Ged a Widget

Selasa, 28 Januari 2014

Cukup Allah yang Mengatur Jalan Hidup Kita

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta'ala, Tuhan semesta alam. Hanya karena Allah lah kita ada di dunia, hanya karena Allah lah, hela nafas ini masih terjaga. Adakah kau dengar perjalanan hidup ini adalah rangkaian skenario yang telah Allah tetapkan untuk kita. Adakah kau dengar bahwa daun-daun yang gugur siang hari itu sudah ditakdirkan Allah kapan akan gugur ? Adakah kau dengar, siang berganti malam, bulan menampakkan cahayanya menemani bintang-bintang. Adakah kau dengar tanda-tanda kekuasaan Allah di muka bumi ini ?

Perjalanan hidup manusia sudah menjadi rahasia bagi Sang Pencipta, semua sudah tertulis dalam catatanNya. Tua-muda, kaya-miskin, baik-buruk, senang-susah, semuanya sudah seimbang karena Allah lah yang mengatur segalanya. Sebagai manusia yang diciptakan di bumi ini tugas kita ada dua : menjadi hamba yang mengabdi dan menjadi khalifah (pemimpin).

Menjadi hamba yang mengabdi tentu melalui sebuah ilmu dan amal, bukan kah semua amal dan ibadah harus didasari dengan ilmu ? Ya, semua harus didasari dengan ilmu agar kita tetap pada jalan kebernaran, bukan kesesatan. Begitu juga dalam menjadi seorang pemimpin, semua perlu melalui proses. Proses-proses itulah yang akan menjadi hikmah dan batu loncatan untuk menuju proses kematangan manusia, menjadi manusia seutuhnya yang menyeimbangkan hubungannya dengan Allah, hubungannya dengan manusia, dan hubungannya dengan lingkungan sekitar. Semua memerlukan proses, seperti proses turunnya hujan yang diawali dengan penguapan air laut hingga terbentuk awan.

Perjalanan manusia pun tidak hanya mulus begitu saja, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Perjalanan manusia ibarat roda yang berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Bisa juga seperti rotasi bumi, yang selalu membawa perubahan waktu sepanjang 24 jam. Hidup manusia tak selamanya mudah, Allah akan terus memberikan tantangan hidup untuk menjadi kekuatan dan kesempatan melangkah ke tingkat berikutnya. Allah menguji manusia dengan musibah, sebagai bentuk introspeksi diri dan muhasabah bersama. Allah mengirimkan air bah dan gempa, untuk menilai sejauh mana manusia pandai bersyukur dalam setiap keadaan.

Cukup Allah yang mengatur hidup kita. Sebagai muslim yang berlandaskan Qur'an dan Sunnah, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengimaninya, mempelajarinya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Bukankah Allah berjanji akan memberikan pahala berlipat untuk setiap kebaikan ?

Cukup Allah yang mengatur hidup kita. Perjalanan hidup saya sampai saat ini adalah kesempatan terindah dari Allah. Saya terlahir dari rahim ibu yang selalu mencurahkan kasih sayangnya. Dari seorang ayah yang sederhana dalam menjalani hidup dan luar biasa dalam memimpin keluarga. Saya dilahirkan menjadi seorang kakak dari adek perempuan yang sholehah, dia memang berbakat mengaji, cerdas dalam mempelajari ilmu, dan berbakat dalam urusan masakan. Saya lahir dari keluarga sederhana yang selalu mengambil hikmah dalam hidup. Kami sederhana, bukankah sederhana itu adalah bahagia ?

Cukup Allah yang mengatur hidup kita.
Menjadi bagian pemuda Indonesia adalah kesempatan berharga untuk membangun negeri ini. Bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi dan mempunyai satu visi untuk membangun kembali Indonesia ini adalah motivasi hidup untuk selalu berkontribusi. Mengenal dan mengimani pribadi Rasulullah, dan para pejuang Islam adalah inspirasi yang tiada henti. Mengenal sosok-sosok republik ini adalah sebuah penyadaran bahwa saya hidup di negeri multikultural di tengah tantangan globalisasi. Bersyukurlah, masih ada orang-orang baik yang mau memperbaiki republik ini. Seperti sosok inspirasi : Mas Anies Baswedan, kang Ridwan Kamil, kang Ridwansyah Yusuf Achmad, dan orang-orang di sekitar saya yang selalu memberikan pelajaran tentang makna hodup yang hakiki, terimakasih.

Bersyukurlah, ibu dan ayah masih bisa menyekolahkan saya di kampus pendidikan Yogyakarta ini. Bersyukurlah masih diberi kesempatan untuk membawa nama harum almamater SD N Dalangan, SMP N 1 Sleman, SMA  2 Yogyakarta, dan Pendidikan Geografi UNY. Bersyukurlah, masih memiliki idealisme mahasiswa untuk berkarya melalui penelitian, melalui kepenulisan, melalui organisasi, melalu relawan yang tak dibayar, dan melalui komunikasi serta relasi seluruh Indonesia. Bersyukurlah...

Bersyukurlah, hari ini menjadi kebulatan tekad untuk berbenah sikap, menjadi pribadi yang bermanfaat, dan menjadi putra dari ibu-ayah yang sholeh, sesuai permintaan ibu. Belum, belum bisa saya mengenakan gelar itu. Saya belum sesholeh yang beliau kira. Saya belum bisa setulus Rasulullah yang selalu bersedekah. Saya belum sesemangat Umar yang berani memimpin medan perang. Saya belum selembut hati Usman bin Affan. Saya pun belum sesabar Khadijah yang selalu melayani Rasulullah. Saya hanya bisa melaksanakan amanah semampu yang bisa saya lakukan. Saya hanya bisa memberi manfaat, apa yang bisa saya berikan.

Cukup Allah yang mengatur hidup kita.
Mimpi dan mimpi, saya pun terus menyalakan mimpi itu. Ingin saya hiasi hidup ini untuk senantiasa bermanfaat bagi orang-orang di sekitar saya. Agar amal kebaikan saya tetap mengalir kepada ayah ibu. Ya, saya harus berjuang menjemput mimpi itu. Saya percaya dan yakin, Man Jadda Wajada, jika kita bersungguh-sungguh memperjuangkannya maka akan berhasil. Melalui karya, melalui prestasi, melalui organisasi, melalui komunikasi, melalui adab, melalui apa yang bisa saya gali dari potensi diri. Melalui bimbingan dan pembelajaran sehari-hari. Tentu juga, melalui ikhtiar dan doa yang selalu kita panjatkan kepada Allah.

Cukup ALLAH yang Maha Mengatur jalan hidup kita. InsyaAllah menjadi seorang pendidik dan pemimpin teladan adalah harapan terbesar saya untuk masa depan. Semoga saja dipertemukan dengan istri sholehah,cerdas,dan mempunyai semangat dalam membina rumah tangga. Bukankah untuk melahirkan anak cerdas juga memerlukan istri yang mendidik anaknya dengan cerdas ? Kita yakin, Allah berjanji bahwa orang baik akan bertemu dengan orang baik, begitupun sebaliknya. Cukup Allah yang mengatur hidup kita.

========================================================================
Sebuah renungan atas perjalanan hidup menjadi mahasiswa S-1 Pendidikan Geografi UNY. Sebuah lilin harapan untuk menjadi harapan bangsa Indonesia di masa depan. Sebuah ikhtiar untuk bersyukur dan berbagi dalam segalan keadaan dan kebaikan. Sebuah penyemangat, bahwa bangsa ini masih punya harapan. Bahwa bangsa ini masih punya banyak anak muda yang ingin berkarya dan melunasi janji-janji kemerdekaan. InsyaAllah, semoga senantiasa diberikan petunjuk dan jalan lurus dalam menjemput mimpi-mimpi dan memberikan kemanfaatan. Semoga ikhtiar untuk mempersiapkan menuntut ilmu di Belanda semakin matang. Kincir angin dan bunga tulip telah menanti. Semoga doa dan semangat dari para sahabat, bapak ibu dosen, dan semua yang pernah menjadi bagian hidup saya selalu mengalir. Saya pun mendoakan yang terbaik untuk Anda semua. Mohon doa dan penyemangatnya.

Saya punya semangat, bahwa anak penjual cabe di pasar Sleman bisa menjadi harapan besar bangsa Indonesia.
insyaAllah :-) Muda Berkarya untuk Indonesia!
#RefleksiMahasiswaEsSatu


Hamba Perindu Surga-Nya,
Janu Muhammad

2 komentar:

  1. terimakasih untuk tulisan yang selalu menginspirasi janu,, aamiin, semoga mimpi-mimpi menjadi nyata. usaha dan doa padaNya. sehelai daunpun tak akan gugur tanpa izin dariNya. (Al-An'am : 59).

    BalasHapus