Ged a Widget

Jumat, 14 Desember 2012

Sikap Mental Bangsa dalam Pembangunan



Indonesia adalah negara yang istimewa, tatanan, sejarah pembentukan, ditambah dengan variable jumlah penduduk, luas wilayah, kekayaan sumber daya alam, kebinekaan agama, etnis dan kultur. Komponen-komponen ini dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar. Geografi Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar memiliki keunikan budaya tersendiri, terlebih lagi jika dikaitkan dengan letaknya di  peta dunia. Indonesia merupakan teks alami yang tidak ada habis-habisnya untuk dikaji, dipelajari, dan dimanfaatkan sumber dayanya. Proses vulkanisnya menyuburkan tanah, lereng-lerengnya memeperluas lahan pertaniana. Pendek kata, Indonesia merupakan laboratorium alami, baik bagi ilmu-ilmu kebumian, kelautan, atmosfer, dan ilmu-ilmu kehidupan.

Indonesia telah sejak lama mengusahakan pembangunan di berbagai sektor. Mulai dari pembangunan masyarakat di pedesaan atau kaum petani sampai kalangan penduduk kota atau kaum pegawai. Pembangunan itu sudah sejak masa kolonial direncannakan, sampai akhirnya terealisasi pada masa orde baru, masa revolusi, dan pascar revolusi saat ini. Pembangunan negeri ini turut menyisakan dampak mental yang saat ini masih dirasakan oleh banyak diantara warga negaranya.

 
Orientasi dan sikap mental bangsa Indonesia yang belum sejatinya mencerminkan harapan dari pendiri negeri ini. Indonesia masih sangat tergantung kepada negara lain, baik dari segi perekonomian, ketahanan, maupun segi lainnya. Padahal, negeri ini kaya akan sumber daya manusia dan sumber daya alamnya. Kita masih berbangga dengan mengimpor produk dari negara tetangga, padahal kita sebenarnya mampu untuk membuatnya sendiri. Kita masih malu untuk percaya dan menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia bisa setara dengan negara super power maupun negara dengan keunggulan teknologinya. Namun, pekerjaan rumah kita adalah sudah siapkah mental Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan dan berjuang melawan krisis mental ini ?
Secara logis terlebih dahulu memerlukan suatu bayangan ke depan mengenai bentuk masyarakat seperti apa yang ingin kita capai dengan pembangunan kita. Hal ini masih belum di konsepsikan oleh bangsa kita. Berbagai suku bangsa, berbagai aliran, dan berbagai golongan dalam negara kita yang demikian banyaknya itu mungkin sudah mempunyai konsepsinya masing-masing yang belainan satu sama lain, tetapi suatu konsepsi konkrit untuk dituju bersama belum ada. Jelaslah bahwa model dari masyarakat-masyarakat yang sekarang sudah maju tidak mungkin dapat dicontoh begitu saja karena memang sukar untuk mengajar suatu hal yang sudah terlampau jauh di depan. Bahkan, model masyarakar Jepang pun tidak dapat kita tiru karena lingkungan alam, komposisi penduduk negara, struktur masyarakat, aneka warna kebudayaan, sisten nilai-budaya, dan agama-agama di  negara kita memang berbeda dengan di Jepang. 
Menurut Koentjaraningrat (1992) dalam bukunya “Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan”, untuk dapat mencapai suatu keadaan yang agak lebih makmur dari sekarang, sudah tentu perlu suatu intensitas usaha di segala lapangan yang jauh lebih besar daripada apa yang biasa kita gerakkan sampai kini. Sebagai contoh, coba kita perhatikan keterangan para ahli ekonomi sebagai berikut : penduduk Indonesia bertambah 2,8% tiap tahun. Agar kita dapat merasakan akibat dari kenaikan produksi, maka laju pertumbuhan ekonomi harus lebih besar dari 2,8%. Katakanlah 4% dari GNP tiap tahun, tetapi kita juga harus memperhitungkan faktor kebutuhan yang terus meningkat. Hal itu berarti laju pertumbuhan ekonomi harus beberapa kali lipat di atas laju pertambahan penduduk.  
Dengan memperhatikan contoh di atas, untuk menjadi sedikit lebih makmur kita harus dapat berusaha bekerja, menghemat, dan sebagainya. Untuk itu, kita harus mengubah beberapa sifat dari mentalitas kita untuk meningkatkan tekanan intensitas usaha. Salah satu mentalitas yang sangat penting yaitu nilai budaya yang berorientasi ke masa depan. Selain itu, nilai budaya lain yang dibutuhkan yaitu nilai budaya yang berhasrat untuk mengeksplorasi lingkungan alam dan kekuatan-kekuatan alam. Nilai semacam itu akan menambah kemunkinan inovasi, terutama inovasi dalam teknologi. Pembangunan yang memerlukan usaha mengintensifkan produksi tentu tak bisa tidak harus memanfaatkan teknologi yang makin lama makin disempurnakan. Mungkin ada yang beranggapan  bahwa kita tidak perlu mengembangkan suatu mentalitas yang menilai tinggi inovasi, karena kita tak perlu lagi mengembangkan teknologi.
Di samping itu, kita juga harus menumbuhkan sikap yang dapat mengapresiasi tinggi usaha seseorang yang dengan jerih payah sendiri dapat mencapai tujuan dan hasil. Suatu nilai itu jika diekstrimkan tentu akan berpotensi menuju arah individualisme, dan parahnya dapat menjadi isolisme. Nah, kita harus mencegah perkembangan pola pikir secara ekstrim tersebut karena nilai itu akan menghilangkan dasar dari  rasa keamanan hidup kita. 
Di Indonesia sendiri nilai budaya kita sangat kontras dengan individualisme, yaitu nilai yang terlampau berorientasi vertikal ke arah atasan. Nilai yang terlalu berorientasi vertikal ke arah atasan akan mematikan jiwa yanng ingin berdiri sendiri dan menyebabkan timbulnya krisis kepercayaan pada diri sendiri. Nilai itu juga akan menghambat tumbuhnya rasa disiplin pribadi karena dia hanya taat ketika dibawah pengawasan dari yang berwenang. Akhirnya, hal itu akan akan mematikan rasa tanggungjawab terhadap diri sendiri. 
Dengan singkat, suatu bangsa yang hendak mengintensifkan usaha untuk pembangunan harus berusaha untuk lebih menilai tinggi orientasi ke masa depan dan bersifat hemat untuk lebih teliti memperhitungkan hidupnya di masa depan, lebih menilai tinggi hasrat eksplorasi, dapat menghargai karya dari orang lain dan akhirnya menilai tinggi mentalitas berusaha dengan kemampuan sendiri, percaya pada diri sendiri, berdisiplin murni dan berani bertanggungjawab atas semua yang dikerjakan.

(Makalah Geografi Sosial 2012) Koentjaraningrat.1992. Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar