Ged a Widget

Rabu, 27 Maret 2013

Kesibukan Ala Mahasiswa

Jadi ceritanya begini,

Hari ini adalah hari sibuk bagi saya. Saya mulai berbagi cerita perjalanan hari ini. 
Pagi tadi saya terbangun agak siang, seperti biasanya. Hari ini hari rabu, hari jadwal padat merayap. Mula-mula saya tunaikan kewajiban sholat Subuh. Doa selalu mengiringi agar hari ini saya bisa lebih bermanfaat untuk orang lain dan tetap produktif berkarya. Ya, dengan berkarya saya akan maju, tentunya dengan banyak belajar. Setelah sholat Subuh, saya kembali ke meja belajar. Ada satu pekerjaan yang rupanya belum terselesaikan yaitu mengkhatamkan proposal Praktik Lapangan Geografi#2, kebetulan saya adalah bagian dari tim proposal penelitian, tidak tahu juga kenapa saya bisa dipilih :3

Baiklah, berhubung waktu semakin siang, sekitar Pkl 8.20 saya segera mandi dan bersiap ke kampus tercinta, Yogyakarta State University (pakai bahasa Inggris ya, kan menuju World Class University). Perjalanan ke kampus pun dimulai. Di perjalanan, masih seperti biasa, kena macet. Inilah hal yang membosankan dan membuat saya 'bete' bukan kepalang. Bayangkan saja tiap hari harus kena macet terus. Saya paling anti namanya macet, sampai bosan aja dengan kebiasaan ini. Ya ini, saya sering telat masuk kelas karena macet di sekitar jalan magelang, dekat fly over yang baru dibangun. Alhasil, sampai ruang kelas sudah telat dan dosen sudah cabut dari kelas :3 hanya ada tugas yang beliau tinggalkan, tentunya untuk dikerjakan.

Kesibukan ala mahasiswa,

Setiap mahasiswa yang ada di kelas mempunyai kesibukan masing-masing. Ada yang sibuk baca buku, ada yang sibuk jualan pulsa, ada yang sibuk ngurusin kegiatan, ada yang sibuk rapat tiap sore, ada yang sibuk nulis, macam-macam pokoknya. Bagi saya, kesibukan mahasiswa seperti yang tadi saya jumpai di kelas adalah fenomena yang lumlah terjadi. Saya juga pernah memposting satu tulisan tentang IPK. Nah, agak mirip memang isinya kenapa mahasiswa itu harus sibuk, katanya.

Kembali ke cerita tadi,
Setelah jam kuliah selesai, saya langsung menuju perpus, sebelum jam 11 karena banyak banget kerjaan membuat proposal bersama tim saya. Ada hikmah yang rupanya bisa dipetik. Bahwa, sebuah kerja tim itu sangat diperlukan dalam menyusun suatu rencana, betul kan ? Begitu juga dengan amanah ini, kami berusaha untuk selalu mengerjakan bersama-sama. Ada teman saya namanya Mardasari, Pebri Nurhayati, Nur Sidiq, Linda Novitasari, dan Rizki Harie yang selalu mensupport kinerja kami.

Waktu terasa begitu cepat, padahal beberapa instrumen penelitian belum kami susun. Selanjutnya, dengan sekuat tenaga kami berusaha untuk menyelesaikannya, hingga tulisan ini saya tulis, proposal belum final. Nah, sampai pada Pkl 13.00 saya ternyata ada kuliah geografi penduduk. Betapa waktu sangat berharga, lima meniiit saja. Ya, saya sadari inilah kesibukan saya. Sampai kuliah selesai, saya kembali ke perpustakaan FIS UNY untuk mengerjakan lagi. Sekitar Pkl 15.30 saya keluar karena ruang perpus mau ditutup. Saya kemudian ke UKMF Penelitian SCREEN, rumah biru kami orang-orang yang belajar penelitian. Ya Allah, ternyata ada pertemuan kartografi. Saya cek di ruang 213, ternyata pas saya masuk, pas ditutup juga :3

Hmmm, telat lagi deh janjinya, kata saya. Ya, ternyata saya ada janji untuk hadir dalam koordinasi PLG Kartografi 2013, kebetulan kami ber-6 (Janu, Rumi Khusnandari, Wisnu Sinartejo, Rizky Oktaviani, Taufik Hermawan, dan Wahyu Widyatmoko adalah asisten praktikum kartografi. Ya, itung-itung untuk belajar mendidik dan berbagi ilmu, meski saya tidak bisa disebut mahir atau jago membuat peta, hehehe. Singkat cerita, ternyata sore tadi ada rapat rutin asdos dan saya terpaksa meng cancel acara saya di Open House Ormawa FIS UNY :3 Saya harus berbagi waktu...

Kesibukan ala mahasiswa,
Setiap mahasiswa berhak membuat keputusan masing-masing. Mereka yang hanya ingin menjadi mahasiswa 'polos' biasanya ikut kuliah dan pulang, tanpa ada kesibukan lain. Alhasil, mereka banyak free time :3 Sebaliknya, bagi mereka yang ingin berkembang dan tumbuh biasanya ada kegiatan sampingan seperti aktif di organisasi, UKM, atau sejenisnya. Inilah kesibukan ala mahasiswa yang pasti mendatangkan nilai + bagi yang bener-bener semangat.

Kesibukan ala mahasiswa,

Sekali lagi ini adalah keputusan sahabat sekalian..
Saya teringat pada pesan orang tua saya yang menginginkan agar saya aktif dalam kegiatan akademik maupun akademik. Banyak cerita yang mengatakan bahwa ada 'sesuatu' yang khas dari mereka yang menjadi aktivis kampus, entah itu aktivis penelitian, kepenulisan, dan lain sebagainya.

Jadi, kesimpulannya adalah :

Kesibukan ala mahasiswa itu sesuatu yang wajar. Banyak diantara mereka yang sibuk adalah orang yang aktif dan punya 'harga' lebih untuk diterima kerja pada kemudian hari.

Salam inspirasi :)

Selasa, 26 Maret 2013

Siapakah Saya 10 Tahun Lagi ?

Bismillah,

Alhamdulillah bisa sejenak menuangkan pikiran di dalam goresan ini. Malam yang riuh di UNY ini pikiran baru saja plong, alhamdulillah PKM-SUG-MAPRES-PPA sudah berhasil diserahkan, tinggal menunggu hasilnya. Semoga mendapat hasil terbaik, aamiin.

Siapakah saya 10 tahun lagi ?
Judul postingan ini sepertinya kurang tepat atau memang tepatnya demikian ?

Siapa saya 10 tahun lagi ?

Pertanyaan ini sedikit menyindir siapa saya 10 tahun lagi. Ya, tentunya saya 10 tahun mendatang bukanlah saya yang hari ini baru 20 tahun. Jika Allah masih berkehendak, pada usia 30 tahun besok kelak kondisi saya yang pasti berbeda. Saya 10 tahun lagi ingin menjadi apa yang saya pikirkan saat ini, bisa menjadi dosen tetap di UNY (barangkali), sudah berkeluarga dan mempunyai buah hati, serta sukses membangun keluarga tercinta.
 
Itu hanya sekelumit mimpi untuk 10 tahun mendatang. Semua orang berhak bermimpi dan memasang target-targetnya. Sepuluh tahun lagi yang jelas kita sudah berbeda.

Hari ini adalah hasil dari hari kemarin dan hari esok tentunya adalah hasil dari hari ini.
Saya hanya ingin berpikir positif untuk selalu ikhtiar dan berdoa demi masa depan lebih baik, taat beragama, dan berbakti pada orang tua. Saya sepuluh tahun lagi adalah saya yang sudah dirancang Allah untuk hari esok.

Senantiasa berjuang dalam kebaikan,
Selalu optimis menjalani hidup,
 
Jujurlah dalam setiap amal perbuatanmu..
dan pastikan hari esok harus lebih baik dari hari ini, insyaAllah

Semoga tercapailah segala cita-cita. Siapakah saya 10 tahun lagi ? 

Mimpi yang Mencari Jalannya Sendiri

Berikut saya share kan pengalaman mbak Rindu Alri dari web www.ppibelanda.org

Oleh Rindu Alri

Penerima beasiswaIMPoME 2012
Exchange student at Utrecht University



Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan keberuntunganku mendapatkan beasiswa ini ke negeri Van Oranje. Aku mendapatkan beasiswa IMPOME (International Master Programme of Mathematics Education). Beasiswa ini adalah kerjasama antara pihak Utrecht University dengan pihak Indonesia untuk mengembangkan RME (Realistic Mathematics Education) di Indonesia. RME telah diadaptasi di Indonesia dengan nama PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia) hampir 10 tahun.Tujuan dari beasiswa ini adalah untuk membekali generasi-generasi muda (dosen dan calon dosen) tentang ilmu-ilmu RME dari para professional di negeri asalnya, Belanda. Diharapkan dari kamilah ilmu-ilmu tentang RME yang telah diadaptasi dengan budaya lokal dalam naungan PMRI bisa memberikan manfaat terhadap kemajuan sistem pendidikan di Indonesia ini. Sungguh sangatlah mulia tujuan dari program beasiswaku ini.

Well, ngomongin tentang Belanda, aku tak pernah menyangka akan menginjakkan kaki disana. Bermula dari tentor English Conversation Class dan tentor English Debate pada waktu aku masih menjadi mahasiswa Pendidikan Matematika di Universitas Negeri Malang, aq mulai memimpikan negeri itu. Tentor yang bernama Pipit Andriani itu adalah seorang debaters berskala nasional yang dikontrak untuk kerja di UNICEF Belanda. Tanpa kusadari sejak saat itu aq bermimpi untuk bisa menyusulnya ke Belanda. Aku sering chatting dengan mbak Pipit, hanya menanyakan kabar sembari meminta didoakan bisa nyusul ke sana (usaha terselubung, hehehe). Mungkin sejak saat itu, melalui kabel telepon mimpiku berkelana keliling eropa, berenang di sungai Rhein, menjelajah padang tulip, dan terombang-ambing tertiup kincir angin hingga sampai di Indonesia lagi, mengajakku turut serta dalam perjalanannya dan menjadi tour guide untuk datang ke Negeri Kincir Angin tersebut.

Setelah lulus S1, aku menjadi orang yang sukanya ambil kesempatan, apa yang ada di depan mata sikat dulu BLEH….!!!! Ketika aq menjadi guru di salah satu smp favorit di Malang, ada lowongan di salah satu bank Negara, aq masukkan lamaran. Tetapi di tengah proses lamaran di bank tersebut, aku melihat program beasiswa ini, hanya saja karena syarat nya harus dosen maka hatiku sempat menciut.

Tetapi, tiba – tiba di suatu siang dosenku meneleponku dan memberikan informasi beasiswa ini (kebetulan aku memang dekat dengen beberapa dosen, karena menurutku relasi itu sangatlah penting). Aku berdalih ke dosen tersebut bahwa saya belum lah jadi dosen. Beliau berkata itu gampang, kamu datang ke kampus, cari kajur dan bilang kondisimu, nanti dibantu. Dengan bantuan dosen-dosen tersebut, aku akhirnya mendapat surat CTAB (Calon Tenaga Akademik Baru) dari rektor yang menyatakan bahwa saya adalah calon tenaga pendidik di Universitas tersebut. Surat sudah ditangan, saatnya tes wawancara. Tetapi waktu panggilan tes yang mendadak membuatku DILEMA. Karena saat itu aku sedang menjalan training sebagai pegawai BANK dan tidak bisa ijin tanpa alasan yang kuat. Aku tak ingin melewatkan kesempatan itu, tetapi itu juga belum jelas, masih tes wawancara, jadi aku juga tak ingin melepaskan training di BANK tersebut. Alhasil, aku harus berbohong. Aku minta tolong ayah untuk membuatkan surat ijin dari dokter bahwa aku sakit dan memberikan suratnya di tempat aku training. Sempat deg-degan juga sih, takut sakit beneran. Untung sakit yang dipalsukan hanya diare, tapi diare pun juga berbahaya.

Setelah itu, kurang lebih 3 hari kemudian ketika aku sedang on the job training (OJT) sebagai pegawai bank, ada telepon yang mengabarkan bahwa aku diterima beasiswa tersebut. Bukan main galaunya diriku pada saat itu. Di satu sisi, pegawai bank sudah ditangan, aku sudah tanda tangan kontrak dengan masa depan yang lumayan menjanjikan dari segi financial. Di sisi lain, kesempatan untuk berkembang dan maju ada di depan mata. Kegalauan menjadi-jadi karena senin depannya adalah pelantikan untuk menjadi pegawai bank. Dengan kemantapan hati, pada hari senin ketika teman-teman yang lain datang bersama orang tua untuk mengikuti pelantikan jam 9 pagi, aku datang bersama ayahku jam 8 untuk mengundurkan diri dan harus membayar denda untuk mengambil IJAZAH S1 ku.

Dan aku mantapkan hati untuk berkembang bersama beasiswa tersebut. Sayangnya perjuangan tidak berhenti disitu, aku masih harus berkompetisi diantara 30 orang penerima beasiswa untuk berangkat ke Belanda. Syaratnya hanya skor IELST minimal 6,5 dan ini adalah tes IELST pertamaku. Terkadang aku masih ragu, benarkah aku ingin ke Belanda, beranikah aku berada di Negeri orang nun jauh disana dalam kurun waktu setahun (karena selama ini aku masih anak mami yang masih suka pulang ke rumah setiap minggu Malang-Sidoarjo). Tetapi, Allah berkehendak lain, skor IELST ku 6,5 dan aku berangkat ke Belanda dengan BONEK (Bondo-Nekat).  Sayangnya, ketika aku sampe di Belanda, tentorku, mbak Pipit telah habis masa kontraknya dan sudah pulang ke Indonesia (hiks..hiks)

Tapi memang lo, kata-kata BONEK ini terlanjur melekat di benakku. Sering aku melakukan perbuatan yang hanya berbekal kenekatan dan berhasil. Tetapi BONEKnya dalam sudut pandang yang positif lo….bukan ugal-ugalan seperti supporter bola di Surabaya hehehehe.

Seperti jalan dari mimpiku untuk pergi ke Belanda ini. Ya mungkin kalian tetap melihat usahaku untuk mendapatkan jalan ini, tapi aku merasa bahwa jalan ini membuka dengan sendirinya…..aku hanya harus melewatinya dengan sebaik mungkin.

Percayalah bahwa jalan dari mimpi-mimpi kalian sudah ada dan sudah terbentuk, tinggal kalian mau melewatinya atau tidak. Jika ragu, lebih baik kembali (SLOGAN TNI).

Maka jangan pernah ragu untuk menapaki jalan itu, karena mimpimu yang telah mencari jalan tersebut.

Faedah 7 Ayat dalam Al Fatihah

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Ta'ala..
Hingga malam hari ini Allah masih memerikan cinta-Nya kepada kita... 
Saudaraku pengunjung blog yang budiman..

Berikut saya sharekan sebuah ilmu dari web www.rumaysho.com insyaAllah bermanfaat.

Di antara faedah surat Al Fatihah yaitu terbaginya manusia menjadi tiga golongan. Ada manusia yang dimurkai karena berilmu namun engggan mengamalkan ilmunya. Ada manusia yang sesat karena beramal asal-asalan tanpa didasari ilmu. Ada manusia jenis ketiga, yaitu yang diberi ilmu dan mengamalkan ilmunya yaitu manusia yang diberi nikmat.
Faedah ini disebutkan dalam ayat,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah: 6-7).

Jalan yang lurus itulah yang senantiasa kita minta pada Allah. Jalan lurus inilah jalan orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang yang sesat.

 faedah_surat_al_fatihah_7














Golongan Orang yang Dimurkai
Inilah golongan pertama. Mereka adalah golongan yang dimurkai. Sifat mereka adalah orang yang berilmu namun enggan mengamalkan ilmunya. Merekalah Yahudi dan yang sejalan dengan mereka dari umat ini yang punya sifat memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkan ilmunya.

Golongan Orang yang Sesat
Golongan orang yang sesat, inilah yang kedua. Mereka adalah ahli ibadah, namun tidak memiliki ilmu. Mereka beribadah pada Allah, namun asal-asalan dengan membuat amalan tanpa tuntunan. Merelah orang sufi dan pelaku bid’ah. Mereka semua masuk dalam golongan yang sesat. Karena mereka sibuk dengan ibadah namun meninggalkan ilmu. Bahkan mereka sampai mengatakan bahwa dengan belajar malah bisa melalaikan dari ibadah.

Pelajaran Dilihat dari Umumnya Lafazh
Maksud ayat ‘maghdub ‘alaihim’ (orang yang dimurkai) adalah untuk kalangan Yahudi dan ‘dhoolliin’ (orang yang sesat) adalah untuk orang Nashrani. Namun ayat tersebut tidak berlaku pada mereka saja, namun setiap yang punya sifat yang sama dengan mereka. Para ulama berkata,
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
Pelajaran dapat dipetik dari keumuman lafazh, bukan dari kekhususan sebab.
Oleh karenanya pula, sebagian salaf mengatakan,
من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود, ومن فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى
“Barangsiapa yang rusak dari ulama kita (yang berilmu), maka mereka punya keserupaan dengan Yahudi. Dan barangsiapa yang rusak dari ahli ibadah kita, maka mereka punya keserupaan dengan Nashrani.”

Golongan yang Memperoleh Nikmat
Golongan yang selamat adalah golongan yang ketiga ini. Mereka memiliki sifat berilmu dan beramal. Merekalah golongan yang diberi nikmat sebagaimana disebutkan pula dalam ayat lainnya,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa’: 69). Jika kita ingin menjadi orang yang mendapatkan nikmat, maka kumpulkanlah sifat memiliki ilmu nafi’ (bermanfaat) dan beramal sholih.

Bukan Karena Upaya dan Kerja Keras Kita
Supaya menjadi golongan yang diberi nikmat adalah karunia dari Allah, bukan dari usaha kita. Oleh karenanya dalam surat Al Fatihah sudah disebutkan bahwa kita meminta pada Allah hidayah supaya berada di jalan yang lurus. Artinya, untuk berada di atas jalan tersebut hanya dengan karunia Allah, bukan karena daya dan upaya kita. Jadi Allah-lah yang memberi taufik untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Allah-lah yang memberi taufik untuk dapat beramal sholih. Jika Allah menghendaki tentu kita pun bisa menjadi orang yang dimurkai dan yang sesat. Jadi yang mengeluarkan dari dua golongan celaka tersebut adalah Allah. Dia-lah yang menjadikan kita dapat menempuh jalan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang sholih. Jadi bukan karena upaya dan kerja keras kita namun karena karunia dari Allah.

Ibnul Qayyim dalam Al Qosidah An Nuniyah mengatakan,
لو شاء ربك كنت أيضا مثلهم*** فالقلب بين أصابع الرحمن
“Jika Rabbmu mau tentu engkau akan semisal dengan mereka. Karena hati di antara jari jemari Ar Rahman (yaitu Allah)”
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diberi nikmat, bukan termasuk yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Hanya Allah yang memberi hidayah.

Referensi:
Syarh Ba’du Fawaidh Surotil Fatihah, -guru kami- Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Al Imam Ahmad.
---
@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 12 Jumadal Ula 1434 H

Rabu, 20 Maret 2013

Pengertian Pertanian Organik (Kuliah)



Istilah umum ‘pertanian’ berarti kegiatan menanam tanaman yang nantinya menghasilkan sesuatu yang dapat dipanen, dan kegiatan pertanian merupakan campur tangan manusia terhadap tetumbuhan asli dan daur hidupnya. Dalam pertanian modern campur tangan ini semakin jauh dalam bentuk masukan bahan kimia pertanian, termasuk : pupuk kimia, pestisida, dan bahan pembenah tanah lainnya. Bahan-bahan tersebut mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produksi tanaman. Akan tetapi, apabila dua istilah “pertanian alami” dan “pertanian organik” kita kaji lebih mendalam, maka pengertiannya berbeda.
Istilah yang pertama “pertanian alami” mengisyaratkan kekuatan alam mampu mengatur pertumbuhan tanaman, sedang campur tangan manusia tidak diperlukan sama sekali. Istilah yang kedua “pertanian organik” yaitu pertanian dengan campur tangan manusia lebih intensif untuk memanfaatkan lahan dan berusaha meningkatkan hasil berdasarkan prinsip daur ulang yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat (Sutanto, 1997a).


Istilah pertanian organik menghimpun seluruh imajinasi petani dan konsumen yang secara serius dan bertanggung jawab menghindarkan bahan kimia dan pupuk yang bersifat meracuni lingkungan dengan tujuan untuk memperoleh kondisi lingkungan yang sehat. Mereka juga berusaha untuk menghasilkan produksi tanaman yang berkelanjutan dengan cara memperbaiki kesuburan tanah menggunakan sumber daya alami seperti mendaur-ulang limbah pertanian. Dengan demikian, pertanian organik merupakan suatu gerakan “kembali ke alam”.
Prinsip ekologi dalam pertanian organik dapat dipilahkan sebagai berikut :
1.   Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman, terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah.
2. Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara, melalui fiksasi nitrogen, penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani.
3.  Membatasi kehilangan hasil panen akibat aliran panas, udara dan air dengan cara mengelola iklim mikro, pengelolaan air dan pencegahan erosi.
4. Membatasi terjadinya kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit dengan melaksanakan usaha preventif melalui perlakuan yang aman.
5.  Pemanfaatan sumber genetika (plasma nutfah) yang saling mendukung dan bersifat sinergisme dengan cara mengombinasikan fungsi keragaman sistem pertanaman terpadu.

Referensi : Sutanto, Rachman. 2002. Pertanian Organik. Yogyakarta: Kanisius.