Ged a Widget

Minggu, 14 Juli 2013

Arti Sebuah Perjuangan di Summer School Utrecht

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah atas segala nikmat ini. Karena Allah lah saya masih bias menghirup udara segar, karena Allah lah Anda juga bisa bernafas, dank arena Allah lah kita masih dipertemukan untuk bersama-sama mengambil hikmah kisah perjalanan hidup saya ini. Ba’da tahmid, semoga sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada uswah kita, nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam yang telah membawa Islam dari zaman jahiliyah menuju zaman penuh berkah ini.
Allah masih mempertemukan kita di bulan Ramadhan yang indah ini, sebuah bulan penuh pahala dan ampunan. Di awal Ramadhan ini, saya diberi kesempatan Allah untuk mencicipi puasa di Belanda, negeri kincir angin. Melalui sedikit goresan ini, saya akan berbagi kisah perjalanan saya menuju Summer School Utrecht. Sebelumnya, izinkan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Janu Muhammad, saya adalah putra dari Bapak Ngadiyo dan Ibu Lasiyem. Saya lahir di bumi Sleman, 7 Januari 1993. Saya Alhamdulillah masih single dan baru merencanakan nikah sekitar lima tahun lagi insyaAllah. Saat ini saya sedang menempuh studi di Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Yogyakarta. Saya mempunyai adik bernama Isti Rahayu, yang baru saja diterima di SMP Negeri 1 Sleman, almmater saya. Saya alumnus SMA Negeri 2 Yogyakarta (SMADA) yang membawa sejuta pelajaran bagi saya. Saya rasa cukup untuk perkenalannya. Mari kita lanjutkan untuk kisah intinya. Mohon maaf kalau masih banyak kekurangan, karena kelebihan hanya milik Allah semata.
Tepat seminggu yang lalu, Sabtu 6 Juli 2013 saya melangkahkan kaki dari rumah. Pada hari itu saya akan berpisah dengan keluarga selama beberapa hari. Saya akan mengikuti kuliah singkat musim panas di Universitas Utrecht, Belanda. Sore itu segala persiapan insyaAllah sudah selesai. Mulai dari passport, visa, asuransi, tiket pesawat, akomodasi, makanan, dan segala kebutuhan lainnya, termasuk untuk fiqih Ramadhan yang sedikit berbeda. Sebelum meninggalkan keluarga, terlebih dahulu saya berpamitan kepada ibu, bapak, adik, sanak saudara, termasuk simbah putri. Kami (saya, ibu, bapak, dan adik) diantar Pak Budi menuju stasiun Tugu Jogja untuk keberangkatan kereta. Sebenarnya saya harus naik pesawat Garuda Indonesia, namun ternyata tiket sudah habis. Setelah pamitan ke sanak saudara dan tetangga, kami menuju stasiun Tugu. Sekitar pukul 17.30 WIB kami sampai. “Ya Allah, untuk beberapa hari ini kami akan berpisah, Engkaulah yang bisa menjaga kami dan mempertemukan kami kembali,” doa saya dalam hati. Saya tidak kuasa untuk menahan tangis, ketika ibu saya tercinta meneteskan air mata. Ya, kasih sayang ibu melebihi lautan yang luas, kasih sayang ibu sungguh tiada terhingga, begitu pula dengan bapak dan adik. Tentu itu semua demi buah hatinya, yang selalu didoakan untuk menjadi anak yang sholeh dan sukses di kemudian hari. Namun sungguh, saya belum bisa berbuat apa-apa untuk mereka. Saya masih bergantung pada bapak dan ibu, belum bisa mengukir senyum untuk mereka. 

keluarga saya :)

Kami pun berpisah, sebuah pelukan hangat dari bapak dan ibu, sebuah doa teriring untuk saya. Sembari melangkah menuju kereta saya berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah yang akan mempertemukan kami kembali, maka mudahkanlah hamba dalam menuntut ilmu di Eropa. Jagalah bapak, ibu, dan keluarga di rumah. Hanya Engkaulah pelindung kami.” Saya telah memasuki kereta ekonomi AC dan berdoa seperti yang diingatkan terus menerus oleh ibu, “Lahaula walakuwwata illabillah.” Kereta pun segera melaju dan saya rebahkan tubuh untuk istirahat sampai esok pagi. Saya akan sampai di stasiun Pasar Senen pukul 02.30 WIB. 

bersambung........

2 komentar:

  1. selamat yaa dek.. jangan lupa PPL semester depan kalau bisa juga diluar negri..aamiin

    BalasHapus
  2. terimakasih mas doanya,semoga selalu diberkahi Allah. PPL ? apa bisa ya mas?kan saya kkn ppl di sekolah dan sekitarnya :)

    BalasHapus