Ged a Widget

Selasa, 30 Desember 2014

LKTI, Conference, Summit, dan Youth Forum : Mau Pilih Mana ?

Menjadi mahasiswa sarjana belum lengkap rasanya jika hanya kuliah di kelas dan langsung pulang ke kos-kosan. Ada waktu-waktu yang akhirnya terbuang percuma, padahal sebenarnya jika dimanfaatkan akan menghasilkan prestasi yang luar biasa. Kebanyakan mereka yang setelah kuliah langsung pulang alias kupu-kupu ya di kos entah tidur atau belajar. Kebanyakan yang saya lihat seperti itu, cenderung tidak produktif. Nah, ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi. Antara mahasiswa itu IPK nya top banget (tinggi), biasa saja, atau bahkan rendah. Pertanyaannya, apakah ilmu-ilmu di kuliah itu sudah dirasa cukup untuk bekal masa depan di dunia kerja ?

Saya langsung menjawab, jelas belum cukup. Mahasiswa perlu iklim non akademik di luar perkuliahan untuk mengekspresikan minat dan bakat. Keikutsertaan di organisasi kampus akhirnya menjadi pilihan menjanjikan. Selain akan ditempa karakter kepemimpinan, mengikuti organisasi apapun akan menambah nilai plus pada diri kita. Apa saja yang didapatkan ? Contohnya adalah skill komunikasi, jiwa sosial, keterbukaan terhadap dunia luar, dan tentunya sebuah semangat untuk berkarya.

Saya mencoba merefleksikan, ternyata berawal dari organisasilah yang membawa saya akhirnya 'terjun' ke luar kampus untuk mengikuti beberapa event. Ya, prinsipnya selagi ada niat, usaha, dan persiapan pendanaan insyaAllah akan terwujud. Sudah berapa event ya yang saya ikuti ? Saya tidak bisa menyebutkan jumlah spesifiknya, ada yang jadi peserta, finalis, delegasi daerah, atau jawara kalau baru rejekinya. Berikut ini saya akan berbagi beberapa jenis kegiatan yang biasanya diikuti mahasiswa dari angkatan muda sampai angkatan tua seperti saya saat ini. Saya membaginya ke dalam jenis : LKTI, Conference, Summit, dan Youth Forum.

Pertama adalah LKTI ^
Pasti semua juga sudah tahu bahwa LKTI itu singkatan dari Lomba Karya Tulis Ilmiah kan ? Biasanya berupa kompetisi karya tulis. Penyelenggaranya bisa dari organisasi kampus atau organisasi luar. Tema yang diangkat pun dapat bermacam-macam, tergantung tujuan dan isu yang 'hot' saat itu. Ada yang tentang lingkungan, AFTA, pendidikan Islam, bahkan ada juga politik. Intinya tergantung kebijakan panitia, yang penting dapat menari masa banyak.Bagaimana manfaat ikut LKTI ? Kita dapat mengasah kekritisan kita yang dituangkan dalam bentuk tulisan ilmiah sesuai EYD. Kita diajak berpikir analisis, tetapi juga jangan dijadikan serius ya. Yang penting kita sudah nyaman dengan tema, nyaman dengan tim, dan kompak! Itu resepnya. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah : pintar-pintarnya kita pilih LKTI, lihat dulu siapa penyelenggaranya apakah institusi resmi ? Biaya pendaftarannya mahal tidak ? Bagaimana dengan proporsi hadiah ? Jika tempatnya jauh (misal saya di Jogja, dan lombanya di Padang) apakah hadiah sebanding dengan tiket PP ? Kalau ada bantuan dari kampus ya oke-oke saja, tapi kalau tidak ? Pasti akan pikir-pikir... Pengalaman saya ikut LKTI sebenarnya sudah sejak SMA, jadi ya sedikit tahu sejak ikut KIR di SMA N 2 Yogyakarta.
LKTI Geografi di Klaten
Kedua adalah Conference
Apa itu conference ? Jika diterjemahkan ke Bahasa Indonesia artinya konferensi. Menurut KBBI, konferensi adalah rapat atau pertemuan untuk berunding atau bertukar pendapat. Pengalaman saya pernah mengikuti beberapa konferensi, baik nasional maupun internasional. Ada yang memang hanya forum konferensi mahasiswa dan bertukar pendapat melalui focus group discussion, ada pula yang mensyaratkan membuat paper (1-10 halaman) untuk menuangkan ide. Biasanya kegiatan seperti ini berbayar, kalau bisa cari yang gratis, pasti akan sangat kompetitif. Ketika itu saya pernah mengikuti National Youth Conference di Jakarta, National Education Conference di Bandung, National Student Conference di Yogyakarta, dan beberapa konferensi internasional. Kita akan lebih tahu bagaimana melakukan presentasi ide dan gagasan, atau hasil penelitian dan akan mendapatkan feed bcak dari audience. Biasanya dia kahir acara akan ada pengumuman seperti best paper, best speaker, dan lain sebagainya. Ada juga oleh-oleh buku prosiding, bahkan bisa jurnal ilmiah ber ISBN. Sebenarnya motivasi lain kalau ikut conference adalah jalan-jalan atau cari kenalan, #eh. Iya itu penting juga kok ya ? Alhamdulillah saat ini jaringan  semakin luas.

 

International Petrogasdays Conference, UI Jakarta

Ketiga adalah Summit
Saya tidak tahu persis arti summit, hanya menyimpulkan secara subjektif bahwa summit adalah sejenis pertemua dalam skala besar. Kalau dalam bahasa Inggris artinya puncak. Jadi ya seperti itu, agak susah menjelaskannya. Secara teknis, summit mengangkat beberapa tema di mana peserta dapat memilih tema yang sesuai minatnya. Misal nih, saya suka pendidikan, maka saya memilih tema ini. Nanti akan dikelompokkan sesuai tema yang dipilih, begitu gambarannya. Lalu apa yang dilakukan di summit ? Biasanya ada round table discussion, idea project, dan semacam hasil diskusi. Biasnya di akhir acara ada beberapa orang yang presentasi mewakili cluster/kelompok. Nah, saya lebih suka ikut yang memang ada proses seleksinya, bukan sekadar summit yang itu semua orang bisa ikut. Mengapa ? Ya kualitas lah yang diharapkan. Orang-orang yang saya temui dulu biasanya mereka yang aktif di organisasi, jago ngomong, dan proaktif deh. Setelah selesai summit, diharapakan ide itu dapat terealisasikan.Saya pernah ikut Young Engineers and Scientis Summit dan Yout Environmental Leaders Summit di ITS Surabaya, terakhir kemarin ikut Indonesian Youth Summit di UGM.
YELS 2013 ITS Surabaya
Keempat adalah Youth Forum
Sebenarnya agak mirim dengan summit, entah dari sisi apa bisa dibedakan. Menurut saya Youth Forum ini lebih ke leadership development atau dengan teman-tema khusus di mana para pemuda bisa bebas menyampaikan pendapatnya dan ada para inspiring speakers yang hadir. Salah satu Youth Forum yang paling WOW dan mantab adalah Youth Adventure dan Youth Leaders Forum yang diadakan oleh Gerakan Mari Berbagi. Saya menjadi peserta tahun 2014. Ada 47 pemuka pemuda yang terpilih setelah seleksi super ketat mulai dari aplikasi, wawancara di Kemenpora, dan proposal program. Tipsnya : carilah Youth Forum yang benar-benar credible penyelenggaranya, bukan yang baru saja terbentuk lalu tiba-tiba open application. Simak tujuan acaranya, simak kualifikasi yang diminta. Kalau yang memang oke, pasti seleksinya kompetitif, bukan cuma mengisi formulir pendaftaran yang cuma satu lembar. Jadi, dipilih-pilih, jangan asal ikut teman ya. Tips juga nih,  sesuai passion dan cita-citamu. Boleh sih ikut banyak, tapi akan lebih baik jika fokus pada bsiang yang kita minati. Misalnya saya lebih ke education forum atau sejenisnya.
YA & YLF 2014

Sepertinya baru ini yang bisa saya tulis. Sebenarnya masih banyak yang pengin saya ceritakan. Semoga di lain kesempatan ya. Selamat memilih kegiatan-kegiatan di atas, pastikan itu akan memberi efek baik untuk menambah nilai plus diri kita dan memberikan kebermanfaatan bagi orang-orang di sekitar kita. Jadi ya, bukan seberapa banyak event-event yang kita ikuti, tetapi sudah seberapa besar kontribusi kita untuk masyarakat setelah pulang dari kegiatan-kegiatan itu ? Hayo pilih yang mana ? :-)
Ayo mendaftar YA & YLF 2015 : klik www.g-mb.org



Sabtu, 27 Desember 2014

Refleksi Perjalanan Hidup Janu Muhammad : Masa Lalu, Kini, dan Esok

Teringat sebuah tulisan yang hari ini saya baca tentang perjalanan sosok Mas M.Iman Usman yang saat ini sedang kuliah di Columbia University. Saya pun terinspirasi untuk menulis sebuah refleksi perjlanan hidup yang akan berguna untuk mengevaluasi perjalanan masa lalu, kini, dan mempersiapkan hari esok. Tulisan sederhana ini semoga dapat memberi gambaran bagaimana seorang Janu mempunyai mimpi besar untuk Indonesia di masa depan.


Tentang Sebuah Nama


Nama lengkap saya Janu Muhammad, lahir pada tanggal 7 Januari 1993. Kini saya berusia 21 tahun lebih 11 bulan, artinya bulan besok sudah genap 22 tahun. Ketika mendengar nama Janu Muhammad, banyak yang bertanya apakah saya lahir bulan Januari ? Tentu jawabannya iya (sudah saya tulis di depan soalnya). Asal kata ‘Janu’ sebenarnya bukan pemberian dari orang tua saya, entah mengapa. Bahkan yang memberi nama saya adalah bibi saya sendiri. Barangkali pada saat itu mamak dan bapak tidak mempermasalahkan sebuah nama apa yang cocok bagi anak laki-laki pertamanya ini. Yang penting simple, mudah diingat. Tentang nama ‘Muhammad’, terinspirasi dari Rasulullah, nabi yang menjadi suri teladan bagi seluruh umat, pemimpin bijaksana, jujur, dan amanah. Berat sebenarnya diamanahi nama ini karena konsekuensi yang harus saya laksanakan. Orang tua saya cukup religious sehingga nama ‘Muhammad’ menjadi sebuah doa agar kelak saya menjadi seorang pemimpin yang amanah dan mempunyai sifat yang diajarkan nabi.

Sejak kecil saya dipanggil dengan sebutan Janu, ada juga yang memanggil ‘Yanu’. Biasanya beliau-beliau para simbah yang sulit menyebut huruf ‘J’ biasa memanggil saya Yanu, lebih mudah. Pada saat SD, SMP, SMA, hingga saat ini nama tunggal saya tetap Janu, tidak ada nama samaran atau nama lain yang lebih familiar. Bagi putra asli suku Jawa dan asli Jogja seperti saya ini, kadang-kadang dapat tambahan ‘Mas’ di depan kata ‘Janu’ sebagai penghormatan dari muda ke yang tua. Realita yang terjadi ternyata, dari yang tua pun memanggil saya dengan ‘Mas Janu’, padahal saya lebih muda. Entah karena itu sebuah rasa hormat atau karena raut wajah saya yang memang lebih tua (lebih dewasa tepatnya). Pengalaman dulu waktu semester 3 ketika ada mahasiswa baru bertanya, “Masnya angkatan 2008 ya?” wah ini parah bener si maba, masak ya 3 tahun lebih tuaa. Bahkan ketika masuk ke bank, sejak SMA saya sudah dipanggil ‘Pak Janu’ padahal ya pakai seragam SMA, mungkin mbaknya hanya memperhatikan wajah ya ? Sudah yang penting disyukuri, banyak yang mengatakan saya memang cenderung dewasa duluan, secara tanggung jawab maksudnya.



Tentang Background Keluarga


Lahir dari sebuah keluarga sederhana, dari pasangan ibu Lasiyem dan bapak Ngadiyo. Tumbuh dan dibesarkan di Dusun Ngemplak, Caturharjo, Sleman, sebuah daerah di Kabupaten Sleman sisi barat, berbatasan dengan Magelang. Saya biasa memanggil ibu dengan sebutan ‘mamak’ dan ayah dengan ‘bapak’. Beliau berdua adalah orang tua hebat yang tiap hari berjuang mencari sesuap nasi di pasar. Ya, keluarga kami adalah keluarga pedagang. Hal ini berawal ketika mamak pada masa remaja sekitar 15an tahun sudah mulai berdagang ayam. Simbah lah yang mengajarkan beliau untuk mandiri, sehingga mamak tidak sempat menamatkan SD dan berjuang membiayai paman saya yang kini sudah bergelar Kapten Drs. Daroji dan bermarkas di Kostrad TNI AD di Jakarta (dekat monas). Mamak saya sejak muda sudah banting tulang bekerja demi keluarganya, beliau anak ke 8 kalau tidak salah. Bapak, seorang tukang bangunan yang berhenti sekolah di kelas 3 SD, itu juga karena demi membiayai adik perempuannya. Beliau anak ke-2 dari 4 bersaudara. Entah bagaimana ceritanya mamak dan bapak bertemu, beliau adalah tetangga desa dan biasalah kalau orang terdahulu akhirnya langsung nikah. Yang perlu dicatat ketika saya mendengar cerita cinta mamak-bapak, mereka sama sekali tidak pacaran. Bapak langsung melamar mamak karena ya memang saling percaya. Berhubung background keluarga mamak religious, akhirnya bapak menjadi sangat religious dan taat beribadah. Saya mempunyai seorang adik perempuan, namanya Isti. Dia lahir ketika saya berusia 8 tahun, ketika kelas 2 SD.




Kedua orang tua saya mempunyai prinsip hidup yang menurut saya sungguh mulia. “Yang penting anak saya bisa sekolah, tidak ada kendala untuk sekolah dan baca buku, saya akan bekerja keras demi kesuksesan putra-putri saya”. Kalimat itulah yang mewakili keseharian orang tua saya, yang tiap hari bekerja di pasar sebagai pedagang cabe. Bangun jam 3 malam, Subuhan lalu ke pasar, pulang jam 2 siang, ‘kulakan’ atau beli dagangan jam 3 sore dan tidur jam 11 malam. Hanya tersisa 4 jam untuk istirahat. Kalau saat-saat seperti ini dagangan di rumah bisa beberapa kuintal dan kami harus lembur. Ada sebuah pancaran semangat yangs saya rasakan, sebuah tanggung jawab besar pula agar saya ikut merasakan perjuangan hidup ini dan tidak menyia-nyiakannya. Jujur, mamak dan bapak menginginkan saya menjadi seorang sarjana bahkan professor, dan menjadi seorang PNS. Itu harapan besar orang tua saya, tetapi ada sebuah mimpi agar kelak saya juga membuka sebuah usaha, syukur-syukur bisa membuka toko dan sentra sayuran untuk mengembangkan usaha keluarga.


Tidak lupa, beliau berdua selalu menitipkan tanggung jawab agama. Sejak kecil pun saya dibiasakan untuk mengaji selepas Maghrib. Teringat pertama kali saya ikut TPA di masjid Nurul Huda,  dusun di mana simbah tinggal. Saya waktu itu kelas 2 SD dan menangis ketika diminta mengaji. Saya takut dan malu karena belum bisa apa-apa. Saya tiap 3 hari dalam seminggu mengikuti TPA, mengayuh sepeda dari rumah. Lumayan jauh, namun saya akhirnya berani, dan tumbuhlah sebuah ‘kemandirian’ untuk saya dan adik. Kami terbiasa untuk mengurus persiapan sekolah sendiri, mencuci baju sejak SD juga sendiri, menyetrika sendiri, bahkan kebersihan rumah pun menjadi tanggung jawab saya dan adik. Ada sebuah latihan yang diberikan orang tua agar tidak bergantung pada orang lain dan ‘peka’ bahwa orang tua sudah bekerja keras dan perlu untuk dibantu. Tidak heran jika pada akhirnya Allah memberikan kesempatan saya meraih Juara 1 Pemilihan Anak Sholeh Berprestasi se-TPA Nurul Huda. Ada rasa syukur karena di usia 13 tahun saya sudah memegang piala pertama.




Masa Lalu, Kini, dan Esok


Ada beberapa peristiwa penting yang menjadi batu loncatan bagi perjalanan seorang Janu Muhammad selama ini. Pertama, ketika pada usia SD saya sering menjadi ketua kelas, pertama kalinya Juara 3 Olimpiade Matematika se-Kecamatan Sleman dan di akhir kelulusan meraih predikat lulusan terbaik. Saya pun langsung diterima di SMP N 1 Sleman tanpa tes. Ada sebuah tempaan di mana saya memasuki fase baru, mengenyam pendidikan di sekolah favorit dan andalan Kabupaten Sleman. Tetapi, ada sebuah karakter yang masih melekat saat itu yaitu ‘rasa malu’ bertemu orang baru. Saya masih minder dan sangat pendiam.

Kedua, ketika saya di SMP mulai memasuki dunia organisasi. Saya diterima sebagai pengurus OSIS dan Dewan Penggalang. Sebuah tanggung jawab baru di bidang organisasi yang sama sekali belum saya rasakan sebelumnya. Apa yang terjadi ? Organisasilah yang akhirnya menjadi batu loncatan untuk berubah total ke arah lebih baik. Saya belajar bagaimana cara berkomunikasi, terbuka menyampaikan pendapat, menuangkan ide, dan berinteraksi dengan orang-orang luar. Akhirnya, saya berani menyampaikan pertanyaan dan pendapat dalam setiap diskusi. Jiwa saya menjadi lebih terbuka terhadap orang luar. Fisik saya pun ditempa lewat keaktifan di Pasukan Inti (baris-berbaris). Namun satu prinsip yang saat itu masih sangat melekat : saya harus tetap menjadi agama dan interaksi terhadap lawan jenis, sehingga banyak teman yang menilai saya sok alim. “Biarkan saja, Allah yang Maha Tahu” kata mamak.
 

Ketiga, memasuki fase SMA. Peringkat saya di ujian nasional SMP tidak terlalu mengecewakan, saya meraih nilai 36,95 atau rata-rata 9,238. Nilai itulah yang menjadi modal awal saya untuk masuk SMA N 2 Yogyakarta, sekolah favorit dan dulu kata banyak orang sekolah negeri namun agamis. Ketertarikan saya di SMADA bermula ketika melihat Pasukan Intinya. Saya ingin bergabung bersama mereka. Alhamdulillah, saya diterima di rangking 6. SMADA, menjadi tempat yang membentuk kepribadian saya matang, ketika diamanahi menjadi ketua Rohis Kharisma, di MPK, Pasukan Inti, ketua Kelompok Imiah Remaja, dan berbagai organisasi luar sekolah yang benar-benar mengubah pandangan saya ke arah masa depan. Kami dididik untuk menjadi manusia bermanfaat dan berguna untuk Indonesia kelak. “Dengarkanlah derap kami, pemuda harapan bangsa, SMA Negeri 2 jaya selamanya..”petikan mars SMADA. Namun untuk lulus dari kelas IPA bagi saya sangat sulit. Saya yang telah ‘terlanjur’ menjadi aktivis organisasi menyadari sepenuhnya banyak waktu yang saya curahkan untuk organisasi dan akhirnya nilai akademik menurun. Pengalaman paling berkesan hingga membawa saya ke level nasional adalah ketika mengikuti Pesantren Kilat Nasional yang diadakan oleh Kementerian Agama RI di Malang. Sanlatnas itu untuk beberapa sekolah bertaraf internasional dan memang pilihan, pesertanyapun pilihan. Saya mulai mengenal beberapa teman dari provinsi lain dan akhirnya terhubung sampai sekarang. Saya lulus dari SMA dengan predikat pas-pasan, dengan rasa syukur telah lulus dari IPA dan menuju peralihan ke IPS, saya mengambil geografi sebagai konsentrasi bidang di perkuliahan.
 

Keempat, saya diterima di Pendidikan Geografi UNY melalui jalur prestasi (undangan). Alhamdulillah diterima sekolah tanpa tes terus. Di perkuliahan saya lebih fokus untuk berorganisasi yang satu visi dengan masa depan saya untuk menjadi seorang dosen dan peneliti. Aktivitas di perkuliahan pun saya habiskan untuk kuliah, aktif di UKMF Penelitian SCREEN, dan beberapa organisasi yang memang ranahnya riset dan akademik. Saya mulai menanamkan bahwa saya harus fokus dan tidak ingin menjadi aktivis dengan nilai buruk . Saya ingin menjadi aktivis berprestasi, lulus kurang dari 4 tahun, dapat beasiswa, dan rutin menulis serta belajar bahasa inggris. Teringat pesan mas Anies Baswedan kakak alumni saya SMA “3 kunci agar Anda diperhitungkan dunia : organisasi, menulis, dan bahasa inggris”. Ya, saya memegang prinsip itu hingga saat ini. Alhamdulillah, di tahun ketiga dapat mempersembahkan kado untuk mamak dan bapak, sebuah pencapaian prestasi yang menjadi akumulasi perjuangan selama ini. Kalau ada yang bertanya : seorang Janu apakah pernah ada masalah, sedih, dan gundah di dalam kamar ? Jelas pernah, namanya juga manusia. Tetapi ya prinsipnya 'move on', dekatlah pada Allah maka Allah akan dekat dengan kita. Masalah akan datang karena Allah sedang menguji seberapa besar kesabaran, kesetiaan kepada-Nya, dan kesungguhan dalam berjuang. Barangkali niat kita dalam bermimpi masih kurang lurus, maka perbanyaklah Dhuha, Tahajud, dan amalan sunah lainnya, namun tetap dijaga juga ibadah wajibnya.

Kelima, pengalaman pergi ke luar negeri adalah milestone saya, yang membuka mata hati dan pikiran bahwa dunia ini luas. Saya sebagai calon geograf akan dihadapkan pada banyak permasalahan yang mengharuskan saya peka, kritis, dan mau mengambil bagian dari solusi. Melihat kondisi demikian, pengalaman mengikuti kuliah singkat di Belanda dan 3 minggu hidup di Australia semakin membuka wawasan saya bahwa saya harus berbuat sesuatu untuk lingkungan di mana saya tinggal. Saya harus memberikan sebuah ‘tanggung jawab’ dari beasiswa yang diberikan pemerintah selama kuliah ini. Akhirnya, 19 Januari 2014 menjadi titik awal saya merintis pendirian Omah Baca Karung Goni yang merupakan bantuan dari mahasiswa-mahasiswa UGM. Saya pun menangkap bahwa pendidikanlah yang menajdi kunci utama untuk memajukan kualitas suatu bangsa dimulai dari warga negaranya. Mulai dari hal-hal kecil menjadi pustakawan muda, saya berlatih bagaimana ilmu yang selama ini saya dapatkan dapat bermanfaat. Saya masih mempunyai cita-cita besar agar esok dapat mendirikan sebuah taman baca yang luas dan mandiri.
 

Saya dan Kecintaan untuk Indonesia


Sudah 21 tahun saya hidup di negeri ini, negeri yang sangat luas dan kaya akan sumber daya alamnya. Saya bersykur lahir dan besar di negeri ini, terlebih di Yogyakarta tercinta. Orang-orangnya ramah dan sederhana. Saya bersyukur mempunyai keluarga yang saling mendukung, bapak mamak dan adek yang selalu rukun. Saya menghargai jerih payah mereka untuk putra sulungnya ini.
 

Ada sebuah PR besar agar suatu saat nanti saya dapat berbuat sesuatu untuk mereka, mengangkat derajat keluarga ini. Saya masih mempunyai mimpi untuk naik haji bersama keluarga yang saya cintai. Saya ingin menjadi seorang pendidik bagi generasi di Indonesia. Itulah sebuah rencana saya untuk lebih menghargai negeri ini, untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat negeri ini. 

Ada sebuah optimisme bahwa 20-30 tahun ke depan Indonesia akan jauh lebih maju, tidak ada lagi korupsi, tidak ada lagi ancaman teroris, semuanya hidup rukun dan nyaman. Namun, itu semua tidak akan terjadi jika anak muda hanya duduk diam menunggu sebuah perubahan. Anak muda seperti saya dan Anda harus merencanakannya dari sekarang, berkolaborasi dengan pemuda-pemudi lainnya. Seperti zaman-zaman ketika Sumpah Pemuda akan dikumandangkan, ketika kemerdekaan juga akhirnya dapat ditegakkan.  Apakah semua yakin akan terjadi ? Tentu!




"Kalau semangat hidup hanya biasa-biasa saja, ya hasilnya biasa saja. Coba lebihkan usaha dan doa, pasti akan luar biasa hasilnya."


Ini bukan sebuah khayalan, ini adalah sebuah mimpi besar yang dapat diwujudkan. Ya, salah satu jalannya adalah dengan menempuh pendididikan tinggi dan membuat sebuah perubahan dari yang kecil. Semoga, kelak Allah mengizinkan saya untuk melanjutkan studi ke luar negeri, merantau dan menimba ilmu seluas-luasnya dan kembali ke tanah air untuk mendidik serta mendedikasikan diri di kampung halaman. Kalau sudah optimis, mari susun strategi dan berjuang menjemputnya!


Terimakasih Ya Allah, atas segala nikmatmu ini. Semoga di usia 22 nanti senantiasa menjadi hamba yang bermanfaat dan berusaha menjadi putra terbaik yang sholeh seperti yang mamak harapkan. Semoga keluarga kami senantiasa dalam keridhoan-Mu. Terimakasih untuk keluarga, dan sahabat sekalian, mohon maaf jika selama ini ada khilaf dari saya. Semangat membuat Indonesia tersenyum ^^



Indonesia, 27 Desember 2014

Janu Muhammad

Sedang berjuang menuju wisuda dan kuliah di Belanda

insyaAllah...



Senin, 22 Desember 2014

Kiprah Anak Muda Melalui Indonesian Youth Summit 2014

Jadi ceritanya pada hari Kamis, 18 Desember 2014 kemarin saya mengikuti kegiatan Indonesian Youth Summit 2014 yang diadakan oleh YouSure FISIPOL UGM. Alhamdulillah, setelah melalui seleksi akhirnya bisa mewakili UNY bersama sekitar 28 delegasi se-Indonesia.

Acaranya ada seminar tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memang jadi topik utama. Setiap peserta diharuskan memilih satu tema, diantara : 
Saya pun membuat sebuah rencana project :

ØDalam menghadapi Komunitas ASEAN 2015, sangat diharapkan peran serta partisipasi pemuda pemudi.
ØIYSCC menjadi forum komunikasi para aktivis NGO di Indonesia dalam menyuarakan MEA 2015 kepada masyarakat.
ØTugas penting pemerintah adalah menjaga semangat pemuda-pemudi dengan memberi kekuatan positif dan bersinergi dalam pelaksanaan program sosialisasi MEP 2015.



Hujan di Bulan Desember

Jumat, 19 Desember menjadi sejarah baru bagi perjalanan hidup saya. Pagi itu adalah kuliah terakhir saya. Pagi itu adalah saat di mana saya dan teman-teman berdiskusi di kelas bersama dosen Pak Heru. Sudah hampir 3,5 tahun kebersamaan kami di kelas A Pendidikan Geografi UNY 2011. Bagi saya itu adalah moment berkesan karena tidak ada lagi moment yang berkesan di kelas selain kumpul bareng, diskusi bareng, dan interaksi antar mahasiswa maupun dosen yang pasti akan dirindukan suatu saat nanti. Saya semester ini hanya mengambil 1 mata kuliah yaitu seminar penelitian dan ambil tugas akhir skripsi. Jadi ya, insyaAllah di UAS nanti hanya akan ujian seminar saja. Saat ini pun skripsi masih diperjuangkan, mohon doanya ya.


Setelah kuliah selesai, saya menuju ke subag pendidikan FIS UNY untuk mengambil SK Pembimbing skripsi, Alhamdulillah sudah jadi. Saya langsung memfotokopi sebanyak 10x kalau tidak salah, lalu dilegalisir. Saat itu juga saya menemui mas Agung, admin jurusan pendidikan geografi untuk minta dibuatkan surat izin penelitian. Alhamdulillah surat langsung masuk ke dekan dan baru terambil ba’da jumatan. Saya agak kaget, ternyata instrument penelitian belum selesai, padahal proposal sudah harus dijilid, langsung saja saya ke perpustakaan FIS dan melihat beberapa referensi skripsi kakak angkatan, langsung ke limuny (layanan internet mahasiswa uny) dan membuat instrument penelitian. Astaghfirullah, lupa tidak bawa flash disk, ini dia kelemahan saya, pelupa. Akhirnya masalah terselesaikan setelah dipinjami flash disk operator. 

Saya print instrument dan dijilid bersama proposal penelitian. Sejenak, saya melaksanakan sholat Jumat di masjid Al Mujahidin UNY dan setelahnya ketemu sama Rony, ketua BEM FBS untuk memberikan oleh-oleh dari Australia. Setelah itu akhirnya ambil surat  izin dekan, Alhamdulillah sudah jadi. Waktu sekitar Pkl 14.00, saya harus menuju kepatihan DIY untuk mengurus perizinan penelitian, benar-benar quick time. Berkas yang harus ada : proposal penelitian, surat izin penelitian, map, dan fotokopi KTP. Berkas lengkap, akhirnya saya lega. Alhamdulillah dapat terurus dengan cepat berkat Allah. Saya diberi 3 surat tembusan untuk saya teruskan ke beberapa dinas terkait penelitian pembangunan fly over Jombor.



Pulang dari kantor gubernur, saya ke kampus UNY untuk makan siang (agake telat sih) dan akhirnya menunaikan sholat Ashar ditemani rintik hujan. Sore harinya membersamai teman-teman mahasiswa FIS di Dipsos Charity, acara penggalangan dana untuk saudara-saudara di Banjarnegara. Lalu menyempatkan diri ke UKMF Penelian SCREEN. Setelah itu, saya pulang ke rumah ditemani lebatnya hujan yang turun sore itu di Yogyakarta.

Biasanya ketika naik sepeda motor dalam perjalanan pulang, pikiran saya membawa ke sebuah perenungan. Saya telah terbiasa mereview kembali perjalanan sehari ini yang telah dilakukan, mulai dari  bangun tidur sampai saat itu. Ya Rabb, hujan ini setia menemani hamba. Hujan di bulan Desember ini telah memberikan sebuah perenungan bagi saya. Ia turun di dunia untuk memberikan sebuah manfaat, saya percaya itu. Saya pun memanjatkan doa “Allahummashoyyibannafi’an” Ya Allah semoga hujan ini bermanfaat.

Bagi saya, hujan di bulan Desember adalah sebuah pengingat agar kita merefleksikan kembali perjalanan hidup selama 11 bulan yang lalu, mengingatkan kita sudah seberapa besar kebaikan yang dilakukan ?

Hujan di Bulan Desember adalah rahmat. Air yang turun akan meresap ke dalam tanah dan menghidupkan kembali tanaman-tanaman yang telah layu. Hujan ini menghidupkan kembali semangat para pencari ilmu untuk memperisapkan tahun selanjutnya dengan baik.

Hujan di Bulan Desember adalah kesempatan untuk taubat. Hujan membawa berkah, bagi hamba yang memanfaatkan setiap waktu untuk berdoa, untuk bertaubat. Allah memberi kesempatan itu, waktu ketika hujan insyaAllah mustajab untuk berdoa. Jadi, mari bersyukur.

Namun, hujan juga sering kali menyebabkan datangnya musibah. Seperti halnya yang menimpa saudara-saudara kita di Banjarnegara. Semoga menjadi iktibar bersama, barangkali masyarakat di sana perlu banyak bersyukur dan merawat alam. Kita berprasangka baik saja kepada-Nya. Pasti akan ada hikmahnya.


Hujan di Bulan Desember, memberi tanda bagi saya bahwa usia saat ini menuju 22. Bulan depan saya memasuki umur baru, memasuki masa-masa akhir untuk segera wisuda. Ya, saya saat ini baru berjuang dalam medan skripsi. Jadi mohon didoakan, jangan tanya terus kapan lulus ? Cukup didoakan dan diberi semangat ya sahabat 


InsyaAllah, hujan ini memberi manfaat…insyaAllah akan menumbuhkan kembali semangat untuk berbuat baik, megevaluasi 2014 dan membuat resolusi besar 2015. Bismillah, semangat ! Man Jadda Wajada

Senin, 01 Desember 2014

Sharing Informasi Hasil Kopdar Beasiswa Erasmus Mundus di Yogyakarta

Alhamdulillah, ini note kedua yang saya buat, setelah note pertama tadi akhirnya hilang karena komputer warnet langsung restart dan data belum di save. Tadi sudah lumayan banyak, tapi agak bertele-tele. Baiklah, yang ini harus to the point ya. 

 https://scontent-a-sin.xx.fbcdn.net/hphotos-xaf1/v/t1.0-9/s526x395/10678785_388591361298588_5581832468340476117_n.jpg?oh=bb5215c379a1a29deb5847bb13b9ecd1&oe=5517ACCE

Jadi ceritanya kemarin sore baru saja diadakan Kopdar beasiswa Erasmus Mundus di Foodpark UGM. Perkenalkan, saya Janu dari UNY, ada mbak Kuni UGM, mbak Endah UGM, mbak Dian UAD, dan Abie UNY. Kami berlima adalah tim kecil yang menginisiasi adanya kopdar ini, semua serba dadakan. Saya berpikir, daripada di grup hanya kebanyakan koment dan pertanyaan “kapan kumpul?”, kenapa nggak langsung ambil inisiatif aja ? Kebetulan juga, mas admin Emundus baru bertandang ke Jogja buat liburan. Oke untuk awalan cukup ya. Note sederhana ini lebih mengupas poin-poin pertanyaan dan jawabannya. Untuk info lengkap beasiswa bisa diakses di http://eacea.ec.europa.eu/erasmus_mundus/index_en.php
 
Kopdar kemarin malam diikuti oleh sekitar 65 peserta, baik dari jenjang S1 sampai S2. Sebenarnya panitia mengantongi 150an pendaftar, namun yang prioritas dapat seat sekitar 60. Mas Yansen dari European Union membuka diskusi bersama Abie. “Sebenarnya info tentang Erasmus Mundus (Erasmus Plus) sudah ada di website,” tutur mas Yansen. Tapi tidak ada salah untuk penjelasan awal. Erasmus Plus adalah bantuan hibah dari Uni Eropa yang bertujuan untuk mendorong dan membuka kesempatan kepada mahasiswa lulusan S1 dan S2 dari negara-negara ketiga untuk mengikuti program Erasmus Plus. Siapa yang dapat turut serta ? Silakan cek https://emundus.wordpress.com/selamat-datang/
 
Apa yang dimaksud dengan EMMC ?
EMMC adalah program-program studi yang terpadu pada tingkat S2 yang ditawarkan oleh Konsorsium Magister Erasmus Plus. Mahasisw akan menjalani masa kuliah di sekurang-kurangnya dua lembaga pendidikan yang IKUT serta dalam program ini, dengan negara berbeda. Otomatis gelarnya nanti ganda. EMMC mencakup berbagai disiplin ilmu, mulai dari mipa, teknik, sosial, humaniora, dan lains ebagainya.

Berapa nilai bantuan beasiswa Erasmus Plus ?
Untuk mahasiswa dari kategori A adalah 24.000 euro per mahasiswa untuk pendidikan 1 tahun atau 48.000 untuk 2 tahun. Kategori B mendapat 10.000 euro untuk 1 tahun dan 23.000 euro untuk 2 tahun. 
EUR 8.000 untuk tuition fee (bukan bagian anda, kemungkinan akan langsung dipotong dari beasiswa) EUR 12.000 untuk living cost selama 12 bulan (mungkin didistribusikan dalam 12 bulan @ EUR 1.000). EUR 4.000 untuk mobility cost (termasuk pesawat dari Indonesia ke Eropa, juga untuk perpindahan antar kota/negara dalam 1 tahun masa studi)

Bagaimana cara mengajukan permohonan beasiswa ?
Langsung ke konsorsiumnya, bukan ke Uni Eropa.
Kapan batas waktu pengajuan permohonan ? Biasanya dibuka sekitar September dan Oktober sampai awal Januari, tergantung programnya. Baca panduannya di http://bit.ly/EM-EMMC untuk daftar EMMC yang tersedia sekarang.

Suasana kopdar (sumber : mas Yansen)

Oiya, Erasmus juga ada action 2 lho. Beasiswa EM terbagi menjadi dua action projects: Action 1-EM Joint Programmesdan Action 2-EM Partnership. Untuk Action 1, kita memilih dulu program yang diinginkan. Masing-masing program sudah terdapat list universitas yang terdaftar di konsorsium program. Dalam masa studi, minimal kita kuliah di tiga universitas di tiga negara berbeda.  In the meantime, Action 2 menawarkan beasiswa program paska sarjana, pertukarang pelajar (satu atau dua semester), dan pertukaran staf (satu bulan). Sebelum mendaftar EM Action 2, pastikan kita tahu terlebih dahulu kita termasuk di Target Group berapa karena ada beberapa Target Group dalam EM Action 2 ini. Target Group  merupakan kategori pendaftar beasiswa. Hal ini dikarenakan Action 2 terjalin melalui program kerjasama dengan beberapa universitas partner. But no worry, everyone has the chance to get this scholarship.

Target Group 1 (TG1) ditujukan untuk mahasiswa atau alumni dari universitas yang termasuk dalam partner universities. Misalnya untuk program LOTUS Unlimited yang merupakan program kerjasama dengan ITB dan UGM di Indonesia. Mahasiswa atau alumni ITB dan UGM termasuk di TG1 untuk program LOTUS Unlimited. Target Group 2 (TG2) ditujukan untuk khalayak umum dari semua universitas yang bukan universitas partnership di TG1. Selain itu, terdapat juga Target Group 3 (TG3) untuk pendaftar dengan keadaan khusus. Misalnya berasal dari daerah yang terkena bencana alam, poverty, dll dan harus menyertakan bukti “keadaan” tersebut. Berbeda dengan Action 1, dengan Action 2 kita hanya berkuliah di satu kampus di satu negara selama masa studi (jadi tidak pindah negara).

Baik, kita masuk ke beberapa pertanyaan yang ditanyakan kemarin ya ? Kebetulan kemarin ada mbak Nabila dari ITB dan mas Steven dari UGM yang juga ikut berbagi ilmu.

Dana beasiswa apakah dibatasi ?
Penjelasan di atas adalah 24.000 euro, tidak diserahkan langsung semua tetapi berangsur, setelah kita membuat rekening di sana.

Kalau dari S1 kependidikan lanjut action 1 yang murni apakah ada peluang ?
Pasti ada, asal kita mau ‘menjual alasan kuat kita kenapa mengambil program itu di motivation letter’.

Kalau mengundurkan diri karena dapat beasiswa lain bagaimana ? Apakah akan dapat black list ? Boleh saja, sampai saat ini belum ada informasi terkait dengan black list EM.

Bagaimana sistem transfer kredit jika ikut action 2 yaitu exchange ?
Tergantung kebijakan jurusannya, rata-rata para alumni bisa sampai 17 SKS.

Kalau ternyata belum lulus dan diminta mengirim sertifikat/ijazah lulus, apakah ada cara lain ? Buat surat keterangan kapan lulus yang disyahkan universitas, atau surat pernyataan secara personal bahwa kita akan lulus pada waktu sekian.

Bagaimana cara daftarnya ?
Langsung ke konsorsium program, bukan ke Uni Eropa. Cek lagi https://emundus.wordpress.com/selamat-datang/ 

Apa saja kemungkinan setelah kita kirim berkas ?
Ada 3 kemungkinan : diterima beasiswa namun tidak diterima program, diterima program namun tidak diterima beasiswa, dan diterima keduanya. Nah, pernah ada kasus ketika EM ternyata tidak memberikan beasiswa, akhirnya bisa diajukan ke LPDP.

Beberapa alumni Action 2 yang hadir (dok:akun Emundus)
Suasana di Foodpark UGM
Syarat berkasnya apa ya ?
Trnskrip nilai (IPK) yang sudah tidak bisa diganggu gugat
Motivation letter (bukan rangkuman CV) penting sekali untuk ‘menjual’ diri, dalam arti menjelaskan sejauh mana pencapaian hidup selama ini dan apa rencan untuk masa depan setelah lulus. Sertifikat, berkas lain silakan cek di website.

Bagaimana untuk memeproleh informasi tambahan ?
Sebelum menghubungi Delegasi Uni Eropa, sangat dianjurkan untuk membaca daftar tanya jawab (FAQ) yang terdapat pada situs ini : http://bit.ly/EM-faq

Selebihnya,acara kopdar diisi oleh sharing para alumni action 2, dan akhirnya ditutup dengan quis untuk pembagian doorprize. Kopdar selesai sekitar Pkl 22.00. Kami mengucapkan terimakasih atas kedatangannya dan mohon maaf ya jika ada kekurangan. Semoga semakin semangat dalam menggapai mimpi kuliah di Eropa, salah satunya dengan Erasmus Plus. 


Keep our dream ! Let's study abroad in Europe ! Hanya mereka yang bersungguh-sungguhlah yang akan mencapai target impian :)


Semoga semangat kemarin malam tidak lekas padam, tetap nyalakan dengan follow up dan persiapan aplikasi, itung-itung memperbaiki IPK dan motlet. 
Fighting !

Referensi  : 
https://emundus.wordpress.com/
http://eeas.europa.eu/delegations/indonesia/more_info/erasmus_mundus/index_id.htm
indonesiamengglobal.com/
 
Tim kopdar dadakan (Dina,Janu,Abie,Endah,Kuni,Yansen,Qonita/depan)
Mbak Nabila dan Mas Steven baru sharing, semangat banget!

Minggu, 30 November 2014

Sehari Menjelajahi South Bank

Kota Brisbane yang merupakan ibukota negara bagian Queensland belakangan ini mulai menarik perhatian wisatawan karena memiliki banyak sekali tujuan wisata khas perkotaan yang memberikan nuansa dan pengalaman baru yang beda dan tak biasa dari kota-kota lainnya. Jika mencari kawasan wisata yang menyediakan banyak sekali alternatif objek wisata di kota Brisbane maka kawasan South Bank lah jawabannya. South Bank yang punya julukan sebagai Cultural Precinct di Brisbane yang tentunya juga menjadi kawasan wisata utama di sini. 


Ketika mengikuti homestay di Australia ini, saya menargetkan harus mengeksplorasi kawasan South Bank seharian. Hari Kamis kemarin, 20 November 2014 menjadi jawabannya. Hampir seharian saya menjelajahi South Bank dan mengunjungi berbagai spot seperti Parkland, Art Galery, State Library of Queensland, Museum, pantai buatan, dan berbegai taman yang ada. South Bank adalah salah satu kawasan utama di kota Brisbane yang masih ada di sekitaran Brisbane CBD sehingga mudah dicapai dengan berbagai alternatif transportasi. Apalagi South Bank juga menjadi area yang dijangkau oleh Brisbane River yang memang sudah sangat populer. 

Kita bisa mengakses South Bank Parkland dengan menggunakan kereta, bis, City Cat ataupun Ferry bahkan bisa juga mencoba untuk datang ke sini dengan Green Cabs yang ramah lingkungan. Lebih ramah lingkungan lagi jika kita menuju South Bank Parkland dengan berjalan kaki. Hari itu, saya menuju South Bank dengan jalan kaki, selain karena menyehatkan, juga karena melihat kantong yang semakin menipis. Sesampainya di sana, saya mengunjungi objek-objek menarik yang memikat mata dan membuat betah seharian di sini. 

 
Pengalaman saya di museum misalnya, di sana tersedia banyak koleksi yang masih sangat terawatt. Betapa pedulinya pemerintah di sini untuk menjaga benda-benda purbakala, termasuk berbagai fosil. Saya pun melihat banyak anak-anak seusia TK yang berkunjung, kalau di Jogja ya seperti Taman Pintar. Ketika di perpustakaan, saya terkesan dengan perpustakaan yang sunyi karena semua pengunjung benar-benar fokus membaca, tidak untuk mengobrol. Koleksinya banyak dan terawatt, termasuk fasilitas computer dan internet yang free access untuk semua pengunjung. Saya yakin karena sistem pelayanan di sini yang baik, menjadikan pengunjung betah menghabiskan waktu sampai malam.


Selanjutnya, saya pun mengunjungi geleri seni. Di sana banyak sekali koleksi seni, baik dari Australia dan luar negeri. Ketika mengunjungi galeri suku Aborigin, saya terkejut, ternyata ada banyak kemiripan ya dengan karya seni dari Irian Jaya atau Indonesia bagian timur. Saya pun terkesan ketika pengunjung di sini banyak yang datang, yak arena memang cara pengemasan ruangan yang unik dan gratis tiket amsuk.

 
 
Sudut lain di South Bank yang tidak boleh terlewatkan adalah mengunjungi Parkland. South Bank Parkland dulu merupakan areal untuk World Expo 88 yang akhirnya diubah menjadi areal seperti sekarang yang bisa diakses oleh publik sejak tahun 1992, tepatnya pada tanggal 10 Juni. Areal taman ini terdiri dari perpaduan hutan hujan tropis yang simple di tengah perkotaan dengan elemen air yang cukup mendominasi karena berada di tepian Brisbane River dan juga banyak sekali area rerumputan yang tentunya bisa digunakan untuk piknik. 

Selain itu areal ini juga menjadi tempat di mana adanya objek-objek wisata lain unggulan kota Brisbane seperti Wheel of Brisbane, Nepal Peace Pagoda, Suncorp Piazza, Street Beach, dan juga menjadi area tempat untuk Queensland Conservatorium dan Griffith University. Karena menjadi pusatnya aktivitas wisata di kota Brisbane ditambah lagi dnegan seringnya diadakan event-event menarik di sini maka ada sekitar 11 juta orang akan mengunjungi South Bank Parkland setiap tahunnya (sumber http://jalan2.com). Beberapa festival tahunan yang punya skala besar di Brisbane yang diadakan di South Bank Parkland antara lain Australia Day Festival, Riverfire, Brisbane New Year’s Eve Celebration, dan masih banyak lagi.

Selain memang menjadi lokasi beberapa objek wisata paling populer di Brisbane, South Bank Parklands juga pernah memiliki areal yang punya fungsi sebagai konservasi seperti adanya Gondwana Rainforest Sanctuary yang menyimpan bebagai endemic flora dan fauna khas kawasan tropis namun akhirnya ditutup pada tahun 1998, dan pernah juga ada Butterfly and Insect House yang lebih dikenal juga sebagai South Bank Wildlife Sanctuary dan juga ditutup pada tahun 2005. 

Semua itu memang semakin melihat fakta bahwa status South Bank Parkland ini lebih ke taman kota dengan gaya urban yang menjadi tempat masyarakat menghabiskan waktu santainya sambil menikmati pemandangan. Nuansa taman yang sebagi besar area ditumbuhi bunga yang ada di atas gapura atau gerbang sehingga semakin menguatkan kesan bagiamana lifestyle urban bisa berpadu serasi dengan alam. Demikian cerita saya ketika seharian menjelajahi kawasan South Bank. Semoga dapat berkunjung kembali pada kesempatan yang jauh lebih baik. Salam berbagi !


Brisbane, 21 November 2014
Janu Muhammad