Ged a Widget

Minggu, 29 April 2012

SIKLUS HIDROLOGI


Siklus air atau siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dariatmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasipresipitasi,evaporasi dan transpirasi.

Pemanasan air laut oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara terus menerus. Air berevaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.

Pada perjalanan menuju bumi beberapa presipitasi dapat berevaporasi kembali ke atas atau langsung jatuh yang kemudian diintersepsi oleh tanaman sebelum mencapai tanah.
Image

Minggu, 22 April 2012

GEOSFER

Image

Fenomena geosfer yang ada di bumi terbai menjadi lima, yaitu :

- Litosfer yaitu lingkungan kulit bumi atau kerak bumi
- Atmosfer yaitu lingkungan udara
- Hidrosfer yaitu lingkungan perairan
- Biosfer yaitu lingkungan makhluk hidup
- Antroposfer yaitu lingkungan manusia

Sabtu, 21 April 2012

PRAKTIKUM KARTOGRAFI DASAR GEOGRAFI A UNY 2012

Bismillah...
Segala puji bagi ALLAH yang selalu memberikan segala nikmatNya. Pagi ini, Sabtu 21 April 2012 kami dari Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta kelas A angkatan 2011 telah melaksanakan praktikum kartografi dasar tahun ini. Kegiatan ini dilaksanakan di Kawasan Hutan Wanagama Gunungkidul Yogyakarta.

Peserta kegiatan ini sejumlah 45 mahasiswa ditambah panitia dari kelas B, kakak-kakak asisten dosen, dan Pak Endro sebagai dosen kartografi kami. Kegiatan ini merupakan agenda praktikum lapangan kartografi. Tuannya, tidak lain adalah untuk mengaplikasikan teori yang sudah diterima mahasiswa kemudian dipraktikkan di lapangan langsung.

Perjalanan diawali dari Kampus Fakultas Ilmu Sosial UNY. Kami yang mengenakan baju kebanggan "Ranger Merah" berkumpul untuk melakukan persiapan. Setelah itu, perjalanan pun dimulai dengan dua bus yang disediakan panitia. Suasana yang masih pagi sekitar pukul 08.00 menampakkan berkas sinar matahari. Kami melewati jalan utama yaitu jalan Wonosari. Sekitar satu jam kemudian, kami pun telah sampai di hutan Wanagama, daerah Gading Gunungkidul.
Image
Apel dan pengarahan pun dilaksanakan. Para panitia, asdos, maupun dosen memberi pengarahan terkait macam-macam hal. Seperti peralatan yang diperlukan (kompas geologi, roll meter, yallon, sketch, lembar pengukuram, abnilevel, dll) dan arahan dari Pak Endro adalah terkait medan. Medan yang akan kami ukur untuk dibuat peta kontur adalah sebuah lereng di hutan. Pada intinya...turu, ada sungai yang mengering, dan naik bukit.

Setelah sarapan makan snack dan pengarahan, praktikum dimulai. Satu kelas ini dibagi menjadi empat kelompok dan saya adalah kelompok 2 yang mayoritas perempuan (3laki-laki). Setelah menyusur jalan tikus, akhirnya medan pengukuran di depan mata. Nah, kami berbagi tugas dengan peralatan yang ada. Saat ini ada mas Wisnu, asdos yang mendampingi kami :D. Dengan sabar kami mulai menerapkan alat-alat. Posisi pengukuran kami adalah zig-zag, dengan kata lain kami mengambil titik-titik secara menyamping dan serong, Mengapa ? Alasannya adalah untuk mendapatkan titik akurat, banyak, dan efektif waktu. Hal yang perlu diinga ya, tidak boleh melebar ke batas kelompok lain karena nanti di hasil akhir pemetaan pasti akan bertabrakan.

Terik matahari siang tadi tidak menyurutkan semangat kami dalam praktikum ini. Banyak pelajaran yang bisa kami amnil : kerja sama, kekompakan, ketelitian, kesabaran, dan lain sebagainya. Tiba-tiba......ada teman kami yang sakit kesleo kakinya. Tips kami bagi teman2 jika terjadi hal seperti ini adalah : segera panggil petugas P3K dan lakukan upaya penyelamatan pertama, jangan bingung, dan sabar dalam menghadapi peserta yang sakit.

Pada akhirnya sekitar pukul 12.30 kami telah sampai puncak dan mendapatkan sejumlah 67 titik dari target 80 titik. Senyum bahagia dan canda teman2 menghapus keringat dan penat siang ini. Semua berkumpul kembali dalam persaudaraan kami keluarga geografi. Lelah dan raut wajah melas yang terlihat saat pengukuran tadi tergantikan dengan bahagia karena sajian makan siang dari panitia :p Paha ayam pun di depan mata, kami makan bersama, evaluasi bersama, foto bersama, dan pulang..... Eits belum salat Dzuhur kan ? Tenang....alhamdulillah kami singgah di masjid perkampungan untuk menunaikan kewajiban lima waktu kami... Alhamdulillah...semoga praktikum kartografi ni barokah...dan Ahad esok adalah giliran kelas B, SEMANGAT GEOGRAFI !!! :D

Jumat, 20 April 2012

Ruang Lingkup Geografi




Ruang lingkup studi geografi cukup luas, karena mencakup segala sesuatu yang ada di bumi, di permukaan bumi, dan di ruang angkasa. Karena itu, geografi tidak mungkin dapat dikuasai hanya dalam satu mata pelajaran. Itu sebabnya dijumpai berbagai disiplin ilmu yang merupakan cabang-cabang geografi.



Objek kajian geografi dapat dibedakan atas 2 aspek utama:

a. Aspek Fisik, meliputi aspek kimia, biologis, astronomis, dsb

b. Aspek Sosial, meliputi aspek antropologis, politis, ekonomis, dsb

Maka, studi geografi meliputi gejala alam atau fisis / fisik dan gejala sosial manusia.


Geografi dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu

1. Geografi Fisis (physical geography) – mempelajari aspek fisik : batuan, mineral, relief, cuaca, iklim, air.

2. Geografi Manusia (human gepgraphy) – mempelajari aspek social : polotik, ekonomi dan

budaya.


Pokok-pokok ruang lingkup geografi menurut Rhoads Murphey (1966) dalam bukunya The Scope Geography, sbb




  • Persebaran dan keterkaitan antara penduduk di permukaan bumi dan aspek-aspek keruangan, serta usaha manusia untuk memanfaatkannya.

  • Interelasi antara manusia dan lingkungan fisik sebagai bagian dari studi perbedaan wilayah.

  • Kerangka wilayah dan analisis wilayah secara khusus.

referensi : http://dc185.4shared.com/doc/Ptj5fdwQ/preview.html

Ruang lingkup geografi mencakup fenomena permukaan bumi (geosfer) yang terdiri atas gejala alam (fisik) dan gejala manusia (sosial) gejala ini menganalisis persebaran (spread), hubungan (interrelation) dan interaksi (interaction) dalam ruang muka bumi.

Dengan melihat gejala yang dipelajari, geografi harus mampu menjawab pertanyaan what (apa), where (dimana), why (mengapa), how (bagaimana) tentang apa yang terjadi di muka bumi.

Konsep Dasar Geografi

 Bismillah...setelah tahu definisi geografi, mari pembahasan kita lanjutkan pada Konsep Dasar Geografi sekaligus perkembangannya :)


Konsep Dasar Geografi (menurut Gertrude Whipple)

1. “The earth as a planet” (bumi sebagai suatu planet)

2. “Varied ways of living” (beranekaragam cara hidup)

3. “Varied natural region” (beranekaragam wilayah alam)

4. “The significance of region to man” (pentingnya kawasan alam bagi manusia)

5. “The importance of location in understanding world affairs” (pentingnya lokasi atau letak

untuk memahami)



 

Perkembangan Geografi

Perkembangan studi geografi diwarnai oleh 2 aliran utama, yaitu

1. Aliran Determinisme yang mempercayai bahwa alam sangat menentukan kehidupan

manusia,

tokohnya Karl Ritther, Friederich dan Elsworth Huntington.

2. Aliran Possibilisme yang beranggapan bahwa manusia memiliki peluang besar untuk

menentukan pola kehidupanya. Konsep ini dikenal dengan konsep Genre De Vie

 

Pada abad pertengahan Bernadus Veranus, membagi geografi menjadi 2 bagian, yaitu

1. Geografi Generalis, kajiannya meliputi fenomena litosfer, hidrosfer, atmosfer dan bentuk

muka bumi

2. Geografi Spesialis, kajiannya meliputi masalah penduduk dan sosial

 

referensi : http://dc185.4shared.com/doc/Ptj5fdwQ/preview.html

Kamis, 19 April 2012

APA ITU GEOGRAFI ?

Bismillah...

Sebelum mulai melangkah lebih jauh, mari kita tahu dulu definisi geografi :)
Ini saya kutip dari pendapat beberapa ahli lho :D
Erastothenes (abad ke-1)
Geografi berasal dari kata geographica yang berarti penulisan atau penggambaran mengenai bumi.
Claudius Ptolomaeus (abad ke-2)
Geografi adalah suatu penyajian dengan peta dan sebagian pemukaan bumi yang menunjukkan kenampakan umum yang terdapat padanya
Preston e James
Geografi dapat diungkapkan sebagai induk dari segala ilmu pengetahuan” karena banyak bidang ilmu pengetahuan selalu mulai dari keadaan muka bumi untuk beralih pada studinya masing-masing.
Lobeck (1939)
Gegografi adalah suatu studi tentang hubungan – hubungan yang ada antara kehidupan dengan lingkungan fisiknya.
Frank Debenham (1950)
Geografi adalah ilmu yang bertugas mengadakan penafsiran terhadap persebaran fakta, menemukan hubungan antara kehidupan manusia dengan lingkungan fisik, menjelaskan kekuatan interaksi antara manusia dan alam.
Ullman (1954)
Geografi adalah interaksi antar ruang
Maurice Le Lannou (1959)
Objek study geografi adalah kelompok manusia dan organisasinya di muka bumi.
James Fairgrive (1966)
Geografi memiliki nilai edukatif yang dapat mendidik manusia untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap kemajuan-kemajuan dunia. Ia juga berpendapat bahwa peta sangat penting untuk menjawab pertanyaan “di mana” dari berbagai aspek dan gejala geografi.
Strabo (1970)
Geografi erat kaitannya dengan faktor lokasi, karakterisitik tertentu dan hubungan antar wilayah secara keseluruhan. Pendapat ini kemuadian di sebut Konsep Natural Atrribut of Place.
Paul Claval (1976)
Geografi selalu ingin menjelaskan gejala gejala dari segi hubungan keruangan.
Prof. Bintarto (1981)
Geografi mempelajari hubungan kausal gejala-gejala di permukaan bumi, baik yang bersifat fisik maupun yang menyangkut kehidupan makhluk hidup beserta permasalahannya melalui pendekatan keruangan, kelingkungan, dan regional untuk kepentingan program, proses, dan keberhasilan pembangunan.
Hasil seminar dan lokakarya di Semarang (1988)
Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan.
Depdikbud (1989)
Geografi merupakan suatu ilmu tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora, fauna, serta hasil yang diperoleh dari bumi.
Herioso Setiyono (1996)
Geografi merupakan suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya dan merujuk pada pola persebaran horisontal dipermukaan bumi.
Bisri Mustofa (2007)
Geografi merupakan ilmu yang menguraikan tentang permukaan bumi, iklim, penduduk, flora, faquna serta basil-basil yang diperoleh dari bumi.
Harstone
Geografi adalah sebuah ilmu yang menampilkan relitas deferensiasi muka bumi seperti apa adanya,tidak hanya dalam arti perbedaan – perbedaan dalam hal tertentu, tetapi juga dalam arti kombinasi keseluruhan fenomena di setiap tempat, yang berbeda dari keadaanya di tempat lain.
Jhon Alexander
Geografi merupakan disiplin ilmu yang menganalisis variasi keruangan dalam veriabel kawasan-kawsandan hubungan antar variabel – variabel keruangan.
Ferdinand von Richthoven
Geografi adalah ilmu yang mempelajari gejala dan sifat pemukaan bumi dan penduduknya, disusun menurut letaknya, menerangkan baik tentang terdapatnya gejala – gejala dan sifat – sifat itu.

So, kesimpulannya ? Silakan disimpulkan ya :)

Minggu, 01 April 2012

Pro Kontra Jurnal Ilmiah sebagai Syarat Kelulusan S-1

Pada akhir bulan Januari 2012 kemarin  tepatnya pada tanggal 27 Januari 2012, dunia perguruan tinggi dikejutkan dengan adanya surat dari Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud Nomor 162/E/T/2012 tentang publikasi karya ilmiah. Secara jelasnya, isi dari surat tersebut tidak jauh dari kaitannya jurnal ilmiah. Ya, ini adalah sebuah bukti jelas  bahwa Dikti akan semakin mewujudkan rencananya agar para mahasiswa strata 1 yang ingin lulus harus mampu mempublikasikan jurnal ilmiah. Secara tidak langsung, ini adalah satu langkah awal untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam publikasi karya ilmiah. Tidak hanya dengan Cina saja, tetapi dengan Malaysia pun kita kalah. Berdasarkan data dari Thomson Scientific (dalam Resyalia, 2010), publikasi karya ilmuwan Indonesia melalui jurnal internasional hanya berkisar 522, jauh di bawah Malaysia yang mencapai 1.428. Selain dalam jurnal internasional, publikasi di lingkup lokal maupun nasional pun juga masih minim. Ini adalah keprihatinan kita bersama, dari sekitar 60 ribu akademisi dan peneliti yang dimiliki Indonesia, hanya sekitar 500 karya yang berhasil termuat di jurnal internasional tiap tahun.



Selain dari alasan ketertinggalan dengan negara tetangga, perilaku plagiarisme juga masih menjamur di negeri ini. Plagiarisme berupa karya ilmiah atau pun tulisan ilmiah masih menggrogoti setiap mahasiswa yang ingin segera lulus strata 1 tanpa bersusah payah dan berpusing diri membuat karya ilmiah. Kedua hal ini mendorong perlunya revolusi budaya di Indonesia, yakni dari tutur menjadi menulis. Ya, bangsa ini perlu untuk menulis, menulis karya milik sendiri. Manfaat yang didapatkan begitu beragam. Semakin banyak akademikus yang mempublikasikan karya ilmiah atau penelitian mereka di berbagai jurnal ilmiah, akan semakin menumbuhkan kesadaran untuk menulis. Di samping itu, umpan balik bagi mahasiswa adalah adanya kemauan untuk berlatih dan berlatih menulis jurnal ilmiah dengan bimbingan dosen.

Beberapa hal yang telah diuraikan di atas adalah alasan yang mendasari terselenggaranya kegiatan “Geography Discussion Academy#1” yang diselenggarakan oleh Bidang Pengembangan dan Penelitian (Litbang) Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta. Diskusi pada hari Jumat, 30 Maret 2012 dengan tema “Pro Kontra Jurnal Ilmiah Sebagai Syarat Kelulusan S1” ini menghasilkan beberapa pertimbangan dan kesimpulan. Pertama, opposing views atau pandangan yang menolak adanya program dikti ini salah satunya karena penentuan kelulusan merupakan otonomi setiap perguruan tinggi. Tidak hanya itu, opini masyarakat yang dinilai terlalu tergesa-gesa, mendadak, dan memaksakan semakin menambah alasan penolakan terhadap rencana kebijakan ini. Secara rasional juga akan memunculkan jurnal abal-abal dan penumpukan mahasiswa di PT tertentu karena belum lulus publikasi jurnalnya, tentu kita tidak mengharapkannya.

Pandangan berbeda terlihat pada pihak pro yang memang tergolong minoritas dibandingkan dengan pihak kontra. Selain bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas perguruan tinggi, juga bisa mengontrol budaya plagiarisme di kalangan mahasiswa. Bukan dalih hanya untuk mengejar ketertinggalan Indonesia saja, tetapi budaya menulis inilah yang perlu ditekankan. Tentu dua hal ini akan semakin menguatkan bahwa budaya menulis bagi mahasiswa sebagai calon intelektual wajib dibina sejak kuliah. Target jangka panjang untuk meningkatkan kualitas output lulusan PT juga menjadi alasan utama bahwa publikasi jurnal ilmiah layak menjadi syarat kelulusan S1.

Dari diskusi yang telah dilaksanakan, ada beberapa solusi untuk menengahi permasalahan ini. Pertama, sebaiknya program ini dilakukan secara bertahap untuk PT dengan akreditasi A dan seterusnya. Kedua. waktu yang cukup untuk sosialisasi juga penting karena memang tidak mudah bisa menjangkau seluruh PT di Indonesia. Program pelatihan ilmiah dari dikti bagi mahasiswa sudah selayaknya diagendakan dan dilaksanakan, mengingat masih ada juga mahasiswa yang belum tahu apa itu jurnal ilmiah. Seperti di UNY sendiri, masih perlu diadakan sosialisasi, penyediaan media yang akan menampung jurnal, dan tindak lanjut realisasi hasil jurnal ilmiah itu sendiri. Pada intinya, kita sebagai mahasiswa harus mulai membiasakan menulis, baik dalam artikel, penelitian, bahkan menulis buku. 

Dengan demikian, kesan menulis, memuatkan, dan menerbitkan jurnal ilmiah sudah menjadi hal biasa dan terpupuk pada mahasiswa. Entah pada akhirnya kebijakan ini akan diberlakukan atau tidak, para mahasiswa sudah saatnya membuka mata dan mempersiapkan diri, mengupayakan bahwa dengan cara ini kita setidaknya bisa memberikan kontribusi nyata bagi bangsa Indonesia tercinta.

Semangat Berkarya bersama Geography Discussion Chapter#1

Alhamdulillah ya ALLAH, agenda GeoDisc#1 telah terlaksana dengan lancar. Sebelum melangkah lebih lanjut, akan saya jelaskan tentang Geodisc terlebih dahulu. Geodisc adalah salah satu program Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi UNY 2012. 

Diskusi Geografi kali ini bertempat di Ruang Ki Hajar Fakultas Ilmu Sosial UNY dimulai pada Pukul 13.30 WIB sampai sekitar Pukul 15.30. Tujuan dari agenda ini adalah untuk menumbuhkan sikap kritis mahasiswa terhadap isu-isu yang ada. Kebetulan, pada kesempatan kali ini tema yang diangkat adalah "Pro Kontra Jurnal Ilmiah Sebagai Syarat Kelulusan S1". Tentu kita tahu bahwa ini adalah topik hangat di kalangan mahasiswa ataupun dosen.

Sejumlah 115 peserta dari total target awal 70 peserta membanjiri kursi-kursi yang telah disedikan oleh panitia. Ini di luar dugaan panitia karena publikasi saja baru dilakukan awal pekan terlaksananya diskusi. Mungkin dari segi pemilihan tema yang sedang up to date telah dilirik peserta. Selain itu, dengan kontribusi empat ribu rupiah, harga yang sangat terjangkau sudah mendapatkan fasilitas yang cukup, seperti : ilmu, hand out materi, snack, sertifikat, dan stiker cantik. Daya tarik inilah yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan untuk Geodisc selanjutnya.

Dari kegiatan ini, didapatkan banyak hal terkait pro dan kontra jurnal ilmiah. Adanya surat edaran dari Direkt