyarakat yang lain. Alhamdulillah, puji syukur kami dipertemukan masyarakat yang plural dan religious. Komposisinya hampir seimbang, setengah dari jumlah penduduk adalah muslim dan nonmuslim. Inilah sebuah makna ‘indahnya perbedaan’.

Semenjak pelepasan KKN PPL tanggal 1 Juli 2014, kami bersama Dosen Pembimbing Lapangan Bu Nur Rohmah Muktiani, M.Pd (dosen FIK) segera mengurus penyerahan mahasiswa KKN di Kecamatan Minggir. Saya sebagai pelayan telah bertemu dengan bapak-bapak pemangku kebijakan di wilayah ini, seperti Pak Sukapsir sebagai lurah Sendangmulyo, pak carik, dan perangkat Kecamatan Minggir. Tantangan saat itu adalah tentang kesabaran dan keikhlasan untuk menjadikan program awal KKN ini sebagai salah satu bagian dari jalan meraih pahala Romadhon. Paska penyerahan, kami dipertemukan dengan dua orang tua baru (baca : keluarga pak dukuh). Adalah Pak Wasit dan Bu Wiwin, dua sosok yang menjadi panutan bagi kami. Beliaulah yang menyediakan kebutuhan tempat di rumahnya sebagai posko KKN 52. Saya belajar betul dari Pak Wasit, sosok pak dukuh yang sangat rendah hati, sabar, bijaksana, dan penuh dedikasi dalam mengabdi. Kesederhanaan beliau terpancarkan melalui nasihat-nasihat yang bijak, juga dari kesabaran bu Wiwin yang senantiasa ‘ngemong’ atau membimbing kami untuk menyesuaikan diri di masyarakat dan menepis adanya ‘culture shock’ atau homesick. Keluarga ini mempunyai dua putra, dek Dimas dan Rizal, dua saudara yang tidak pernah lepas dari yang namanya ‘ribut’. Bisa dimaklumi karena mereka laki-laki, setidaknya pasti ada saja pertengkaran entah pagi, sore, atau malam. 

Ali my partner bersama adik-adik Dusun Sumber

Perjalanan KKN ibaratkan mencari sebuah jati diri, di mana saya hidup dan bisa menyesuaikan diri. Pun demikian, kami belajar untuk membuang jauh-jauh egoism yang ada, melempar jauh-jauh sifat manja, mengubur dalam-dalam rasa malas. Kami seperti baru hidup, di tengah masyarakat yang multi cultural, sangat berbeda dengan apa yang selama ini kami lihat di kampong halaman. Kami mengenal, saling menyapa, dan membaur di tengah masyarakat, termasuk memasukkan diri di dunia anak-anak. Taman Pendidikan Al Qur’an, menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam aktivitas sore menjelang berbuka puasa. Ivan, Ipul, Adam, Ghozi, Reihan, Angga, beberapa nama yang kini ada di kepala. Mereka anak-anak penuh semangat untuk terus mengaji. Merekalah lilin-lilin inspirasi yang tidak akan padam. Kami belajar, bermain, bahkan bercanda bersama sore-sore menjelang Maghrib itu. Rabb, betapa rindunya kami dengan moment-moment itu. 

Pemuda, menjadi bagian terpenting dalam sebuah masyarakat. Kegiatan kami selama KKN antara lain adalam mendampingi aktivitas pemuda, baik di Sumber maupun Pakeran. Alhamdulillah, insyaAllah untuk memeriahkan 17 Agustus besok telah disiapkan aneka macam lomba, yang dengan tujuan utama sebagai wadah persatuan di antara para warga. Saya pun melihat potensi besar dari aktivitas bapak-bapak. Di sini ada usaha pemancingan ikan yang siap dibuka. Potensinya luar biasa, tinggal kami akan segera mendampingi melalui pelatihan manajemen usaha. Dari para ibu PKK, kami pun turut mendampingi di forum (baca : arisan). Selendang berwarna hasil karya para ibu telah terbuat, melalui program kerja pelatihan batik Jumputan. Kabar gembiranya, artikel dari kegiatan ini dimuat di website UNY (applause yang meriah yaa).

Saya dan Ivan ketika di posko KKN

Selain aktivitas selama KKN, kami tidak lepas dari aktivitas PPL di SMA Negeri 1 Minggir. Ada tambahan personel lagi selain 11 orang yang telah saya sebutkan. Mereka adalah Yuli, Yusuf, Tarmi, Yota, Amor, dan Yuni. Ke 17 teman  saya ini lah yang selalu memberi semangat serta motivasi selama 3 minggu pertama KKN PPL. Kami disuguhkan dengan program penerimaan peserta didik baru yang penuh dengan bahagia, haru, dan bahkan sedih. Bahagia ketika bertemu wajah-wajah calon peserta didik yang nantinya akan kami ajar di kelas, haru dan sedih ketika pengumuman itu terpampang di layar putih hasil sorotan proyektor LCD. Tidak sedikit yang akhirnya menangis, melihat nama putra-putrinya belum diterima di sekolah ini. Saya tidak kuasa melihat keharuan yang terpancar, karena sejak awal saya kebetulan yang mengoperasikan tampilan di layar. Benar-benar moment yang menguji mentalitas diri, teringat 3 tahun lalu ketika nama saya masuk dalam deretan 10 besar teratas penerimaan siswa di SMA Negeri 2 Yogyakarta, jauh memang rentang nilainya jika dibandingkan di sekolah ini. Hampir semuanya saat itu nilai rata-rata siswa baru di atas angka 9, lha di sini ? Harus sabar melihat kenyataan di sekolah yang letaknya paling ujung barat Sleman. Hampir lupa, beberapa guru yang dengan bijak dan sabar membimbing kami yaitu Pak Harto (kepsek), pak Doni, pak Wicak, pak Hari, Pak Daliman, dan lain sebagainya. 

Beberapa pengalaman baru selama KKN PPL puasa ini adalah : menjadi imam sholat tarawih (untuk pertama kalinya dalam sejarah), mengisi kultum serta khutbah di masyarakat, mengajar TPA dengan adik-adik yang super kreatif (baca : nakal), pertama kalinya menjadi motivator di kelas ketika Masa Orientasi Siswa, sampai pada pengalaman 'teman' baru yang tak terlihat di posko KKN, apapaun semuanya serba baru. Saya belajar, bersama rekan-rekan satu tim yang luar biasa dedikasinya. Terimakasih untuk pembelajaran di awal KKN PPL ini. Sungguh, ini kesempatan Romadhon penuh berkah yang telah mempertemukan kita.
TPA di Pakeran

Sungguh, inilah nikmat indah dari Allah di bulan Romadhon 1435 H. Bertemu dengan keluarga baru, bertemu dengan saudara baru, bertemu dengan masyarakat Minggir yang sederhana dan baik-baik. Juga menjadi saksi perjalanan hidup, berkah Romadhon itu datang juga. Minggu awal KKN PPL saya mendapat ‘hadiah’ dari Allah dengan kabar bahwa insyaAllah November mendatang saya akan mengikuti homestay selama 3 minggu di Brisbane, Australia bersama Gerakan Mari Berbagi. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Lebih dari 10x gagal di berbagai aplikasi dan Allah menggantinya dengan 1 jawaban, negeri kangguru di depan mata.

Maka, sudah kah diri ini bersyukur ? Ketika Romadhon yang penuh berkah ini ada kesibukan lain seperti KKN, maka itulah cara Allah untuk menguji seberapa besar semangat kita untuk tetap beribadah. Itulah tantangan Allah yang harus kita jawab. Rabb, sungguh nikmatmu ini sangat indah. Hamba bersyukur bisa merangkai Romadhon tahun ini dengan cinta-Mu. Saya tinggalkan sebuah jejak Romadhon ini, yang akan menjadi saksi hidup, menjadi jejak penuh hikmah bagi bulan-bulan setelahnya.
Buka puasa bersama yang akan dirindukan

Maka, izinkan saya untuk berterima kasih kepada-Mu, kepada orang-orang baik yang telah menjadi bagian hidup saya. Kepada mamak bapak yang selalu saya rindukan. Kepada sudara-saudara perjuangan di manapun berada, berikanlah cinta-Mu untuk mereka, berkahilah hidup mereka. Sesungguhnya hanya Engkaulah sebaik-baik Rabb yang memberikan pertolongan. Di penghujung Romadhon pun saya berdoa, semoga dipertemukan dengan Romadhon tahun berikutnya, dan doa yang tidak pernah putus “Semoga Engkau memberikan kesempatan bagi hamba untuk bisa belajar di Belanda atau Swedia. Engkaulah yang Maha Besar, Engkaulah yang Maha Bijaksana mengatur hidup ini.”
Aamiin, semoga amal kebaikan kita mendapat pahala dari Allah Ta’ala, dan semoga segala khilaf yang ada dimaafkan. Taqobbalallahu minna waminkum :)

Sleman, 29 Juli 2014

Hamba perindu surge-Nya,
Janu Muhammad

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar