Ged a Widget

Senin, 25 November 2013

Guru Iku Digugu lan Ditiru (Refleksi Hari Guru)

Jadi ceritanya hari ini saya pulang kuliah agak awal, sekitar Pkl 17.00. Saya sampai rumah Pkl 17.50 WIB, setelah itu sholat Maghrib dan sekitar Pkl 18.30 langsung mengajar. Ya, sekitar sebulan ini saya mulai mengajar les privat, tidak jauh dari rumah. Berhubung adeknya itu mau ujian, ya memang mengharuskan ada tambahan hari. Materinya tadi adalah IPA untuk SD. Setelah selesai, saya pamitan pulang lalu mampir ke suatu warnet mewah (mepet sawah), maklum saja daerah kami masih ndeso, namun listrik sudah ada kok. Saya hanya bisa ngenet di sini karena modem baru eror.
Saya baru membaca buku IM ini, inspiratif !

Langsung teringat, ada yang berbeda tampaknya hari ini. Sewaktu kuliah Etika Profesi Guru pagi tadi, saya sempat mengucapkan "Selamat hari guru teman2ku..." sebelum saya menyampaikan pertanyaan kepada kelompok penyaji makalah. Ya, hari ini miladnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Ada yang belum mengerti sejarah PGRI ? Meri kita menengok sejarahnya.
"Ternyata, semangat proklamasi 17 Agustus 1945 menjiwai penyelenggaraan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November 1945 di Surakarta. Melalaui kongres ini, segala organisasi dan kelompok guru yang didasarkan atas perbedaan tamatan, lingkungan pekerjaan, lingkungan daerah, politik, agama, dan suku, sepakat dihapuskan. Mereka adalah guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan yang aktif berjuang, dan pegawai pendidikan Republik Indonesia yang baru dibentuk. Mereka bersatu untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di dalam kongres inilah, pada tanggal 25 November 1945-seratus hari setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia-Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) didirikan." (http://fkip.unila.ac.id/2013/11/24/sejarah-hari-guru-nasional-25-november/)
Guru itu Mulia

Itu tadi sejarah hari guru ya, ternyata memang sudah lama terbentuk PGRI. Baiklah, kalau diruntut melalui tali sejarahnya, guru terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Fenomena dan peristiwa yang dialami para pendidik di Indonesia beraneka ragam. Mulai dari kesejahteraan guru yang masih dipertanyakan, sertifikasi guru, dan tentunya kesejahteraan guru. Mata saya mulai terbuka, ketika saya memikirkan : untuk apa guru ada, apa perannya untuk kita dan Indonesia, bagaimana cara menjadi guru ideal dan menjadi teladan ? Pertanyaan ini cukup berat, bukan kapasitas saya untuk menjawab, namun izinkan saya berargumentasi ya.

Generasi Emas Indonesia #IndonesiaMengajar


Guru adalah seorang manusia yang mengabdikan dirinya sebagai hamba Allah untuk menyampaikan ilmu-ilmu bermanfaat. Melalui orang mulia seperti guru ini, sebuah ilmu akan tersampaikan dan kita menjadi tahu apa saja yang ada di dunia ini. Guru ada untuk berbagi. Guru ada untuk mendidik dan membina dengan hati. Guru sejati itu guru yang menurut saya mampu mengayomi. Masih ingat dengan arti guru itu sendiri adalah 'digugu' lan 'ditiru' atau menjadi contoh yang baik, mulai dari perkataannya, sifatnya, maupun perbuatannya, Pada intinya, guru memberi teladan baik bagi siswa-siswanya.

Guru berperan penting untuk kita. Guru mengajarkan peserta didiknya untuk memahami ilmu sehingga mereka akan menjadi manusia yang berilmu dan mau mengamalkan ilmunya di atas jalan kebenaran. Guru membina dengan hati, membentuk generasi emas untuk memajukan negeri ini. Apalah daya, jika tanpa peran seorang guru mungkin negeri ini tak bisa maju seperti saat ini. Guru juga sebagai aktor yang melunasi janji kemerdekaan, seperti yang dikatakan mas Anies Baswedan untuk 'mencerdaskan kehidupan bangsa'. Jika tanpa guru, oleh siapa pendidikan negeri ini akan dibangun ?

Guru memberi teladan, seperti kata Ki Hajar Dewantara..'tut wuri handayani'. Sebaik-baik cara untuk mendidik orang lain adalah dengan memberi contoh yang baik, 1000 nasihat tak ada artinya daripada 1 keteladanan, ini yang utama. Guru mampu memberikan contoh akhlak baik, lisan yang terjaga, dan tindakan yang sesuai tata krama. Bukankah ini akan lebih mulia ?

Bukan untuk menjadi guru yang lupa waktu, guru yang datang terlambat, atau guru yang menjadi sorotan media masa, bukan.

#RefleksiMahasiswaEsSatu
Bahwa menjadi guru bukan perkara mudah, bukan juga perkara sulit. Tinggal bagaimana, diri kita mampu memposisikan diri dengan baik, meluruskan niat bahwa #berbagi ilmu itu indah, #berbagi kebaikan itu yang paling utama, dan bersyukur karena kita sudah diberi kesempatan merasakan pendidikan itulah yang mulia.

Bersyukur dan berbagi, saya sudah diberi kesempatan untuk tahu seluk beluk siapa itu guru, melalui ilmu-ilmu yang telah diajarkan oleh bapak ibu dosen. Ya, saya dan teman-teman ingin sekali memajukan negeri ini, membuat Indonesia Tersenyum dengan kontribusi kami untuk pendidikan. Kami ingin generasi setelah ini jauh lebih baik, dengan peran serta kami para calon pendidik. Kami ingin sekali melunasi janji kemerdekaan, dengan mengabdikan diri untuk berbagi ilmu untuk Indonesia tercinta.

 
Selamat mendidik, bakti pengabdianmu untuk bumi pertiwi. Terimaksih bapak ibu guruku TK ABA Kendangan, SD N Dalangan, SMP N 1 Sleman, SMA N 2 Yogyakarta, bapak ibu dosen P.Geografi UNY, dan semua kawan-kawan yang selama ini mengingatkan Janu.

Mari buat Indonesia Tersenyum bersama-sama :)

Janu Muhammad
Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta 2011
"Man Jadda Wa Jada"

(sedikit coretan yang menjadi refleksi bagi diri penulis)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar