Ged a Widget

Minggu, 14 Juli 2013

Arti Sebuah Perjuangan di Summer School Utrecht (Bagian 2)

sambungan....

Keesokan harinya, saya telah tiba di stasiun. Sesuai nasihat dari paman saya, Lek Daroji agar naik ojek atau bajai ketika sampai stasiun. Saya kemudian memilih bajai untuk diantar menuju kos pamasn di Jl Pintu Air 1 Jakarta Pusat. Beberapa menit kemudian saya tiba di kos paman dalam keadaan sehat, alhamdulillah. Setelah sholat malam, saya menunggu datangnya pagi dan mempersiapkan segala keperluan selama di Belanda. Siang itu kami berbelanja di Pasar Minggu, sebuah kawasan perbelanjaan di Jakarta. Saya membeli sebuah kacamata normal untuk saya pakai di sana, sebuah globe kecil yang unik, sebuah jam tangan, dan sebuah kaos motif wayang untuk saya kenalkan kepada kawan-kawan Summer School dan dosen saya di sana. Sekitar pukul 15.00 WIB kami kembali ke kos dan mempersiapkan diri untuk menuju bandara internasional Soekarno Hatta (Soeta).
Kami menuju stasiun gambir untuk naik bis DAMRI. Ya, untuk tips pertama, ketika ingin ke bandara Soeta bisa naik bis DAMRI khusus ke airport dengan ongkos 25 ribu rupiah. Saya pamitan kepada Lek Dar untuk menuju bandara. Ketika perjalanan, saya bertemu dengan orang-orang yang saya rasa sudah biasa untuk naik pesawat terbang. Bagi saya, inilah kali pertama ke Eropa sekaligus kali pertama naik pesawat. Tentu, pengalaman pertama ini akan berkesan bagi naik pesawat yang kedua dan seterusnya, insyaAllah. Alhamdulillah, sekitar satu jam kami telah sampai di Soekarno Hatta International Airport. Karena saya akan melakukan penerbangan internasional, maka saya turun di terminal 2D. Bis pun berhenti dan saya menenteng koper serta dua tas saya menuju dalam. “Subhanallah, besar banget ya ? Maklum, saya orang desa yang nekat mau ke Eropa,” kesan pertama kali saya tiba di bandara. Setelah itu, saya melakukan check in dan penyerahan bagasi. Tips selanjutnya, silakan dipersiapkan segala dokumen perjalanan Anda dan jangan sungkan untuk bertanya kepada petugas jika bingung harus ke mana.
Sedikit flashback sebentar ya, banyak kawan-kawan yang bertanya bagaimana saya bisa diterima dan membiayai kuliah singkat ini ? Apakah karena beasiswa ? Dengan kejujuran hati saya menjawab, “Saya bisa diterima karena mengajukan lamaran dan lamaran saya diterima. Ibarat sebuah pernikahan, kalau sudah melamar tentu harus diteruskan sampai pernikahan, betul demikian ? Lalu, saya bisa sampai ke Belanda dengan segala usaha yang saya lakukan. Karena untuk program saya Contemporary Cities : Challenges and Opportunities tidak disediakn scholarship, maka saya diwajibkan mencari pembiayaan sendiri. Saya berikhtiar dengan mengajukan kerja sama ke perusahaan-perusahaan yang ada. Alhamdulillah, dapat keringanan dari maskapai Garuda Indonesia dan bantuan dari kampus saya Universitas Negeri Yogyakarta. Pembiayaan utama, tetap dari orang tua yang sangat mendukung kemajuan untuk saya. Jadi, sudah terjawab ya untuk sumber dananya ?
Setelah melakukan check in dan melapor ke bagian imigrasi, saatnya saya menunggu pesawat Garuda Indonesia. Tiba-tiba saya mendapat kenalan turis Australia, inilah saatnya kemampuan bahasa Inggris diuji. Nama dia adalah Mike. Dia di Indonesia untuk jalan-jalan dan liburan. Kami berbincang seputar Indonesia dan Australia. Setelah itu, saya sholat Maghrib dahulu di mushola bandara. Sekitar Pkl 19.00 WIB saya menuju gerbang E, lagi-lagi ada pengecekan identitas. Saya bersama para penumpang menunggu pesawat sembari berbincang satu sama lain. Saya rasa saat itu banyak sekali kaum wanita yang akan terbang ke Abu Dabhi, UEA dan saya mendapat kenalan seorang ibu. Ibu itu sangat ramah dan mau berbagi cerita seputar kehidupannya di Dubai yang sudah sekitar 15 tahun. 
Sekitar Pkl 19.30 WIB “Garuda” saya dating. “Akhirnya bisa naik pesawat yang selama ini hanya mimpi, eh ternyata jadi kenyataan,” gumam dalam hati. Pelajaran yang saya petik : awalnya saya hanya bermimpi untuk naik Garuda dan bermimpi suatu saat bisa ke Belanda, ternyata hari ini saya bisa membuktikannya. Bismillah, saya langkahkan kaki menuju kabin pesawat, sambutan hangat dan senyum para pramugari membuat kami para penumpang serasa sudah terbang kea wan. Saya duduk di kursi 19 H kalau tidak salah. Saya kaget, ternyata di dalam kabin kursinya empuk-empuk dan nyaman, tidak seperti di kereta. Saya juga kaget, pesawatnya besar sekali, mohon maaf karena ini kali pertama saya naik pesawat. Di dalam pesawat, biasanya hanya diperbolehkan membawa barang maksimal 7 kg dan untuk koper di bagasi 30 kg. Saya telah menimbang koper dan tas sebelumnya. Ternyata, saya berdampingan dengan seorang ibu, bernama ibu Erli, warga Surabaya yang ingin ke Belanda. Beliau akan menjenguk sepupu yang baru melahirkan anak di Delft. Saya termenung, perjuangan sepupu beliau untuk melahirkan anak mungkin sama seperti perjuangan saya untuk naik pesawat ini, perlu persiapan yang sangat matang. 

Beberapa menit kemudian kami menerima instruksi dan sambutan penerbangan dari maskapai Garuda. Saya memasang sabuk pengaman, melihat instruksi di monitor dan siap berangkat. Segala kenyamanan disuguhkan oleh maskapai ini, yang baru saja menerima penghargaan best economy class internasional. Berbagai fasilitas disuh=guhkan, mulai dari nonton film di masing-masing monitor, layanan makanan yang serba yummy, keramahan, toilet bersih, dan segala pelayanan yang ada. Saya betah terbang dengan maskapai ini (sambil senyum-senyum sendiri). 

Perjalanan pertama adalah menuju Abu Dhabi yang ditempuh selam kurang lebih 7 jam. Saya langsung istirahar dan sesekali bangun untuk makan dan nonton. Perasaan ketika di udara adalah : senang campur cemas. Saya senang dan bersyukur karena bisa naik pesawat, maklum karena orang desa. Namun juga khawatir karena berpikir jika ada hal yang tidak diinginkan. Hanya dengan berdoa kepada Allah saya bisa selamat. Saya serahkan segalanya kepada Allah, seperti pesan ibu agar selalu berdoa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar