Ged a Widget

Rabu, 02 April 2014

Adek Isti yang Ingin Jadi Guru

Sebelum saya bangun, dia sudah bangun. Sebelum saya berangkat, dia sudah berangkat. Sebelum saya beres-beres rumah, dia sudah memulainya terlebih dahulu. Itulah Isti, adek kandung saya yang kini menginjak usia 13 tahun.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta'ala yang telah memberikan nikmat sehat dan nikmat waktu luang, sehingga jari jemari ini bersedia untuk mengetik sebuah note kecil, yang sederhana namun akan menjadi catatan hikmah. Saya Janu, seorang pemuda Dusun Ngemplak, Caturharjo, Sleman. Saya mempunyai seorang adek perempuan, namanya Isti Rahayu. Kami sekeluarga menyapanya Isti.

Isti adalah adek saya satu-satunya, dulu pernah akan mempunyai adek lagi, namun Allah berkehendak lain. Ibu saya sempat keguguran di usia kandungan 4 bulan. Yang saya tahu saat itu ibu bersimbah darah, berjuang untuk bertahan. Akhirnya ibu beristirahat total selama 3 bulan karena pendarahan hebat. Sungguh, hal yang luar biasa bagi saya memiliki ibu yang sangat kuat dan sholehah.

Note kecil ini akan menceritakan sosok Isti, yang selama ini saya kenal dengan adek yang sangat ramah, sholehah, rajin, berbakti kepada orang tua. Saya mempunyai adek saat kelas 2 SD, di SD N Dalangan. Kami terpaut 8 tahun. Dia lahir Subuh hari, saya pun masih ingat saat pertama kali menciumnya dan pamitan mau ke sekolah. Bersyukur, saya memiliki adek perempuan yang sejak kecil saya amati akan menjadi sosok wanita sholehah dan cerdas. Saya tidak memiliki kakak, namun sebagai kakak yang selalu berusaha menjadi teladan.

Dek Isti dan saya sejak kecil sudah biasa menyiapkan segala kebutuhan sendiri saat mau berangkat sekolah. Bapak dan mamak biasanya jam 3 pagi sudah pergi ke pasar. Kami biasanya menyiapkan sarapan pagi, mencuci baju sendiri, menyetrika sendiri, semuanya serba sendiri. Ini sudah menjadi kebiasaan keluarga karena kami sama-sama berusaha menjadi keluarga yang saling mengisi. Bapak dan mamak ke pasar untuk jualan sayur dan kadang kami berdua membantu untuk menyiapkan dagangan.

Isti mulai tumbuh, sejak memasuki sekolah dasar dan mengikuti TPA di rumah simbah. Ya, saya dan Isti mengaji di dusun simbah putri, tetangga dusun. Kami mengaji TPA dan pengalaman kami sama. Yang mengajar juga pakdhe. Yang saya ingat, Isti sudah khatam, saya malah berhenti di juz 23 kalau tidak salah. Isti pernah jadi juara di TPA nya, saya lupa lomba apa. Saya pun sempat jadi juara 1 pemilihan anak sholeh berprestasi (se-TPA). Ternyata ada kenangan yang tiak bisa dilupakan.

Sejak kelas 1 sampai 6, saya melihat Isti sebagai sosok siswa yang rajin dan jujur, terbukti tidak pernah mencontek. Dia sering masuk 3 besar di kelas, kami sekeluarga bersyukur dengan prestasinya. Selain ada bakat akademik, saya melihat Isti adalah adek yang rajin sekali membantu orang tua. Jangan ditanya lagi berapa kali dia memasakkan saya nasi,sayur,mie,dll. Saya malah kalah kalau ditandingkan masak, apalagi bapak. Isti adalah sosok remaja nya mamak. Kalau sewaktu-waktu mamak tdk di rumah dia selalu masak, tanpa ada yang meminta.

Sekarang, Isti sudah sekolah di SMP N 1 Sleman, almamater saya. Dia masuk dengan NEM cukup tinggi, namun masih di peringkat 100an. Dia juga ketrima di kelas VII C, kelas saya dulu. Sampai akhirnya berproses, dia bersemangat untuk belajar lebih giat tiap hari, dan dia telah menuliskan mimpinya untuk jadi guru matematika. Subhanallah, di semester 1 Isti berhasil meraih peringkat 5 kelas dan masuk 30 besar se-sekolah. Salut, sebuah prestasi yang membuat saya trenyuh karena dia mau berjuang untuk bangkit dan tidak mudah menyerah. Sampai akhirnya, Isti memutuskan untuk masuk ke ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja, sesuai background saya sejak SMA dan saat ini. Mungkin beberap piala di rumah dan tumpukan sertifikat penghargaan menjadi motivasi bagi dia untuk sama seperti masnya. Tapi, satu pesan yang saya sampaikan untuk Isti agara menjadi diri sendiri, bermanfaat bagi orang lain dan berprestasi melebihi kakaknya ini. Sebagai catatan, Isti pernah meraih juara 2 MTQ DIY, pernah juara di TPA, mengikuti seleksi olimpiade matematika dan yang membuat saya bersyukur saat ini adalah Isti menjadi wakil SMP N 1 Sleman untuk mengikuti pelatihan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia di Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman. Dari sekian siswa, hanya dua yang dipilih, Isti dan Aini. Hari Kamis pagi besok, saya aka mengantarnya ke dinas untuk mengikuti training dalam persiapan Lomba Karya Ilmiah Remaja 2014.

Terucap doa agar adek saya ini menjadi adek yang sholehah, cerdas, bermanfaat bagi sesama, menjadi sosok yang selalu jujur dan berprestasi dan tentunya cita-citanya menjadi guru akan terwujud. InsyaAllah.

Saya belajar dari sosok adek yang setiap hari membangunkan, mengingatkan sholat, dll, seperti sosok ibu yang selama ini karakternya sama. Setiap orang di sekiar selalu memberi hikmah, tinggal bagaimana kita bisa memaknai hal-hal kecil ini sebagai refleksi diri dan perbaikan diri. InsyaAllah, Man Jadda Wajada ^_^
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Janu M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar