Ged a Widget

Rabu, 27 Februari 2013

Mengenal Lebih Dekat Inspirator Saya



Segala puji bagi Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa memberi rahmat dan kasihnya kepada para umat, sehingga pada saat ini saya bisa bercerita dan berbagi kepada kawan-kawan semua. Berkat kasih sayang-Nya kita bisa hidup, menghirup udara bebas yang tak ternilai harganya, bisa beraktivitas bersama manusia lainnya, dan bisa berjuang dalam meraih mimpi-mimpi kita.
Perjalanan hidup ini sudah dirancang Allah secara sempurna, tanpa kurang suatu apapun. Hidup mengajari kita untuk berjuang bersama orang-orang di sekitar kita. Tentunya, kita tidak bisa terlepas dari dua sosok inspirator hidup yang sedari kecil telah merawat, membesarkan, dan menjaga kita. Mereka adalah bapak dan ibu kita. Melalui sepenggal tulisan ini saya akan berbagi sejauh mana saya mengenal bapak dan ibu saya yang mungkin belum secerdas beliau-beliau mengenal pribadi saya.
Nama saya Janu Muhammad, seorang pemuda 20 tahun, single, putra daerah Kabupaten Sleman. Saya lahir dan dibesarkan di Gang Pache, Ngemplak RT 05 RW 32, Caturharjo, Sleman hingga saat ini bersama  keluarga tercinta. Di rumah hijau ini, kami berempat tinggal, saya, bapak, ibu, dan adik perempuan saya. Saya bukan berasal dari keluarga kaya raya atau keluarga mewah, saya berasal dari keluarga sederhana yang berusaha menciptakan keluarga sakinah, mewadah, warohmah. Saya mempunyai seorang bapak dan ibu. Nama bapak saya adalah Ngadiyo dan ibu saya bernama Lasiyem. Keduanya adalah sepasang suami istri yang romantis dan saling memberi perhatian. Saya akan menceritakan profil tentang ibu saya terlebih dahulu.
Ibu saya, ibu Lasiyem adalah sosok wanita tangguh, sabar, lembut, dan sangat tanggung jawab. Beliau lahir di bumi Sleman, 18 Agustus 1967. Beliau tidak menamatkan sekolah dasarnya, sehingga ijazah pun tidak punya, demi adik laki-lakinya yang bisa bersekolah sampai ke perguruan tinggi. Masa kecil ibu penuh dengan tantangan, beliau sudah bekerja sejak usia muda, mulai dari berjualan makanan, ayam, dan sayuran hingga saat ini, sungguh berat apa yang beliau alami. Semua itu beliau lakukan demi bisa menyekolahkan adiknya yang kini telah memegang pangkat Kapten TNI AD. Waktu pun berjalan hingga Allah mempertemukan ibu dengan bapak. Pada saat itu beliau langsung mau dinikahi oleh bapak, hingga pada tahun 1993 dikaruniai seorang anak laki-laki tampan bernama Janu. Ibu saya menyukai makanan nasi putih yang dilengkapi dengan sayur dan lauk, itu makanan favorit ibu. Untuk minumannya, beliau menyukai teh manis hangat yang sering diminum pada pagi hari sebelum berangkat ke pasar. Ketika saya bertanya tentang hobi, ternyata hobi ibu saya adalah berjualan atau berdagang, sesuatu yang sudah ibu lakukan sejak masa remaja bersama nenek hingga awet sampai saat ini. Hal positif yang beliau sukai adalah bekerja dan bekerja, kalau memasak di dapur sepertinya sudah tidak lagi karena terlalu sibuk di pasar. Ibu saya juga mempunyai cita-cita bisa menyekolahkan kedua putra-putrinya. Ada satu cita-cita terbesar beliau yaitu bisa naik haji, aamiin, semoga saya kelak bisa mewujudkannya. Prinsip hidup yang beliau tanamkan adalah bahwa hidup itu untuk ibadah dan jujur di mana saja dan kapan saja.


Hal yang diinginkan ibu kepada Janu Muhammad adalah bisa menjadi anak yang sholeh dan bisa bekerja di kemudian hari. Dua harapan ini yang membuat saya merinding ketika mendengarnya, apakah sampai saat ini saya sudah bisa menjadi anak yang beliau harapkan ? Semoga sedikit demi sedikit saya bisa mewujudkan harapan ibu. Lalu, ketika saya bertanya : Apa yang disukai ibu dari bapak ? Ibu saya menjawab “Apa adanya dari Bapak.” Sebuah jawaban yang singkat, padat, dan jelas. Beliau tidak menginginkan sifat yang muluk atau harta yang berlimpah, namun hanya apa adanya menerima satu sama lain dan saling hidup bersama.
Tibalah saatnya saya sharing profil bapak. Pak Ngadiyo adalah seorang suami dari ibu Lasiyem. Bapak lahir di Sleman, 31 Desember 1965 (di KTP) dan merupakan tetangga desa ibu saya sewaktu muda. Beliau juga tidak menamatkan pendidikan sekolah dasarnya, hanya sampai sekitar kelas 3 SD. Beliau memilih untuk bekerja, membiayai adik perempuannya. Beliau sejak muda sudah bekerja di sawah atau membantu simbah kakung. Bapak adalah inspirator hidup saya. Beliau adalah sosok pria yang tegap, tegas, lembut, sabar, dan pastinya tanggung jawab. Makanan kesukaan Bapak adalah tahu susur, tahu yang di dalamnya ada isi sayurannya dan digoreng. Untuk minuman favorit bapak adalah teh manis hangat seperti yang ibu sukai, biasanya diminum sebelum berangkat ke pasar bersama ibu. Ternyata bapak saya tidak punya hobi, namun setahu saya bapak sering sekali bekerja tanpa lelah, baik di sawah maupun pasar bersama ibu. Sekali lagi, orang tua saya bekerja sebagai pedagang sayur di Pasar Sleman. Hal yang disukai dari Bapak adalah menjadi seorang ‘bakul’ atau bekerja bersama ibu tercinta di pasar Sleman, sebuah romantisme tersendiri bagi beliau. Cita-cita beliau adalah bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang yang tinggi, sama seperti cita-cita ibu. Prinsip hidup bapak adalah ketika punya rezeki itu digubakan untuk ibadah dan membiayai janu beserta isti, adik saya. Harapan besar Bapak kepada saya dan adik adalah menjadi anak yang pintar dan bisa langsung bekerja. Hal yang disukai bapak dari ibu adalah sosok ibu yang mau bekerja keras, mapan, dan mandiri, tidak ada wanita lain sehebat ibu.
Itulah sepenggal kisah saya untuk mengenal bapak dan ibu sebagai inspirator saya. Keduanya adalah sepasang pahlawan hebat yang selalu menyemangati saya, mendorong saya untuk maju dan belajar sungguh-sungguh agar bisa menjadi manusia yang bermanfaat dalam kebaikan. Menjadi manusia yang jujur, sederhana, rendah hati, bersungguh-sungguh, dan taat pada agama Islam adalah pesan yang selalu beliau ajarkan kepada saya dan adik saya. Bahwa hidup itu untuk beribadah, bahwa hidup itu harus sederhana, bahwa menjadi keluarga itu harus saling menerima apa adanya, bahwa menjadi sebuah keluarga itu harus saling memberi perhatian, dan menjadi seorang anak itu harus berbakti kepada orang tua. Belajar, berkarya, dan menjadi pribadi yang baik adalah sebuah usaha untuk mengukir senyum kedua orang tua, semoga dimudahkan. aamiin


oleh : Janu Muhammad