Ged a Widget

Rabu, 20 Maret 2013

Belajar Sukses dari Korea



 Artikel dari tugas kuliah Komunikasi Inter Personal :D

Pada kesempatan ini saya akan berbagi kisah hidup dari sosok tetangga dekat saya, beliau bernama Pak Budi Santoso. Pak Budi Santoso lahir di Sleman, 8 September 1965. Saat ini beliau tinggal di dusun Ngemplak RT 05 RW 32 Caturharjo Sleman, sebelah timur rumah saya. Pak Budi mempunyai hobi memancing ikan, meski saat ini sudah jarang. Bapak dari tiga anak ini (Aji, Riska Arum Sari, dan Alfi Bayu Rintoko) mempunyai perjalanan hidup yang patut untuk dijadikan contoh.
Pada masa kecil sampai menikah, kehidupan Pak Budi masih sederhana dan berkecukupan. Beliau hidup di sebuah rumah  sempit dan belum mempunyai rumah sendiri, hanya menumpang ibunya. Kondisi ekonomi keluarganya masih pas-pasan, maklum belum mempunyai penghasilan tetap. Beliau dan istrinya kadang-kadang memilih kerja serabutan, itupun kalau ada lowongan. Sampai akhirnya, ia dipaksa untuk kerja keras demi bisa menyekolahkan ketiga anaknya. Aji, anak pertamanya bisa menamatkan pendidikan sampai jenjang menengah, Riska bisa menamatkan pendidikan di SMA N 1 Mlati, dan Alfi masih di sekolah dasara.
Allah membukakan pintu rezeki bagi keluarga Pak Budi. Pada tahun 2005, beliau diberi kesempatan untuk bekerja di Kore Selatan, di sebuah pabrik konstruksi. Motivasi Pak Budi untuk bekerja di luar negeri tidak lain untuk membiayai kebutuhan keluarganya. Pihak keluarga pun mendukung secara moril dan materiil, meski harus berhutang sana-sini. Alhasil, sekita tahun 2008 beliau bisa memetik hasilnya. Jerih payah merantau ke luar negeri mengantarkan Pak Budi menjadi orang sukses dan kaya di dusun saya. Setelah pulang, rumah yang dulunya sempit kini menjadi sangat mewah dan luas. Aset-aset kekayaan keluarga melimpah, ada mobil dua buah, dan sekita tiga sepeda motor di rumah. Fasilitas elektronik kini sudah menghiasi setiap sudut ruang. Sebagai tetangga dekat, kami pun turut bersyukur atas kesuksesan beliau.


Pengalaman kerja beliau di Kore Selatan sangat beragam. Pertama, mengenai karakteristik orang Korea dan Indonesia. Menurut beliau, orang Korea cenderung kreatif, mau bekeja keras, sopan santun, jujur jadi prioritas utama, dan ulet. Berbeda sekali dengan orang Indonesia yang tidak sehebat orang Korea. Kedua, di Korea Selatan memang sudah diterapkan wajib militer. Para pemuda dididik untuk sekolah, minimal sampai SMA, kemudian bisa melanjutkan militer atau memilih bekerja. Para laki-laki belum bisa menikah jika belum bekerja dan berpenghasilan tetap, kata beliau.
Tips yang beliau sampaikan untuk menjadi orang sukses yaitu : berpendidikan tinggi, mau bekerja keras, jujur, dan pantang menyerah dalam menjalani hidup. Saat ini, putra pertama beliau meneruskan jejaknya di Korea Selatan, di pabrik perikanan. Putrinya, kini melanjutkan kuliah di UAD Jogja dan putra bungsunya masih SMP di Sleman. Semoga kita bisa meneladani kesuksesan beliau.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar