Ged a Widget

Kamis, 31 Januari 2013

Bagaimana Nak Indeks Prestasimu Semester Ini ? Naik, kan?

Judul di atas mungkin agak sensitif jika didengar para mahasiswa pada saat libur semester ini. Setelah perjalanan satu semester ganjil, tibalah saatnya menunggu rapot kuliah alias IP. 

Indeks Prestasi atau IP adalah suatu parameter keberhasilan mahasiswa dalam menempuh studi dalam kurun waktu satu semester, sedangkan Indeksi Prestasi Komulatif adalah rerata IP yang telah dikumpulkan oleh mahasiswa tersebut.  Saya pun tak luput dari demam IPK semester 3 ini. Selama kurang lebih dua minggu sejak selesai ujian semesteran kemarin, tiap hari saya pantau siakad atau sistem informasi akademik UNY.  Untuk semester 3 ini saya telah mengambil 25 SKS atau 12 mata kuliah.

Satu per satu telur (nilai) itu keluar. Saya berharap dan berdoa agar IP semester ini jauh lebih baik untuk mendongkrak IPK saya. Jujur, saya tidak menginginkan yang namanya mengulang di tahun depan, untuk itu saya berikan yang terbaik dalam belajar agar hasilnya maksimal. Alhamdulillah, Allah selalu menyertai hamba-hambaNya yang berusaha, bersabar, dan berdoa. Allah selalu Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika ibu bertanya "Nak, IPmu naik kan?" Dengan rasa syukur dan kerendahan hati akan saya jawab "InsyaAllah mak."

Bukan hanya nilai yang menjadi target saya, namun kesungguhan dalam belajar, keberanian dalam mengambil sifat jujur, terlatih dalam kemandirian, percaya diri terhadap kemampuan diri sendiri, dan dengan kekuatan doa kepada Allah Ta'ala saya akan berhasil. Itu prinsip saya yang selalu mengiringi setiap langkah menuju bangku kuliah. Amanah dan pesan dari orang tua untuk bersekolah setinggi-tingginya menjadi peletup semangat untuk selalu berusaha dan mencoba meningkatkan prestasi di kampus. Betapa tidak bersyukurnya saya, emak dan bapak yang tidak tamat SD bisa menyekolahkan saya sampai kuliah, bukankah itu amanah yang harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin ?

Kembali ke perbincangan kita tentang IP. Saya tadi sempat berdiskusi dengan teman-teman di grup facebook Kamilah Cendekiawan Muda UNY 2011 ! tentang IP tinggi namun percuma jika yang mendapatkannya hanya mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang, kuliah-pulang) atau bisa dikatakan mahasiswa yang hanya datang, duduk, mendengarkan, pulang ke kos/rumah, dan menunggu hari kuliah lagi. Sedikit menarik memang jika IP dikaitkan dengan partisipasi aktif mahasiswa. Menurut pengamatan saya, ada beberapa klasifikasi keterkaitan keaktifan mahasiswa dengan IP yang diperolehnya, yaitu :

1. Aktivis Mahasiswa-IP Rendah

Ini satu contoh mahasiswa yang turut aktif berorganisasi, ikut unit kegiatan mahasiswa, atau sejenisnya namun belum bisa mengimbangi prestasi akademiknya. Dari segi nonakademik memang bagus, namun ternyata tidak sejalan dengan prestasi di kelasnya. Pemandangan ini bisa saya jumpai di kelas saya, sebagian kecil. Mereka yang merupakan aktivis terlalu memforsir diri di luar, sehingga IP menjadi taruhannya.




2. Aktivis Mahasiswa-IP Sedang

Klasifikasi ini menunjukkan, ada juga mahasiswa yang aktiv dalam kegiatan kampus maupun di dalam kuliah, namun IP sedang-sedang saja. Entah faktor apa yang bisa menyebabkan ini, saya kurang begitu tahu. Hehe

3. Aktivis Mahasiswa-IP Tinggi

Inilah prestasi yang diidam-idamkan oleh setiap mahasiswa yang mengaku aktivis. IP tinggi menjadi bagian dari target prestasi di kampusnya. Selain aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, ia juga aktif di kelas dan bisa memaksimalkan potensi yang ada, misalnya bakat komunikasinya, ide-idenya, maupun kedekatannya dengan para dosen/birokrat kampus, sehingga tak jarang dosen memberi nilai plus kepada mahasiswa semacam ini. Kalau bisa dikisarkan dalam angka yaitu >3,51.

Namun, selain wajah-wajah mahasiswa kura-kura (kuliah-rapat, kuliah-rapat) ada juga mahasiswa kupu-kupu seperti yang sudah saya sebutkan di atas. Beberapa jenis mahasiswa kupu-kupu dengan prestasi IP nya adala sebagai berikut :

1. Mahasiswa Bukan Aktivis-IP Tinggi

Komentar saya : wajar, dia konsentrasi penuh dengan akademiknya. Kelemahan : kurang bisa mengekspresikan diri di dunia nyata, di masyarakat. Selain itu, biasanya dia sosok mahasiswa yang jarang bergaul atau hanya sibuk belajar dan belajar tanpa ada aktivitas tambahan di luar sehingga jika di depan umum terkesan 'kaku'. Keputusannya memang benar agar bisa memaksimalkan IP, namun kesempatan untuk mencicipi variasi kuliah sangat terbatas.

2. Mahasiswa Bukan Aktivis-IP Sedang

Nah, yang ini saya katakan rugi. Kenapa ia punya waktu luang yang banyak namun IP tidak bisa tinggi ? Atau ada yang bermasalah dengan mereka ? Saya juga kurang tahu, yang jelas ini juga saya rasakan di kelas ketika menjumpai beberapa teman dengan karakter seperti ini. Saran saya : maksimalkan dalam belajarnya atau menambah aktivitas di luar belajar.

3. Mahasiswa Bukan Aktivis-IP Rendah

Komentar saya : sayang sekali mahasiwa ini sangat rugi untuk kuliah. Coba merenung dan menilai apakah strategi kuliah  sudah benar. Pesan saya : ambillah kesempatan untuk aktif dalam memaksimalkan potensi yang ada karena tidak ada yang menjamin kalau besok kita langsung bisa bekerja, namun tuntutan zaman harus bisa kreatif dalam memanfaatkan potensi diri yang ada, iya kan ? hehe

Nah, itu sedikit klasifikasi mahasiswa versi saya, tanpa bermaksud men-judge siapa saja yang termasuk di dalamnya. 

Hayoo...pilih yang mana ? :D
Mari kita pikirkan dalam hati, kita selama ini termasuk yang mana ?



Sekali lagi, keputusan ada di tangan kita sendiri, mau milih kura-kura atau kupu-kupu :D hehe

Jika sudah mengetahui jawabannya, jangan lupa ya untuk menyusun rencana semester selanjutnya. Gunakan pengalaman IP tahun ini sebagai pembelajaran ke depan. Opsi yang saya tawarkan adalah :

"Mari bersama-sama menjadi mahasiswa yang bersemangat dalam kuliah, aktif dalam kuliah, dan juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Mungkin kita saat ini belum akan merasakan manfaatnya dengan menjadi seorang aktivis, namun sebagian besar cerita menyatakan bahwa itu akan kita tuliskan di CV lamaran kerja, hehehe :D"

Tips Terakhir : Banyak mendekatkan diri kepada ALLAH Ta'ala :D


Mohon maaf ya kalau ada kata2 yang kurang berkenan :D Bisa memberi komentar di bawah kok..

Soal IPK...ah jangan dipikirkan.... 

Perbaiki aja dan tingkatkan :D Ok ?

Sekian sedikit coretan refleksi pikiran saya,

Salam hangat,

Semangat Pagi !






13 komentar:

  1. Saya kayaknya bukan aktivis - ip tinggi,.. amien.. :D

    BalasHapus
  2. buat saya ipk memang penting, namun kejujuran dan usaha adalah no satu :)

    BalasHapus
  3. IPK adalah efek kesungguhan kita dalam belajar. Jika Sungguh2 karena Allah, maka sungguh itulah nilai terbaik menurut Allah. Semangat belajar :)

    BalasHapus
  4. @Pepeb : siap grak :D

    @Mbak Atik : siappp grak juga :D Yang muda harus semangat dong :D

    BalasHapus
  5. ipk tinggi banyak berkarya insyaAllah

    BalasHapus
  6. aku suka "HANYA TUHAN DAN ORANG TUA YANG BOLEH NANYA IP GW"

    BalasHapus
  7. kata orang, IPK memang bukan segalanya. tapi segalanya bisa dimulai dari IPK. hidup ini adalah pilihan hidup.tentu semua ada konsekuensinya. baik buruk itu terkadang memang relatif. tapi semuanya balik lagi kepada kita. hehe.. semangat kawan. semoga semuanya karena Allah. aamiin..

    BalasHapus
  8. wah benar sekali.. dan saya merasakannya bang janu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaaa semoga menjadi pembelajaran bagi kita :)

      Hapus
  9. Kalau aku IPK itu tidak hanya bergantung pada kapasitas mahasiswa, tapi pilihan dosen. Mungkin quote yg tepat "Hidup adalah pilihan, jika hidup itu pilihan maka pililah dosen dengan bijaksana" hahaha
    Kita doakan saja meski IPK mereka atau kita yg rendah, semoga segala langkahnya utk maju di mudahkan. hhi
    #HidupAdem

    BalasHapus
    Balasan
    1. saling mendoakan aja yaa mas Akbar :-) hehe

      Hapus