Ged a Widget

Selasa, 18 Juni 2013

Kerja Keras Tim dalam Sebuah Organisasi


Manusia merupakan satu jenis makhluk di antara lebih dari sejuta jenis makhluk lain yang masih menduduki alam dunia ini (Koentjaraningrat:2009). Secara naluri, manusia adalah makhluk individu yang diciptakan Tuhan. Manusia juga merupakan makhluk sosial yang diciptakan di bumi ini. Manusia memerlukan satu sama lain untuk bertahan hidup dan memperoleh kebahagiaan dalam hidup. Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri karena mereka saling melengkapi. Dengan kata lain, manusia adalah sebaik-baik makhluk yang diciptakan Tuhan untuk bumi ini.
Manusia mempunyai naluri yang timbul sewaktu-waktu. Selain memiliki naluri, manusia juga mempunyai kemampuan untuk berpikir, berbagai macam perasaan dan bakat (Wursanto, 2002:5). Naluri atau instinct adalah kemampuan untuk berpikir atau derajat intelegensi, perasaan, atau emosi, dan bakat atau talenta yang memiliki hubungan warisan biologis. Warisan biologis yang ada pada diri manusia tidak dapat berkembang secara otomatis, tetapi harus dikembangkan. Segala sesuatu harus diajarkan. Demikian pula naluri manusia untuk hidup bermasyarakat atau untuk hidup berkelompok harus dikembangkan dan diajarkan, sehingga dalam perkembangan selanjutnya, bermasyarakat dan berkelompok itu menjadi kebutuhan bagi setiap manusia.


Dalam perjalanannya, manusia harus mampu melakukan adaptasi. David Kaplan (2002) mengatakan dalam bukunya Teori Budaya, bahwa adaptasi berperan penting dalam proses kehidupan dari waktu ke waktu. Pentingnya adaptasi ini adalah untuk penyesuaian manusia dengan lingkungannya, baik dengan manusia maupun alam. Adaptasi dilakukan dengan diiringi kerja keras untuk bertahan hidup. Kerja keras itu diwujudkan dalam bentuk pekerjaan atau sebuah karya manusia, baik fisik maupun nonfisik.
Berdasarkan kondisi tersebut, sudah selayaknya seseorang mau untuk bergabung dengan masyarakat di mana ia tinggal. Jika dilihat di perdesaan, terdapat berbagai kesempatan yang bisa diambil untuk memaksimalkan peran manusia untuk lingkungannya. Peran itulah yang dinamakan dengan organisasi. Mengapa dengan organisasi ? Karena di dalam organisasi terdapat sekumpulan nilai baik, diantaranya : kerja keras, tanggung jawab, kejujuran, amanah, dan nilai lainnya. Sebuah organisasi memerlukan seorang pemimpin untuk bisa mengatur timnya dalam mencapai tujuan organisasi tersebut. Misalnya organisasi karang taruna yang ada di desa. Organisasi tersebut harus memiliki semangat kerja keras agar program-programnya bisa berjalan dengan baik. Pernyataan ini sesuai dengan konsep Suwardi (1982) bahwa diperlukan semangat kerja dalam sebuah tim untuk mencapai tujuan dan cita-citanya.
Sebuah organisasi tentu memerlukan evaluasi pada setiap program kerja yang dilaksanakan. Perbedaan utama dalam mengevaluasi kinerja tim adalah, meskipun hasil masih tetap sangat penting, cara tim mencapai hasil tersebut juga penting (Purwanto:2006). Proses kolaboratif yang digunakan untuk mencapai hasil juga merupakan pengukur kinerja yang penting. Program-program kerja yang ada di suatu organisasi harus diiringi dengan semangat bekerja keras dan tahan banting, baik oleh ketua maupun para anggotanya. Kerja keras adalah semangat untuk terus maju dan tanda sebuah organisasi akan sukses dalam melakukan kinerja.
Semangat kerja keras tim dalam sebuah organisasi adalah kunci keberhasilan organisasi tersebut. Tanpa adanya semangat untuk terus bekerja dan berkarya, maka organisasi itu hanya akan melemah dan hilang diterpa angin karena satu sama lain tidak saling menguatkan. Kerja keras juga harus diimbangi oleh semangat untuk berinovasi dan komunikasi karena sejatinya kerja keras itu akan melahirkan karya yang baru. Dengan semangat kerja keras, maka setiap komponen akan saling mendukung dan saling mengokohkan. Pada akhirnya, semangat bekerja keras harus dimiliki oleh manusia agar ia tetap bisa menikmati hidup dan mensyukuri apa yang Tuhan berikan untuknya.

Referensi :
Koentjaraningrat. 2009. Ilmu Antropologi. Jakarta : Rineka Pustaka.
Wursanto. 2002. Dasar-dasar Ilmu Organisasi. Yogyakarta: Andi Offset.
Kaplan, David. 2002. Teori Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suwardi, Eddy. 1982. Aspek-Aspek Kepemimpinan dalam Menejemen Operasional. Bandung: Penerbit Alumni.
Purwanto, Sigit. 2006. Pocket Mentor Memimpin Tim. Jakarta: Penerbit Erlangga.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar