Ged a Widget

Sabtu, 27 Juli 2013

Geoscience Summer School Assignment 1 : Observation on Vorstraat


Observation on Vorstraat
By : Janu Muhammad (Indonesia) & Ji Hye (South Korea)

The Netherlands is one of the innovative countries in the world. The Netherlands has advantages in many fields, such as advanced water management, agriculture, and other fields. Dutch windmill country got the nickname because here a lot of windmills found. Netherlands have 12 provinces, one of which is Utrecht. Utrecht is located in the heart of the Netherlands.
The city became a center of activity, ranging from trade, economics, and culture. The Netherlands has a sophisticated connection system. This is due to the road that connects any existing place. We can find many paths here, one of which is Voorstraat. Vorstraat is one road which is located in downtown of Utrecht. This road connects Neude and Wittevrouwenstraat. Vorstraat lecture building is located near the University of Utrecht.



In Vorstraat there are many people get around in the street in front of the bus stop. There are many cafes in the street, so people go inside there and have time with friends. Here a lot of passing pedestrians, either for work or other activities. In addition to walking, we can also see cyclists and car drivers and motorcycle. How does this place represent urban division? This place Represents urban division with many buildings that we can see here. There is also transportation facilities, public space, many people here, cafeteria, and some of people activity here. Also, there are theater, clubs, photo shops, so many people enjoy their leisure time in these places. 




The city synonymous with the building. Around Voorstraat alone we can see a lot of buildings that became the economic center of the community. In addition to the buildings, the city is also synonymous with the modern economic activity. Around Voorstraat can be found in various economic activities, such as buying and selling in the restaurant, supermarket transactions in, or consumption in some cafes. The city is also synonymous with the means of transport. Modes of transport in Voorstraat diverse, ranging from the bicycle, bus, motorcycle, or car. All convenient transportation and be an integral part of the activities in the Voorstraat. 
Voorstraat developments was probably just as useful last century as it is now. Nowadays, besides being home to two grocery stores, Plus and Albert Heijn, it’s also home to Plato Record Store, Tattoo Magic Store, travel agency offices, a Chinese massage/reflexology sort of place, hairdressers, a sewing supplies shop, multiple coffee shops (of the cannabis variety), Taco Mundo, multiple vintage clothing stores, along with higher-end clothing stores, a used/antique book store, a florist, an organic grocer, formal wear shops, clothing repair stores, a shoe repair shop, a locksmith, fancy furniture and lighting stores, along with numerous restaurants and caf├ęs, with many new places opening regularly. It’s not always the prettiest street, but for daily life, it covers a lot of bases. And there are pockets of grace and whimsy along the street. Consumption patterns here diverse, ranging from in restaurant, cafe, bar, as well as centers of existing stores. All available here, including daily necessities are also there. On average we can find native Dutch people. In addition it can be found as well as migrants from China, Africa, and some of Turkey.



There were many hairshops, interior retail shops and furniture stores in the street. Many places are changing according to the needs and wants of people living there. Especially, many hair shops were concentrated in this street. We could guess that many women come to this street for fixing their hair. Also, there were many kinds of shops for enjoying life like tatoo shop, photo shop and cafes. We could see many people just sit on a chair in front of cafe while talking to their friends. There were not many people who sit inside the cafe. Condsidering this, we could know that this street is regarded as a place for enjoying and relaxing life.
We saw one building was built in 1840 and now the whole building is used as clothing shop. We went to one cafe to interview with clerk there and the clerk said that this cafe was once used as office and it has been only one and half year that this cafe was open. We could know that the use of building changes quite a lot as time goes by. We could see that interior business and entertainment business were well developed in the street. Many interior shops were concentrated in the street and we could see many artificial exmples of house interiors inside the building. In case of entertainment development, there were theatre, game shop, tatoo shop, and photo shop in the street. Many people go around in the theatre to see movie and enjoy their life doing tatoo in body buying some game CDs in the game shop.
Thus, all activities in Voorstraat representated of the Utrecht city. They become a challenging and opportunities to develop this city. All activities, ranging from trade, entertainment, and other events illustrate the dynamic city life from time to time with the changing.



Minggu, 21 Juli 2013

Sebuah Nasihat untuk Engkau yang Ingin Belajar ke Luar Negeri



Bismillah…

Setiap orang wajib hukumnya mempunyai mimpi. Mimpi atau nama lain dari cita-cita adalah sebuah keinginan yang akan terpenuhi pada waktu yang akan datang. Saya yakin setiap orang mempunyai mimpi yang berbeda-beda, betulkah demikian ? Ada yang ingin menjadi dokter, menjadi guru, menjadi pilot, bahkan memiliki harta melimpah untuk investasi masa depan. Bagi saya, mimpi mempunyai harta mewah hanya akan membuat orang lupa akan tujuan hidup. Orang hanya akan memikirkan bagaimana dia bisa memenuhi keinginannya untuk menjadi orang kaya ataupun bergelimang harta tanpa melihat hal penting apa yang seharusnya kita siapkan untuk kehidupan setelah mati. Bagi saya yang Alhamdulillah terlahir muslim, hal utama yang harus saya penuhi adalah modal untuk akhirat. Modal untuk akhirat itu hanya bisa diperoleh dengan ibadah karena akan menghasilkan pahala kebaikan. Tentunya, setiap ibadah dan amalan harus disertai dengan ilmu yang benar, betul  demikian ?

Kawan-kawan yang baik hati, pada kesempatan ini saya ingin berbagi bagaimana saya bisa meraih sebuah mimpi untuk belajar ke luar negeri dan mencari ilmu untuk investasi masa depan, untuk dunia dan akhirat. Saya Janu, salah satu mahasiswa asal Indonesia yang tahun 2013 ini diberi kesempatan untuk melangkahkan kaki di negeri kincir angin, Belanda. Pada tanggal 8-19 Juli 2013 saya mengikuti program Summer School Utrecht, dengan tema “Contemporary Cities : Challenges and Opportunities”. Pada tahun ini, saya menjadi satu-satunya delegasi Indonesia dengan tema tersebut. Summer School Utrecht adalah program kuliah singkat yang diadakan oleh Utrecht University setiap tahunnya. University Utrecht adalah satu-satunya universitas yang mengadakan Summer School dengan jumlah program terbanyak. Saya memilih program yang berhubungan dengan kota sesuai dengan basis saya di geografi. Kebetulan di kampus juga ada mata kuliah yang serupa yaitu geografi desa kota.



Saya mengikuti Summer School ini bukan tanpa persiapan. Semenjak awal tahun 2013, tepatnya bulan Januari saya mulai mengenal Utrecht University yang merupakan universitas terbaik ke-2 di Belanda dengan peringkat ke-53 di dunia. Saat itu Utrecht University membuka program kuliah musim panas dan saya tertarik untuk mencoba mengajukan lamaran. Pada bulan Januari itu juga saya mengirim segala berkas, mulai dari skore Toefl, formulir pendaftaran yang telah diisi, copy passport, esai, dan beberapa berkas lain. Alhamdulillah, saya diterimas menjadi salah satu peserta Summer School Utrecht 2013. Saya sangat bersemnagt untuk mencoba karena ini kali pertama saya ‘ingin sekali’ keluar di zona nyaman. Rutinitas kampus dan statisnya gaya perkuliahan di kampus membuat saya termotivasi untuk belajar ke luar negeri. Ya, semenjak saat itu mimpi ke luar negeri tumbuh dan berkembang di sanubari.

Ingin belajar ke luar negeri tentunya memerlukan persiapan yang matang. Berikut akan saya share apa yang telah saya persiapkan sejak Januari-Juli. Pertama, mematangkan niat. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah “Mengapa kita ingin belajar ke luar negeri ?” Inilah aspek mendasar yang harus diperhatikan sejak awal. Saya kira alasan belajar ke luar negeri adalah murni untuk mencari ilmu dan tentunya ibadah. Mengapa ? Karena saya sebagai muslim, mencari ilmu yang bermanfaat adalah kewajiban. Setelah ilmu diperoleh, akan lebih baik dan barokah jika disharekan dan ditransfer ke orang lain karena pahalanya insyaAllah akan berlipat. Jadi, mari bulatkan tekad untuk tidak sekadar ingin “jalan-jalan” ataupun “bosan” dengan negeri sendiri. Ini faedah yang utama.



Kedua, “Apa yang harus saya lakukan setelah berniat?”
Setelah membulatkan niat sudah menjadi kewajiban untuk mengkomunikasikan niat kita kepada Allah, orang tua, maupun orang-orang di sekitar Anda. Komunikasi dengan Allah tentunya melalui kewajiban lima waktu maupun amalan lainnya. Perlu diingat, bahwa itu akan lebih baik jika kita berikhtiar disertai doa dan tawakal. Selain itu, ridho orang tua juga perlu. Sudah sepantasnya orang tua member restu dan izin akan kepergian kita menuntut ilmu ke luar negeri. Mohonlah kepada beliau-beliau agar selalu mendoakan setiap setelah sholat agar senantiasa diberi kemudahan. Orang tua memegang peran penting dalam pertimbangan setiap langkah dan kemantapan kita untuk terus berjuang. Selain kepada orang tua, silakan mohon doa dan saran dari saudara, keluarga, serta kawan Anda. Ini aspek penting yang perlu dilakukan. 

Ketiga, “Apa saja yang harus saya siapkan ?”
Setelah memantapkan niat dan meminta doa, sudah seharusnya kita mempersiapkan hal-hal teknis seperti persiapan ilmu, persiapan passport, visa, dan segala dokumen yang diperlukan. Summer School saya kali ini mengharuskan saya untuk membaca referensi atau tema terkait isu-isu kota, bisa membaca buku ataupun melalui internet. 
Jangan lupa juga untuk bertanya kepada teman yang pernah pergi ke luar negeri.
Pada bulan Januari 2013 saya membuat passport hijau. Ini adalah syarat wajib yang harus ada ketika kita ingin berkunjung ke luar negeri. Passport bisa dibuat di kantor imigrasi setiap provinsi di Indonesia. Berkas dan ketentuan passport contohnya ada di sini. Setelah membuat passport, langkah selanjutnya adalah memikirkan “Bagaimana saya bisa membiayai perjalanan saya belajar ke luar negeri ?” Ini adalah hal terpenting dan urgent. Tanpa ada biaya, kita mustahil bisa terbang ke luar negeri. Silakan untuk bertanya kepada penyelenggara program, adakah scholarship untuk program yang kita ambil. Kebetulan untuk program saya tidak tersedia scholarship. Untuk itu saya harus mencari sumber lain. Saya membiaya perjalanan ke Belanda ini dengan menggunakan biaya orang tua, bantuan UNY, dan sponsor. Tentunya saya perlu sponsor agar perjalanan saya bisa didukung dari segi financial. Saya mengajukan beberapa proposal ke bank BNI, BPD, Mandiri, Astra Internasional, Dikti, Garuda Indonesia, dan lain-lain. Dari perjuangan itu, saya mendapatkan sponsor dari Garuda Indonesia berupa harga tiket khusus pergi dan pulang. Meskipun saya tetap membayar tiket, namun bersyukur telah ada yang meringankan dan mendukung studi saya ini. Untuk proposal Dikti, saya sudah kedua kalinya belum mendapat berita baik, begitu pula proposal lainnya. Tidak masalah, harus tetap semangat untuk menghidupkan mimpi. Setelah hal financial selesai, saatnya mempersiapkan yang lain.

Dokumen penting yang harus ada ketika belajar ke luar negeri adalah : passport, visa, asuransi, tiket pesawat, surat penerimaan (Letter of Acceptance), surat tugas dari kampus, dokumen pribadi. Saya sekitar bulan Februari sudah mendapatkan passport dan LoA.  LoA dikirim langsung dari Utrecht dan ditujukan ke rumah saya melalui pos. Bulan Februari dan sampai sekitar Mei saya gunakan untuk mencari sponsor.



Memasuki H-1 bulan, saya harus mempersiapkan visa, assuransi, tiket, surat tugas, dll. Kondisi saya saat itu benar-benar down dan sangat tidak memungkinkan untuk mengurus semua berkas. Saya kebetulan baru ujian semester dan kondisi kesehatan baru tidak fit. Mungkin yang ada di benak saya adalah “Saya ingin sekali meraih mimpi itu dan saya tidak mau menyerah begini saja.” Dukungan bapak ibu yang begitu besar adalah motivasi saya untuk terus melangkah karena saya sudah berada satu langkah ke depan. Saya sulit sekali membayangkan, betapa besar dukungan bapak ibu kepada saya agar bisa ‘sekolah’ setinggi mungkin. Padahal, beliau-beliau dalam kesehariannya sebagai pedagang di pasar Sleman dan tentu akan berat jika harus membiayai semuanya. Saya berusaha tegar, inilah kepercayaan bapak ibu agar putranya ini jauh lebih baik, bisa lulus dengan baik, bekerja, dan menikah. Perjuangan bapak ibu yang sehari-hari biasanya berangkat ke pasar jam 3 pagi dan sampai rumah jam 2 siang, setelah itu melayani petani yang menjual hasil pertaniannya seperti sayuran dan cabe sampai larut malam. Biasanya bapak ibu tidur jam 11 malam, kemudian bangun jam 2 pagi. Sungguh tak kuasa betapa beratnya perjuangan bapak-ibu. 



Itulah yang menjadi motivasi untuk bangkit. Namun, bulan Juni saya mengalami sakit yang cukup serius. Saya terbaring lemas selama satu pekan karena “vertigo” saya kambuh. Vertigo adalah gejala sakit kepala yang bukan main sakitnya. Mirip seperti migraine, namun lebih sering kambuh. Saya divonis dokter memiliki vertigo sejak sekitar dua tahun yang lalu. Pikiran kecil saya “Saya ini terlalu memforsir diri dan memikirkan mimpi ini.” Ya, saya mengevaluasi diri bahwa saya mungkin terlalu berambisi untuk pergi ke luar negeri dengan kondisi kesehatan yang tidak mendukung. Sejak saat itu, cobaan niat mulai datang. Niat saya mulai goyah, ditambah lagi sulitnya membuat janji pembuatan visa di Jakarta yang amat sulit karena full booked. Yang saya lakukan adalah : tawakal dan menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Namun, tentu saja saya tidak diam begitu saja. Di sela-sela sakit, saya masih berusaha untuk mengirim email, mencari segala informasi terkait keberangkatan saya besok Juli. Dengan pikiran yang lebih ringan dan atas nasihat orang tua agar jangan memikirkan terlalu dalam, ikhlaskan apa yang nanti akan terjadi. Ya, saya percaya apapun yang terjadi sudah menjadi kehendak Allah untuk saya.




Kondisi ini mulai menuai titik terang semenjak sebuah email masuk di inbox saya. Intinya, saya diberi kesempatan untuk dating ke Jakarta dan membuat visa. Saya menerima email itu dari Embassy Netherlands hari Kamis, 27 Juni 2013 dan diminta ke Jakarta hari Senin 1 Juli 2013. Saya harus mengirim berkas visa, selengkapnya bisa dilihat di bagian postingan ini. Dari hari Senin-Kamis saya di Jakarta untuk menyelesaikan visa saya. Pada hari Jumat 5 Juli 2013 benar-benar mencapai titik klimaks. Surat tugas, tiket pesawat, mencetak baner dan yang lainnya menjadi satu pekerjaan pada hari itu. Samapai akhirnya pada hari Sabtu sore saya berangkat ke Jakarta untuk menanti hari Minggu malam penerbangan saya. Alhamdulillah, semua berkas dan segala kebutuihan sudah siap. Saya jadi ke Belanda…. Terimakasih ya Allah. 

Hari Sabtu 6 Juli 2013 menjadi sebuah keharuan bagi saya karena berpisah dari keluarga dan akan menjalani Ramadhan di negeri yang sangat jauh dari Indonesia. Bapak, ibu, dan adek mengantarkan saya sampai di stasiun tugu. Pelukan hangat dari bapak dan ibu saat itu seakan menghapus keringat perjuangan saya selama 7 bulan ini. Saya yakin mampu, dan Allah telah membuka jalan untuk saya. Ibu, beliau lah pahlawan yang selalu ada di samping saya, mendoakan dan menginginkan yang terbaik untuik putra sulungnya ini. Bapak, di usianya yang akan memasuki setengah abad seakan menjadi penerang agar saya bisa bermanfaat untuk keluarga, agama, dan semua orang. Itu pesan bapak yang benar-benar saya ingat karena suatu saat nanti saya lah yang akan merawat beliau dan membalas budi kepada orang tua saya.
 
Bersama mas Richo, ketua PPI Utrecht yang dengan ikhlas menolong saya, ini momen mengharukan saat mau pulang
Saat kisah ini saya tulis, tak kuasa air mata mengalir membasai wajah saya. Saya haru, bersyukur, dan hanya bisa berterimakasih kepada Allah subhanahu wata’ala atas terkabulnya doa yang selama ini saya panjatkan. Saya telah mebuktikannya, kekuatan doa adalah kunci utama selain usaha keras.
Beberapa tips di atas adalah sedikit tips yang bisa saya bagikan. Sekali lagi, saya hanya manusia biasa yang mau berusaha untuk terus berjuang meraih cita-cita menjadi dosen geografi. Hal ini pun saya temui ketika di Belanda, bertemu dengan kakak-kakak Perhimpunan Pelajar Indonesia di Utrecht. Barangkali di postingan selanjutnya saya akan membagikan kisah suka-duka belajar di luar negeri dan apa saja yang akhirnya saya dapatkan. 
Jadi, menurut saya belajar ke luar negeri dalam Summer School ini adalah gerbang menuju masa depan saya. Tentu ini adalah kesempatan saya untuk membuka mata di dunia internasional, demi sebuah ilmu. Semoga bermanfaat dan pesan saya :


“Hidupkanlah mimpi-mimpimu, meski batu dan duri engkau hadapi. Terus berusahalah, berjuanglah sampai titik ketika kamu benar-benar tidak mampu lagi. Ingatlah bahwa perjuangan itu pahit namun buahnya akan sangat manis. Teruslah berdoa dan bermunajah kepada Allah untuk mengiringi apa yang menjadi keputusanmu nanti. Semoga engkau selalu dimudahkan Allah, begitu pula harapanku kepadamu.”

Garuda Indonesia, 20 Juli 2013 “Dalam Perjalanan Menuju Tanah Air”