Ged a Widget

Sabtu, 30 November 2013

Lima Belas Tim yang Menginspirasi


Perjalanan menuju AIC 2013 semakin membuat saya semangat. Kereta Pasundan menghentikan langkahnya di Stasiun Surabaya Gubeng Lama pada Pkl 20.00 WIB. Di sana sudah ada Caka, panitia yang bertugas menjemput peserta. Saya sama Akhsin naik mobil bersama kontingen dari UGM. Kami segera menuju asrama haji Surabaya, tempat di mana selama 4 hari ke depan kami berteduh. 



Sesampainya di asrama, kami sudah disambut panitia yang stand by di loby depan, di meja registrasi. Kami tanda tangan kehadiran dan disodorkan kartu peserta AIC. Setelah itu, kami makan malam, menunggu TM susulan. Ketika TM tiba, beberapa pertanyaan muncul, salah satunya adalah tentang pengumpulan slide presentasi. Ternyata harus dikumpulkan maksimal Pkl 23.00 WIB, padahal saya sama Akhsin belum membuatnya 100%. Sontak kami langsung menuju masjid u untuk sholat dulu, dilanjutkan dengan pembuatan ppt. Sekitar pas Pkl 23.00 WIB kami menyerahkan hasil ppt ke panitia dan langsung menuju kamar 118 dan 119.
Saya menempati kamar 118, di sini ada mas Andry dari UNHAS, mas Ghufran dari UGM, mas Andika dari UNDIP, dan mas Aris dari UNAIR. Saya disampbut dengan hangat oleh teman-teman di sini. Kami langsung berkenalan satu sama lain. Beberapa menit kemudian, kami pun terlelap untuk mengistirahatkan diri. Namun, Andika masih saja sibuk dengan persiapan timnya untuk presentasi besok.



Jumat, 29 November 2013 menjadi hari yang bersejarah. Kami hari ini siap menuju aula Rumah Sakit Penyakit Tropik dan Infeksi Universitas Airlangga untuk pembukaan The 3rd Airlangga Ideas Competition. Pada acara pembukaan, diberikan sambutan dari ketua panitia, pembina UKM Penalaran, dan WR I UNAIR. Ternyata, UKMP di sini sudah berusia 22 tahun, saya kira sudah cukup dewasa. Setelah pembukaan, dilanjutkan dengan presentasi karya tulis mahasiswa dan siswa. Bagi yang mahasiswa tetap berada di tempat, bagi yang siswa di aula student center.
Sekitar Pkl 09.00 WIB kami memulai presentasi karya tulis. Ada 15 tim yang akan menginspirasi, mulai dari tim UNY, UGM, UNDIP, IPB, UNEJ, UNS, UNAIR, UNHAS, UNM, UNBRAW, UAD, dan Poltekes Surakarta. Jika dilihat dari kualitasnya, tidak bisa diragukan lagi. Ke-15 tim ini adalah tim terbaik dari 154 tim yang mengirimkan karya tulis. Nantinya,akan dipilih 6 besar tim terbaik yang akan menyandang gelar jawara. Ketiga dewan jurinya adalah Pak Imron, Pak Purwo, dan Bu Riri. Ketiganya merupakan orang yang sanfat kometen dengan bidang ketahanan pangan, pertanian, maupun kebijakan. 



Sistem presentasi adalah melalui undian. Undian pertama diambil oleh dewan juri dan undian berikutnya diambil oleh peserta sebelumnya yang akan tampil. Universitas Brawijaya mendapatkan undian pertama yang mempresentasikan karyanya selama 10 menit dilanjutkan Tanya jawab 10 menit. Selamat ! Mereka mempresentasikan karya tulis dengan judul H-JEPIVIT: MODIFIKASI JELLY YANG DIPERKAYA DENGAN NANAS, KULIT PISANG, DAN JAMUR TIRAM SEBAGAI SOLUSI MALNUTRISI PENDERITA HIV BERBASIS TEKNOLOGI NANOENKAPSULASI.
Presentasi kedua dilaksanakan oleh tim dari UNHAS (timnya mas Andri teman se-kamar saya) dengan judul PERAN “PALLONTARA” SEBAGAI ASET DAERAH DALAM MENENTUKAN JADWAL TANAM DAN POLA TANAM PADI YANG TEPAT DALAM RANGKA MENJAGA STABILITAS PRODUKSI PADI DI SULAWESI SELATAN. Saya dapat ilmu baru dari karya ini. Ternyata di daerah Sulawesi Selatan masih ada saja ramalan atau prediksi cuaca dengan bantuan Pallontara atau seseorang yang mampu meramalkan cuaca dengan membaca tanda-tanda alam. Ini berhubungan dengan mata kuliah Meteorologi dan Klimatologi di kuliah semester 1 saya J
Presentasi dilanjutkan sampai urutan ke-6, lalu kami ishoma dan sholat Jumatnya di masjid FKH. Setelah sholat Jumat, kami makan dan melanjutkan presentasi. Beberapa jam kemudian….ketika harapan itu masih ada.
Tim dari UNY akhirnya maju di urutan 14, wow !!! ~~
Saya Janu Muhammad dan Akhsin Rustam Aji mempresentasikan karya berjudul “REVITALISASI KEBIJAKAN PERTANIAN KEDELAI UNTUK KETAHANAN PANGAN INDONESIA DALAM MENGHADAPI AFTA 2015”. Menurut kami, ini karya yang beda dari peserta lainnya. Mengapa, memang ya dari tadi karya-karyanya berupa produk makanan sebagai diversivikasi pangan, malah ada yang sejenis PKM-K :3 Alhamdulilllah kami bisa mengangkat subtema dan judul yang berbeda. Kami lebih mengkritisi dari segi kebijakan ketahanan pangan. Waktu presentasi pun berjalan, kami menyampaikannya dengan setulus hati meski waktu 10 menit membatasi. Kemudian komentar dawn juri, bla bla blab la. Challenges, inspriring deh ! Kami sudah berusaha maksimal untuk menyampaikan gagasan ini agar sampai di hati hadirin.


Setelah semua peserta presentasi, dilanjutkan ada meet and judge oleh dewan juri. Pasti bakalan dapat banyak masukan lho, apalagi dari juri yang ibu-ibu itu :3 Sore harinya setelah acara di aula selesai, kami pulang ke asrama. Malam harinya, singkat cerita ya, kami mengikuti gala dinner di Pantai Sea Food, semacam rumah makan di dekat asrama. Malam itu juga yang menjadi moment kebersamaan para finalis, panitia, juri, maupun dari UKMP UNAIR. Pada malam itu kami bisa saling bercanda. Batin saya mengatakan “Ternyata saya bersama orang-orang hebat di sini, dengan segudang prestasi dan inovasi. Mereka adalah mahasiswa terbaik dari kampusnya. Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah atas nikmat ini”. Pada kesempatan itu pula saya menyampaikan salam hangat dari Yogyakarta untuk para peserta AIC dan tentunya untuk kota Surabaya. Lega rasanya malam itu saya bisa merefleksikan diri, berdiskusi, dan tentunya mengambil inspirasi dari orang-orang di sini. Sampai akhirnya kami kembali ke asrama sekitar Pkl 22.00 WIB. Perjalanan AIC masih panjang, hari esok telah menanti. Selamat bertemu di hari ketiga ya !




Enam Lampu Hijau Sambut AIC 2013


Siang itu sekitar Pkl 13.00 saya pamit keluarga. Selama empat hari ke depan ini, saya akan merindukan rumah tercinta, meninggalkan kamar inspirasi untuk sementara waktu. Tiba saatnya saya akan memulai perjuangan dalam kegiatan final LKTI Airlangga Ideas Competetion (AIC). AIC merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh UKM Penalaran Universitas Airlangga. Dalam pandangan saya, AIC adalah ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah yang sangat kompetitif. Pasalnya, untuk tahun 2013 ada 154 karya yang masuk dan diambil 15 terbaik yang masuk babak final. 

Perjalanan siang itu cukup menenangkan, alhamdulillah diberikan kelancaran. Namun, ternyata tantangan itu mulai muncul. Di jalan magelang saya menemui kemacetan lumayan panjang. Memang benar jalan ini selalu macet di jam-jam sibuk. Tetapi saya beruntung, untuk dua traffic light menyala lampu hijau terus. Setelah sampah di perempatan Monjali, langkah saya terhenti karena traffic light menyala lampu merah. Jam tangan saya terus berputar, tinggal 15menit lagi saya harus sampai di stasiun Lempuyangan untuk naik kereta Pasundan. Jadwal keberangkatan kereta yang akan menuju Stasiun Gubeng Surabaya adalah Pkl 13.43 WIB. 


Kemacetan parah saya temui di ruas jalan Monjali, antrean panjang kendaraan roda 4 menghiasi sepanjang jalan itu. Alhamdulillah, lampu lalu lintas di pertigaan jembatan UGM menyala hijau. Saya kembali tersenyum lebar karena masih ada harapan untuk sampai stasiun tepat waktu. Senyum saya bertambah lebar ketika traffic light di perempatan Jetis juga menyala hijau, alhamdulillah. Sebentar lagi saya sampai di Tugu Jogja, di sana cukup ramai namun lagi-lagi Allah menunjukkan jalan saya agar saya segera sampai Lempuyangan. Lampu kembali menyala hijau. Saya kemudian mengerem sepeda motor dan berhenti sejenak di pertigaan jalan Sudirman, yang biasanya untuk car free day. “Tinggal 5 menit” waktu saya menuju 13.43. Saya pacu kendaraan kembali, lampu hijau juga menyala di perempatan Kotabaru dekat gramedia. 


Suasana sudah dag dig dug, karena waktu semakin mepet. Tiba-tiba saya sudah sampai di parkiran motor “terlindungi” dekat Lempuyangan dan memarkir motor saya di sana. Saya lari, berpacu dengan waktu. Ketika sampai di TKP, Ya Allah teman saya Akhsin juga belum sampai. Padahal, kereta sudah mau berangkat. “Pak, keberangkatannya ditunda 10 menit lagi ya Pak” pinta saya kepada petugas kereta. Batin saya mengatakan bahwa, Akhsin baru dalam perjalanan. Saya percaya dia akan datang, meski sudah saya missed call 9x namun juga kunjung datang. Allah..Allah..Allah, 30 detik terakhir sebelum kereta berangkat, Akhsin menampakkan batang hidungnya. Dengan nafas terengah-engah dia menyodorkan sepucuk tiket kereta. Kami langsung naik dan masuk, tanpa security check atau ticketing dulu. “Alhamdulillah, legar rasanya” batin saya. Yang memuat perjalanan awal ini mengesankan adalah ketika saya berada dalam ketidakpastian ataupun kegalauan menunggu sahabat saya, namun ternyata keyakinan dan prasangka baik mampu mengalahkan kegalauan itu. Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya.



#RefleksiMahasiswaEsSatu saya mengatakan :

Ketika ingin bepergian : persiapan matang, jangan menunda waktu keberangkatan, berpikir positif dalam setiap keadaan, dan pastinya adarasa "trust" kepada teman :)

Senin, 25 November 2013

Guru Iku Digugu lan Ditiru (Refleksi Hari Guru)

Jadi ceritanya hari ini saya pulang kuliah agak awal, sekitar Pkl 17.00. Saya sampai rumah Pkl 17.50 WIB, setelah itu sholat Maghrib dan sekitar Pkl 18.30 langsung mengajar. Ya, sekitar sebulan ini saya mulai mengajar les privat, tidak jauh dari rumah. Berhubung adeknya itu mau ujian, ya memang mengharuskan ada tambahan hari. Materinya tadi adalah IPA untuk SD. Setelah selesai, saya pamitan pulang lalu mampir ke suatu warnet mewah (mepet sawah), maklum saja daerah kami masih ndeso, namun listrik sudah ada kok. Saya hanya bisa ngenet di sini karena modem baru eror.
Saya baru membaca buku IM ini, inspiratif !

Langsung teringat, ada yang berbeda tampaknya hari ini. Sewaktu kuliah Etika Profesi Guru pagi tadi, saya sempat mengucapkan "Selamat hari guru teman2ku..." sebelum saya menyampaikan pertanyaan kepada kelompok penyaji makalah. Ya, hari ini miladnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Ada yang belum mengerti sejarah PGRI ? Meri kita menengok sejarahnya.
"Ternyata, semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945-seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia-Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan." (http://fkip.unila.ac.id/2013/11/24/sejarah-hari-guru-nasional-25-november/)
Guru itu Mulia

Itu tadi sejarah hari guru ya, ternyata memang sudah lama terbentuk PGRI. Baiklah, kalau diruntut melalui tali sejarahnya, guru terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Fenomena dan peristiwa yang dialami para pendidik di Indonesia beraneka ragam. Mulai dari kesejahteraan guru yang masih dipertanyakan, sertifikasi guru, dan tentunya kesejahteraan guru. Mata saya mulai terbuka, ketika saya memikirkan : untuk apa guru ada, apa perannya untuk kita dan Indonesia, bagaimana cara menjadi guru ideal dan menjadi teladan ? Pertanyaan ini cukup berat, bukan kapasitas saya untuk menjawab, namun izinkan saya berargumentasi ya.

Generasi Emas Indonesia #IndonesiaMengajar


Guru adalah seorang manusia yang mengabdikan dirinya sebagai hamba Allah untuk menyampaikan ilmu-ilmu bermanfaat. Melalui orang mulia seperti guru ini, sebuah ilmu akan tersampaikan dan kita menjadi tahu apa saja yang ada di dunia ini. Guru ada untuk berbagi. Guru ada untuk mendidik dan membina dengan hati. Guru sejati itu guru yang menurut saya mampu mengayomi. Masih ingat dengan arti guru itu sendiri adalah 'digugu' lan 'ditiru' atau menjadi contoh yang baik, mulai dari perkataannya, sifatnya, maupun perbuatannya, Pada intinya, guru memberi teladan baik bagi siswa-siswanya.

Guru berperan penting untuk kita. Guru mengajarkan peserta didiknya untuk memahami ilmu sehingga mereka akan menjadi manusia yang berilmu dan mau mengamalkan ilmunya di atas jalan kebenaran. Guru membina dengan hati, membentuk generasi emas untuk memajukan negeri ini. Apalah daya, jika tanpa peran seorang guru mungkin negeri ini tak bisa maju seperti saat ini. Guru juga sebagai aktor yang melunasi janji kemerdekaan, seperti yang dikatakan mas Anies Baswedan untuk 'mencerdaskan kehidupan bangsa'. Jika tanpa guru, oleh siapa pendidikan negeri ini akan dibangun ?

Guru memberi teladan, seperti kata Ki Hajar Dewantara..'tut wuri handayani'. Sebaik-baik cara untuk mendidik orang lain adalah dengan memberi contoh yang baik, 1000 nasihat tak ada artinya daripada 1 keteladanan, ini yang utama. Guru mampu memberikan contoh akhlak baik, lisan yang terjaga, dan tindakan yang sesuai tata krama. Bukankah ini akan lebih mulia ?

Bukan untuk menjadi guru yang lupa waktu, guru yang datang terlambat, atau guru yang menjadi sorotan media masa, bukan.

#RefleksiMahasiswaEsSatu
Bahwa menjadi guru bukan perkara mudah, bukan juga perkara sulit. Tinggal bagaimana, diri kita mampu memposisikan diri dengan baik, meluruskan niat bahwa #berbagi ilmu itu indah, #berbagi kebaikan itu yang paling utama, dan bersyukur karena kita sudah diberi kesempatan merasakan pendidikan itulah yang mulia.

Bersyukur dan berbagi, saya sudah diberi kesempatan untuk tahu seluk beluk siapa itu guru, melalui ilmu-ilmu yang telah diajarkan oleh bapak ibu dosen. Ya, saya dan teman-teman ingin sekali memajukan negeri ini, membuat Indonesia Tersenyum dengan kontribusi kami untuk pendidikan. Kami ingin generasi setelah ini jauh lebih baik, dengan peran serta kami para calon pendidik. Kami ingin sekali melunasi janji kemerdekaan, dengan mengabdikan diri untuk berbagi ilmu untuk Indonesia tercinta.

 
Selamat mendidik, bakti pengabdianmu untuk bumi pertiwi. Terimaksih bapak ibu guruku TK ABA Kendangan, SD N Dalangan, SMP N 1 Sleman, SMA N 2 Yogyakarta, bapak ibu dosen P.Geografi UNY, dan semua kawan-kawan yang selama ini mengingatkan Janu.

Mari buat Indonesia Tersenyum bersama-sama :)

Janu Muhammad
Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta 2011
"Man Jadda Wa Jada"

(sedikit coretan yang menjadi refleksi bagi diri penulis)

Jumat, 22 November 2013

My Summer School Utrecht Effect


Kanal Khas Amsterdam
Bismillah, jadi ceritanya begini...

Effect-> Pasca Janu diberi kesempatan menghirup udara di Belanda selama kurang lebih dua minggu itu, banyak orang-orang baru yang menghubungi saya, entah lewat sms, inbox fb, twitter, email, maupun media lainnya. Pada intinya : teman-teman baru saya itu sangat-sangat tertarik mengikuti jejak saya untuk pergi ke Belanda. FAQ nya antara lain ?
1. Bagaimana caranya bisa ikut Summer School ?
2. Apa saja syarat-syaratnya ya ?
3. Biayanya bagaimana ?
4. Ada beasiswa tidak ?
5. Butuh syarat TOEFL berapa kak ?
dan pertanyaan-pertanyaan lain yang selalu muncul :)

Will you be the next Indonesia's Delegation

Baik, saya mencoba menjawab satu per satu, karena saya juga hanya manusia biasa yang berniat membantu. Tetap, tidak mungkin semuanya harus saya yang menjelaskan bukan ? Apakah harus disuapi terus ? Tidak mencoba membuka websitenya dulu di http://www.utrechtsummerschool.nl/ ? :)
I love cycling, everyone love it

Our Poster Presentation

Mari belajar mendewasakan diri dan mandiri. Saya dahulu juga hanya mencoba satu demi satu langkahnya, hingga saya temukan cara sendiri bagaimana saya bisa meraih mimpi itu kawan :) Ingatlah, setiap orang punya MIMPI, CARA, dan STRATEGI nya masing-masing, yang bisa saya lakukan hanya memberi tahu garis besarnya, selanjutnya silakan INISIATIF menelusuri lebih jauh ya ? :)
A small canal in Rotterdam
Dom Tower : I will come back !


Mari bertanya kepada diri kita dulu :
1. Apa tujuan Anda mengikuti Summer School Utrecht 2014 ini ?
2. Apakah niat Anda sudah bulat ? Sudah lurus ?
3. Sudah siapkah berjuang sampai titik darah penghabisan ?
4. Sudah siap dengan segala risikonya ?
5. Apa modal Anda sampai saat ini ?
6. Apakah Summer School ini sesuai dengan tujuan dan target hidup Anda tahun besok ?
7. Apa dampaknya untuk Anda ?
8. Sudah konsultasi dengan orang tua ?

Semoga saja 8 pertanyaan tadi menjadi pemantik kebulatan teman-teman bagi yang NIAT dan mau BERJUANG secara totalitas :) Silakan bisa dibuka kisah-kisah perjuangan saya pada postingan bulan juli sewaktu di Belanda. Semoga bisa membantu dan tetap bersemangat... Summer School Utrecht 2014 telah di depan mata ! 
Main Building Utrecht University
Memory Cycling Tour

InyaAllah pengalaman 2 minggu di Belanda kemarin menjadi bekal saya untuk mempersiapkan master dan doktor di Human Geography and Planning, Faculty of Geosciences, Utrecht University...aamiin, mohon doanya nggih :)

#RefleksiMahasiswaEsSatu
#AkuBisaKuliahdiBelanda


"My Summer School Utrecht Effect"

Regards,

-Janu-

Minggu, 17 November 2013

Di National Education Conference 2013 Kami Bertemu

Bismillah...
"Dalam  perjalanan  sejarah  umat  manusia, pendidikan memegang peranan penting. Ia adalah minyak, sumbu sekaligus api keberlangsungan peradaban. Pendidikan mewarisi nilai-  nilai kultural, spiritual  dan intelektual dari sebuah masyarakat untuk generasi selanjutnya. Pendidikan pun bertujuan untuk mempertahankan eksistensi umat  manusia, agar ia bisa bertahan sekaligus melestarikan langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya. Bahkan pendidikan melakukan fungsi perlawanan bagi bermacam tirani serta tindak tanduk otoritarian. Pendidikan membebaskan, dengan berakar dan bertirai  nilai-  nilai yang melekat pada suatu unsur masyarakat.Di Indonesia, pendidikan jauh lebih tua dari umur negara itu sendiri. Ia lahir, tumbuh dan berkembang bersamaan dengan bergeraknya masyarakat. Dalam konteks perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme, pendidikan berperan menjadi pelita saat gelita, dan kanal dalam banal. Ia mengikat perjuangan yang terurai dan membuka gerak perlawanan yang tersumbat. Ia adalah sumber mata air kemerdekaan. Hanya saja, seiring bertambahnya usia republik ini, tidak  tampak Indonesia menjadi raksasa dan mampu bersaing di dunia internasional. Bahkan dalam kacamata globalisasi, negeri berumur 68  tahun ini tampak terasing di dalam sebuah kampung kecil dengan batas-  batas yang makin tipis. Ia bahkan diramalkan, sedang terperosok, gagal dan akhirnya tidak mampu mengejawantahkan cita- cita besar pendirian negara."

Paragraf di atas adalah petikan dari latar belakang diadakannya National Education Conference 2013 di UPI Bandung. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari kegiatan ini. Sahabat, jadi ceritanya saya ingin melanjutkan kisah saya sebelumnya di #NEC2013. Mari kita mulai :)

Hari ke-1 :D
Pagi itu, saya menghabiskan waktu di perpustakaan pusat UPI sambil menunggu acara pembukaan Pkl 13.00 nanti. Saya menikmati suasana perpustakaan yang sepertinya lebih modern dari kampus UNY. Saya mempersiapkan bahan presentasi paper di media power point. Setelah dirasa cukup, saya melanjutkan perjalanan dengan mengunjungi gedung FPMIPA, tempat di mana saya akan bertemu orang-orang hebat nanti. Langkah kaki saya tertuju ke depan gedung auditorium, ada beberapa panitia yang sudah stand by, namun ternyata registrasi ulang belum dibuka. Saat itu, saya langsung ke mushola lantai bawah untuk menunaikan ibadah sholat Dzuhur. Alhamdulillah, sungguh bersyukur sekali bisa merasakan air wudhu di Bandung (dingin dan segar). Setelah sholat, kini saatnya ke auditorium. 
Senyum dulu... :3

Pkl 13.00 WIB kami mulai registrasi ulang, sekali lagi saya belum bisa menyangka bahwa saya bisa datang ke sini (sendirian) seperti saat ke Belanda. Sudah sudah, lanjut saja ya ? Acara dimulai sekitar Pkl 13.30 WIB dengan pembukaan. Ada yang berbeda...subhanallah, saya mendengar lantunan ayat suci Al Qur'an di #NEC2013 ini. Ini acara nasional yang pertama bagi saya dengan adanya tilawah di pembukaannya, alhamdulillah semoga empat hari ke depan lebih barokah. Dua MC yang ada di depan juga ramah-ramah, ya itu sudah jadi tugas MC kali ya ? Mereka berdua sempat mondar-mandir juga untuk menyapa peserta, ada yang dari UNY, UNAIR, UNNES, UI, UNHAS, dll, hampir seluruh Indonesia. Baik, secara resmi #NEC2013 dibuka oleh bapak rektor UPI dengan tabuhan gong pembuka. Alhamdulillah, acara telah resmi dibuka. Di sela-sela kegiatan hari pertama, saya mendapat kenalan baru seperti Farizqo dari UNNES, Anggi yang sudah ke-3 kalinya kami bertemu, dan berbagai teman dari universitas lain. Alhamdulillah, di #NEC2013 kami bertemu. Agenda selanjutnya adalah penyampaian sesi 1 oleh rektor UPI Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd.sebagai keynote speaker. Setelah itu dilanjutkan dengan tema ICT for education. Hari pertama usai, hikmahnya : ilmu baru, teman baru, semangat baru ! Mari persiapkan untuk hari esok ! Saya dan Saddam berpulang ke rumah agak malam, dengan sedikit gerimis ya di Kota Bandung, sampai di sekitar Jl. Turangga kalau tidak salah, kami sampai di rumah kang Saddam daannn...istirahat. 
Kontingen UNY
Hari ke-2 :D
Hari kedua ini banyak materi baru, ilmu baru, dan tentunya paper challenge dimulai !!! Kami mendapat banyak materi dari orang-orang hebat, tentunya yang berhubungan dengan pendidikan. Siang hari sebelum ibadah sholat Jumat, presentasi paper dimulai, saya dapat di sesi 4 urutan pertama, wow. Artinya, saya masih maju nanti sorenya. Teman-teman papernya bagus-bagus, kreatif, dan inspiratif, ya jelas. Semua yang lolos di #NEC2013 adalah paper pilihan dan dipilih untuk dibagikan ilmunya :) Baik, ternyata presentasi belum bisa selesai, saatnya ibadah sholat Jumat. Kami (saya, Bayu anak UNJ, Saddam, Ma'ruf Instiper dan Farizqo) menuju ke masjid UPI. Subhanallah ya, masjidnya besar dan modern hehe. Setelah sholat Jumat, kami kembali ke auditorium dan menikmati sajian makan siang (soal makan pasti terjamin kok). Selanjutnya kami mengikuti sesi materi sampai Ashar, kemudian presentasi lagi. Saya siap, presentasi saya berlangsung sekitar 13 menit, lumayan lama ya karena saya sendirian mungkin. Di sana ada mas Roby Awaludin sebagai dewan juri, sepertinya masih mahasiswa namun angatan sekian. Di satu ruangan pula saya bersama tim UNY seperti mbak Tri Hardiyanti dkk, sama Fariz dan Anggi, ada kenalan mas Wahyudi, Saian, Nuzul dan Angga dari UI, mas Agi dari UPI dan lain-lain, semua kenalan baru :D 

 
Sedang serius :3

Oiya, saya mempresentasikan paper yang berjudul “Penguatan Identitas Melalui Mentoring Smada  (Studi Kritis Atas Pendidikan Karakter Berbasis  Mentoring di SMA Negeri 2 Yogyakarta)”. Ini adalah paper hasil penelitian kami (saya, Kholik, Ana) dari UKMF Penelitian SCREEN yang mendapat hibah penelitian Fakultas Ilmu Sosial. Setelah presentasi selesai, kami pulang. Saya membonceng kang Saddam (lagi) ditemani hujan deras di Bandung (sempat tidur di motor sepertinya, maaf ya Saddam). Sesampainya di rumah, kami berbincang-bincang sampai ke mana-mana, sempat cerita pengalaman di Belanda juga ke Saadam Wijaya.
Angklung PGSD pagi itu :)

Nah....
Oleh-Oleh bukunya....inspiratif !

#Hari ke-3 :D 
#Dapet pin juga ya teman2 hehe
Hari Sabtu ini, kami agendanya sangat padat. Hari itu ada seminar nasional Gerakan Indonesia Juara dan sesi materi yang super padat namun asik. Gerakan Indonesia Juara ternyata penggagasnya adalah mas Arif (alumni UNY) lho, kami sempat ambil gambar bersama (foto). Hari ke-3 ini juga adalah momen-momen malam terakhir sekaligus pengumuman best paper. Malamnya, kami gala dinner atau makan malam lebih pasnya di Isola resort. Jujur ya, makanannya mantabbbb :D Semua rasa dan canda tawa tumpah ruah di malam terakhir ini, di malam itu juga kami launching grup NEC Batch 1 yang harapannya bisa menjadi media komunikasi kami. Beberapa menit kemudian, kami di ruang utama untuk me#refleksikan diri dari acara yang sudah dilalui, memabgi menjadi 4 kelompok untuk persiapan deklarasi Bandung esok pagi. Kami berdiskusi, apa yang harus kami deklarasikan besok, ini bukan hal mudah, menyangkut komitmen dan janji ! Alhamdulillah, kami sudah menyerahkan hasil diskusi ke panitia. Kini, tibalah pengumuman juara paper...... Ini dia moment-moment penting dan genting. 
Juara 3 adalah tim dari......................UI
Juara 2 adalah tim dari......................UNY
Juara 1 adalah tim dari......................UNAIR
Selamaattttt

SELAMAT untuk 3 tim terbaik dari yang terbaik, semoga barokah !
Malam itu kami tutup dengan sholawatan (ya bukan lah), dengan salam-salaman (saya tidak salaman dengan yang akhwat pokoknya). Pulang-pulang sampai kamar langsung cerita-cerita sama Saddam,hahaha :o

#Hari ke-4 :D

Hari keempat ini tidak bisa diungkap dengan kata-kata, kami fieldtrip dan sayonara :(
Hari ini pula saya berpamitan dengan keluarga mas Saddam, sedih rasanya.
Ya Allah, semoga apa yang kami ikhtiarkan di #NEC2013 ini bisa menjadi bekal kami dalam membangun pendidikan di Indonesia emas 2045. Semoga amal kebaikan panitia, peserta, pembicara, dan tentunya keluarga besar mas Saddam yang sudah memberikan ruang untuk saya diterima Allah, dibalas dengan rezeki yang lebih baik,aamiin.
Saya sama bro Saddam
 
Kami #bertemu di Saung Angklung Udjo


Bukan boyband biasa, hidup mahasiswa !
Pasca Deklarasi di Monumen Perjuangan

#RefleksiMahasiswaEsSatu
Di National Education Conference 2013 Kami Bertemu
Kami akan bertemu kembali
Bersama pendidikan Indonesia yang semakin lebih baik
Semoga kami bisa #berbagi #bersyukur kepada Illahi
InsyaAllah perjalanan saya akan berlanjut, berlabuh ke kota pahlawan,
Esok tanggal 28 telah menanti, UNAIR kami datang ! :)

Alhamdulillah, akhirnya bisa nulis cerita ini, suka duka selama perjalanan di Bandung dengan kereta Kahuripan yang membuat jantung deg-degan, sampai bertemu di perjalanan saya selanjutnya ya :)
Salam hangat,


-Janu-