Ged a Widget

Jumat, 09 Mei 2014

Jadi Mahasiswa, Sudahkah Kita Bersyukur ?

Pagi itu saya bangun jam 4.00, sholat Subuh dan belajar sebentar. Saya jarang sekali belajar lebih dari 2 jam, entah tidak tahu kenapa. Biasanya hanya baca buku sebentar dan diulang lagi siang maupun malamnya. Barangkali hampir sama seperti adik saya, dia juga sering belajar di pagi hari.

Kami bangun pagi bukan karena alarm kami pasang pagi-pagi, namun karena jam segitu di rumah sudah ramai. Bapak dan mamak jam 3 sudah bangun untuk berangkat ke pasar, dagang sayur mayur di pasar Sleman. Jadi memang, kami bangun pagi lebih karena kebiasaan di keluarga. Setelah bapak mamak ke pasar, saya dan adik bersiap sekolah dan ke kampus. Rutinitas ini sudah ada sejak saya kelas 4 SD, ketika itu adik baru berusia sekitar 3 tahun. Kebiasaan ini berlanjut sampai ketika adik memasuki kelas 4 SD. Dia sudah mencuci baju sendiri, menyiapkan bekal sendiri, sampai menyetrika sendiri. Mamak ke pasar, bapak ke sawah. Saya dan adik menyiapkan kebutuhan sekolah sendiri. Kami justru senang karena menjadikan kami terbiasa, tidak manja, kami menerima segala nasihat bapak mamak agar belajar sungguh-sungguh dan kelak menjadi anak sholeh.

Siang hari biasanya kami ngaji di dusunnya simbah putri, saya masih ingat kira-kira saya TPA sampai kelas 3 SMP. Saya ingat kala itu menangis saat pertama kali ngaji. Memang, awalnya merasa takut dengan orang yang baru dikenal. Berbeda dengan saya, adik cenderung langsung bisa nyaman dengan lingkungan baru hingga saat ini. Sebenarnya kalau diruntut sama, mulai dari TK,SD,SMP saya dan adik sama. Apa memang kakak dan adik itu ibarat cermin ya ?

Sampai akhirnya selepas lulus dari SMA 2 Yogyakarta, saya dihadapkan pada pilihan masa depan. Mau ke mana saya setelah ini ? Apkah kerja atau kuliah ? Saya matur mamak bahwa saya ingin kuliah, saya ingin menjadi sarjana dan bekerja untuk masyarakat. Belum terpikirkan mau ambil sarjana apa. Hanya saja pernyataan ketika Masa Orientasi Siswa itu bisa diambil benarnya. Pak Mur tanya kepada saya "Besok mau jadi sarjana apa?" Saya menjawab "Sarjana Pendidikan pak". Saya belum tahu kalau ternyata yang jadi sarjana pendidikan itu akan jadi guru.

Baik, seiring adanya proses di IPA, akhirnya ada sebuah titik kejenuhan saat itu. Saya ingin sekali mengambil geografi sebagai pilihan saya ketika kuliah sarjana. Ya, saya cinta, saya suka geografi sat itu. Tibalah saatnya pendaftaran SNMPTN undangan dibuka. Saya memilih UGM sebagai pilihan pertama. Saya yakin betul dengan pilihan pertama di Geografi Ilmu Lingkungan, Biologi, dan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian. Ya, saya benar-benar yakin akan diterima di UGM saat itu. Sampai-sampai saya sempat tidak menuliskan pilihan kedua di form undangan. Tetapi, akhirnya ada yang Maha Mengingatkan agar saya mengisi di pilihan keduanya adalah di UNY dengan jurusan Pendidikan Geografi, Biologi, dan Pendidikan Biologi (sepertinya).

  

Sampai akhirnya ujian nasional datang, pengumuman undangan telah terbit. Saya mengecek di warnet dengan diantar bapak. Serba deg degan karena komputer warnet eror dan semua akan segera memuncak. Ternyataa....Pendidikan Geografi UNY. Ya, semalaman saya tidak bisa tidur karena gagal masuk UGM, benar-benar pukulan keras bagi saya. Alhamdulillah, masih ada bapak mamak yang mengingatkan saya untuk bersyukur dan menerima segala jawaban dari Allah.

Awalnya memang berat namun ternyata seiring berjalannya rasa syukur itu, banyak manfaat yang akhirnya saya dapatkan ketika menjadi mahasiswa UNY. Mungkin persepsi saya hanya : bagaimana saya akan sukses di kampus ini ? Apa bisa menjamin saya untuk berprestasi ?

Itulah persepsi mahasiswa yang biasanya menginginkan 'banyak menerima' manfaat daripada 'memberi manfaat'. Betul ?

Kadang kita tidak bersyukur menjadi mahasiswa, padahal masih banyak yang tidak bersekolah

Masih sering mengeluh menjadi mahasiswa, padahal kita adalah orang-orang pilihan yang diterima di kampus ini

Masih ada saja mahasiswa yang banyak menuntut kenyamanan di kampus, padahal proses pendewasaan diri lebih utama

Masih banyak mahasiswa yang diam, padahal kampus menjadi kesempatan untuk mengembangkan potensi diri sebesar-besarnya

Masih banyak mahasiswa yang kurang bersyukur, padahal kuliah juga masih dibiayai orang tua


Mari kawan coba kita balik :


Coba kita bersyukur sudah diberi kesempatan untuk kuliah,

Coba kita banyak berbagi dan memberi manfaat selama kuliah,

Coba kita optimis mengembangkan potensi di kuliah,

Coba kita kritis solutif bukan hanya menuntut,

Coba kita berusaha aktif karena kesempatan lebar di depan mata, insha Allah

Terimakasih Ya Rabb atas segala nikmat terindah ini. Terimakasih mamak dan bapak yang selalu mendukung janu untuk tumbuh dan menginginkan menjadi anak sholeh. Terimakasih adek Isti yang menginspirasi tiada henti. Terimakasih sahabat-sahabatku dimanapun berada. Barokallah untuk kita semua...


Gali potensimu, tulislah pengalamanmu, bagikan kepada orang lain dan amalkan  dengan ikhlas.

Jadi, masih ragu juga untuk bersyukur menjadi mahasiswa ?

#RefleksiMahasiswaEsSatu


1 Mei 2014

Janu


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar