Ged a Widget

Rabu, 02 Januari 2013

Ingin Beasiswa? Mari Siapkan Berkasnya

Tulisan ini saya share dari web resmi PPI Belanda 

http://www.ppibelanda.org/node/ingin-beasiswa-mari-siapkan-berkasnya

Oleh Rahma Muthia
Penerima Beasiswa Unggulan Kemdiknas
Master Student of Chemical Engineering, University of Twente
 
 
 
Hari-hari menjelang keberangkatan menuju Belanda pada Agustus 2012, banyak teman-teman yang menanyakan tentang langkah apa saja yang harus dipersiapkan untuk dapat berkuliah ke luar negeri dengan beasiswa. Sore ini, sebelum tulisan ini saya susun, seorang adik kelas kembali bertanya tentang hal ini. Berharap, tulisan ini memberikan sedikit kontribusi untuk jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya tidak pernah menyangka sebelumnya, keputusan mengenai apa yang akan saya jalani di dunia pasca kampus S1 akan berubah dalam waktu yang sangat singkat. Satu bulan setelah memakai toga di balairung Universitas Indonesia pada tahun 2011, keinginan tersebut begitu membuncah. Niat untuk bersekolah lagi muncul dan hadir, semakin mendominasi semakin hari. Masa setelah sidang skripsi dan hari-hari menuju upacara wisuda bahkan masih saya habiskan untuk berburu informasi lowongan kerja. Seperti keinginan saya dalam beberapa tahun ke belakang, saya ingin bekerja di perusahaan di sektor oil and gas. Namun, tiba-tiba semuanya berubah, ketika saya sendiri mendefinisikan kembali tentang tujuan jangka panjang dalam visi hidup saya pribadi. Tentang apa yang saya inginkan di masa depan. Tentang apa yang ingin saya jalani di masa ini. Satu keputusan dengan dukungan dari orang tua dan keluarga telah dibuat, hanya dalam waktu satu bulan. Saya ingin kembali berkuliah!
 
Mulai dengan Mendefinisikan
Tiga bulan sebelum tutup tahun 2011, Oktober. Masa itu adalah saat pertama kali saya serius memutuskan untuk ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Mungkin banyak yang berpendapat, tidak perlu menuntut ilmu jauh ke luar negeri. Atau, mengapa tidak berkuliah di dalam negeri saja, toh, di dalam negeri ada institusi pendidikan yang juga menyediakan program master. Namun menurut saya, itu pilihan setiap orang, kembali lagi pada tujuan dan kebutuhan masing-masing. Dalam opini saya pribadi, menuntut ilmu di negeri orang bukan hanya soal mengikuti tren atau tidak cinta tanah air. Definisnya jauh dari itu. Berkuliah di negeri orang adalah salah satu ajang pendewasaan diri yang tepat, yaitu pembelajaran untuk bisa mengenal dan beradaptasi dengan budaya mancanegara. Ketika teman-teman sekelas tidak lagi berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan satu bahasa saja. Di dalam kelas, terkadang bahasa Inggris, Spanyol, Belanda, Cina, Portugis, Indonesia terdengar membaur dalam percakapan ringan antar mahasiswa.  Berbaur dengan mahasiswa internasional dari berbagai negara. Hidup sendiri, jauh dari keluarga dan teman-teman. Bertahan melawan suhu ekstrem di musim dingin. Mengatur waktu belajar, berbelanja, memasak, mencuci, membereskan rumah. Merasakan atmosfer sistem pendidikan yang berbeda dibandingkan sistem yang ada di Indonesia. Saya yakin, nilai-nilai tambah tersebut adalah sejumlah hal yang menjadi alasan yang kuat untuk pilihan saya. Maka, saya menyimpulkan bahwa saya perlu dan saya ingin bersekolah ke luar negeri. Langkah pertama mungkin memang betul adanya bahwa sebelum menuntut ilmu ke negeri orang, siapkan motivasi diri sendiri. Setelah yakin bahwa motivasi tersebut betul-betul diinginkan, siapkan pula diri secara fisik dan mental untuk kemungkinan “bersusah-susah” mendapatkan peluang berkuliah di luar negeri dengan dana beasiswa. Siapkan diri untuk memulai perjalanan baru di lingkungan yang baru nantinya.
               
Lakukan, Jangan Hanya Berpikir dan Khawatir
Tiga bulan sebelum tutup tahun 2011, Oktober. Target pribadi saya adalah mempersiapkan diri selama maksimal setahun, untuk memulai perkuliahan master. Dengan target yang cukup tinggi, saya sangat sadar bahwa waktu yang tersisa sangat terbatas. Biasanya, perkuliahan di tahun ajaran baru akan dimulai pada bulan Agustus atau September. Artinya, saya hanya akan punya waktu selama 10-11 bulan untuk persiapan. Sementara itu, belum satu pun hal yang saya persiapkan, baik mengenai informasi maupun dokumen syarat registrasi perkuliahan dan beasiswa. Dengan memplot waktu untuk targetan tersebut, saya mengumpulkan begitu banyak informasi dalam waktu yang singkat. Informasi banyak saya peroleh dari kedua orang kakak saya yang berkuliah di Belanda dan Jepang, teman-teman sekampus yang juga aktif memantau informasi beasiswa berkuliah di luar negeri, pameran pendidikan, serta informasi yang tertera di masing-masing situs kampus. Setelah memikirkan sejumlah pertimbangan, saya putuskan untuk berburu kesempatan berkuliah di negeri Belanda dengan beasiswa. Saya ingin berkuliah di University of Twente.

Dalam waktu yang bersamaan dengan pengumpulan informasi, saya segera mempersiapkan dokumen yang menjadi syarat registrasi kuliah dan beasiswa. Segera, saya hubungi pihak International Office University of Twente mengenai peluang beasiswa yang ada. Kabar baiknya, terdapat alokasi beasiswa untuk menutupi biaya tuition fee. Lalu, saya juga mendapatkan informasi mengenai peluang beasiswa living cost dari pihak Kementrian Pendidikan Nasional. Dalam waktu bersamaan, saya melakukan persiapan dokumen untuk tiga urusan : registrasi kuliah, registrasi beasiswa tuition fee, dan registrasi beasiswa living cost.

Satu syarat yang menurut saya membutuhkan waktu persiapan yang relatif lama adalah bukti kualifikasi bahasa Inggris: nilai TOEFL iBT atau IELTS. Saya sadar bahwa selama ini hal tersebut terabaikan dalam perhatian saya. Saya tidak cukup bijak memanfaatkan waktu saat menjadi mahasiswa S1 untuk belajar menghadapi tes bahasa inggris. Kembali menyadari waktu yang terbatas, saya melakukan persiapan mandiri seintensif mungkin untuk menghadapi ujian bahasa Inggris dalam waktu terdekat. Harus diakui bahwa untuk tujuan ini, saya mengalokasikan waktu yang banyak setiap harinya untuk berlatih soal secara konsisten. Namun, di ujian pertama kualifikasi bahasa inggris ini, hasil nilai yang diperoleh berbeda tipis dengan syarat yang ditentukan pihak universitas. Saya putuskan untuk tidak menyerah. Saya kembali belajar, berlatih, dan bersungguh mempersiapkan diri untuk menghadapi tes bahasa inggris. Pada akhirnya, target nilai tersebut berhasil tercapai dengan baik.        

Satu hal yang menurut saya menjadi bagian terpenting untuk berburu kesempatan berkuliah ke luar negeri adalah mengeksekusi persiapan syarat registrasi. Di antara teman-teman saya yang bertanya tentang langkah apa yang harus diambil untuk persiapan kuliah ke luar negeri, sebetulnya telah banyak yang mengumpulkan cukup informasi mengenai kampus tujuan. Banyak yang telah mendefinisikan mimpi-mimpinya. Namun, tidak semua orang berani mengeksekusi. Hingga apa yang mereka miliki hanyalah sebatas sedemikian banyak informasi untuk berkuliah di berbagai kampus. Ketika ditanya mengenai sudah sejauh mana persiapan yang dilakukan, tidak jarang saya mendapatkan jawaban bahwa persiapan bahasa Inggris belum dilakukan sama sekali. Padahal, telah cukup banyak waktu yang dihabiskan untuk mengikuti pameran pendidikan, mengumpulkan informasi dengan menghubungi langsung pihak kampus tujuan mengenai informasi peluang beasiswa, mencari tips-tips beasiswa. Tidak salah dengan hal tersebut. Namun, ada baiknya bila tidak terlalu banyak energi yang dihabiskan untuk berpikir dan khawatir mengenai mimpi berkuliah ke luar negeri yang tidak kunjung menjadi kenyataan. Ada baiknya juga segera mengeksekusi semua hal yang menjadi persyaratan. Lakukan persiapan berkasnya. Siapkan dokumen yang menjadi syarat registrasi. Maka, mimpi itu akan semakin dekat dari kenyataan.
 
Fokus, Lurus ke Depan
Bulan Januari 2012 adalah saat saya menerima letter of acceptance dari University of Twente. Bersyukur telah mendapatkan berita baik tersebut. Namun, perjalanan belum berakhir. Tiba saatnya untuk berjuang mendapatkan beasiswa berkuliah di kampus tersebut. Bulan Januari hingga Mei 2012 adalah saat di mana harapan di dalam diri saya timbul dan tenggelam. Cukup lama tidak ada kabar mengenai beasiswa yang saya perjuangkan. Dalam masa penantian itu, sejumlah pilihan lain seolah menggoda datang. Panggilan tes interview di perusahaan berskala multinasional di bidang oil and gas. Tawaran suatu posisi kerja di perusahaan nasional oleh seorang senior. Namun, saya merasa apa yang saya perjuangkan belum selesai. Ada mimpi yang harus saya perjuangkan. Saya putuskan untuk berfokus memperjuangkan apa yang terjadi di sisa waktu target kuliah pada tahun 2012. Fokus, lurus ke depan.
 
Kerahkan Usaha Terbaik. Sabar.
Bulan Agustus semakin dekat. Saat itu bulan April 2012. Harap-harap cemas, penantian masih berlanjut. Selain menanti kabar dari Belanda, saya berulang kali mendatangi kantor Kemdiknas di Senayan untuk menanyakan progress seleksi beasiswa. Di awal bulan April, saya akhirnya menerima sebuah email dari University of Twente yang mengabarkan bahwa saya dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa uang kuliah. Dear Ms. Rahma Muthia, Congratulations. In the attachment of this email you can find your University of Twente Scholarship Award Letter. Satu penantian telah memberikan jawaban. Keyakinan membuat saya semakin bersemangat untuk mengerahkan usaha terbaik. Dalam satu kesempatan di akhir bulan April, pada akhirnya saya bertemu dengan Bapak Abe Susanto, Penanggung Jawab Beasiswa Luar Negeri dari Kementrian Pendidikan Nasional. Saat itu, saya langsung diwawancara mengenai motivasi kuliah serta kualifikasi lainnya. Di saat itu pula, saya mendapatkan jawaban bahwa saya dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa living cost dari pihak Kemdiknas.

Terjawab. Kini terjawab. Penantian untuk berbagai hal kini telah terjawab. Dan kuncinya adalah mengerahkan semua usaha terbaik untuk mencapainya. Selanjutnya, berdoa dan bersabar.
 
Belanda, Aku Datang
Empat bulan telah berlalu. Akhir musim panas, musim gugur, kini musim dingin. Tak jauh dari ekspektasi, perjalanan ini terlihat begitu berwarna. Belajar bersama teman-teman internasional, berorganisasi bersama PPI, betualang menjelajah negeri Eropa. Benar, perjalanan ini butuh upaya berlipat untuk bisa bertahan dan selamat sampai tujuan di depan sana. Pasti ada duka, namun saya yakin suka cita akan lebih banyak menghiasi apa yang terjadi setiap hari. Hingga gelar master ini berhasil diraih, saya ingin memanfaatkan setiap waktu selama berada di sini dengan sebaik-baiknya. Saya ingin hidup. Mengutip susunan kalimat Andrea Hirata dalam buku Edensor, “Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar