Ged a Widget

Sabtu, 28 September 2013

Tertarik Studi di Belanda ?

Bismillah, malam ini saya akan share artikel yang berkaitan dengan studi di Belanda.
Sahabatku, ada yang tertarik ke luar negeri ? Belanda ? Amerika ?  :) Kali ini saya ingin berbagai cerita atau gambaran jika ingin kuliah di Belanda. 

Dunia di luar adalah sebuah tempat yang besar”, ujar warga Belanda yang menyadari betapa kecilnya negara mereka. Walaupun ukurannya kecil, Belanda memiliki tradisi budaya yang kaya.

Belanda atau Netherlands?

Kerajaan Netherlands terdiri dari negara Belanda sendiri dan enam kepulauan Aruba dan Netherlands Antilles di Laut Karibia. Nama resmi negara ini adalah Nederland yang berarti 'negara yang berada di tanah rendah', karena sebagian besar tanahnya berada atau di bawah ketinggian permukaan air.
Dewasa ini, Belanda juga dikenal dengan 'Holland', nama yang merujuk pada dua provinsi yang terletak di pesisir barat, Holland Utara dan Selatan yang merupakan bagian paling berkembang dan terkaya selama abad ke-17.

Masyarakat

Selama beberapa dekade, ikatan sejarah negara ini dengan bagian-bagian lainnya di dunia telah membawa banyak warga asing yang menetap di Belanda membawa beberapa ide dan budaya mereka sendiri. Ini membuat Belanda secara umum menjadi bangsa yang berpikiran terbuka dan toleran. Masyarakat Belanda kini menjadi tempat asal bagi lebih dari 190 bangsa yang berbeda.
Walaupun Belanda menjadi bahasa nasional, sebagian besar orang juga berbicara bahasa Inggris dan seringkali bahasa asing lainnya seperti Jerman atau Prancis.
Karakteristik lain dari orang Belanda adalah keterbukaan dan perilaku lugasnya. Anda dapat berbicara apa adanya, orang Belanda tidak mudah tersinggung.

Pariwisata

Ada banyak tempat yang bisa dilihat di Belanda, entah dengan berjalan kaki menyusuri kota, melakukan perjalanan dengan perahu di kanal atau danau, bersantai di pantai atau berjalan melalui hutan serta bukit pasir.
Banyak bintang musik internasional besar secara rutin melakukan pertunjukan di stadion dan tempat-tempat lebih kecil di Belanda. Pertunjukan musikal dan teater juga sangat populer dan Belanda memiliki lebih dari 1.000 museum yang dapat dijelajahi.
Dan jangan kaget jika banyak orang memakai baju warna oranye dan berpesta di jalan pada Queen’s Day atau selama kejuaraan sepakbola internasional.


Makanan

Orang Belanda tidak memiliki budaya adiboga, dan makanan panas hanya dibatasi sekali sehari, biasanya di sore hari. Sarapan pada umumnya disediakan dalam bentuk roti dengan keju, daging iris dingin dan/atau selai. Kebanyakan orang makan roti isi untuk makan siang, terkadang dengan sup atau salad. Makan malam biasanya merupakan paduan kentang dan sayur dengan daging atau ikan. Namun demikian, cita rasa Belanda telah menjadi lebih internasional dan disempurnakan. Anda akan menemukan berbagai jenis variasi produk di supermarket dan banyak restoran menawarkan berbagai jenis masakan internasional.



Kualitas tinggi dalam lingkungan internasional
Pendidikan tinggi di Belanda terkenal berkat kualitasnya yang tinggi dan merupakan lingkungan studi internasional. Dengan lebih dari 1,700 program dan kursus, pendidikan tinggi di Belanda memiliki program pendidikan berbahasa Inggris terbesar di Eropa.

Sistem biner
Pendidikan tinggi di Belanda memiliki sistem biner yang berarti Anda dapat memilih dua jenis pendidikan:
Di universitas riset Anda akan lebih fokus pada pekerjaan yang berorientasi riset yang berlatar belakang akademik atau profesional. Di universitas ilmu terapan Anda dapat memilih program profesional dalam seni terapan dan sains untuk menyiapkan Anda dalam karier tertentu.
Pendidikan tinggi dengan cabang lebih kecil ketiga disediakan oleh lembaga pendidikan internasional yang menawarkan program yang dirancang untuk siswa internasional.



Tiga siklus
Belanda memperkenalkan struktur gelar sarjana-master di tahun 2002, namun perbedaan di antar kedua jenis pendidikan ini masih ada. Baik universitas riset maupun universitas ilmu terapan sama-sama dapat memberikan gelar sarjana atau master.
Anda memperoleh gelar sarjana terlebih dahulu (siklus pertama), lalu Anda dapat melanjutkan studi gelar master (siklus kedua). Setelah menyelesaikan program master, Anda dapat memulai program gelar PhD (siklus ketiga).
Internship atau Magang
Banyak siswa yang melakukan internship atau magang sebagai bagian dari program studi mereka.

Penjelasan sistem nilai di Belanda.
Anda akan mengetahui bahwa sistem penilaian di Belanda berbeda dengan sistem penilaian Anda.
Saat Anda datang ke Belanda untuk belajar, Anda pasti berharap bahwa banyak hal yang berbeda dengan negara asal Anda: misalnya iklim, gaya hidup, lalu lintas, makanan, pakaian dan agama. Sistem penilaian juga tidak sama dengan apa yang biasa Anda jumpai.
Untuk membantu memahami sistem penilaian di Belanda, kami telah menyediakan penjelasan singkat di bawah ini.  

Sistem penilaian sepuluh poin

Ada banyak sistem penilaian berbeda di seluruh dunia, misalnya (dari nilai terendah hingga tertinggi) 1 hingga 5, 1 hingga 10, 1 hingga 20, 1 hingga 100, 5 hingga 1, F hingga A. Di Belanda sistem sepuluh poin digunakan dalam pendidikan menengah dan tinggi. Nilai 10 adalah nilai tertinggi dan 6 adalah nilai minimum kelulusan.

NilaiArti
10 Luar biasa*
9 Sangat baik*
8 Baik
7 Lebih dari memuaskan
6 Memuaskan
5 Hampir memuaskan
4 Tidak memuaskan
3 Sangat tidak memuaskan*
2 Buruk*
1* Sangat buruk*
 * Nilai 1-3 hampir tidak pernah diberikan dan nilai 9 dan 10 sangat jarang.

Perbandingan sistem penilaian

Beberapa negara menggunakan sistem penilaian yang tampak mirip dengan yang digunakan di Belanda. Salah satu contohnya adalah sistem 1-100. Namun demikian, akan tidak akurat jika membandingkan nilai 90-100 dengan sistem nilai 10 seperti dalam sistem Belanda, atau 80-90 dengan 9, dan seterusnya.
Angka 80 di China, misalnya, tidak dianggap sebagai nilai yang baik karena sebagian besar nilai dalam pendidikan tinggi di China ada di antara 80 dan 100. Namun di Belanda, angka 8 adalah angka yang baik karena sebagian besar angka di antara 6 dan 8, hanya siswa yang luar biasa saja yang mendapatkan nilai di atas 8.

Berdasarkan gambaran di atas, apakah sahabat tertarik studi di Belanda ? :-)

Referensi : 
http://www.nesoindonesia.or.id/tinggal-di-belanda/tentang-belanda 
http://www.nesoindonesia.or.id/sistem-pendidikan/sistem-penilaian-di-belanda

Jumat, 27 September 2013

The Dutch Education System

Assalaamu'alaikum,

Hallo, selamat berjumpa kembali sahabat. Pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi tentang Sistem Pendidikan di Belanda. Pada kesempatan ini izinkan saya memakai bahasa Inggris ya ? :)

The Dutch education system features many different types of school, each offering a curriculum geared to pupils' needs. Secondary education paves the way for vocational or higher education. The higher education system aims to provide top-quality teaching and training at professional or academic level. Special education is provided to pupils with learning and behavioural difficulties. 

1. Primary education

Primary education in the Netherlands encompasses mainstream primary schools, special schools for primary education for children with learning and behavioural difficulties and children with learning disabilities and special primary and secondary education. Primary education is intended for all children aged four to approximately twelve years.


2. Secondary education
There are around 700 secondary schools in the Netherlands, both publicly and privately run. There are four types of secondary education, ranging from pre-university education to practical training. Young people must attend school until the age of 18 or until they have obtained a basic qualification. Schools are putting extra effort into improving children's language and numeracy skills.




Types of secondary education
There are four types of secondary education in the Netherlands:

  • pre-university education (VWO);
  • senior general secondary education (HAVO);
  • pre-vocational secondary education (VMBO);
  • practical training (PRO).

All four types of secondary school cater for children from the age of 12 and begin with a period of basic secondary education (basisvorming).

There are also special schools for secondary education for children with special needs.

3. VWO and HAVO
Pre-university education, or VWO, takes six years and prepares pupils for university. Senior general secondary education, or HAVO, takes five years and prepares pupils for higher professional education (HBO). In the first three years of HAVO and VWO (the lower years) the emphasis is on general knowledge and skills. Specialisation takes place in the upper years (the last three years of VWO, or the last two years of HAVO).

4. Pre-vocational education (VMBO)
There are two levels of vocational education: pre-vocational (VMBO) and secondary vocational (MBO).  VMBO prepares children for secondary vocational education.

The total VMBO programme takes four years. Pupils follow a general curriculum in the first two years, after which they choose a learning pathway and a sector. There are four sectors:
  • care and welfare;
  • engineering and technology;
  • business;
  • agriculture.
5. After VMBO
Many pupils who complete VMBO go on to secondary vocational education (MBO). This greatly increases their chances on the job market. The VMBO leaving certificate does not qualify as a basic qualification. Pupils who are not yet 18 on finishing VMBO are required by law to continue their education until they reach the age of 18 or attain a basic qualification (at least an MBO level 2 certificate).

6. Higher education
Higher education comprises higher professional education (HBO) and university education (WO). These types of education are provided by HBO institutions (hogescholen) and universities respectively.
Bachelor's and master's degrees
All HBO and university courses fall under the bachelor-master system. Bachelor's degree programmes are broader, while master's degree programmes lead to specialisation in a chosen field. HBO bachelor's degree programmes take four years, university bachelor's programmes three. A master's degree programme takes up to two years, while master's programmes in engineering can last longer.

So, how about your decision to study abroad ? :-)

Reference : http://www.government.nl/issues/education


Kamis, 26 September 2013

Teladan Seorang Pemimpin

Assalaamu’alaikum Sahabatku,
Alhamdulillah, puji syukur hanya kepada Allah karena hingga saat ini kita masih diberikan kesehatan dan waktu lapang. Setelah sekian lama kita belum bersua melalui media ini, perkenankan saya untuk menyapa sahabat sekalian. Bagaimana kabar Anda hari ini sahabat ? Semoga keberkahan Allah selalu menyertai kita.

Sahabat, pada pagi hari ini Kamis 26 September 2013 saya ingin berbagi sebuah kisah, semoga bisa kita petik hikmah bersama-sama, insya Allah. Mari kita simak petikan kisah di bawah ini (ilustrasi).

Sebuah, hiduplah dua manusia di bumi, keduanya bernama A dan B. A adalah sosok lelaki yang sangat sederhana, murah senyum, mudah bergaul, santun, dan penyayang. Dia adalah seorang ayah dari dua anak yang bermimpi memiliki sebuah usaha yang mapan. Dia hidup di sebuah desa terpencil yang jauh dari kemajuan. Lelaki kedua bernama B, adalah sosok ayah yang kaya raya, memiliki banyak perusahaan dan telah mempekerjakan banyak orang. Berbeda karakter dengan A, B cenderung orang yang selalu ingin unggul dan menikmati segalanya untuk dia sendiri. B memiliki sebuah perusahaan tekstil dan letaknya di sebelah desa A.

Saat itu, B mempunyai perusahaan tekstil yang telah maju pesat. Ia pun memiliki asset banyak. B sebagai seorang pemimpin di perusahaan itu memang belum lama memimpin, ia meneruskan ayahnya yang dahulu telah membangun perusahaan itu. Namun saying, karakter B jauh berbeda dari ayahnya. B adalah sosok ‘bos’ yang serba menuntut dan ‘menyuruh’ kepada setiap karyawannya yang berkerja. Ia mengutamakan kesempurnaan dalam kinerja karyawannya. Sangat kontras, ia bisa menyuruh namun jarang sekali melaksanakan apa yang ia perintahkan kepada karyawannya. Ia menuntut bawahannya untuk bekerja tepat waktu, namun ia sendiri selalu datang ke kantor terlambat. Ia meminta mereka kerja keras, namun ia sendiri hanya malas untuk bekerja. Setelah pulang kerja, ia pun sering ‘keluar’ mencari angin, padahal anak dan istrinya sudah lama menunggu di rumah. Selang beberapa bulan ia memimpin perusahaan itu, ternyata perusahaan itu justru bangkrut dan akhirnya gulung tikar.

Pada suatu hari, A berkeinginan membangun sebuah usaha pembuatan batik. Namun dia bingung, dari mana ia mendapatkan modal yang besar itu ? Di satu sisi ia memang sosok kepala keluarga yang sederhana dan pendapatannya sebagai petani selama ini hanya mampu untuk menghidupi keluarga, itu pun sekadar ‘cukup’ untuk makan nasi. Ia berihtiar agar ada tetangga baik yang ikhlas memberinya pinjaman modal. Ia bersama istri akhirnya berhutang di salah satu koperasi desa dan dengan bekal keterampilan membatik yang ia dapatkan di SMA, ia bersama istri memulai usaha batik itu. Banyak tantangan yang ia hadapi, mulai dari sulitnya mendapatkan konsumen/pelanggan, sampai kesulitan untuk bertahan menghadapi kran impor batik. Mereka tetap tegar, menjalani usaha itu dengan sabar dan tawakal. Mereka terus berusaha dan sangat berharap bisa mengajak para pemuda yang masih menganggur di desanya untuk mengembangkan usaha tersebut. A berupaya agar bisa menghandel usahanya dengan baik demi untuk mencukupi keluarga. A dan istrinya tidak menuntut harga mahal, prinsip mereka adalah wirausaha yang mampu member manfaat bagi orang lain.Mereka selalu mengajak para pemuda untuk bergabung dan selalu mengajarkan kepada mereka keterampilan membatik agar bisa bergabung di kemudian hari. 

Selang 1 tahun, usaha itupun membuahkan hasil, berbagai pesanan baik lokal maupun nasional, bahkan internasional berhasil diwujudkan. Keinginannya telah tercapai berkat kerja keras, doa kepada Allah, dan sebuah teladan yang ia bangun selama ini. Ketika ia meminta pemuda desa yang bekerja dengannya datang pagi, ia juga datang lebih pagi dari mereka. Ketika para karyawannya terlihat lelah meskipun belum waktu istirahat, dengan lembut ia mempersilakan mereka untuk sejenak istirahat dan menari secangkir the hangat. Ya, usaha batik miliknya kini sudah terkenal dan menjadi unggulan di daerahnya. Tetangganya pun kini sangat terinspirasi dengan menjadi partner usaha yang ia bangun.

Demikian ceritera yang saya tulis, adakah diantara sahabat yang ingin mengemukakan hikmahnya ? 

Baik, secara umum kisah di atas mencerminkan dua sosok pemimpin yang berbeda. Si A yang sangat sederhana itu, mampu mewujudkan mimpi melalui perjuangan hebat bersama istrinya. Ia adalah pemimpin keluarga yang menjadi teladan dan inspirasi bagi tetangganya. Dengan perjuangan dan teladan yang ia bangun, A telah berhasil member contoh ‘gaya kepemimpinan’ ideal. Bukan melalui perfeksionis yang diminta oleh si B, namun melalui kesederhanaan dan perjuangan. Bukan hanya mau ‘menuntut’ namun juga mau berusaha. Bukan hanya mau ‘enaknya’ namun merasakan perjuangannya. Ia telah mengajarkan kepada kita bahwa teladan baik dari seorang pemimpin mampu memberikan kekuatan bagi orang lain. Bahwa pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu membangun komitmen dengan perilaku baik yang ia miliki, dengan ‘karakter’ baik yang ada dalam dirinya. 

Semoga saja, kita bisa mengambil hikmah dan nasihat mulia dari kisah sederhana ini, sebagai suatu refleksi diri : sudahkah kita menjadi teladan baik bagi orang-ornag di sekitar kita ? Sudah siapkah bekal-bekal kita menjadi seorang pemimpin Indonesia ? Mari merefleksikan diri kita dengan bertanya dalam hati dan mengucap istighfar. 

Sebuah nasihat ini saya sampaikan untuk nasihat pribadi, kepada sahabat, dan seluruh pemimpin negeri ini agar mau berkaca dan introspeksi diri agar lebih baik, insya ALLAH.
Wallahu’alam bishawab…

Kamar Inspirasi, 26 September 2013 Pkl 6.10 WIB
(Dalam sebuah renungan pagi, bersama alam di desa terpencil bumi Sleman)

Salam hangat untuk emak dan bapak yang baru dagang di pasar dan adek Isti yang mau berangkat sekolah, barokallah...

Janu

Rabu, 25 September 2013

AFTA 2015 : Pentingkah untuk Indonesia ?

Belum lama ini isu mahalnya harga kedelai di pasaran mencuat. Bersamaan dengan itu muncul sebuah isu hangat yang menjadi bahan perbincangan para pengambil keputusan, pemerhati ekonomi, bahkan akademisi. AFTA 2015, inilah isu yang tidak asing lagi di telingan kita. Ada yang sudah mengenal apa itu AFTA, namun banyak juga yang belum mengenalnya. Apa itu AFTA 2015 ?
ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta  menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya. AFTA dibentuk pada waktu Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke IV di Singapura tahun 1992. Awalnya AFTA ditargetkan akan dicapai dalam waktu 15 tahun (1993-2008), kemudian dipercepat menjadi tahun 2003, dan terakhir dipercepat lagi menjadi tahun 2002. Skema Common Effective Preferential Tariffs For ASEAN Free Trade Area (CEPT-AFTA) merupakan suatu skema untuk 1 mewujudkan AFTA melalui : penurunan tarif hingga menjadi 0-5%, penghapusan pembatasan kuantitatif dan hambatan-hambatan non tarif lainnya. Perkembangan terakhir yang terkait dengan AFTA adalah adanya kesepakatan untuk menghapuskan semua bea masuk impor barang bagi Brunai Darussalam pada tahun 2010, Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapura dan Thailand, dan bagi Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam pada tahun 2015.
Produk yang dikatagorikan dalam General Exception adalah produk-produk yang secara permanen tidak perlu dimasukkan kedalam CEPT-AFTA karena alasan keamanan nasional, keselamatan, atau kesehatan bagi manusia, binatang dan tumbuhan, serta untuk melestarikan obyek-obyek arkeologi dan budaya. Indonesia mengkatagorikan produk-produk dalam kelompok senjata dan amunisi, minuman beralkohol, dan sebagainya sebanyak 68 pos tarif sebagai General Exception. Tujuan dari AFTA sendiri yaitu : menjadikan kawasan ASEAN sebagai tempat produksi yang kompetitif sehingga produk ASEAN memiliki daya saing kuat di pasar global, menarik lebih banyak Foreign Direct Investment (FDI), serta meningkatkan perdagangan antar negara anggota ASEAN (http://www.tarif.depkeu.go.id). 



Dari gambaran di atas, seberapa penting peran AFTA 2015 untuk Indonesia ? Adakah manfaatnya ? Marilah kita kupas beberapa manfaat dengan adanya program ini. Pertama, AFTA  adalah peluang pasar yang semakin besar dan luas bagi produk Indonesia, dengan penduduk sebesar ± 500 juta dan tingkat pendapatan masyarakat yang beragam. Artinya, sangat besar peluang kita untuk memasarkan produk lokal ke luar negeri yang tentunya akan menaikkan pendapatan per kapita. Kedua, salah satu keuntungan bagi konsumen adalah ilihan konsumen atas jenis/ragam produk yang tersedia di pasar domestik semakin banyak dengan tingkat harga dan mutu tertentu. Ini berarti bahwa masyarakat akan mendapatkan banyak pilihan dalam membeli barang karena banyaknya tawaran yang, baik dari dalam maupun luar negeri. Ketiga, kerjasama dalam menjalankan bisnis semakin terbuka dengan beraliansi dengan pelaku bisnis di negara anggota ASEAN lainnya. Ini menandakan bahwa Indonesia bisa belajar dari negara lain dalam strategi perdagangannya.
Selain mempunyai manfaat (peluang), AFTA 2015 juga merupakan tantangan bagi Indonesia. Pengusaha/produsen Indonesia dituntut terus menerus dapat meningkatkan kemampuan dalam menjalankan bisnis secara profesional guna dapat memenangkan kompetisi dari produk yang berasal dari negara anggota ASEAN lainnya baik dalam memanfaatkan peluang pasar domestik maupun pasar negara anggota ASEAN lainnya. Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah ? Sudah siapkah produsen kita yang harus bersaing dengan produsen luar negeri ? Mampukah ekonomi kerakyatan kita berkompetisi ?
Poin pentingnya adalah : AFTA 2015 itu penting bagi Indonesia. Hal wajib yang perlu kita persiapkan saat ini adalah penstabilan harga produk dalam negeri, penguatan sektor ekonomi kerakyatan, dan perlunya ‘mental’ untuk berkompetisi secara sehat agar ekonomi Indonesia bisa bersaing dengan produk-produk luar negeri yang secara bebas masuk.

Selasa, 03 September 2013

Mengambil Hikmah dari Program Sit-In CMU-YSU

Assalaamu'alaikum,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta'ala. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Besar Muhammad Shallalllahu 'alaihi wasallam, beserta umatnya hingga akhir zaman. Jadi ceritanya begini, selama hari Sabtu dan Minggu kemarin kawan-kawan baru saya dari Chiang Mai University (CMU) telah mengikuti serangkaian agenda di Nglanggeran. Saya kira mereka sangat antusias dan puas karena berbagai kegiatan seperti workshop batik, pergi ke pantai, bonfire, dan lain sebagainya telah mereka lahap. Tibalah saatnya mereka memasuki awal pekan di Yogyakarta State University (YSU).

Senin, 2 September 2013 adalah kali pertama hari masuk kuliah untuk semester ini. Berhubung ini hari pertama kuliah semester 5 atau tahun ketiga saya, ada slogan baru untuk saya "Semester baru harus tambah greget, biar hasilnya greget". Saya yakin ini menjadi tagline yang menggugah semua kalangan mahasiswa. Bahwa saat awal semester seperti ini harus 'start' dengan semangat juang tinggi dan 'planning' terbaik, bukankah demikian ya ? Maka dari itu, dengan slogan utama semester ini, besar harapan saya agar proses pembelajaran dan prestasi saya lebih baik, syukur-syukur bisa maksimal. Saya juga boleh kan bersemangat di awal semester ini agar selalu menanamkan optimistik pada diri saya ? :-)

Hari Senin ini, kampus tampak mulai rame. Para mahasiswa baru mulai menghiasi sudut Fakultas Ilmu Sosial. Parkiran FIS pun mulai penuh dan sesak karena memang terlalu sempit. Kelas pun mulai terisi oleh wajah-wajah yang baru saja liburan panjang. Namun, pagi itu saya masih setia menemani kawan-kawan CMU yang akan mengikuti workshop angklung dan gamelan di FBS UNY. Pagi itu juga dalam suasana ala persahabatan, saya mengajak mereka bersama-sama dengan volunteer untuk ke FBS. Kebetulan saya mendapat jatah di ruang lab kerawitan. Saya dan beberapa kawan akan belajar gamelan, sesuatu yang jarang saya pelajari. Setelah selesai, kami ke Student Center UNY untuk mengikuti diskusi bersama kawan-kawan BEM KM UNY.

Sekitar Pkl 11.30 WIB kami mengajak teman-teman CMU untuk makan siang di sekitar garden cafe, foodcourt, dan di warung kampus. Ternyata mereka suka dengan masakan-masakan Indonesia. Terbukti, semua makanan yang sudah dipesan habis semua (ya iyalah). Sekitar Pkl 13.00 WIB mereka mengikuti workshop pencak silat di FIK sampai sekitar Pkl 16.00 WIB. Mereka akhirnya kembali ke hotel UNY sore harinya. 

Sore hari itu, saya ke Prambanan bersama mas Martono untuk membeli tiket sendratari Ramayana, ternyata sudah tutup. Kami kembali ke hotel dan ada sedikit insiden, motor saya terkunci di dalam parkir perpus. Dengan segala bantuan mbak Tiwi (staf KUIK) akhirnya berhasil dikeluarka tanpa lapor satpam (ada trik rahasia). Malamnya saya pulang dan istirahat total karena super perlu suplai tenaga baru.

Selasa, 3 September 2013 adalah hari ke-7 para mahasiswa CMU di UNY. Hari ini kami telah mengunjungi Kompleks Ratu Boko. Objek ini terletak di sekitar Prambanan, merupakan situs peninggalan purbakala yang berdiri sejak abad ke-8. Hari ini ada 30 mahasiswa, 4 staff CMU, saya, 3 mahasiswa IPS, dan dari pihak FIS. Sesampainya di sana, pemandangan indah sungguh memukau mata, subhanallah. Saya tertegun melihat keelokan Jogjakarta dari atas Boko. Ini juga kali pertamanya saya datang ke sini, sangat menarik. Kami sempat memakai kain seperti jarik sebelum masuk ke 'gate'. Sesampainya di dalam, kami mendapat penjelasan dari para dosen IPS. Ini jua kali pertamanya saya benar-benar harus selalu stand by untuk menerjemahkan bahasa dari dosen ke bahasa Inggris, harus mulai terbiasa. Dengan moto "Ujug-ujug" "Mboh piye carane" pokoknya saya harus berusaha bisa, wajib mencoba. Saya yakin jika sudah terbiasa akan bisa berbahasa Inggris, bukankah demikian ? Ya


Kami menyusuri kompleks Ratu Boko, dari gerbang utama, bangunan utama, dan keputren. Ada juga kolam-kolam yang aneh. Mengapa ? Mengapa ada air yang muncul di atas bukit yang sangat gersang ini ? Dari mana datangnya ? Ini sebuah misteri ilmiah yang sudah dibuktikan, namun ada saja masyarakat yang percaya dengan hal 'magic' di sana. Wahwah...

Setelah itu adalah jam makan siang, kebetulan saya masih 'nyawal' jadinya tetap menjaga adab puasa :-) Setelah makan, kami kembali ke bus untuk pergi ke dusun binaan, dusun Plempoh, binaannya FIS UNY. Di sana ada lab IPS juga. Saya memandu rombongan, kami berkeliling dusun, melihat aktivitas sosial masyarakat di sini. Ada yang sedang bertani, ada yang sedang menjemur kacang, jagung, dan ada yang sedang duduk-duduk di depan teras rumah. Suasana khas pedesaan begitu terasa. Nah, apalagi waktu ditawari masuk oleh salah satu warga. Kami diminta mampir dan malah disuguhi berbagai hidangan seperti 'telo goreng', 'kedelai rebus', dan beberapa makanan camilan. Teman-teman CMU merasa "enak" sekali deh pokonya, sambil senyum-senyum suka dan ketagihan dengan makanan tersebut. Setelah panjang lebar bercerita, kami pamitan dan menuju pendopo warga. Di sana, dilangsungkan upacara penutupan bersama kepala dukuh dan panitia. Subhanallah, berkesan sekali...saya lagi-lagi wajib menerjemahkan setiap kalimat pidato Pak Aris sebagai kepala dusun Plempoh. Akhirnya kami pamitan juga dan kembali ke bus UNY untuk pulang. Sampai tulisan ini saya ketik, kawan-kawan CMU ditemani 3 tutor sedang menyaksikan sendratari Ramayana di kompleks Candi Prambanan. Saya rasa ini kesekian kalinya kita berusaha memperkenalkan budaya Indonesia dan segala potensi yang ada untuk dinikmati khalayak orang luar negeri. 

Hikmah yang bisa diambil dari Program Sit-In CMU-YSU sampai saat ini : 
Di sini saya diberikan belajar untuk 'bermanfaat bagi orang lain' karena ini motto hidup dan spirit yang tiada henti dari saya. Saya bisa belajar manajemen dan kerja tim karena di sini saya ber-15 orang tergabung dalam Student Volunteer UNY 2013. Kita menjadi tahu apa yang baik dan kurang baik dari budaya asing, jadi tidak sekiranya mentah-mentah menerima budaya asing kan ? :-) Lalu, ada suatu kedewasaan bertanggung jawab yang semakin meningkat, akibat ujug-ujug dan serba on time tidak boleh telat. Semoga saja ada hikmah lain dari sit-in ini, dan bisa membuka wawasan kami di dunia internasional. Insya Allah, Allahu'alam...

Sampai bertemu di kisah selanjutnya.. salam inspiratif !

Wassalaamu'alaikum,