Ged a Widget

Rabu, 23 Oktober 2013

Satu Jam Lebih Dekat Bersama Mas Anies Baswedan

Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah Ta’ala, yang senantiasa memberi nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.

Apa kabar sahabat ? Semoga engkau selalu sehat dan dalam lindungan Allah Ta’ala. Saya saat ini akan berbagi kisah hari ini, Selasa 22 Oktober 2013.  Pagi tadi suasana rumah saya di Sleman tampak seperti biasa, semua anggota keluarga mempunyai aktivitas masing-masing dan tinggal saya sendiri di rumah. Kebetulan, setiap hari Selasa saya free tidak ada jadwal kuliah. Meskipun demikian, saya merasa tetap tidak ada libur karena selalu saya gunakan waktu luang untuk melakukan sesuatu yang produktif.

Mas Anies Baswedan adalah salah satu alumni angkatan 1989 yang kini menjadi figur teladan bagi masyarakat Indonesia. Mas Anies sebenarnya masuk SMADA tahun 1985 dan lulus baru 1989 karena satu tahun mengikuti program AFS di Amerika Serikat. Sebagaimana sahabat tahu, mas Anies adalah rektor Universitas Paramadina dan pendiri Gerakan Indonesia Mengajar. Sejak masa SMA nya, mas Anies sudah aktif dalam organisasi. Pada tahun 1985, ketika kelas X terpilih menjadi ketua OSIS se-Indonesia. Sebenarnya beliau terpilih menjadi ketua OSIS SMADA, namun karena masih kelas X ternyata belum boleh menduduki amanah itu.
Tenda yang kokok, panggung di pusat lapangan upacara menjadi saksi Studium Generale tadi. Siswa-siswa SMADA, para guru, beberapa alumni, dan tamu undangan telah bersiap menyambut mas Anies. Ya, acara telah dimulai ketika saya sampai sana. Suasana tampak hangat dan khusyuk karena ini adalah peristiwa langka. Saya pun bersemangat untuk mengikuti acara motivasi ini, berharap nanti bisa bersalaman dengan mas Anies dan didoakan agar suatu kelak bisa mengikuti jejak beliau. Ya, mas Anies adalah inspirator saya selama ini. Dengan kesederhanaan beliau, kepedulian beliau terhadap pendidikan di Indonesia telah mengetuk hati saya untuk ikut serta turun tangan. Berikut ini nasihat-nasihat mas Anies yang saya catat.
Masa muda, apalagi masa-masa SMA adalah masa yang tak akan terlupakan. Masa ini menjadi kunci akan jadi apa kita nanti. Seperti pengalaman mas Anies ketika SMA, meskipun sangat aktif dalam organisasi, namun tetap memegang teguh prestasi. “Anda melupakan prestasi saat ini, pintu terpenting akan tertutup,” nasihat mas Anies. Modal untuk menjalani hidup bukanlah NEM, yang penting adalah leadership, etika, dan kedisiplinan. Jadi, aktif di organisasi itu harus diiringi dengan nilai di kelas yang bagus. Mumpung masih muda, manfaatkan waktumu, jangan dibuat untuk menganggur. Carilah teman baik, lakukan sesuatu dan berlelah-lelahlah dalam kebaikan.

mas Anies disambut Tonti Smada
Mas Anies Baswedan ternyata sewaktu SMA juga mengikuti TONTI (pleton inti). Beliau bercerita juga, seragam kebesaran KANTI (nama saat ini) juga didesain bersama teman-temannya saat itu. “SMA 2 selalu menjadi pemenang,” kata beliau. Sebenarnya untuk apa harus berlelah-lelah ikut KANTI dan ikut organisasi, bahkan selalu pulang sore ? Tanpa disadari itu merupakan latihan ketangguhan agar tidak mudah untuk menyerah. Pada saat latihan KANTI sampai sore dan kepanasan, untuk apa sih ini semua ? “Begitu Anda dihadapkan masalah, itulah cara kita bisa belajar berfikir sistematis,” nasihat beliau.


Selanjutnya, mas Anies menjelaskan tiga resep untuk para kawula muda saat ini, khususnya siswa-siswi SMADA. Kepemimpinan itu harus, maka ikutlah organisasi sekolah. Tidak cukup skill itu, Anda juga harus bisa menulis, bisa saja menulis di blog, ataupun di media lainnya. Tulislah aktivitas siang ini (baru saya tulis), langsung tuliskanlah. “Kalau Anda bisa menulis, itulah kunci kompetisi di masa depan,” nasihat beliau. Lalu, belajarlah bahasa internasional. Bahasa internasional berbeda dengan bahasa asing. Itu semua untuk membuka wawasan kita di dunia internasional.
Beberapa aktivitas Mas Anies yang siang tadi ditemani oleh mas Danang (ketuas OSIS angkatan mas Anies) adalah berbagi kegiatan di OSIS, pengelolaan Program Tanah Merdeka (TVRI) melalui kepenulisannya, hingga pernah menjadi bagian dari kru majalah PERSADA (Smada Journalist Club). Kata beliau, akibatnya sering tidur di sekolah pada hari Sabtu atau Minggu karena aktif mengelola kegiatan-kegiatan. Setelah itu, beliau memberikan tugas 2 berupa membuat CV untuk masa depan 2033. Tuliskan : alamat Anda, pekerjaan, publikasi apa saja yang telah berhasil diterbitkan. Sebuah tantangan yang harus dicoba. “Anak muda menuliskan masa depan, orang tua menuliskan masa lalu. Anda menulis mimpi, bekerja keras untuk melampaui mimpi-mimpi itu.”


Cerita kenangan mas Anies SMA antara lain : ketika masih SMA dulu mengendarai vespa untuk pergi ke kampus. Teman-teman di A11 yang nakal-nakal namun sangat berprestasi, dan inspirasi-inspirasi lain yang menjadi hikmah sejarah. Lalu, tibalah sesi tanya jawab oleh peserta, antara lain : Aviciena, Habibi, Reinaldo, dan lain-lain. Ada yang menanyakan bagaimana manajemen waktu, cara biar tidak labil, jalan menjadi pemimpin, semuanya berhasil membuka mata dan hati. Mas Anies menjawab : mengatur waktu tidak ada rumusnya. Yang terpenting Anda yakin sekolah dan pertemanan mendapat perhatian. Jalan menjadi pemimpin itu tidak langsung lurus, bahkan bisa berliku-liku. Apakah kita berhak menjadi pemimpin ? Siapakah pemimpin itu ? Pemimpin memang harus amanah, bijaksana, bertanggung jawab, dan lain-lain. Namun, syarat utamanya adalah : bila Anda diikuti, seperti seorang yang tiba-tiba menjadi imam karena ada makmum yang mengikutinya. Pikiran dan perbuatan membuat Anda ikut. Bukan hanya menjadi pejabat. Anda bisa saja menjadi ketua OSIS, namun belum tentu menjadi pemimpin karena tidak ada yang mengikuti langkah Anda. Pemimpin di Indonesia membutuhkan integritas. Jalannya boleh lika-liku namun caranya harus lurus. 



Inilah petikan yang sangat menyentuh :
“Anda tidak boleh terbang jika dipuji dan tidak boleh tumbang saat dicaci.” Ambillah tanggungjawab, jangan takut dikritik. Mas Anies Baswedan kemudian bercerita perjalanannya ketika menjadi peserta konvensi Demokrat. “Apakah warga biasa seperti saya tidak boleh turun tangan dan ikut andil melunasi janji kemerdekaan ini ?” Biarlah orang mencaci dan mengkritik dengan langkah saya, namun ketahuilah bahwa kita harus segera melunasi janji kemerdekaan Indonesia.
Kemudian ada salah satu siswa yang menanyakan tentang ‘fokus’ terhadap tujuan. Bagaimana caranya ? Mas Anies menjawab, “Buatlah Curriculum Vitae masa depan, focus, dan kerja keras meraih target itu.” Jika Anda yang saat ini sedang bersekolah, tulislah mata pelajaran di kamar dan tulis nilainya, tutur mas Anies yang juga merupakan alumni UGM ini. Lalu tiba-tiba muncul pertanyaan tentang otak kanan dan otak kiri. Mas Anies kemudian memberikan kuis, bagi yang bisa menjawab maka akan mendapatkan reward foto bersama dan akan di tweet oleh beliau. Pertanyaan satu, 8 x 7 = …. Pertanyaan dua, tuliskan sebuah kalimat yang bernada. Jawabannya adalah : untuk pertanyaan pertama semua siswa yang di SMA 2, SMA 3, di Tokyo, Amerika, semuanya menjawab bahwa 8 x 7 = 56, namun untuk pertanyaan kedua pasti jawabannya berbeda-beda. Nah, bisa kita buktikan bahwa pertanyaan pertama membutuhkan otak kiri untuk menjawabnya. Sedangkan pertanyaan kedua, membutuhkan otak kanan yang memang harus berkreasi, bukan imitasi seperti soal pertama. Lalu bersambung di pertanyaan seputar pendidikan karakter. Anak-anak kita disiapkan menjawab 8 x 7, artinya hanya imitasi dan tidak mau berkreasi. Kalau siswa SMA 2 ingin berhasil, modali dengan pertanyaan ke-2. 



Mas Anies adalah tipe orang yang suka bekerja bersama people daripada paper. Beliau sangat aktif menggerakkan orang-orang untuk turun tangan, sewaktu SMA juga berteman dengan anak-anak geng yang akhirnya berhasil beliau tobatkan setelah diajak masuk OSIS. Dari yang awalnya siswa nakal, akhirnya menjadi panutan karena memang tuntutan di OSIS. Mas Anies bercerita juga, manusia itu sebenarnya tidak hanya memili satu peran. Ibarat beliau saat ini, ketika di rumah akan menjadi seorang suami dan ayah bagi anak-anak. Ketika di Paramadina akan menjadi seorang rektor. Ketika di masyarakat akan menjadi warga yang baik. Ketika di sinipun akan menjadi kakak alumni yang berusaha memotivasi adik-adik. Ingat, kalau kita selama ini hanya membayangkan satu peran, maka selamanya itu Anda.
Ada pertanyaan yang menggelitik juga tadi. Kalau ada banyak orang tua siswa yang tidak setuju dengan kesibukan siswa di organisasi bagaimana mas ? Beliau pun menjawab demikian, “Organisasi itu jauh lebih penting, meski keduanya sama-sama penting.” Siswa tidak hanya dididik untuk pandai secara kognitif, namun juga skill atau keterampilan itu menjadi sangat penting. Contohnya saja para maahsiswa. IP yang tinggi memang akan mengantarkan anaknya dalam wawancara kerja. Namun, kepemimpinan, komunikasi, dan keterampilan akan mengantarkan lulus wawancara. Selain itu, banyak juga fenomena : kuliah cepat akan mengukir senyum saat wisuda. Namun, Anda selama kuliah sudah mengembangkan diri atau tidak ?

Akhirnya, saya bersyukur sekali karena hari ini bisa mendengarkan siraman motivasi dari mas Anies. Selanjutnya, beliau kembali tersenyum-senyum menikmati nostalgia di SMADA. Sebuah bingkai foto-foto SMA dari pihak sekolah menjadi kenangan tersendiri untuk mas Anies dan mas Danang yang merupakan soulmate sampai kapan pun. Benar-benar terharu juga ketika di awal acara tadi beliau berdua melepas rindu lama yang memuncak dengan sebuah pelukan persahabatan. Yah, rasanya seperti saudara yang tak akan terpisahkan. 



Selanjutnya, mas Anies berfoto bersama bapak ibu guru dan panitia. Beliau kemudian turun panggung, Alhamdulillah saya bisa menyapa. “Pak Anies, bolehkah saya meminta tanda tangan ?” Alhamdulillah, sebuah ikrar saya bertuliskan “Aku ingin menjadi pendidik bagi bangsa Indonesia dan pemimpin masa depan” dibubuhi tanda tangan mas Anies dan diberi kata ‘salut’ di atasnya. Saya bersyukur bisa menjabat tangan beliau seraya memohon doa agar bisa mendapat kesempatan di IM dan mendoakan beliau. Ya, sudah sekitar 3 tahun saya belum bisa bersalaman kembali kepada beliau. Terakhir adalah ketika Lustrum IX SMADA. Mas Anies selanjutnya melihat devile KANTI SMADA, memberi semangat layaknya pelatih, dan menyalami satu per satu pasukan inti SMADA siang tadi sekitar Pkl 15.00 di lapangan basket. 


Satu jam lebih dekat bersama mas Anies Baswedan ini merefleksikan diri saya untuk teguh dalam meraih mimpi. Beliaulah inspirasi yang selama ini menguatkan langkah untuk mendidik bangsa ini, turun tangan untuk menyalakan lilin. Tiga nasihat beliau tadi : berorganisasilah, sukai menulis, dan belajarlah Bahasa Inggris adalah amanat yang harus segera saya laksanakan. Tugas beliau agar kami segera membuat CV 2033 dan menuliskan apa saja aktivitas yang didapat hari ini juga menjadi PR bagi saya. Alhamdulillah, saya sudah mau memulainya dengan menuliskan pengalaman hari ini. Semoga Allah Ta’ala memberkahi setiap langkah kita dalam meraih mimpi, memimpin dengan cinta, dan membina dengan hati untuk kemajuan bangsa ini, insya Allah.

Terimakasih Mas Anies Baswedan untuk nasihat-nasihatnya hari ini. Semoga saya segera bisa berjumpa Anda kembali :)

 Kamar Inspirasi, 23 Oktober 2013 Pkl 00.26 WIB
Source Gambar : Akun FB Live Event Smada


Hamba Perindu Surga


Janu Muhammad



Tidak ada komentar:

Posting Komentar