Ged a Widget

Kamis, 26 September 2013

Teladan Seorang Pemimpin

Assalaamu’alaikum Sahabatku,
Alhamdulillah, puji syukur hanya kepada Allah karena hingga saat ini kita masih diberikan kesehatan dan waktu lapang. Setelah sekian lama kita belum bersua melalui media ini, perkenankan saya untuk menyapa sahabat sekalian. Bagaimana kabar Anda hari ini sahabat ? Semoga keberkahan Allah selalu menyertai kita.

Sahabat, pada pagi hari ini Kamis 26 September 2013 saya ingin berbagi sebuah kisah, semoga bisa kita petik hikmah bersama-sama, insya Allah. Mari kita simak petikan kisah di bawah ini (ilustrasi).

Sebuah, hiduplah dua manusia di bumi, keduanya bernama A dan B. A adalah sosok lelaki yang sangat sederhana, murah senyum, mudah bergaul, santun, dan penyayang. Dia adalah seorang ayah dari dua anak yang bermimpi memiliki sebuah usaha yang mapan. Dia hidup di sebuah desa terpencil yang jauh dari kemajuan. Lelaki kedua bernama B, adalah sosok ayah yang kaya raya, memiliki banyak perusahaan dan telah mempekerjakan banyak orang. Berbeda karakter dengan A, B cenderung orang yang selalu ingin unggul dan menikmati segalanya untuk dia sendiri. B memiliki sebuah perusahaan tekstil dan letaknya di sebelah desa A.

Saat itu, B mempunyai perusahaan tekstil yang telah maju pesat. Ia pun memiliki asset banyak. B sebagai seorang pemimpin di perusahaan itu memang belum lama memimpin, ia meneruskan ayahnya yang dahulu telah membangun perusahaan itu. Namun saying, karakter B jauh berbeda dari ayahnya. B adalah sosok ‘bos’ yang serba menuntut dan ‘menyuruh’ kepada setiap karyawannya yang berkerja. Ia mengutamakan kesempurnaan dalam kinerja karyawannya. Sangat kontras, ia bisa menyuruh namun jarang sekali melaksanakan apa yang ia perintahkan kepada karyawannya. Ia menuntut bawahannya untuk bekerja tepat waktu, namun ia sendiri selalu datang ke kantor terlambat. Ia meminta mereka kerja keras, namun ia sendiri hanya malas untuk bekerja. Setelah pulang kerja, ia pun sering ‘keluar’ mencari angin, padahal anak dan istrinya sudah lama menunggu di rumah. Selang beberapa bulan ia memimpin perusahaan itu, ternyata perusahaan itu justru bangkrut dan akhirnya gulung tikar.

Pada suatu hari, A berkeinginan membangun sebuah usaha pembuatan batik. Namun dia bingung, dari mana ia mendapatkan modal yang besar itu ? Di satu sisi ia memang sosok kepala keluarga yang sederhana dan pendapatannya sebagai petani selama ini hanya mampu untuk menghidupi keluarga, itu pun sekadar ‘cukup’ untuk makan nasi. Ia berihtiar agar ada tetangga baik yang ikhlas memberinya pinjaman modal. Ia bersama istri akhirnya berhutang di salah satu koperasi desa dan dengan bekal keterampilan membatik yang ia dapatkan di SMA, ia bersama istri memulai usaha batik itu. Banyak tantangan yang ia hadapi, mulai dari sulitnya mendapatkan konsumen/pelanggan, sampai kesulitan untuk bertahan menghadapi kran impor batik. Mereka tetap tegar, menjalani usaha itu dengan sabar dan tawakal. Mereka terus berusaha dan sangat berharap bisa mengajak para pemuda yang masih menganggur di desanya untuk mengembangkan usaha tersebut. A berupaya agar bisa menghandel usahanya dengan baik demi untuk mencukupi keluarga. A dan istrinya tidak menuntut harga mahal, prinsip mereka adalah wirausaha yang mampu member manfaat bagi orang lain.Mereka selalu mengajak para pemuda untuk bergabung dan selalu mengajarkan kepada mereka keterampilan membatik agar bisa bergabung di kemudian hari. 

Selang 1 tahun, usaha itupun membuahkan hasil, berbagai pesanan baik lokal maupun nasional, bahkan internasional berhasil diwujudkan. Keinginannya telah tercapai berkat kerja keras, doa kepada Allah, dan sebuah teladan yang ia bangun selama ini. Ketika ia meminta pemuda desa yang bekerja dengannya datang pagi, ia juga datang lebih pagi dari mereka. Ketika para karyawannya terlihat lelah meskipun belum waktu istirahat, dengan lembut ia mempersilakan mereka untuk sejenak istirahat dan menari secangkir the hangat. Ya, usaha batik miliknya kini sudah terkenal dan menjadi unggulan di daerahnya. Tetangganya pun kini sangat terinspirasi dengan menjadi partner usaha yang ia bangun.

Demikian ceritera yang saya tulis, adakah diantara sahabat yang ingin mengemukakan hikmahnya ? 

Baik, secara umum kisah di atas mencerminkan dua sosok pemimpin yang berbeda. Si A yang sangat sederhana itu, mampu mewujudkan mimpi melalui perjuangan hebat bersama istrinya. Ia adalah pemimpin keluarga yang menjadi teladan dan inspirasi bagi tetangganya. Dengan perjuangan dan teladan yang ia bangun, A telah berhasil member contoh ‘gaya kepemimpinan’ ideal. Bukan melalui perfeksionis yang diminta oleh si B, namun melalui kesederhanaan dan perjuangan. Bukan hanya mau ‘menuntut’ namun juga mau berusaha. Bukan hanya mau ‘enaknya’ namun merasakan perjuangannya. Ia telah mengajarkan kepada kita bahwa teladan baik dari seorang pemimpin mampu memberikan kekuatan bagi orang lain. Bahwa pemimpin yang ideal adalah ia yang mampu membangun komitmen dengan perilaku baik yang ia miliki, dengan ‘karakter’ baik yang ada dalam dirinya. 

Semoga saja, kita bisa mengambil hikmah dan nasihat mulia dari kisah sederhana ini, sebagai suatu refleksi diri : sudahkah kita menjadi teladan baik bagi orang-ornag di sekitar kita ? Sudah siapkah bekal-bekal kita menjadi seorang pemimpin Indonesia ? Mari merefleksikan diri kita dengan bertanya dalam hati dan mengucap istighfar. 

Sebuah nasihat ini saya sampaikan untuk nasihat pribadi, kepada sahabat, dan seluruh pemimpin negeri ini agar mau berkaca dan introspeksi diri agar lebih baik, insya ALLAH.
Wallahu’alam bishawab…

Kamar Inspirasi, 26 September 2013 Pkl 6.10 WIB
(Dalam sebuah renungan pagi, bersama alam di desa terpencil bumi Sleman)

Salam hangat untuk emak dan bapak yang baru dagang di pasar dan adek Isti yang mau berangkat sekolah, barokallah...

Janu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar