Ged a Widget

Senin, 31 Desember 2012

KISAH TEROMPET TAHUN BARU




Alhamdulillah, setelah berangan-angan ingin nulis, akhirnya kesampaian juga. Bagaimana sahabta, kabar kalian malam ini ? Sehat ? Semoga masih dalam kondisi sehat dan rahmat Allah ta'ala. Hmmm, berhubung malam Selasa ini hujan dan sangat dingin, apalagi saya yang baru saja pulang, mari kita hangatkan malam ini dengan sedikit berbagi inspirasi. Ini hanya sekadar kisah, sebuah fiksi yang akan sedikit membuka mata tentang ada sesuatu yang 'aga' beda malam ini. Mari kita mulai ceritanya :D

Perkenalkan, namaku Harmoni. Aku adalah sebuah benda yang sering dimiliki manusia setiap pergantian tahun masehi. Bentuk tubuhku ada yang lonjong, maupun berbentuk kerucut. Aku mempunyai ciri khas yang unik yaitu mempunyai suara yang lantang hingga bisa memekikkan telinga. Aku bisa bersuara keras bila ditiup dengan keras pula. Kalian pasti sudah tahu siapa aku ? Ya, sebuah terompet :D 

Selasa, 31 Desember 2012 ini adalah hari bersejarah bagiku. Aku adalah salah satu saksi pergantian tahun 2012 menuju 2013. Aku adalah sebuah benda yang selalu dibawa oleh kebanyakan manusia di malam tahun baru. Aku adalah sahabatnya para kembang api, petasan, maupun balon tahun baru. Tubuhku yang mungil dan berwarna-warni adalah pemikat orang-orang agar membeliku. Mereka membeliku dengan harga yang sedikit, tak tanggung-tanggung demi merayakan tahun baru. Mereka rela merogoh kantong dalam-dalam demi bisa menikmati malam tahun bersama keluarga tercinta ataupun teman. Bahkan tak jarang, aku menjadi kado tahun baru kepada mereka yang pacaran. Hmmm, inilah nasibku. Kadang aku bermanfaat dan kadang aku bisa membawa maksiat.
Malam tahun baru 2013, malam ini aku sedikit sedih. Aku hanya terdiam, tanpa ada yang membeliku. Aku hanya tergeletak di tempat para ibu-bapak yang berjualan pernak-pernik tahun baru. Ya, ini semua karena malam ini hujan. Hujan memaksaku untuk sementara waktu tidak laku. Bahkan, rasanya malam ini teman-temanku yang lain juga merasakan hal yang sama. Ya Tuhan, kenapa malam ini aku merasa tidak berguna sama sekali. Harusnya aku menjadi benda yang paling diidolakan malam ini, bersama petasan maupun kembang api. Tapi....itu hanya harapan, pupus sudah suara merduku bernyanyi malam ini, meski ini belum pukul 00.00.

Tahun baru, setiap tahun aku selalu menjumpainya. Tahun baru, waktu di mana manusia berkumpul bersama keluarga di kampung, meski mereka juga pulang pada hari-hari tertentu. Tahun baru, moment istimewa bagi mereka yang masih suka menikmatinya. Tahun baru, kesempatan yang jitu untuk menikmati hidup bersama mereka yang engkau cintai.

Tapi...itu semua bukan lah makna asli dari tahun baru. Ingat, malam ini sama seperti malam-malam yang telah berlalu. Malam ini juga hujan masih turun di luar sana, seperti kemarin. Tahun baru, bukan lah masa di mana kita perlu merayakannya. Bagi orang muslim setahuku tak dicontohkan merayakan pergantian tahun baru. Mengapa ? Jelas, tak ada dalil maupun perintah untuk merayakannya. Bahkan, nenek moyang kita pun tak mengajarkannya. Tahun baru, tak ada perintah untuk memperingatinya.

Inilah kegalauanku saat ini. Posisiku yang berguna untuk manusia, di sisi lain aku tak pantas menjadi saksi adanya perilaku sesat manusia di malam tahun baru. Sebagaimana aku tahu, umat muslim jelas tak ada tuntunan untuk merayakannya. Setidaknya itu ada beberapa sebab yang melatarbelakangi, mengapa kalian wahai manusia tidak boleh meperingatinya. 

Kerusakan Pertama: Merayakan Tahun Baru Berarti Merayakan ‘Ied (Perayaan) yang Haram
Ini dalilnya :
Anas bin Malik mengatakan,
“Orang-orang Jahiliyah dahulu memiliki dua hari (hari Nairuz dan Mihrojan) di setiap tahun yang mereka senang-senang ketika itu. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mengatakan, ‘Dulu kalian memiliki dua hari untuk senang-senang di dalamnya. Sekarang Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik yaitu hari Idul Fithri dan Idul Adha.’” 
 
(HR. An Nasa-i no. 1556. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
 
Namun setelah itu muncul berbagai perayaan (’ied) di tengah kaum muslimin. Ada perayaan yang dimaksudkan untuk ibadah atau sekedar meniru-niru orang kafir. Di antara perayaan yang kami maksudkan di sini adalah perayaan tahun baru Masehi. Perayaan semacam ini berarti di luar perayaan yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maksudkan sebagai perayaan yang lebih baik yang Allah ganti. Karena perayaan kaum muslimin hanyalah dua yang dikatakan baik yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.
 
Kerusakan Kedua: Merayakan Tahun Baru Berarti Tasyabbuh (Meniru-niru) Orang Kafir
Merayakan tahun baru termasuk meniru-niru orang kafir. Dan sejak dulu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mewanti-wanti bahwa umat ini memang akan mengikuti jejak orang Persia, Romawi, Yahudi dan Nashrani. Kaum muslimin mengikuti mereka baik dalam berpakaian atau pun berhari raya.
 

Kerusakan Ketiga: Merekayasa Amalan yang Tanpa Tuntunan di Malam Tahun Baru
Kita sudah ketahui bahwa perayaan tahun baru ini berasal dari orang kafir dan merupakan tradisi mereka. Namun sayangnya di antara orang-orang jahil ada yang mensyari’atkan amalan-amalan tertentu pada malam pergantian tahun. “Daripada waktu kaum muslimin sia-sia, mending malam tahun baru kita isi dengan dzikir berjama’ah di masjid. Itu tentu lebih manfaat daripada menunggu pergantian tahun tanpa ada manfaatnya”, demikian ungkapan sebagian orang. Ini sungguh aneh. Pensyariatan semacam ini berarti melakukan suatu amalan yang tanpa tuntunan. Perayaan tahun baru sendiri adalah bukan perayaan atau ritual kaum muslimin, lantas kenapa harus disyari’atkan amalan tertentu ketika itu? 
 
Kerusakan Keempat: Terjerumus dalam Keharaman dengan Mengucapkan Selamat Tahun Baru
Kita telah ketahui bersama bahwa tahun baru adalah syiar orang kafir dan bukanlah syiar kaum muslimin. Jadi, tidak pantas seorang muslim memberi selamat dalam syiar orang kafir seperti ini. Bahkan hal ini tidak dibolehkan berdasarkan kesepakatan para ulama (ijma’).
Ibnul Qoyyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) para ulama. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya.” Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.
Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut. Orang-orang semacam ini tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia pantas mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala (Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, 1/441, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, tahun 1418 H.)


Kerusakan Kelima: Meninggalkan Perkara Wajib yaitu Shalat Lima Waktu
Betapa banyak kita saksikan, karena begadang semalam suntuk untuk menunggu detik-detik pergantian tahun, bahkan begadang seperti ini diteruskan lagi hingga jam 1, jam 2 malam atau bahkan hingga pagi hari, kebanyakan orang yang begadang seperti ini luput dari shalat Shubuh yang kita sudah sepakat tentang wajibnya. Di antara mereka ada yang tidak mengerjakan shalat Shubuh sama sekali karena sudah kelelahan di pagi hari.
 
Kerusakan Keenam: Begadang Tanpa Ada Hajat
Begadang tanpa ada kepentingan yang syar’i dibenci oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk di sini adalah menunggu detik-detik pergantian tahun yang tidak ada manfaatnya sama sekali. 

Kerusakan Ketujuh: Terjerumus dalam Zina
Jika kita lihat pada tingkah laku muda-mudi saat ini, perayaan tahun baru pada mereka tidaklah lepas dari ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita) dan berkholwat (berdua-duan), bahkan mungkin lebih parah dari itu yaitu sampai terjerumus dalam zina dengan kemaluan. Inilah yang sering terjadi di malam tersebut dengan menerjang berbagai larangan Allah dalam bergaul dengan lawan jenis. Inilah yang terjadi di malam pergantian tahun dan ini riil terjadi di kalangan muda-mudi. Padahal dengan melakukan seperti pandangan, tangan dan bahkan kemaluan telah berzina. Ini berarti melakukan suatu yang haram.
 
Kerusakan Kesembilan: Meniru Perbuatan Setan dengan Melakukan Pemborosan
Perayaan malam tahun baru adalah pemborosan besar-besaran hanya dalam waktu satu malam. Jika kita perkirakan setiap orang menghabiskan uang pada malam tahun baru sebesar Rp.1000 untuk membeli mercon dan segala hal yang memeriahkan perayaan tersebut, lalu yang merayakan tahun baru sekitar 10 juta penduduk Indonesia, maka hitunglah berapa jumlah uang yang dihambur-hamburkan dalam waktu semalam? Itu baru perkiraan setiap orang menghabiskan Rp. 1000, bagaimana jika lebih dari itu?! Masya Allah  

Kerusakan Kesepuluh: Menyia-nyiakan Waktu yang Begitu Berharga
Merayakan tahun baru termasuk membuang-buang waktu. Padahal waktu sangatlah kita butuhkan untuk hal yang bermanfaat dan bukan untuk hal yang sia-sia. 
 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi nasehat mengenai tanda kebaikan Islam seseorang,
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ
“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if  Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)
 
Inilah sedikit kisahku, bukannya sok jadi ustadz atau apa. Hanya pesanku kepada mereka yang masih juga menganggap "spesial" tahun baru dan merayakannya. Gunakan waktumu yang tersisa ini untuk berbenah, merancang hidup baru setiap hari dengan menuntut ilmu. Tidak hanya ilmu perkuliahan atau laiinya, namun yang terpenting adalah ilmu agama. 

Itulah sedikit nasihat untuk diri sendiri dan anda sekalian untuk malam ini. Silakan bagi yang mau menerima ya syukurlah dan yang belum bisa menerima ya....perbanyak lagi bertanya pada ulama :)




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar