Ged a Widget

Selasa, 18 Juni 2013

Fertigo Menjadi Teman Akrab Saya



Senin, 17 Juni 2013 menjadi saksi bisu kambuhnya sebuah penyakit yang saya miliki. Ya, sekitar dua tahun yang lalu saya divonis mengidap sebuah penyakit bernama fertigo. Siang kemarin, saya terbaring lemas di sekretariat UKMF Screen. Setelah mengurus pengajuan proposal penelitian, tubuh saya langsung lemas tak berdaya. Gejala yang saya alami saat itu adalah mengantuk dan pusing bukan kepalang. Saya baringkan badan saya selama kurang lebih dua jam, namun ternyata tidak membawa pengaruh untuk segera segar kembali. Saya mengira hanya kelelahan karena sedari pagi agenda begitu padat. Ternyata bukan, justru semakin siang kepala saya ikut pusing dan terasa berat sekali. Sontak rencana sore harinya yang akan bertemu dosen, saya terpaksa izin. Siang itu sekitar pukul 14.00 saya langsung ingin segera pulang, tak kuat rasanya kepala ini. Kepala rasanya berat dan berputar-putar, badan gemetar terasa panas namun anehnya saya kedinginan. Di tengah perjalanan pulang, saya menahan sakit dan berharap segera sampai rumah. Hujan siang itu pun menambah perjuangan untuk sampai ke rumah.
Sesampainya di rumah, ibu telah menunggu di teras rumah. Sengaja saya tidak memberitahukan kepada ibu sebelumnya bahwa saat itu saya sedang demam. Namun, ternyata ibu telah mengetahuinya. Saya segera melepas jaket yang agak basah terkena guyuran air hujan. Saya baringkan tubuh saya di kasur dan langsung memakai selimut. Begitu dingin rasanya siang itu, namun suhu badan saya sangat panas. Gejala ini persis saya alami dua tahun yang lalu. Saat itu kondisi badan saya sangat lemah, demam bercampur gejala ingin tidur berkepanjangan. Siang itu juga rasanya kepala pusing dan berat, bahkan tubuh rasanya remuk dan lemas. “Ya Allah, ini saya kenapa ?”batin saya dalam hati.


Sore harinya, setelah dibujuk untuk ke dokter, akhirnya saya putuskan untuk berobat. Perlu diketahui bahwa saya jarang sekali berobat ke dokter, paling juga sembuh sendiri. Namun, rasanya sore itu saya ingin segera diobati. Sesampainya di klinik “Sahabat Insani” saya ditanya gejala apa saja yang dirasakan. Saya jelaskan dengan detail. Dokter mengecek riwayat pemeriksaan saya dan akhirnya timbul diagnosis bahwa fertigo saya kambuh. Ya, saya sangat kaget. Awalnya saya menduga saya hanya kelelahan karena beberapa hari ini telah memforsir diri dan banyak pikiran. Namun, ternyata teman akrab saya “vertigo” telah kembali, bersama lemahnya daya imun/kekebalan tubuh saya akibat operasi amandel 1,5 tahun yang lalu. Dua faktor ini yang menjadi diagnosis dokter.
Saya kurang begitu paham apa itu fertigo. Namun yang saya rasakan adalah gejala demam bercampur dengan pusing bukan kepalang ketika saya kelelahan, ini terjadi sewaktu-waktu, ditambah turunnya kekebalan tubuh akibat amandel kanan dan kiri yang sudah diambil. Sampai saat ini saya hanya bisa berdoa dan beristirahat sejenak. Saya diberi kesempatan Allah untuk beristirahat di rumah, meski dalam kondisi sakit dan minum obat. Pelajaran yang saya dapat : betapa berharganya sebuah kesehatan dan penghargaan kepada “tubuh” agar dijaga dan tidak diforsir untuk aktivitas. Kini, fertigo telah menjadi teman akrab saya dan saya pun mulai menyadarinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar