Ged a Widget

Sabtu, 15 Maret 2014

Pelajaran dari GMB & OBKG : Amanah Menjadi Pustakawan Muda

“Mimpi, semua berawal dari sebuah mimpi. Semua bisa saja terjadi jika Allah telah menghendaki. Namun hanya akan menjadi sebuah mimpi sunyi jika hanya berdiam diri dan tetap pada zona aman.”

Saya masih ingat, tanggal 1-9 Februari 2014 di Kemenpora Jakarta kemarin bertemu dengan keluarga Gerakan Mari Berbagi. Saya bertemu manusia di atas rata-rata yang dengan kepedulian serta kerendahan hati ingin memperbaiki nasib bangsa ini dan menyiapkan negeri kepulauan ini menjadi negeri yang bermartabat serta layak bersanding dengan mereka yang sudah ‘maju’ dahulu. Sebulan lebih para pemuka pemuda Indonesia dan keluarga GMB kembali ke daerah masing-masing untuk mengabdi, mengimplementasikan program berbagi. Ini beda, kata para alumni GMB maupun volunteer yang rata-rata alumni PPAN, baru kali ini ada forum kepemudaan yang menghasilkan output jelas berupa follow up program pengabdian dan dimonitoring secara berkala, sepertinya tidak terjadi di program lain.

Baik, jadi selama satu bulan ini kami telah melaksanakan program GMB, berbagi untuk sesama. Bagi saya, bukan karena hanya kewajiban setelah mengikuti GMB, tetapi lebih pada sebuah panggilan hati untuk meneruskan perjuangan para pelopor pendidikan di Indonesia seperti Ki Hajar Dewantara. Saya akhirnya mengambil langkah, untuk memulai program berbagi melalui pendirian perpustakaan warga yang bernama Omah Baca Karung Goni (OBKG). OBKG merupakan perpustakaan dusun Ngemplak yang berdiri pada tanggal 19 Januari 2014 atas bantuan para mahasiswa UGM yang bekerja sama dengan pemda Sleman, Taman Baca Masyarakat se-Sleman, dan juga Ikatan Remaja Ngemplak. Saya sadar, bahwa mulai dari pendirian omah baca ini kami bisa membangun dusun Ngemplak melalui pendidikan. Saya pun menyambut baik pendirian OBKG karena merupakan mimpi saya sejak kecil. Saya ingin adik-adik tetap bisa membaca buku dan menjadikannya sebuah kebutuhan agar kelak bisa meraih cita-cita.

Berbagi mulai dari hal paling kecil. Saya baru bisa menjadi bagian kecil dari penggerak OBKG ini karena bagian besarnya adalah masyarakat itu sendiri. Saya dan rekan seperjuangan telah diamanahi menjadi pustakawan muda sejak 19 Januari 2014, amanah yang sama sekali tidak terbersit di hati. Meski demikian, ini adalah kesempatan saya untuk berbagi, sebagai rasa syukur telah dibesarkan di lingkungan dusun ini. Atau barangkali juga bukan kebetulan ? Sempat saya mengingat memori ketika saya kelas 2 SMA, saya pernah meraih Juara 1 Lomba Minat Baca Tingkat Umum se-Kabupaten Sleman. Lomba ini diadakan oleh Perpustakaan Daerah Sleman dan saya mengangkat judul tentang perpustakaan keliling. Saya yakin semua tidak terjadi secara kebetulan, semua sudah ada yang menentukan dan terencana karena setiap hal yang terencana pasti lebih baik hasilnya.

Pelajaran yang saya dapatkan hari ini adalah sebuah amanah untuk konsisten menjadi kader pustakawan muda. Semua berawal dari 1, bukan dari nol. Mengapa ? Angka satu merupakan niat awal kita untuk ikhlas menerima amanah karena tanpa adanya keikhlasan maka semua tidak akan berlanjut sampai saat seperti ini.

Hari ini pun saya bersilaturahim ke rumah Pak Sidik Pratomo. Beliau adalah Ketua Taman Baca Masyarakat se-Kab Sleman yang juga melantik saya bersama pengurus OBKG kala itu. Saya bersyukur bisa bertemu beliau, mengutarakan hakikat berbagi yang telah diajarkan oleh Gerakan Mari Berbagi. Saya ingin belajar dari beliau, menjadi seseorang yang berguna bagi sesama. Meskipun sangat sibuk, beliau selalu menyempatkan untuk membaca. Minimal satu bulan beli 3 buku baru. Saya semakin bersyukur bisa bertemu beliau, membangun relasi untuk mengembangkan OBKG dan semakin menyebarkan virus GMB.

Sesibuk-sibuk apapun saya di kampus maupun organisasi luar, tetap saja saya harus ada untuk masyarakat di dusun saya.

Sesibuk-sibuk apapun saya pergi ke luar, saya diminta konsisten berbagi dalam kebaikan. Beberapa sumbangan buku dari para relawan sejak Januari kemarin adalah satu langkah agar tetap memberi semangat orang-orang sekitar untuk berbagi. Ya, menjadi pustakawan muda inilah amanah saya untuk membangun bangsa ini, dimulai dari lingkungan dusun ini. Kalau bukan dari yang muda, mau dari siapa lagi ?

Akhir kata, saya mengucapkan terimakasih kepada mbak Yulika dan relawan mahasiswa UGM, Bu Anik (Perpus Kota Jogja), Mbak Annisa, Mbak Semangat Laras, mas Opick, Aziz, Dinar, Pak Sidik, dan semua relawan GMB-OBKG yang telah berbagi sampai pertengahan Maret ini. Alhamdulillah, melalui tulisan sederhana ini saya bisa menuliskan pengalaman hari ini.
Target 1000 buku harus selalu diperjuangkan, GMB !

Bukan hanya mau  menunggu adanya perubahan, tapi kitalah yang menciptakan perubahan baik itu.

Hidup akan lebih bermakna dengan saling berbagi dalam kebaikan.

Sebaik-baik manusia adalah ia yang berguna bagi manusia lainnya.

Salam Berbagi !

Janu Muhammad
Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta
Inisiator GMB-Indonesia Berbagi : 1000 Buku untuk Perpustakaan Dusun Ngemplak
Berjuang Studi Master of Human Geography and Planning, Utrecht University, Netherlands 

Bersama Pak Sidik Pratomo, ketua Taman Baca se-Kabupaten Sleman
Bersama Pak Sidik Pratomo, ketua Taman Baca se-Kabupaten Sleman
Penyerahan sumbangan buku dari mbak Laras melalu mas Opicq
Penyerahan sumbangan buku dari mbak Laras melalu mas Opicq

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar