Ged a Widget

Jumat, 12 Juli 2013

Jakarta, Saya Datang Lagi

Hari ke-1
30 Juni 2013

Suasana Minggu pagi itu begitu cerah. Burung-burung mulai beterbangan. Ikan-ikan di kolam mulai mencari makan. Mentari bersinar memancarkan auranya. Beberapa mahasiswa terlihat mengenakan kaos merah dan hitam di area outbond Sambi Resort dan Spa Jalan Kaliurang Jogja. Mereka berkumpul membentuk sebuah lingkaran besar dengan instruktur seorang laki-laki usia 40an. Hari Minggu itu adalah hari terakhir bagi mereka, peserta Training of Trainer untuk mahasiswa UNY yang rata-rata angkatan 2011. Acara pagi itu adalah outbond, dari jam 5 sampai sekitar jam 11. 

Seorang laki-laki bernama Pak Dono memimpin jalannya outbond yang terdiri dari empat permainan dengan komposisi lima kelompok. Peserta terlihat begitu menikmati permainan yang disuguhkan dengan kombinasi jiwa kepemimpinan dan kreativitas. Saat itulah mereka diuji kerja sama tim, kekompakan, dan tentunya fisik. Sampai sekitar jam 11 acara outbond berakhir. Pada saat itu juga acara ToT 2013 ditutup oleh Bu Penny dengan penyerahan tiga kejuaraan outbond. Kami pun pulang.

Setiba di rumah, saya langsung teringat bahwa sore nanti harus berangkat ke Jakarta. Ya, saya punya kewajiban untuk membuat paspor, bias dibayangkan betapa lelahnya ? Sejenak saya merebahkan tubuh untuk beristirahat sembari melakukan musyawarah bersama ibu dan bapak. “Mak, saya besok Senin harus wawancara di Kedutaan Belanda untuk pembuatan visa, apakah diizinkan?”tanya saya kepadsa beliau. Pada intinya beliau mengizinkan, namun ada kekhawatiran karena saya masih perlu istirahat. Saya bias memahami perasaan ibu dan bapak, selama beberapa hari saya tidak di rumah dan setibanya di rumah justru akan pergi lagi. Saya menyadari, sebagai anak pertama memang tanggung jawabnya lebih besar dan harus mandiri, tidak boleh bergantung terus pada ibu bapak, bukankah demikian ?

Sore harinya saya memutuskan untuk berangkat ke Jakarta. “Bismillah, semoga Allah selalu ada di sisi saya.” Batin dalam hati. Semua berkas insyaAllah sudah lengkap, saya pun siap berangkat. Namun, ada masalah. Saya belum sempat memesan tiket kereta, apalagi ini akhir bulan dan baru liburan sekolah. Ada kekhawatiran jika ternyata saya gagal berangkat. Saya berusaha berkhusnudzan, pasti Allah akan membantu. Saya pamit kepada bapak ibu dan adek. “Mas ke Jakarta dulu ya, doakan bias lancar,” pinta saya kepada adek. 

Perjalanan ke stasiun Tugu dimulai, seperti biasa selalu macet. Akhirnya sebelum azan Maghrib saya sudah sampai ke stasiun Tugu, ditemani rasa khawatir yang mendalam dan tawakal apa yang akan terjadi selanjutnya. “Mbak, tiket kereta ke Jakarta masih ada kan ?” Tanya saya kepada petugas di loket. “Sudah habis mas, bahkan yang besok sudah habis,” jawabnya. Betapa kaget bukan kepalang, jantung langsung berdenyut kencang dan serasa mimpi. “Ya Allah, apa sudah berakhir di sini ? Tidak naik kereta dan gagal ke Jakarta ?” bingung dalam hati. 

Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Saya sejenak berpikir dan flashback apa yang bias saya lakukan saat ini. “Nah, naik travel atau bis,” ide itu pun muncul. Serasa punya harapan baru dan semangat baru. Saya lalu berjalan kea rah utara stasiun, sengaja tidak naik ojek atau becak karena pasti mahal, sekalian go green saja, hehe. Jalan Mangkubumi saya telusuri, bau tak sedap selalu menemani. Satu per satu agen travel saya kunjungi, tak ada satu pun yang menyisakan kursi. “Astaghfirullah,” mengelus dada. Saya duduk termenung, melihat lalu lalang becak dan curhat ke ibu via telepon. “Mak, pripun niki ? Kulo mboten angsal tiket kereta kaliyan travel,” cerita saya ke ibu. Saya bingung dan linglung, apa yang terjadi saat ini ?

Saya kemudian kembali ke stasiun. Di tengah perjalanan, saya temui seorang bapak yang masih muda bertanya,”Mau ke mana mas?” Saya menjawab,”ke Jakarta Pak, tetapi sudah tidak dapat tiket.” Ternyata bapak yang tidak saya ketahui namanya itu menyarankan agar saya ke Giwangan, terminalnya Jogja, kemungkinan ada bis malam. Saya bersyukur bisa ketemu beliau, orang Jogja memang ramah dan baik hati. Langsung saja saya ke Giwangan dan malam harinya dapat bis, sekitar pukul 21.00 saya berangkat. Pengalaman berkesan saat menunggu bis : dapat kenalan orang Medan, ternyata beliau dosen kimia Unimed. Kami berdiskusi panjang lebar seputar kuliah dan tujuan Summer School saya ke Belanda. 

Bis berangkat, mengangkut sekitar 51 orang, saya dapat nomor 51 dan itupun cadangan. Saya bersyukur bias berangkat, padahal tadi sudah hampir putus asa dan mau pulang ke rumah. Dengan segala keprihatinan terhimpit di bis, saya mencoba bertahan. Suasana bis sangat ramai, banyak anak kecil dan bisnya “agak” bermasalah. Sampai sekitar jam 1 malam kejadian itu pun terjadi. Kami terpaksa ganti bis karena bisnya bermasalah, AC mati, sering mogok di jalan, sampai-sampai kami harus mendorongnya. “Wah, ini nih pengalaman baru naik bis, nunggu sejam lebih karena bis bermasalah,” kata saya dalam hati.

Hari k-2
1 Juli 2013

 
Sampai akhirnya setelah melalui medan sangat berat, kemacetan parah, saya sampai di Jakarta sekitar Pkl 15.00 WIB. Jelas, wawancara saya jam 10.00 gagal. 

Target selanjutnya adalah ke kos paman Daroji, jl. Pintu Air 1 dekat stasiun Juanda. Saya menuju ke sana dengan naik busway,tubuh lemas tak bertenaga. Alhamdulillah, sampai sana sekitar sore dan sudah ditunggu mas Indra Chan (Ichan) yang menjaga kos paman. Kebetulan, paman baru ada tugas TNI AD di Sulawesi sejak empat bulan yang lalu. Kos tampak sepi, saya terakhir ke sini sudah lama. Mas Ichan mempersilakan saya masuk. Saya lepaskan penat selama di perjalanan. Kipas pun menyala, sepoi angin merasuk di tubuh saya. Sora itu, saya langsung bersih diri dan makan sore bersama mas Ichan. Kami makan sate, lumayan mahal sih. Makanan di Jakarta emang mahal. Satu porsi sate aja bisa 25 ribu, bahkan makan nasi padang pakai lauk tahu dan udang bias 18 ribu, ditambah segelas es jeruk 8 ribu, wow banget kan ?

Hari itu saya tutup dengan beristirahat di kost, sembari menyiapkan berkas pembuatan visa esok hari, meski seharusnya hari ini. Saya masih punya harapan agar esok akan lebih baik, insyaAllah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar