Ged a Widget

Minggu, 06 Januari 2013

Sebuah Amanah

Alhamdulillah, segala puji hanya kepada Allah Subhanahu wata'ala, Tuhan semesta alam. Berkat Allah lah kita hidup, berkat Allah lah kita masih bisa menikmati rintik hujan malam ini. Semoga sholawat tetap tersampaikan kepada uswah kita, teladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam, keluarga, sahabta, serta para pengikutnya hingga hari kiamat.

Tak terasa, waktu mengalir begitu cepat. Detik, menit, jam, hari dan sampai setahun ini bumi berputar dan kalender mengubah angkanya dari 2012 menjadi 2013. Sahabat, marilah kita selalu mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah, atas kecintaan tulus-Nya kita masih dipertemukan pada tahun 2013. Mengapa perlu bersyukur ? Saya mencoba untuk mengingat kembali isi khutbah Jumat tanggal 4 kemarin di masjid Mujahidin UNY, bahwa banyak diantara orang-orang yang kita cintai ternyata tidak bisa menjumpai tahun 2013, termasuk yang saya alami. Pada tahun 2012 kemarin keluarga kami juga harus mengikhlaskan orang-orang tercinta seperti pakdhe saya yang kembali ke rahmatullah. Begitulah pentingnya bersyukur.

Sahabat,
Pada kesempatan ini saya akan membagi sebuah kisah yang mungkin sangat sederhana, semoga bisa diambil hikmah ya.

Hari Sabtu, 5 Januari 2013 kemarin adalah hari bersejarah bagi saya. Pada hari itu, sebuah amanah baru dipercayakan kepada saya. Bukan sebagai ketua kelas, ketua rohis, atau ketua lainnya. Namun, pada kesempatan itu saya diamanahi di UKMF Penelitian Screen sebagai Kepala Bidang Pengembangan Penelitian dan Studi Ilmiah (PPSI).

Segala puji bagi Allah, inilah sebuah keputusan Allah yang harus saya terima. Bersamaan dengan itu, kami dari UKMF Penelitian Screen mendapatkan kepala keluarga yang baru, yaitu mas Asep Sumiaji yang menggantikan mbak Dwi Nur Rahayu. Ini merupakan keputusan yang sudah saya prediksi jauh-jauh hari agar saya lebih siap jika saatnya nanti tiba.

Bukan maksud untuk berbangga, bukan maksud untu menyombongkan diri. Ada sebuah hikmah yang tersirat di balik semua itu. Apa lagi kalau bukan 'Sebuah Amanah'.

Ya, sebuah amanah identik dengan tanggung jawab. Amanah bisa kita artikan sebagai rasa untuk dipercaya orang lain. Artinya, amanah adalah suatu pesan/taggung jawab dari orang lain untuk kita laksanakan. Ya, saya kira juga tidak terlalu salah jika amanah identik dengan kepemimpinan. Amanah adalah sebuah seni kepemimpinan untuk melaksanakan tanggung jawab yang ada.

Sahabatku,
Kita bisa menggambarkan sebuah amanah pada zaman Rasulullah. Pada saat itu, Rasulullah mendapat amanah besar untuk mengemban tugas mulih berdakwah Islam di bumi ini. Jalan yang dilalui Rasulullah tidaklah mudah, banyak godaan dan rintangan di perjalanan. Perlu ikhtiar, kesabaran, keikhlasan, dan tawakkal untuk menyelesaikan semua.

Begitu juga dengan amanah manusia seperti kita. Rasulullah saja bisa melaksanakan perintah Allah dan sudah dijamin masuk surga. Bagaimana dengan kita ? Perlu keteladanan kepada nabi, jika kita akan melaksanakan amnah ini dengan sebaik mungkin. 

Perlu diketahui, bahwa menjalankan amanah dan menjaganya bukanlah perkara yang bisa dilakukan semudah membalik tangan. Allah telah menjelaskan tentang beratnya amanah di dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah (yaitu menjalankan perintah-perintah Allah l dan meninggalkan seluruh larangan-Nya) kepada seluruh langit dan bumi serta gunung-gunung. Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu banyak berbuat dzalim dan amat bodoh.” (Al-Ahzab: 72)

Di dalam ayat tersebut kita mengetahui, bahwa makhluk-makhluk Allah  yang sangat besar tidak bersedia menerima amanah yang ditawarkan kepada mereka. Yaitu amanah yang berupa menjalankan syariat yang Allah  turunkan melalui utusan-Nya. Mereka enggan untuk menerima amanah tersebut bukan karena ingin menyelisihi Allah. Bukan pula karena mereka tidak berharap balasan Allah l yang sangat besar dengan menjalankan amanah tersebut. Akan tetapi mereka menyadari betapa beratnya memikul amanah. Sehingga mereka khawatir akan menyelisihi amanah tersebut yang berakibat akan terkena siksa Allah l yang sangat pedih. Hanya saja, manusia dengan berbagai kelemahannya, memilih untuk menerima amanah tersebut. Sehingga kemudian terbagilah manusia menjadi tiga kelompok.

Kelompok yang pertama adalah orang–orang yang menampakkan dirinya seolah-olah menjalankan amanah. Yaitu dengan menampakkan keimanannya namun sesungguhnya mereka tidak beriman. Mereka itulah yang disebut orang–orang munafik.

Kelompok kedua adalah orang-orang yang dengan terang-terangan menyelisihi amanah tersebut. Yaitu mereka tidak mau beriman baik secara lahir maupun batin. Mereka adalah orang-orang kafir dan musyrikin.
Sedangkan kelompok ketiga adalah orang-orang yang menjaga amanah yaitu orang-orang yang beriman baik secara lahir maupun batin.

Dua kelompok pertama yang kita sebutkan tadi akan diadzab dengan adzab yang sangat pedih. Sedangkan kelompok yang ketiga yaitu mereka yang beriman secara lahir dan batin, merekalah orang-orang yang akan mendapatkan ampunan serta rahmat dari Allah. Hal ini sebagaimana tersebut dalam ayat berikutnya dalam firman-Nya:
“Sehingga Allah mengadzab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab: 73)

Sahabat,
Amanah yang berkaitan dengan menjalankan syariat Allah atau ibadah ini, harus dilakukan dengan memenuhi dua syarat. Kedua syarat tersebut sesungguhnya merupakan realisasi dari dua kalimat syahadat yang selalu kita ucapkan. Kedua syarat tersebut, yang pertama adalah ikhlas dan yang kedua adalah harus dilakukan sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu'alaihi wasallam..

Ikhlas berarti mengharapkan ridha kepada Allah. Amanah kita laksanakan semata untuk beribadah kepada Allah, bukan untuk dilihat kebaikannya oleh manusia yang lain. Kedua, harus dilaksnakan sesuai tuntunan nab. Maksudnya, ini adalah pentingnya berilmu sebelum beramal. Misalnya, ada seorang muslim yang mau sholat dan harus wudhu dahulu. Namun ternyata ia tidak tahu tata cara bahkan aturan berwudhu, bagaimana mau melaksanakan sholat jika wudhu saja belum paham ilmunya ?

Begitu juga dengan amanah ini, amanah sebagai pengembangan penelitian. Medan di luar sana masih banyak yang belum tahu apa itu meneliti, saya pun juga. Untuk itu, sudah sewajarnya sesuai pernyataan di atas harus saya jalani. 

 Mengenai pahala jika kita amanah ? Hanya Allah yang tahu, kita hanya wajib melaksanakannya dengan benar, ikhlas, berilmu sebelum beramal dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala, insyaAllah akan dimudahkan...aamiin :)

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS An-Nisaa 58)

Referensi ayat : www.dakwatuna.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar