Ged a Widget

Kamis, 24 Oktober 2013

Berkurban Memupuk Solidaritas Sosial

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.”

 
Demikian firman Allah Subhanahu wata’ala dalam Surat Al-Kautsar/108 ayat 1-2. Salah satu pesan penting dalam ayat ini adalah tentang perintah berkurban bagi umat Islam. Dalam kajian fikih, kurban merupakan ritual keagamaan dengan menyembelih hewan ternak yang telah memenuhi kriteria tertentu dan pada waktu tertentu, yaitu sejak 10 sampai 13 Dzulhijjah dalam rangka mendakatkan diri kepada Allah


Ada dua dimensi yang dapat dimaknai dalam Idul Kurban, yaitu dimensi spiritual dan dimensi sosial. Pada dimensi spiritual, Idul Kurban berfungsi memperkokoh tauhid, mempertebal keimanan, dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Ta’ala. Pada dimensi sosial, ibadah kurban berfungsi meningkatkan solidaritas sosial, mendidik untuk berbagi, dan memupuk rasa tolong-menolong kepada sesama. 

Gambar 1. Sapi dan Kambing biasanya disembelih untuk kurban

Perintah berkurban, selain merupakan wujud manifestasi ketaatan kepada Allah, juga mengandung pesan untuk senantiasa menebar kebaikan kepada orang lain yang membutuhkan dan membebaskan orang-orang yang tidak mampu dari kemiskinan. Kepedulian sosial inilah yang bernilai tinggi jika dibandingkan dengan ritual yang dilaksanakan.(Referensi http://www.riaupos.co/2344-opini-kurban-dan-solidaritas-sosial-.html#.Umk0_H9mZMc diakses pada 24 Oktober 2013)


Ibadah kurban, dalam konteks makna harfiah Idul Adha memuat makna mulia. Berbagi kepada sesama, ikhlas dalam ketaatan, dan berlomba dalam melakukan kebajikan. Seperti kisah Nabi Ibrahim yang menjadi teladan umat manusia. Ia rela mengorbankan Ismaildemi ketaatannya kepada Allah. Sejatinya ibadah kurban adalah perintah Allah untuk berkorban di jalan-Nya dengan menyembelih sifat egois, mementingkan diri sendiri, rakus, dan  serakah, kemudian diikuti dengan kecintaan kepada Allah yang diwujudkan dalam bentuk pemupukan solidaritas dan kerja-kerja sosial.

Gambar 2. Indahnya Berbagi kepada Sesama



Gambar 3. Solidaritas Sosial Melalui Berkurban

Ibadah kurban mengajarkan kita untuk menolak segala bentuk egoisme dan keserakahan. Karena kedua sifat itu hanya akan merampas hak dan kepentingan kaum dhuafa (lemah) dan mustadh’afin (dilemahkan). Di sisi lain ibadah kurban dapat menjadi solusi terhadap berbagai bentuk ketimpangan dan ketidakadilan sosial yang masih mewarnai negeri ini. Berkurban mengajarkan manusia untuk menghilangkan diskriminasi harta, semunya berbagi dan tumpah ruah dalam prosesi penyembelihan hewan kurban.


Perintah berkurban bagi mereka yang diberi kelebihan rizki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin, mengandung pesan untuk berkorban harta, jiwa, dan raga.
Semangat menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong-menolong antar anggota masyarakat. Yang kaya menolong yang miskin dan begitu juga sebaliknya. Sikap solidaritas inilah akan mengurangi kesenjangan sosial dan memupuk persatuan umat.
Lomba Blog Himatika UNY 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar