Ged a Widget

Sabtu, 30 November 2013

Enam Lampu Hijau Sambut AIC 2013


Siang itu sekitar Pkl 13.00 saya pamit keluarga. Selama empat hari ke depan ini, saya akan merindukan rumah tercinta, meninggalkan kamar inspirasi untuk sementara waktu. Tiba saatnya saya akan memulai perjuangan dalam kegiatan final LKTI Airlangga Ideas Competetion (AIC). AIC merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh UKM Penalaran Universitas Airlangga. Dalam pandangan saya, AIC adalah ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah yang sangat kompetitif. Pasalnya, untuk tahun 2013 ada 154 karya yang masuk dan diambil 15 terbaik yang masuk babak final. 

Perjalanan siang itu cukup menenangkan, alhamdulillah diberikan kelancaran. Namun, ternyata tantangan itu mulai muncul. Di jalan magelang saya menemui kemacetan lumayan panjang. Memang benar jalan ini selalu macet di jam-jam sibuk. Tetapi saya beruntung, untuk dua traffic light menyala lampu hijau terus. Setelah sampah di perempatan Monjali, langkah saya terhenti karena traffic light menyala lampu merah. Jam tangan saya terus berputar, tinggal 15menit lagi saya harus sampai di stasiun Lempuyangan untuk naik kereta Pasundan. Jadwal keberangkatan kereta yang akan menuju Stasiun Gubeng Surabaya adalah Pkl 13.43 WIB. 


Kemacetan parah saya temui di ruas jalan Monjali, antrean panjang kendaraan roda 4 menghiasi sepanjang jalan itu. Alhamdulillah, lampu lalu lintas di pertigaan jembatan UGM menyala hijau. Saya kembali tersenyum lebar karena masih ada harapan untuk sampai stasiun tepat waktu. Senyum saya bertambah lebar ketika traffic light di perempatan Jetis juga menyala hijau, alhamdulillah. Sebentar lagi saya sampai di Tugu Jogja, di sana cukup ramai namun lagi-lagi Allah menunjukkan jalan saya agar saya segera sampai Lempuyangan. Lampu kembali menyala hijau. Saya kemudian mengerem sepeda motor dan berhenti sejenak di pertigaan jalan Sudirman, yang biasanya untuk car free day. “Tinggal 5 menit” waktu saya menuju 13.43. Saya pacu kendaraan kembali, lampu hijau juga menyala di perempatan Kotabaru dekat gramedia. 


Suasana sudah dag dig dug, karena waktu semakin mepet. Tiba-tiba saya sudah sampai di parkiran motor “terlindungi” dekat Lempuyangan dan memarkir motor saya di sana. Saya lari, berpacu dengan waktu. Ketika sampai di TKP, Ya Allah teman saya Akhsin juga belum sampai. Padahal, kereta sudah mau berangkat. “Pak, keberangkatannya ditunda 10 menit lagi ya Pak” pinta saya kepada petugas kereta. Batin saya mengatakan bahwa, Akhsin baru dalam perjalanan. Saya percaya dia akan datang, meski sudah saya missed call 9x namun juga kunjung datang. Allah..Allah..Allah, 30 detik terakhir sebelum kereta berangkat, Akhsin menampakkan batang hidungnya. Dengan nafas terengah-engah dia menyodorkan sepucuk tiket kereta. Kami langsung naik dan masuk, tanpa security check atau ticketing dulu. “Alhamdulillah, legar rasanya” batin saya. Yang memuat perjalanan awal ini mengesankan adalah ketika saya berada dalam ketidakpastian ataupun kegalauan menunggu sahabat saya, namun ternyata keyakinan dan prasangka baik mampu mengalahkan kegalauan itu. Sampai bertemu di perjalanan selanjutnya.



#RefleksiMahasiswaEsSatu saya mengatakan :

Ketika ingin bepergian : persiapan matang, jangan menunda waktu keberangkatan, berpikir positif dalam setiap keadaan, dan pastinya adarasa "trust" kepada teman :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar