Ged a Widget

Jumat, 12 Juli 2013

Hari ke-3 di Jakarta (Netherlands Embassy)

Hari ke-3
(2 Juli 2013)
Perjalanan saya di Jakarta memasuki hari ke-3. Hari ini saya berharap akan jauh lebih baik. Saya awali pagi itu dengan mandi pagi. Saya juga membuat makanan pengganjal perut, roti tawar bertabur meses dan susu coklat serta segelas susu. Tidak lupa, saya juga membuatkannya untuk mas Ichan. Kami pun memulai aktivitas masing-masing. Mas Ichan kuliah di BSI dan saya menuju ke Embassy of Netherlands di jalan Rasuna Said, daerah mega Kuningan. Kami naik transjakarta, transportasi yang lumayan aman, nyaman, serta terjangkau. Kebetulan kami dapat tiket seharga dua ribu karena belum jam 7, tiket biasanya seharga tiga ribu lima ratus. Beberapa halted an transit saya lalui, sampai akhirnya saya turun di Kuningan Timur. Ada sedikit tips : jangan malu dan sungkan untuk bertanya ya kalau masih lugu seperti saya ini.
Tampaknya aktivitas di kedutaan sudah dimulai. Di sekitar Kuningan sini memang daerahnya kedutaan, ada kedubes Switzerland, India, Pakistan, dal lain sebagainya. Semuanya dijaga super ketat. “Alhamdulillah, ketemu juga,” senangnya hati saya. Selama ini sulit sekali membuat appointment dan sukurlah bias ke sini sekarang. Saya lalu bertanya ke security kedubes Belanda, mereka menyuruh saya untuk lewat pintu samping. Ya, memang biasanya setiap tamu lewat pintu samping. Sesampainya di sana, saya ditanya petugas keamanan (baca:satpam). “Ada keperluan apa Pak ?” tanyanya. Wah, masih muda begini kok dikatakan “bapak”. “Saya ada keperluan pembuatan visa Pak,” jawab saya. Lalu beliau mempersilakan saya ke petugas selanjutnya. Tas dan diri saya diperiksa, bahkan tasnya dibuka di security check pakai metal detector dan pintu ajaib (pintu pemeriksaan). Alhamdulilah lolos, itu artinya saya tidak membawa benda tajam atau bom serta sejenisnya.

Ruangan tunggu tampak sepi, terlihat hanya beberapa orang yang masuk. Saya langsung bertanya ke petugas, ternyata nama saya tidak ada di list calon pembuat visa. “Gawat, mohon maaf Pak, saya mau minta toleransi dan kesempatan kedua untuk bias membuat visa hari ini (dengan muka tertunduk)” pinta saya. Lalu petugas itu meminta saya untuk mengirim email ke kedubes bagian visa, dengan menyodorkan selembar kertas syarat-syarat pembuatan visa. Saya bingung sekali karena tidak punya hape yang bias buat internetan, bawa laptop tapi tanpa modem, mau pakai hotspot sini tapi ternayat di password. Saya kemudia mengeluarkan hape, eh ternyata tidak boleh, langsung saja muka saya memerah, malu. Saya putuskan untuk keluar mencari warnet. Berbekal rupiah yang diberi ibu, saya naik ojek sampai menemukan warnet lumayan jauh. Bapak yang tukang ojek saya minta menunggu, sekitar 30 menit saya buka internet dan memantau email.
Selepas dari itu, saya kembali ke kedubes dan melapor kalau saya sudah kirim email. Dengan muka serius, saya mencoba untuk meloby petugas agar memberikan toleransi pembuatan visa karena saya jauh-jauh dating dari Jogja dan ini sangat mendesak. Beliau lalu menelpon atasannya, Alhamdulillah saya diberi kesempatan hari ini. Selanjutnya, saya memasukkan tas dan jaket ke loker khsusu yang sudah disediakan, yang boleh dibawa masuk adalah dokumen visa. Saya foto dulu di sana dengan budget 50 ribu, dapat foto 4,5 cm x 4,5 cm sejumlah 4 lembar dengan background abu-abu. Setelah berkas lengkap, saya menuju ke dalam untuk mengantre panggilan.
“Subhanallah, ruangannya adem sekali dan banyak ornament khas Belanda di sini,” senangnya hati saya. Serasa di Belanda, semakin membuat saya semangat untuk wawancara. Tibalah giliran saya untuk maju. Say mehyerahkan berkas, ternyata belum urut, saya grogi melihat mbaknya yang agak cantik, wajar. Ternayata berkas saya belum urut dan diminta ke belakang untuk menyusun sesuai petunjuk yang ada. Betapa malunya saat itu. Sampai akhirnya saya menyerahkan paspor, LoA, surat pengantar kampus, asuransi, dan dokumen pribadi ke petugas. Saya menunggu beberapa menit dan ada jawaban,”Mas, ini sudah lengakap, jadinya besok jam 3 sore ya,” katanya. “Uang administrasinya berapa mbak?” Tanya saya. Tenyata untuk saya nol rupiah alias gratis, saya juga tidak tahu kenapa, seharunya 60 Euro. Alhamdulillah. Sebuag kuitansi putih untuk pengambilan visa besok sore sudah saya pegang dan akhirnya bias pulang ke kos lagi.

1 komentar:

  1. Halo mas, mau tanya.
    Rencananya akhir Juni ini akan berangkat juga ke Belanda untuk Summer School di Leiden. Tapi, untuk pengurusan visa, ada syarat jumlah rekening tabungan minimal EUR34 dikali berapa hari stay disananya. Untuk keperluan summer school apakah tetap sama di rekening harus ada sejumlah uang itu atau gimana ya? thanks

    BalasHapus