Ged a Widget

Rabu, 15 Januari 2014

Budhe Telah Kembali

Infus di tangan kanan, alat detak jantung di sebelah kiri, tabung oksiden di samping bantal, pagi itu saya dan ibu menuju ruang intermediet UGD rumah sakit akademik ugm. Sayup-sayup mata dengan tetes air mata mulai mengalir. Budhe yang telah merawat saya sejak kecil sedang berada dalam masa kritis. Tepat 12 Rabiul Awal, saya memegang erat tangan Budhe, saya membisikkan kalimat toyyibah kepada beliau. "Budhe, adakah kau dengar doa kami di sini, yang sedari kemarin menanti senyuman hangatmu kembali, menanti kedipan mata yang sudah tiga hari tertutup. Budhe, kami di sini menantimu, sejak peristiwa malam itu engkau belum kunjung bangun. Kami di sini menantimu budhe, janu ingin melihat senyum khasmu.

Budhe masih terpejam, nafasnya masih belum stabil, detak jantungnya kian melemah, tensimeter menunjukkan angka 71. Pagi itu pun orang-orang berduyun-duyun memasuki ruangkan bangsal yang sempit itu. Ya, mereka merindukan budhe yang sudah tiga hari belum terbangun. Kami kangen budhe. Siang itupun saya ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok, sedangkan ibu saya masih menunggu budhe beserta anggota keluarga yang lain.

Namun selang beberapa jam kemudian, telepon pun berbunyi. Ibu memanggil saya untuk kembali ke rumah sakit, kondisi budhe belum tampak tanda-tamda peningkatan. Ya Allah, kami sekeluarga hanya bisa bertawakal kepadaMu. Malam pun datang. Saya pulang ke rumah untuk mempersiapkan ujian akhir semester 5. Besok hari Rabu adalah hari terakhir ujian, berharap agar kondisi budhe lebih baik.

Hari Rabu pun tiba, saya menuju kampus pkl 6.45, ujian dimulai 7.30. Ujian pertama adalah strategi pembelajaran geografi. Alhamdulillah lancar. Setelah itu ke sekretariat Screen dan mengikuti seminar proposal skripsi kakak angkatan. Di tengah2 seminar, hape pun berdering. "Nu, budhe sudah dipanggil Allah" suara ibuk dengan kondisi menangis sepertinya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Ya Allah, di tengah kondisi seperti ini, engkau memang Maha Kuasa, Maha membolak balikkan hati hamba-Mu. Mendengar kabar tersebut, jelas saya harus segera pulang. Ternyata, ujian saya masih jam satu siang ini dan pemakaman direncanakan jam 4 sore.

Siang itupun ujian terakhir semester 5, mata kuliah manajemen pendidikan. Selesai, saya bergegas pulang ke rmh. Y inilah, sebagai warga asli Sleman dan anak rumahan, masih banyak tanggung jawab di rumah, di keluarga besar, karena simbah dan keluarga perlu perhatian yang muda. Saya harus mampu membagi waktu di rumah, di sekolah, dan di kampus dengan seabrek organisasi yang ada. Sudah menjadi pilihan hidup saya, artinya tidak akan ada waktu yang terbuang percuma.

Hingga bendera putih itu pun di depan mata, rumah duka sudah banyak para takziah. Setelah sholat jenazah, tak lupa doa terbaik untuk almarhumah budhe. Klau teringat kemarin ketika di rumah sakit, kondisinya sama persis dengan almarhumah simbah putri ketika akan meninggal. Kala itu, saya menunggu beliau dari pagi sampai jam 3 sore menghembuskan nafas terakhir. Sangat persis, budhe adalah anak pertama dari 8 bersaudara.

Upacara pemakaman pun dimulai. Kami harus menahan tangisan ini, tergantikan oleh doa terbaik untuk almarhumah. Jika waktu bisa menjawab, janu ingin sekali ada di samping budhe kemarin2. Namun, memang janu masih ada amanah di kampus dan janu percaya budhe akan ditempatkan di surga-Nya. Janu inget budhe selalu mengaji dan ramah kepada kami. Kami di sini mendoakanmu budhe, semoga pakdhe diberikan ketabahan dan keikhalsan.

Sore tadi saya dan mas habib membawa papan kayu nisan budhe ke pemakaman. Guyuran hujan yang cukup deras mengiringi langkah kami. Kami yakin Allah akan mengampuni dosa-dosa budhe dan menempatkan di tempat terbaik.insyAllah, allahumma aamiin.


#RefleksiMahasiswaEsSatu

Hal yang paling dekat dengan kita adalah sebenarnya kematian. Ia datang secara tiba-tiba. Ia datang kepada siapa saja. Ia datang pada waktu kapan saja. Sudah menjadi kewajiban umat Islam untuk berjaga, dalam kondisi terbaik dan mengingat Allah karena kematian itu begitu dekat. Semoga bisa menjadi pengingat kita, betapa pentingnya usia ini. Mari kita isi dengan dzikir, berbuat kebaikan, dan dalam kondisi bermanfaat bagi orang lain.
Akan ada masa ketika semuanya akan mati. Ingat lima perkara sebelum lima perkara (yg satu lupa) :

Muda sebelum tua,

Sehat sebelum sakit,

Kaya sebelum miskin,

Hidup sebelum mati...



Sleman, 15 Januari 2014



Yang Merindukanmu Budhe

Janu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar